Kontes Burung Berkicau Luna Cup G 24 di Banjarbaru (Foto: banjarbaruemas) BANJARBARUEMAS.COM – Dunia kontes burung berkicau kini memasuki era baru yang lebih profesional dan transparan. Ketua GES (Generasi Emas Samarinda) Enterprise, Erick menyampaikan pihaknya saat ini sedang mempopulerkan konsep G-24 (gantangan 24).
“Konsep yang kami tawarkan ini agar ajang burung berkicau bukan hanya sekadar kontes atau lomba, tapi juga sebuah semangat mengembalikan integritas penjurian melalui moto blak-blakan sesuai real fakta di lapangan,” ungkapnya kepada banjarbaruemas.com saat pelaksanaan kontes burung berkicau Luna Cup Regional Kalimantan di DPS Kurnia, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, konsep G 24 sangat berbeda dengan konsep konvensional yang selama ini ramai diterapkan. “Fokus utama kami adalah fair play. Tidak hanya dalam metode penjurian, tapi juga dalam prosentase hasil kegiatan. Semua itu kami informasikan kepada peserta baik melalui pamflet hingga banner yang terpasang di lokasi kegiatan,” imbuh Erick.
Salah satu ciri khas Gantangan 24 (G 24) terlihat pada pembatasan jumlah peserta. Jika konsep konvensional bisa mencapai 80 atau lebih peserta dalam satu sesi, maka pada GES Enterprise maksimal hanya 24 saja.
Selain itu, masih menurut Erick, tujuan konsep G 24 sangat jelas. Yakni, akurasi penilaian. Dengan peserta yang terbatas, juri memiliki kapasitas penuh untuk menilai, menimbang, dan memutuskan secara objektif berdasarkan blok yang ada.
“Kami berusaha meminimalisir kecurangan. Peserta yang menang harus memenuhi standar kelayakan. Yakni mendapatkan pengakuan minimal 75% dari jumlah juri untuk memastikan hasil akhir. Bahkan, keunikan yang tak kalah penting dalam aturan G 24 adalah peserta yang sedang bertanding diperbolehkan masuk ke arena sedekat mungkin dengan juri. Tujuannya agar mereka bisa melihat langsung kualitas suara burung mereka dan membandingkannya dengan lawan, ujar Erick.
Dari pantauan banjarbaruemas.com, meski peserta dapat masuk ke arena, hal tersebut juga dibarengi dengan aturan tanpa teriak. GES Enterprise menerapkan sanksi unik yang diklaim sebagai yang pertama di Indonesia.
Jika peserta berteriak, burung tetap dinilai. Namun, jika menang, pemilik hanya mendapatkan sertifikat dan trofi. Uang pembinaan akan hangus dan didistribusikan kepada pemenang lainnya, bukan untuk panitia.

Lebih jauh Erick juga melihat event kontes burung berkicau dapat membawa angin segar bagi ekosistem ekonomi kreatif di Banjarbaru.
“Banyak peminat event burung berkicau di Banjarbaru. Hal itu ditandai dengan banyaknya komunitas burung berkicau di kota ini. Jadi, menurut kami event semacam ini perlu terus dirawat tidak hanya di level lokal tapi kalau bisa dikonsep menjadi event nasional.”
Erik menilai capaian peserta dalam Luna Cup cukup menjanjikan untuk menggerakan roda ekonomi kreatif di Banjarbaru.
“Seingat saya peserta yang hadir banyak dari luar kota seperti Kandangan, Rantau, Barabai dan Tanjung. Bahkan, ada juga yang dari Kalimantan Tengah. Artinya, di sini para pelaku UMKM atau warga sekitar dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan penghasilan dengan cara berjualan atau menyediakan lahan parkir,” terangnya.
Lebih jauh tentang GES Enterprise, Erick menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan Event Organizer yang bergerak dalam pelaksanaan kontes burung berkicau. “Selain pelaksana, kami juga melayani sewa gantangan dan penjurian yang profesional,” ujarnya disela-sela kegiatan. (be)
Tidak ada komentar