Khidmat dalam Kesederhanaan, Tegas dalam Makna: Banjarbaru Menyusun Hari Jadi ke-27 dengan Menyibak Sejarahnya

waktu baca 4 menit
Kamis, 19 Feb 2026 00:42 270 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Kota Banjarbaru menapaki usia ke-27 dengan kesadaran yang semakin matang. Rabu (18/2/2026), di Aula Gawi Sabarataan, Balai Kota, Pemerintah Kota menggelar Rapat Pembentukan Panitia Pelaksana Peringatan Hari Jadi ke-27 Tahun 2026. Di ruang itulah arah perayaan dirumuskan: sederhana dalam kemasan, khidmat dalam pelaksanaan, dan kuat dalam makna.

Rapat dipimpin Sekretaris Daerah Sirajoni, dihadiri para kepala perangkat daerah. Agenda perdana ini difokuskan pada pembentukan struktur panitia dan pembagian kelompok kerja. Prof. Dr. Husaini ditetapkan sebagai Ketua Panitia Pelaksana, dengan subkelompok yang menangani acara dan hiburan, perlombaan, keamanan, sosial kemasyarakatan, hingga publikasi.

“Konsepnya belum kita tegaskan hari ini. Pada 26 Februari akan kita bahas kembali untuk penegasan,” ujar Sirajoni. Ia menekankan, di tengah kebijakan efisiensi anggaran, peringatan tetap harus khidmat. “Sederhana tetapi tetap bermakna. Meriah dengan efisiensi, tetapi maknanya harus ada.”

Pernyataan itu seperti mengantar publik pada perenungan yang lebih luas: apa arti 20 April bagi Banjarbaru?

Dari Gunung Apam ke Kota Otonom

Sejarah Banjarbaru jauh melampaui usia 27 tahun. Jauh sebelum menjadi kota otonom, kawasan ini dikenal sebagai Gunung Apam, kampung kecil di perbukitan, tempat persinggahan buruh penambang intan dari Cempaka dan pedagang padi dari Sungai Tabuk menuju Martapura. Ia hanyalah titik di lintasan ekonomi tradisional.

Titik balik terjadi pada 1950 ketika Gubernur Kalimantan kedua, dr. Murjani, bersama perencana tata kota Van der Pijl merancang Banjarbaru sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan. Perencanaan itu dimulai dengan pembangunan perkantoran dan permukiman pegawai. Nama “Banjarbaru” sendiri awalnya hanya penanda administratif di peta, Sebutan situasional yang kemudian justru melekat permanen karena tak ada alternatif lain.

Pada 29 Mei 1959, melalui Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 10/KM/570-3-3, Banjarbaru ditetapkan menjadi kecamatan yang meliputi tujuh kampung: Landasan Ulin, Guntung Payung, Loktabat, Banjarbaru, Sungai Ulin/Sungai Besar, Cempaka, dan Bangkal.

Tahun 1964, DPRD-GR mengusulkan Banjarbaru menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Setahun kemudian, Panitia Penuntut Kotamadya Banjarbaru mendesak peningkatan status menjadi daerah tingkat II. Prosesnya panjang dan tidak mudah.

Melalui SK Gubernur Kalsel Nomor 56/I-1-1-101-110 tanggal 16 Februari 1966, dibentuk Kantor Persiapan Kotamadya Banjarbaru. Pada 12 Agustus 1968, Banjarbaru ditetapkan menjadi Kotamadya Administratif melalui SK Gubernur Nomor 57/I-1-205-62. Pemerintah pusat kemudian memperkuatnya lewat PP Nomor 26 Tahun 1975 tentang Pembentukan Kota Administratif Banjarbaru.

Status administratif itu berlangsung hingga 1999. Selama periode 1966–1999, Banjarbaru dipimpin 10 wali kota administratif, mulai dari Baharuddin hingga A. Fakhrulli.

Tanggal 20 April 1999 menjadi tonggak penting: melalui UU Nomor 9 Tahun 1999, Banjarbaru resmi menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II. Pelantikan Akhmad Fakhrulli sebagai pejabat wali kota oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid pada 27 April 1999 menandai alih status itu. Sejak saat itulah 20 April ditetapkan sebagai Hari Jadi Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Perda Nomor 09 Tahun 2000.

Sejak otonomi, kepemimpinan berlanjut dari Rudy Resnawan, Ruzaidin Noor, Nadjmi Adhani, Aditya Mufti Ariffin, hingga kini dipimpin Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby bersama Wakil Wali Kota Wartono.

Puncak perjalanan sejarah itu terjadi pada 2022, ketika Banjarbaru resmi menggantikan Banjarmasin sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan melalui undang-undang yang disahkan DPR RI. Cita-cita yang dirintis sejak 1950 akhirnya terwujud lebih dari tujuh dekade kemudian.

Kota Strategis, Kota Bertumbuh

Dengan luas 371,38 kilometer persegi, sekitar 0,88 persen wilayah Kalimantan Selatan, Banjarbaru kini terdiri atas lima kecamatan dan 20 kelurahan, dihuni 258.753 jiwa. Secara geografis, ia berada di simpul strategis jalur Banjarmasin–Kotabaru dan Banjarmasin–Hulu Sungai, bahkan terhubung ke Kalimantan Tengah dan Timur.

Topografinya bervariasi antara 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut. Sebagian besar wilayah berada pada ketinggian 7–25 meter dpl. Kota ini dialiri 53 sungai, di antaranya Sungai Pembuang, Sungai Tiung, Sungai Tagumpar, Sungai Surian, hingga Sungai Guntung Payung. Lanskap alam itu menjadi fondasi ekologis yang membentuk karakter kota.

Merayakan dengan Kesadaran Sejarah

Di tengah seluruh rentang sejarah itu, rapat pembentukan panitia kemarin menjadi simbol kesinambungan. Pemerintah ingin memastikan peringatan ke-27 bukan sekadar perayaan rutin, tetapi refleksi perjalanan panjang, dari kampung kecil di lereng perbukitan menjadi ibu kota provinsi.

Efisiensi anggaran menjadi tantangan, tetapi bukan alasan untuk mengurangi makna. Justru di situlah kedewasaan diuji: bagaimana menghadirkan peringatan yang meriah dalam kebersamaan, tanpa kehilangan kekhidmatan hari yang sakral.

Banjarbaru kini bukan lagi kota yang menunggu pengakuan. Ia telah memikul amanah sejarah. Dan ketika 20 April 2026 tiba, yang dirayakan bukan hanya usia, melainkan daya tahan gagasan yang tumbuh sejak 1950, bahwa kota ini dilahirkan untuk menjadi pusat pemerintahan yang tertata, maju, dan berdaya saing.

Di usia ke-27, Banjarbaru memilih merayakan dengan tenang, efisien, dan penuh makna, sebuah perayaan yang tidak hanya melihat ke belakang, tetapi juga menegaskan langkah ke depan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA