Kelurahan Cempaka Perkuat Pengelolaan Sampah dari Hulu, 11 Bank Sampah Disiapkan Jadi Garda Terdepan
waktu baca 4 menit
Sabtu, 25 Apr 2026 00:19 127 Banjarbaru Emas 2
Foto : Lurah Cempaka, Supriyanto, bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) meninjau langsung proses pemanfaatan sampah organik menjadi maggot di Bank Sampah Induk Graha Mandiri, Kelurahan Cempaka, Jumat (24/4/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Kelurahan Cempaka, terus mengintensifkan upaya penanganan sampah dari sumbernya. Melalui penguatan peran masyarakat dan optimalisasi bank sampah di tingkat rukun warga (RW), wilayah ini menargetkan perubahan pola pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan berbasis partisipasi warga.
Komitmen tersebut ditegaskan Lurah Cempaka, Suprianto, saat ditemui di sela kegiatan di Bank Sampah Graha Mandiri, bank sampah induk yang berlokasi di RT 40 RW 11 pada Jumat (24/4/2026). Kegiatan itu sekaligus menjadi momentum evaluasi terhadap sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan di wilayahnya.
Suprianto mengungkapkan, Cempaka memiliki potensi besar dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Seluruh RW di wilayah tersebut, yang berjumlah 11, telah membentuk bank sampah.
“Ini menjadi kekuatan utama kami. Dengan seluruh RW sudah memiliki bank sampah, secara struktur kita sudah siap. Tinggal memastikan semuanya aktif, berjalan rutin, dan terhubung dengan baik,” ujar Suprianto.
Ia menegaskan, keberadaan bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tetapi juga sebagai pusat edukasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) yang terus meningkat.
Menurut Suprianto, arah kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, yang menekankan pentingnya penanganan sampah secara berjenjang mulai dari tingkat rumah tangga. Arahan itu disampaikan dalam rapat koordinasi camat dan lurah pada 30 Maret 2026.
“Dasar kebijakan ini sesuai arahan Ibu Wali Kota, bahwa penanganan sampah harus dimulai dari rumah. Tujuannya untuk mengurangi beban TPA, menekan volume sampah, dan tidak boleh ada lagi TPS liar,” tegasnya.
Ia menambahkan, arahan tersebut menjadi dorongan kuat bagi pemerintah kelurahan untuk terus menggerakkan partisipasi warga.
“Arahan Ibu Wali Kota akan kami jadikan motivasi untuk mendorong warga agar melakukan pemilahan sampah di masing-masing rumah,” lanjutnya.
Dalam implementasinya, Kelurahan Cempaka menjadikan Bank Sampah Graha Mandiri sebagai model percontohan. Bank sampah ini dinilai telah menerapkan sistem pengelolaan yang tertib dan profesional, mulai dari pencatatan nasabah, penimbangan, hingga pemilahan sampah berbasis rumah tangga.
Di Graha Mandiri, warga tidak hanya menyetor sampah, tetapi juga telah terbiasa memilah sejak dari rumah, baik organik maupun anorganik. Bahkan, beberapa jenis sampah bernilai ekonomi seperti plastik, kertas, dan logam telah dikelola lebih spesifik.
“Bank Sampah Graha Mandiri sudah berjalan baik, kegiatannya rutin, administrasinya rapi, dan partisipasi warganya tinggi. Ini yang akan kami replikasi di RW lain,” kata Suprianto.
Ia menegaskan, keberadaan bank sampah induk memiliki peran strategis sebagai motor penggerak bagi bank sampah di tingkat RW.
“Bank Sampah Graha Mandiri sangat penting sebagai motor penggerak bank sampah tingkat RW yang sudah dibentuk. Pola yang ada di sini akan kami dorong untuk diterapkan di wilayah lain,” ujarnya.
Untuk memperkuat implementasi di lapangan, pemerintah kelurahan juga menggiatkan kegiatan gotong royong secara rutin. Setiap bulan, kegiatan bersih lingkungan dilaksanakan secara bergiliran di masing-masing RW, yang sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
“Langkah konkret yang kami ambil adalah gotong royong setiap bulan di tiap RW, sekaligus mengedukasi warga tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan penanganan sampah,” ucapnya.
Menurut dia, keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran aktif ketua RT dan RW sebagai ujung tombak di lapangan. Melalui komunikasi yang intensif, pemerintah kelurahan berupaya memastikan seluruh elemen masyarakat terlibat aktif.
“Kami terus membangun komunikasi, bekerja sama menghidupkan bank sampah, dan memastikan masyarakat ikut berperan serta,” katanya.
Di sisi lain, dukungan dari pemerintah kota dan berbagai pemangku kepentingan dinilai turut memperkuat gerakan ini. Sejumlah bantuan telah disalurkan, baik berupa sarana maupun kegiatan pembinaan.
“Banyak bantuan yang sudah kami terima, seperti tosa dari pokok pikiran dewan, penyuluhan dari Dinas Lingkungan Hidup dan DKP3, serta sarana seperti ember tumpuk dan komposter.” jelas Suprianto.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak, Kelurahan Cempaka menargetkan pengelolaan sampah dari hulu tidak sekadar menjadi program jangka pendek, melainkan budaya baru yang tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat.
“Kami ingin ini menjadi kebiasaan. Ketika masyarakat sudah terbiasa memilah sampah dari rumah, maka persoalan sampah akan jauh lebih mudah ditangani,” pungkasnya.(be)
Tidak ada komentar