Jejak yang Belum Pulang: KEK Banjarbaru, Prof. Husaini, dan Ikhtiar Menelusuri Misteri Intan Trisakti

waktu baca 6 menit
Senin, 9 Feb 2026 00:44 291 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Sejarah sering kali diperlakukan seolah-olah telah selesai ketika sebuah peristiwa berlalu. Ia dipadatkan dalam tanggal, diringkas dalam monumen, lalu disimpan sebagai kenangan kolektif yang jarang disentuh kembali. Namun, bagi sebagian wilayah dan komunitas, sejarah justru terus hidup sebagai pertanyaan yang belum terjawab. Di Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, pertanyaan itu bernama Intan Trisakti.

Kesadaran untuk menempatkan kembali sejarah sebagai bagian hidup masyarakat inilah yang mengemuka dalam audiensi Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru yang didampingi Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, di Jakarta, Jumat (6/2/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara sejarah lokal, kebijakan nasional, dan tanggung jawab pengetahuan.

Salah satu gagasan utama yang dibawa adalah menjadikan Kecamatan Cempaka sebagai living museum. Konsep ini tidak menempatkan sejarah sebagai benda mati yang disimpan di balik kaca, melainkan sebagai praktik hidup yang hadir dalam keseharian warga, dari aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga ekspresi budaya. Bagi Banjarbaru, living museum bukan sekadar konsep pariwisata, melainkan strategi merawat ingatan kolektif.

Cempaka dan Sejarah Panjang Pendulangan Intan

Cempaka memiliki posisi istimewa dalam sejarah pertambangan intan di Indonesia. Aktivitas pendulangan di kawasan ini diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-9 Masehi, jauh sebelum terbentuknya negara modern. Seiring waktu, praktik pendulangan berkembang sebagai sistem ekonomi sekaligus tradisi budaya yang diwariskan lintas generasi.

Pendulangan intan di Cempaka tidak semata-mata soal mencari batu mulia. Ia dibingkai oleh nilai gotong royong, kearifan lokal, dan relasi spiritual dengan alam. Metode ma’ayak dilakukan secara berkelompok, menggunakan alat tradisional linggangan, serta diiringi kepercayaan yang melarang penyebutan kata “intan” di lokasi pendulangan. Intan disebut sebagai “galuh”, sebuah penamaan yang mencerminkan sikap hormat terhadap alam.

Dalam konteks inilah Sungai Tiung dan Desa Pumpung menjadi ruang penting sejarah lokal. Kawasan ini tidak hanya menjadi lokasi tambang, tetapi juga ruang sosial tempat ingatan kolektif masyarakat Cempaka dibentuk dan diwariskan.

Penemuan Intan Trisakti dan Pengakuan Negara

Pada 26 Agustus 1965, sejarah Cempaka mencapai salah satu puncaknya. Sebanyak 24 pendulang tradisional yang dipimpin H. Madsalam menemukan sebongkah intan berukuran luar biasa besar di Sungai Tiung. Intan tersebut memiliki berat 166,75 karat dalam kondisi mentah, dengan tingkat kejernihan dan kilau yang sangat tinggi.

Penemuan ini segera menggemparkan Kalimantan Selatan dan menarik perhatian nasional. Intan tersebut kemudian dibawa ke Jakarta dan diberi nama “Trisakti” oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Pemberian nama ini menegaskan bahwa penemuan tersebut bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan bagian dari sejarah nasional.

Namun, konteks waktu penemuan, yang berdekatan dengan situasi politik nasional 1965, membuat perjalanan Intan Trisakti tidak pernah tercatat secara utuh dan transparan. Setelah dibawa ke Jakarta, intan tersebut perlahan menghilang dari dokumentasi publik. Hingga kini, tidak ada catatan resmi yang menjelaskan secara pasti di mana Intan Trisakti disimpan atau bagaimana nasib akhirnya.

Misteri yang Bertahan dalam Ingatan Lisan

Ketidakjelasan keberadaan Intan Trisakti melahirkan berbagai spekulasi. Sebagian masyarakat meyakini intan tersebut disimpan di luar negeri, sebagian lain percaya ia pernah dipamerkan di Amsterdam pada September 1965, sebagaimana dibuktikan oleh dokumentasi foto pers internasional. Namun, semua itu belum pernah diuji secara sistematis melalui penelitian ilmiah yang terkoordinasi.

Bagi masyarakat Cempaka, misteri ini bukan sekadar cerita. Ia berkaitan dengan keadilan sejarah, pengakuan terhadap para penemu, dan martabat sejarah lokal. Selama puluhan tahun, kisah Intan Trisakti hidup sebagai ingatan lisan—diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya—tanpa ruang dokumentasi yang memadai.

