Foto : Rombongan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kasturi RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru, saat mengikuti kegiatan studi tiru pengolahan talipuk di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas UMKM agar lebih inovatif dan berkelanjutan.(BE) BANJARBARUEMAS.COM — Pagi itu belum sepenuhnya terang ketika rombongan perempuan dari RT 33 RW 07, Kelurahan Syamsudin Noor, mulai bergerak. Mereka bukan sekadar bepergian, tetapi membawa satu misi: belajar, bertumbuh, dan kembali dengan harapan baru bagi lingkungannya.
Adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Kasturi yang hari ini, Kamis (9/4/2026), bertolak menuju Amuntai, tepatnya ke Rumah Talipuk di Jalan Matam Sirang No.27A, Desa Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Di sana, mereka mengikuti kegiatan penguatan kapasitas untuk membangun UMKM yang inovatif dan berkelanjutan sebuah langkah penting agar usaha berbasis warga bisa “naik kelas”.
Didampingi Ketua RW 07 Suyono, yang juga menjadi pembina kelompok, para anggota KWT Kasturi tampak antusias. Bagi mereka, perjalanan ini adalah ruang belajar langsung dari pelaku usaha yang telah berhasil membangun bisnis dari nol.

“Kami sangat senang dan bersyukur bisa berbagi ilmu dengan pelaku usaha yang sudah berkembang. Mudah-mudahan ini bisa memotivasi kelompok di RW 07 untuk semakin giat berusaha,” ujar Suyono.
Dalam kegiatan ini, rombongan yang terdiri dari pendamping CSR, bendahara KWT, serta lima anggota bidang UMKM jamu JASSER itu mempelajari secara langsung proses pengolahan talipuk, teknik pengemasan, hingga strategi pemasaran produk. Hal-hal yang selama ini menjadi tantangan UMKM kecil, kini dicari jawabannya melalui pengalaman lapangan.
Perjalanan ini terselenggara berkat dukungan dana CSR dari Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Syamsudin Noor. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana dunia usaha dapat hadir sebagai mitra strategis masyarakat dalam membangun ekonomi berbasis komunitas.
Suyono pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan tersebut. Menurutnya, keberlanjutan program seperti ini sangat penting agar gerakan warga tidak berhenti di semangat, tetapi tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. KWT Kasturi selama ini telah membangun fondasi usaha dari hal sederhana: memanfaatkan lahan pekarangan yang terbengkalai menjadi kebun produktif. Dengan prinsip agroekologi, mereka menanam sayuran dan tanaman obat keluarga (toga) yang kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah.
Salah satu hasilnya adalah jamu JASSER 33, produk unggulan yang kini mulai dikenal di lingkungan sekitar. Uniknya, gerakan ini tidak berhenti di produksi semata. Mereka membangun rantai nilai yang terintegrasi dari penanaman di hulu oleh KWT Kasturi, pengolahan oleh UMKM Posyandu Mawar, hingga distribusi ke masyarakat.
Lebih jauh, produk yang dihasilkan juga dimanfaatkan untuk edukasi gizi dan penanganan stunting, menjadikan gerakan ini tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial.
Suyono menyampaikan harapan yang sederhana namun kuat.
“Kami tidak ingin berhenti hanya pada belajar. Kami berharap studi tiru ini dapat memberi dampak nyata bagi UMKM di KWT Kasturi agar menjadi lebih baik dan semakin maju dari sekarang. Sepulang dari sini, kami ingin langsung bergerak. KWT Kasturi harus bisa menjadi contoh bahwa dari pekarangan kecil, kita bisa melahirkan produk besar yang bermanfaat bagi banyak orang. Ini bukan sekadar usaha, tetapi gerakan bersama untuk kemandirian warga,” tegasnya.(be)
Tidak ada komentar