BANJARBARUEMAS.COM — Kecamatan Cempaka dinilai bukan hanya menyimpan potensi ekonomi kreatif, tetapi juga merekam jejak panjang sejarah bumi dan peradaban manusia. Pandangan itu disampaikan Prof Dr Husaini SKM M.Kes, salah satu pengarah Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru, dalam rapat perdana pengurus harian KEK Banjarbaru, Sabtu (25/1/2026).
Di hadapan jajaran pengurus, Prof Husaini menekankan pentingnya membaca Cempaka secara utuh, bukan sekadar sebagai Kawasan Ekonomi Kreatif, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan narasi geologi, budaya, dan pengetahuan lokal yang saling terhubung. Dari sanalah gagasan menjadikan Cempaka sebagai Living Museum mulai dirumuskan.
“Saya pernah mengikuti seminar geologi nasional, dan ada temuan penting bahwa jalur Cempaka hingga Palam diprediksi merupakan aliran sungai purba. Ini relevan dengan fakta keberadaan intan di Cempaka,” ujar Prof Husaini.
Menurut dia, intan tidak bisa dilepaskan dari proses geologi jutaan tahun lalu. Keberadaannya menjadi petunjuk ilmiah bahwa kawasan Cempaka merupakan bagian dari sistem alam purba yang kompleks. Narasi inilah yang, jika diolah dengan pendekatan ekonomi kreatif, dapat menjadi kekuatan khas Banjarbaru.
Dalam rapat tersebut, Prof Husaini juga mengaitkan Cempaka dengan keberadaan Gunung Api Purba Bawah Laut di kawasan Danau Riam Kanan, Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. Situs geologi ini tersusun atas batuan breksi vulkanik dari Formasi Paau yang berumur sekitar 59–65 juta tahun lalu atau periode Kapur Akhir.
“Jika kita rangkai, gunung api purba, sungai purba, dan intan di Cempaka bukan cerita yang berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung secara ilmiah,” kata Prof Husaini.
Pendekatan serupa juga mengemuka dari hasil penggalian potensi ekonomi kreatif yang dilakukan Bidang Riset, Edukasi, dan Pengembangan Sumber Daya Kreatif KEK Banjarbaru di wilayah Cempaka. Dari penuturan warga sekitar Kubur Asam Janar yang terletak di Kelurahan Palam, ditemukan informasi mengenai keberadaan makam tua yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Warga setempat juga menyampaikan cerita turun-temurun mengenai sungai purba di wilayah yang berdekatan dengan areal makam.
Bagi KEK Banjarbaru, informasi tersebut bukan sekadar kisah lisan, melainkan memori sosial yang perlu dikaji dan dirangkai dengan data ilmiah serta pendekatan budaya. Di sinilah konsep Living Museum menemukan relevansinya.
Kecamatan Cempaka diproyeksikan menjadi salah satu etalase utama Banjarbaru melalui pengembangan Living Museum, sebuah konsep museum hidup yang menjadikan kehidupan masyarakat sebagai pameran utama. Tradisi yang masih berjalan, bentang alam, nilai religius, hingga ketangguhan sosial warga menjadi bagian dari narasi yang autentik.
Setiap kelurahan di Cempaka dinilai memiliki kekhasan yang dapat saling melengkapi. Sejarah pendulangan intan, tradisi sungai, hingga produk budaya seperti Pupur Bangkal tidak diposisikan sebagai artefak mati, melainkan sebagai pengetahuan lokal yang dihidupkan kembali melalui riset, edukasi, dan aktivitas kreatif.
Gagasan tersebut mulai diformalkan setelah Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, melantik pengurus Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru. KEK merupakan lembaga non-struktural yang bertugas membantu kepala daerah dalam merumuskan, mengoordinasikan, dan mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
Tugas KEK mencakup penyusunan roadmap ekonomi kreatif daerah, identifikasi subsektor unggulan, pengembangan program dan event kreatif, serta pemberian rekomendasi kebijakan. Selain itu, KEK juga menjalankan fungsi koordinasi lintas organisasi perangkat daerah, sinkronisasi program pusat dan daerah, serta fasilitasi pelaku ekonomi kreatif dalam perizinan, permodalan, dan akses pasar.
Dalam fungsi inkubasi dan promosi, riset menjadi fondasi utama. Pendataan pelaku ekonomi kreatif, penyusunan basis data, penguatan jejaring nasional dan internasional, hingga dorongan investasi kreatif diarahkan agar tetap berakar pada identitas lokal.
Melalui konsep Living Museum, KEK Banjarbaru ingin menegaskan bahwa ekonomi kreatif tumbuh dari sejarah bumi, ingatan kolektif, dan kehidupan masyarakat yang terus bergerak. Di Cempaka, masa lalu tidak disimpan dalam vitrin, melainkan dihidupkan sebagai energi masa depan Banjarbaru.(be)
526
Tidak ada komentar