Audiensi Kebudayaan sebagai Titik Balik

Dalam audiensi KEK Banjarbaru dengan Menteri Kebudayaan, kisah Intan Trisakti kembali diangkat secara serius. Prof. Husaini, pengarah KEK Banjarbaru, memaparkan sejarah penemuan intan tersebut secara runut dan kritis. Ia menempatkan Intan Trisakti bukan hanya sebagai batu mulia bernilai ekonomi, tetapi sebagai persoalan dokumentasi sejarah dan perlindungan aset kebudayaan nasional.

Paparan tersebut mendapat respons langsung dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Ia mendorong agar kisah Intan Trisakti tidak dibiarkan terus hidup sebagai legenda tanpa pijakan data. Data pendukung perlu dicari, diverifikasi, dan disusun secara ilmiah untuk mengetahui keberadaan intan tersebut saat ini.

Dorongan ini menjadi titik balik penting. Sejarah lokal Cempaka kembali dipanggil ke ruang kebijakan nasional, membuka peluang bagi kerja ilmiah yang lebih terstruktur.

Prof. Husaini dan Kerja Ilmiah Pasca-Audiensi

Sepulang dari Jakarta, Prof. Husaini segera merespons dengan kerja pengetahuan. Ia menyusun makalah berjudul “Penemuan dan Misteri Keberadaan Intan Trisakti di Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan.” Makalah ini menghimpun berbagai sumber sejarah, kesaksian pelaku, serta dokumentasi yang selama ini tersebar.

Namun, bagi Prof. Husaini, penulisan makalah hanyalah langkah awal. Ia menegaskan perlunya pendekatan kolektif melalui pembentukan Tim Investigasi Intan Trisakti di bawah koordinasi KEK Banjarbaru. Tim ini dirancang sebagai kerja ilmiah lintas disiplin dan lintas unsur.

Tim Investigasi KEK Banjarbaru: Menata Ingatan Secara Ilmiah

Tim Investigasi Intan Trisakti dirancang dengan struktur yang jelas. Bidang Riset dan Penelitian KEK Banjarbaru menjadi tulang punggung kajian. Mereka bertugas menyusun kronologi sahih, menelusuri arsip nasional dan daerah, serta membuka kemungkinan penelusuran arsip luar negeri.

Keluarga ahli waris para penemu dan pelaku sejarah dilibatkan sebagai sumber narasi primer. Kesaksian mereka dihimpun, diverifikasi silang, dan didokumentasikan agar tidak kembali hilang sebagai ingatan lisan semata.

KEK Banjarbaru juga melibatkan komunitas budaya dan pegiat lokal Cempaka. Unsur ini penting untuk memastikan bahwa kerja investigasi tetap berpijak pada konteks sosial dan kearifan lokal masyarakat. Dalam kerangka living museum, mereka menjadi penghubung antara riset akademik dan kehidupan sehari-hari warga.

Unsur dokumentasi dan literasi arsip bertugas menelusuri foto, laporan media lama, serta catatan konferensi pers internasional, termasuk dokumentasi pameran Intan Trisakti di Amsterdam pada 1965. Semua temuan ini diharapkan dapat disusun secara terbuka dan dapat diuji publik.

Dari Laporan Ilmiah ke Kebijakan Kebudayaan

Kerja Tim Investigasi tidak dimaksudkan berhenti sebagai laporan ilmiah. KEK Banjarbaru menempatkan hasil penelitian sebagai dasar penguatan kebijakan kebudayaan, pengembangan Cempaka sebagai living museum, serta sumber konten ekonomi kreatif berbasis sejarah dan identitas lokal.

Dengan pendekatan ini, misteri Intan Trisakti tidak lagi berdiri sebagai kisah kehilangan, melainkan sebagai ruang pembelajaran kolektif tentang pentingnya dokumentasi, transparansi, dan perlindungan aset budaya.

Sejarah sebagai Tanggung Jawab Bersama

Upaya yang dirintis KEK Banjarbaru dan Prof. Husaini menegaskan bahwa sejarah lokal memiliki posisi strategis dalam pembangunan kebudayaan nasional. Sejarah tidak cukup dijaga dengan monumen atau peringatan simbolik. Ia memerlukan kerja ilmiah yang tekun, jujur, dan berkelanjutan.

Dari Cempaka, Banjarbaru sedang berupaya menunjukkan bahwa masa lalu, jika dirawat dengan kesungguhan pengetahuan, dapat menjadi fondasi masa depan. Sejarah, pada akhirnya, bukan beban, melainkan tanggung jawab bersama agar jejak yang pernah hilang dapat menemukan jalannya pulang.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA