BANJARBARUEMAS.COM – Telepon dari Ketua RT 03 RW 05 berbunyi ketika Lurah Guntung Paikat Reza Pahlevi sedang menjalankan tugas menindaklanjuti laporan warga terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di RT 03 RW 01, Senin (3/8/2026).
Di seberang telepon, Ketua RT Saidul menyampaikan kabar yang membutuhkan respons secepat mungkin. Kebakaran lahan terjadi di kawasan Sidin, Jalan Pandawa, RT 03 RW 05, Kelurahan Guntung Paikat, Kota Banjarbaru. Tanpa menunda waktu, Reza menghentikan sementara kegiatan yang sedang dijalankannya dan langsung bergerak menuju lokasi.
Keputusan itu menjadi awal dari upaya bersama pemerintah kelurahan, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat berjibaku mengendalikan kobaran api yang terus membesar akibat tiupan angin pada musim kemarau.
“Saat ulun melaksanakan kegiatan di lapangan menindaklanjuti adanya laporan warga terkait kamtibmas di RT 03 RW 01, ulun mendapat telepon dari Ketua RT 03 RW 05, Saidul, bahwa terjadi kebakaran lahan di wilayah Sidin, Jalan Pandawa RT 03 RW 05. Ulun langsung bergegas menuju lokasi kebakaran lahan,” ujar Reza.
Sesampainya di lokasi, kepulan asap hitam sudah tampak membumbung dari hamparan semak dan ilalang yang mengering. Api yang semula hanya terlihat di pinggir jalan terus bergerak masuk ke bagian tengah lahan, didorong embusan angin yang cukup kencang.
Sejumlah warga berusaha menahan laju api dengan peralatan seadanya. Mereka menyiram titik-titik api menggunakan air yang tersedia dan memukul kobaran api agar tidak terus merambat ke vegetasi yang lebih kering.
Melihat kondisi tersebut, Reza bersama perangkat Kelurahan Guntung Paikat segera membagi tugas. Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RT, relawan, dan masyarakat bergotong royong melakukan pemadaman sembari menunggu bantuan armada tangki air tiba di lokasi.
Menurut Reza, beberapa menit pertama merupakan fase yang paling menentukan. Apabila api tidak segera dikendalikan, kebakaran berpotensi meluas karena kondisi lahan yang kering.
“Awalnya kami bersama warga melakukan pemadaman secara manual. Sekitar lima menit setelah ulun tiba di lokasi, dua mobil tangki air dan kendaraan relawan datang sehingga penanganan bisa diperkuat. Syukur jeda kedatangannya tidak lama,” katanya.
Kedatangan armada pemadam membuat proses penanganan berlangsung lebih cepat. Namun tantangan di lapangan tidak berhenti sampai di situ.
Petugas menemukan terdapat dua titik kebakaran yang harus ditangani secara bersamaan.
Titik pertama berada di tepi Jalan Pandawa sehingga relatif mudah dijangkau kendaraan pembawa air. Sementara titik kedua berada lebih jauh di dalam lahan dengan akses yang sempit sehingga mobil tangki maupun kendaraan relawan tidak dapat masuk mendekati sumber api.
Kondisi tersebut memaksa petugas menggunakan cara manual.
Dengan memanfaatkan persediaan air yang terbatas, petugas bersama warga menggunakan batang dan daun singkong untuk memukul serta memadamkan api yang berada di bagian dalam lahan. Cara sederhana itu dilakukan berulang kali untuk memutus rambatan api hingga perlahan intensitas kobaran mulai berkurang.
“Ada dua titik api. Satu berada di pinggir jalan seperti yang terlihat di foto dan video, sedangkan satu titik lagi berada lebih masuk ke dalam sehingga jalurnya cukup sulit dilalui peralatan. Di bagian dalam kami memanfaatkan sedikit air yang tersedia dan batang daun singkong untuk membantu memadamkan api,” jelas Reza.
Berdasarkan keterangan warga, kobaran api pertama kali terlihat di pinggir jalan. Tidak berselang lama, api membesar dan bergerak cepat ke arah tengah lahan karena embusan angin.
Hingga berita ini ditulis, penyebab munculnya api masih belum diketahui dan belum dapat dipastikan apakah dipicu faktor alam maupun aktivitas manusia.
Meski demikian, koordinasi yang cepat antarunsur membuat kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas ke area lain.
Sekitar setengah hingga satu jam setelah proses pemadaman dimulai, seluruh titik api berhasil dipadamkan. Petugas kemudian melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Reza menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi seluruh pihak yang bergerak tanpa mengenal batas tugas masing-masing. Pemerintah kelurahan, aparat TNI-Polri, relawan, para Ketua RT, hingga masyarakat saling bahu-membahu menghadapi situasi darurat.
“Kami bersama perangkat kelurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RT, masyarakat, dan seluruh unsur terkait bergerak cepat melakukan upaya pemadaman. Sinergi lintas sektor serta partisipasi aktif masyarakat menjadi wujud nyata kepedulian bersama dalam melindungi lingkungan, menjaga keselamatan warga, sekaligus mencegah kebakaran meluas,” ungkapnya.
Ia mengatakan, memasuki musim kemarau, kewaspadaan seluruh masyarakat harus terus ditingkatkan. Lahan yang mulai mengering sangat mudah terbakar dan api dapat menyebar dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, Reza mengajak seluruh warga tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melapor kepada aparat apabila menemukan titik api sekecil apa pun agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Alhamdulillah api berhasil ditangani dan tidak sampai meluas. Untuk penyebab awal kebakaran masih belum diketahui. Saya mengimbau seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, tetap meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan titik api. Bersama kita cegah kebakaran hutan dan lahan, karena menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” tutup Reza Pahlevi.(be)
203
Tidak ada komentar