Dari Tiga Gula di Meja hingga Komite Ekonomi Kreatif: Banjarbaru Mencari Rasa yang Otentik

waktu baca 5 menit
Jumat, 23 Jan 2026 06:52 352 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pelantikan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru periode 2025–2030 oleh Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby di Aula Gawi Sabarataan, Kamis (22/1/2026), berlangsung sederhana. Jumlah pengurusnya pun terbilang sangat ramping: hanya 11 orang—1 Ketua Umum, 5 pengurus harian, dan 5 bidang. Barangkali ini adalah komite ekonomi kreatif tingkat kabupaten/kota dengan struktur paling minimalis di Indonesia.

Namun sejarah kerap menunjukkan: perubahan besar tidak selalu lahir dari organisasi yang gemuk.

Tujuh puluh sembilan tahun lalu, Presiden Soekarno pernah mengingatkan bangsa ini tentang makna kekuatan kolektif. “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” ucapnya dalam pidato Hari Pahlawan 1964. Pesan itu bukan sekadar retorika heroik, melainkan penegasan bahwa sinergi antara pengalaman dan semangat adalah kunci perubahan. Semangat serupa kini tercermin dalam Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru yang dinakhodai H. Riandy Hidayat bersama sepuluh anggota lainnya, yang rata-rata adalah anak-anak muda. Dengan formasi yang ramping namun solid, mereka membawa energi kolektif yang sama: keberanian untuk memulai, kerelaan untuk bekerja lintas batas, dan keyakinan bahwa perubahan kota justru lahir dari gagasan sedikit orang yang bekerja dengan visi bersama.

Semangat itulah yang seakan hidup kembali dalam pelantikan KEK Banjarbaru.

Menunggu Tiga Tahun, Bergerak di Awal Kepemimpinan

KEK Banjarbaru tidak lahir secara instan. Ia adalah hasil dari perjalanan kebijakan yang cukup panjang. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif menjadi fondasi hukumnya. Namun, perlu waktu hampir tiga tahun hingga komite ini benar-benar terbentuk dan dilantik.

Momentum itu akhirnya datang di awal kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby. Dengan terbentuknya KEK, Banjarbaru menyusul Kota Banjarmasin sebagai satu dari dua daerah di Kalimantan Selatan yang memiliki Komite Ekonomi Kreatif. Fakta ini penting karena menandai keseriusan Banjarbaru menempatkan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pembangunan kota.

Percakapan Tiga Gula di Meja

Menariknya, embrio Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru justru lahir jauh sebelum pelantikan resmi, sekitar 77 hari sebelumnya. Jika ditarik lebih jauh dalam lintasan sejarah, momen itu bahkan berjarak 79 tahun dari pidato legendaris Presiden Soekarno tentang kekuatan “sepuluh pemuda”. Benih gagasan tersebut tumbuh pada 9 November 2025, dalam sebuah pertemuan sederhana di sudut resto Hotel Savana, Malang, di sela-sela rangkaian Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025. Dari ruang kecil itulah, arah besar ekonomi kreatif Banjarbaru mulai dirumuskan.

Awalnya hanya niat melepas lelah setelah hari panjang di Malang Creative Center. Namun suasana berubah menjadi diskusi hangat dan penuh makna.

Di meja itu hadir Prof. Husaini, tenaga ahli Wali Kota Banjarbaru, bersama Narwanto, Ahdalena, Isur, Harie, dan beberapa penggerak Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC). Mereka inilah yang kelak menjadi bagian dari kepengurusan KEK Banjarbaru.

Prof. Husaini memantik diskusi dengan pertanyaan sederhana, khas gaya akademisi :
“Apa sebenarnya yang khas dari Banjarbaru? Seni, budaya, pariwisata, atau kulinernya?”

Jawaban pun muncul. Ada yang menyebut hadrah sebagai kesenian, ada pula yang menyebut beberapa menu makanan. Namun Prof. Husaini menggeleng pelan.
“Itu khas Banjar,” katanya, “bukan khas Banjarbaru.”

Ia kemudian menunjuk tiga wadah gula di atas meja: gula jawa, gula pasir, dan gula rendah kalori.
“Banjarbaru itu seperti tiga gula ini,” ujarnya. “Ada Banjar, Jawa, Dayak, Bugis, Batak, Melayu, semuanya hidup berdampingan. Kalau ingin menjadi khas Banjarbaru, jangan memilih salah satu. Campurkan semuanya. Ciptakan rasa baru.”

Metafora sederhana itu menjadi titik balik perenungan. Banjarbaru memang lahir dari perjumpaan, bukan sebagai kota dengan identitas tunggal, melainkan sebagai ruang percampuran yang harmonis. Di sanalah letak keunikannya.

Bagi Prof. Husaini, pencarian identitas kreatif Banjarbaru tidak cukup berhenti pada metafora. Ia harus berpijak pada sejarah. “Mulailah dari Cempaka,” ujarnya, merujuk wilayah legendaris tempat ditemukannya Intan Trisakti pada 26 Agustus 1965—permata seberat 166,75 karat yang dinamai Presiden Soekarno.

“Intan Trisakti bukan sekadar batu mulia. Ia simbol ketekunan, harapan, dan kebanggaan lokal.”

Dari perbincangan inilah kemudian lahir gagasan besar menjadikan cempaka sebagai living museum, sebuah museum hidup yang menempatkan warga Cempaka sebagai pelaku utama sejarah. Sebuah pendekatan kreatif yang menghubungkan memori kolektif, ekonomi lokal, dan partisipasi warga dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.

Dari Percakapan Menjadi Kerja Kolektif

Kini, setelah KEK Banjarbaru resmi dilantik, percakapan tentang tiga gula di atas meja itu tidak lagi sekadar kenangan. Ia telah menjadi kata kunci kerja: menggali, merawat, dan memunculkan potensi yang benar-benar khas Banjarbaru, bukan khas Jawa, Banjar, atau suku lain secara terpisah, melainkan hasil percampuran yang otentik.

Dengan struktur yang ramping, Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru justru memikul beban sejarah yang besar: merumuskan “rasa baru” bagi kota ini, rasa yang lahir dari perjumpaan, keberagaman, dan keberanian menafsir ulang identitas. Ia bukan sekadar forum koordinasi, melainkan laboratorium gagasan tentang masa depan ekonomi kreatif di Banjarbaru. Seperti pesan Soekarno tentang sepuluh pemuda, waktu kelak akan membuktikan bahwa daya guncang sebuah gerakan tidak ditentukan oleh gemuknya struktur, melainkan oleh kejernihan visi, kekuatan kolektif, dan keberanian memulai perubahan dari yang paling mendasar.

Selamat bekerja kepada seluruh pengurus KEK Kota Banjarbaru periode 2025–2030. Semoga dari kerja-kerja yang tekun dan kolaboratif itu, lahir satu rasa baru yang benar-benar khas Banjarbaru, seperti tiga gula di atas meja: berbeda asalnya, menyatu dalam satu cita rasa, dan memberi manis yang bermakna bagi kota ini. (be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA