Kelurahan Sungai Tiung Perkuat Gerakan “Kilau Emas” dari Rumah Tangga
waktu baca 4 menit
Selasa, 28 Apr 2026 07:35 207 Banjarbaru Emas 2
Foto : Lurah Sungai Tiung, Fitryadi, menyampaikan arahan saat sosialisasi pemilahan sampah rumah tangga dalam Gerakan “Kilau Emas” di RT 006 RW 002, Kecamatan Cempaka, Selasa (28/4/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Upaya membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, terus diperkuat secara konsisten. Pada Selasa (28/4/2026), sosialisasi dan edukasi pemilahan sampah rumah tangga kembali digelar di RT 006 RW 002 dengan pendekatan yang lebih teknis, menyasar perubahan perilaku warga dari level paling dasar: dapur rumah tangga.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan Gerakan Kilau Emas (Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas), sebuah inisiatif yang mendorong warga untuk memilah sampah sejak dari sumbernya. Program ini juga mendapat perhatian khusus dari Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, sebagai bagian dari strategi besar pengelolaan lingkungan kota yang berkelanjutan.
Hadir dalam kesempatan tersebut Camat Cempaka Hendrawan Maulana, Lurah Sungai Tiung Fitryadi, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, serta unsur masyarakat seperti ketua RT, RW, LPM, kader lingkungan, hingga tokoh masyarakat setempat. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan teknis semata, melainkan gerakan sosial kolektif.
Materi utama disampaikan oleh Kepala Seksi Penanganan dan Pengurangan Sampah DLH Kota Banjarbaru, Malik Iberahim. Dalam paparannya, ia menjelaskan secara rinci komposisi sampah rumah tangga yang didominasi oleh sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan daun.
“Sebagian besar sampah kita itu organik. Jika tidak dipilah, semuanya akan bercampur dan berakhir di TPS, menambah beban angkut dan penanganan. Padahal, jika dipisahkan sejak dari rumah, sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Ia juga mempraktikkan langsung cara pemilahan sederhana yang bisa dilakukan warga, mulai dari pemisahan wadah sampah organik dan nonorganik, hingga metode pengolahan awal seperti pengomposan skala rumah tangga. Menurutnya, perubahan kecil di tingkat rumah akan berdampak besar bagi sistem kota secara keseluruhan.
“Langkah ini terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan serentak oleh warga, dampaknya luar biasa. Beban TPS berkurang, biaya pengangkutan menurun, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” kata Malik.
Camat Cempaka, Hendrawan Maulana, dalam arahannya menegaskan bahwa pendekatan berbasis sumber merupakan strategi paling rasional di tengah keterbatasan kapasitas pengelolaan sampah kota. Ia menyebut, pola lama “angkut-buang” tidak lagi memadai untuk menjawab persoalan sampah yang terus meningkat.
“Pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem angkut dan buang. Kunci utamanya ada di rumah tangga. Jika masyarakat mulai memilah sampah dari dapur masing-masing, maka beban lingkungan akan berkurang secara signifikan,” ujarnya.
Hendrawan juga mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan RT dan pihak kelurahan, sekitar 100 kepala keluarga di Sungai Tiung telah mulai melakukan pemilahan sampah organik secara mandiri. Capaian ini dinilai sebagai indikator awal tumbuhnya kesadaran kolektif warga.
“Alhamdulillah, sudah ada sekitar 100 KK yang mulai memilah sampah organik. Ini menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan tidak sia-sia dan mulai membuahkan hasil,” katanya.
Ia pun menekankan pentingnya menjaga konsistensi gerakan melalui kolaborasi lintas elemen. Menurutnya, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Perlu keterlibatan semua pihak, mulai dari RT, RW, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan. Ini adalah gerakan bersama, bukan program sesaat,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Sungai Tiung, Fitryadi, menegaskan bahwa pihak kelurahan akan terus melakukan pendampingan dan monitoring terhadap warga agar praktik pemilahan sampah benar-benar menjadi kebiasaan sehari-hari.
“Dengan adanya sosialisasi ini, warga semakin semangat dalam memilah sampah rumah tangga, baik organik maupun nonorganik. Tujuannya jelas, menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas sampah,” ujarnya.
Menurut Fitryadi, pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga persuasif dan berbasis komunitas, dengan melibatkan RT dan tokoh lokal sebagai penggerak utama di lapangan. Ia berharap, ke depan seluruh RT di Sungai Tiung dapat menerapkan sistem serupa secara merata.
Di akhir kegiatan, suasana berlangsung penuh antusias. Warga tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berdiskusi aktif dan berbagi pengalaman terkait praktik pengelolaan sampah di rumah masing-masing. Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan pemilahan sampah organik sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.(be)
Tidak ada komentar