Expo Pelayanan Publik 2026: Camat Banjarbaru Selatan Tegaskan Komitmen Selesaikan Sampah dari Hulu
waktu baca 2 menit
Jumat, 17 Apr 2026 15:08 32 Banjarbaru Emas 2
Foto : Afifah Aulia menunjukkan minyak goreng yang diperolehnya setelah menukarkan botol plastik di stan Kecamatan Banjarbaru Selatan pada Expo Pelayanan Publik, Jumat (17/4/2026), sebagai bukti bahwa sampah terpilah memiliki nilai ekonomi.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Komitmen menyelesaikan persoalan sampah dari hulu ditegaskan Kecamatan Banjarbaru Selatan dalam Expo Pelayanan Publik yang digelar di Banjarbaru, Jumat (17/4/2026). Usai pembukaan oleh Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, stan kecamatan ini langsung dipadati warga yang ingin mengetahui program pengelolaan sampah berbasis sumber.
Camat Banjarbaru Selatan, Muhammad Firmansyah, menegaskan keikutsertaan pihaknya merupakan bagian dari menyukseskan amanat wali kota terkait penyelesaian sampah dari hulu yakni dimulai dari rumah tangga.
“Kami ingin memastikan pesan Ibu Wali Kota benar-benar sampai ke masyarakat. Penyelesaian sampah tidak bisa hanya di hilir, tetapi harus dimulai dari rumah. Edukasi ini yang kami bawa ke expo,” ujar Firmansyah saat ditemui di stan Kecamatan Banjarbaru Selatan.
Di dalam stan, pengunjung diperlihatkan berbagai praktik pengelolaan sampah berbasis sumber yang telah dijalankan di masing-masing kelurahan.
Menurut Firmansyah, perubahan perilaku menjadi kunci utama.
“Kalau pemilahan dilakukan maksimal dari rumah, sampah itu bukan lagi beban. Ia bisa bernilai dan bermanfaat,” katanya.
Selain mengusung edukasi pengelolaan sampah, Kecamatan Banjarbaru Selatan juga memperkenalkan program KEMAS (Kecamatan Banjarbaru Selatan Mendengar Masyarakat). Program ini menjadi ruang komunikasi dua arah antara pemerintah dan warga.
“KEMAS kami hadirkan sebagai wadah mendengar langsung suara masyarakat. Dari sana, kami bisa merespons kebutuhan warga secara lebih cepat dan tepat, termasuk dalam mendorong kesadaran pengelolaan sampah,” ujar Firmansyah.
Untuk menarik partisipasi sekaligus memberi contoh konkret bahwa sampah memiliki nilai ekonomi, stan Kecamatan Banjarbaru Selatan menyiapkan skema apresiasi bagi pengunjung yang membawa botol plastik kosong. Lima botol plastik ditukar dengan minuman, 10 botol dengan dua bungkus mi goreng, 15 botol dengan setengah kilogram gula pasir, 25 botol dengan satu liter minyak goreng, dan 50 botol dengan dua liter minyak goreng.
Skema sederhana itu terbukti efektif. Sejak stan dibuka, warga berdatangan membawa kantong berisi botol plastik. Bahkan menjelang penutupan hari pertama, petugas tetap menerima setoran dari warga yang antre.
Afifah Aulia, warga Banjarbaru Utara yang datang membawa puluhan botol plastik, mengaku tertarik setelah melihat konsep edukasi yang dihadirkan.
“Meski saya warga Banjarbaru Utara, melihat stan Kecamatan Banjarbaru Selatan membuat saya tertarik. Lumayan sekali, botol-botol ini biasanya hanya dibuang. Sekarang bisa ditukar minyak. Jadi lebih semangat memilah di rumah,” ujarnya sambil menunjukkan minyak goreng yang diterimanya.
Bagi Kecamatan Banjarbaru Selatan, antusiasme tersebut menjadi sinyal bahwa edukasi yang dibalut insentif sederhana mampu menggerakkan kesadaran kolektif. (be)
Tidak ada komentar