Foto : Ketua Umum Komite Ekonomi Kreatif (Komite Ekraf) Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, hadir di stand Dekransasda Banjarbaru pada pameran INACRAFT 2026 yang berlangsung pada 4–8 Februari 2026 di Jakarta Convention Center (JCC).(BE) BANJABARUEMAS.COM – Banjarbaru sedang menulis bab terpenting dalam sejarahnya. Dalam dua dekade terakhir, kota ini bertransformasi dari daerah otonom muda menjadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, sekaligus menyiapkan diri sebagai simpul ekonomi baru berbasis bandara. Perubahan itu bukan lompatan sesaat, melainkan hasil estafet panjang kepemimpinan dan kebijakan publik yang saling bertaut.
Gagasan “Lorong Waktu Kepemimpinan Kota Banjarbaru” tidak lahir di ruang hampa. Ia mengemuka secara serius dalam rapat persiapan Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru, ketika Komite Ekonomi Kreatif (Komite Ekraf) Banjarbaru menyampaikan pandangan bahwa peringatan hari jadi harus melampaui kesan seremoni dan panggung hiburan. Di forum resmi itu, Komite Ekraf menegaskan pentingnya menghadirkan ruang refleksi sejarah sebagai bagian dari perayaan. “Lorong Waktu” diproyeksikan menjadi medium edukatif yang menautkan memori kepemimpinan dengan arah pembangunan ke depan.

Lebih dari itu, di tengah keterbatasan anggaran yang memang tidak dialokasikan secara khusus untuk peringatan hari jadi Banjarbaru ke 27, konsep tersebut justru ditawarkan sebagai solusi kreatif agar perayaan tetap terasa berkelas dan berkesan tanpa harus mahal. Alih-alih mengandalkan kemegahan fisik dan biaya besar, kekuatan narasi, visual arsip, serta sentuhan ekonomi kreatif diyakini mampu menghadirkan kesan elegan dan bermakna.
Fondasi dan Konsolidasi
Kepemimpinan Banjarbaru sebagai daerah otonom dimulai oleh Rudy Resnawan (2000–2005). Pada fase perintisan ini, fondasi tata kelola pemerintahan kota dibangun, menata organisasi perangkat daerah, memperkuat pelayanan dasar, dan membentuk identitas kota baru.
Estafet berlanjut kepada Ruzaidin Noor, yang memimpin dua periode (2005–2015). Inilah masa konsolidasi infrastruktur dan penguatan pelayanan publik. Sejumlah kawasan permukiman berkembang, akses jalan diperluas, dan fungsi kota sebagai pusat pendidikan serta jasa semakin menguat.

Periode berikutnya dipimpin Nadjmi Adhani (2016–2020). Fase ini ditandai penguatan identitas kota dan akselerasi program pelayanan publik. Selepas itu, pemerintahan dijalankan Pelaksana Tugas Darmawan Jaya Setiawan, diselingi Penjabat Sementara Bernhard E. Rondonuwu pada 2020. Awal 2021, estafet berlanjut melalui masa singkat Darmawan Jaya Setiawan, Pelaksana Harian Said Abdullah, hingga periode definitif Aditya Mufti Ariffin sejak Februari 2021.
Dari fase ke fase, terlihat satu benang merah: Banjarbaru tumbuh dengan konsistensi tata ruang dan pelayanan publik yang relatif stabil. Stabilitas inilah yang menjadi modal sosial ketika kota ini memasuki babak baru sebagai ibu kota provinsi.
Resmi Menjadi Ibu Kota Provinsi
Penetapan Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2022 merupakan tonggak sejarah. Pemindahan dari Banjarmasin didasarkan pada kesiapan infrastruktur, posisi geografis yang sentral, serta visi pemerataan pembangunan. Sejak 2011, pusat perkantoran pemerintah provinsi memang telah berpindah bertahap ke Banjarbaru.
Kota ini didukung infrastruktur strategis seperti Bandara Internasional Syamsudin Noor, yang memperkuat konektivitas regional. Banjarbaru juga bagian dari kawasan metropolitan Banjarbakula dan dikenal sebagai Kota Pendidikan dengan capaian Indeks Pembangunan Manusia tertinggi di Kalimantan Selatan.
Status baru itu membawa konsekuensi: Banjarbaru bukan lagi sekadar kota kecil perlintasan, melainkan wajah representatif pemerintahan provinsi.
Era Kepemimpinan Perempuan dan Visi “Banjarbaru Emas”
Sejarah kembali mencatat bab penting ketika Hj. Erna Lisa Halaby dilantik pada 21 Juni 2025 sebagai Wali Kota Banjarbaru periode 2025–2030. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin kota ini.
Lahir di Banjarmasin, 11 September 1979, Lisa Halaby sebelumnya dikenal sebagai ASN Pemkot Banjarbaru dan pendiri Yayasan Abdul Aziz Halaby. Visi yang diusungnya, “Banjarbaru Emas” , Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera, menjadi kerangka naratif pembangunan lima tahun ke depan.
Di bawah kepemimpinannya, transformasi kota diarahkan lebih progresif, termasuk percepatan kepastian hukum tata ruang dan penguatan ekonomi kreatif.
Aero City: Landasan Pacu Ekonomi Baru
Salah satu proyek strategis adalah Banjarbaru Aero City, kawasan terpadu berbasis bandara seluas sekitar 7.000 hektare di sekitar Bandara Syamsudin Noor. Kawasan ini dirancang sebagai motor ekonomi baru Kalimantan Selatan.
Pemerintah kota tengah mematangkan RDTR dan Peraturan Wali Kota untuk memberi kepastian hukum bagi investor. Sejumlah infrastruktur pendukung telah rampung, termasuk peningkatan Jalan Pondok Mangga serta akses Jalan Syamsudin Nur sepanjang tiga kilometer dari Jalan A. Yani KM 29.
Konsep Transit Oriented Development (TOD) diusung, mengintegrasikan bandara dengan rencana jaringan kereta api dan jalan tol. Dalam rencana induk, kawasan ini mencakup pusat bisnis dan logistik, zona industri kreatif dan berkelanjutan, serta fasilitas publik seperti stadion olahraga dan ruang terbuka hijau.
Merawat Memori, Menata Masa Depan
Ketua Umum Komite Ekraf Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menilai bahwa seluruh transformasi ini perlu dirangkai dalam satu kesadaran historis. “Lorong Waktu Kepemimpinan bukan sekadar menampilkan nama-nama wali kota. Ia memperlihatkan kesinambungan gagasan, kebijakan, dan kerja kolektif yang membawa Banjarbaru sampai di titik ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, di tengah keterbatasan anggaran peringatan Hari Jadi ke-27, kreativitas harus menjadi kekuatan utama. “Justru dalam keterbatasan dana, kita harus mampu menghadirkan kesan yang kuat dan bermakna. Peringatan hari jadi tidak boleh kehilangan jejak para pendahulu. Kita wajib merawat memori kepemimpinan sebagai fondasi moral pembangunan,” kata Riandy.
Pesan itu menjadi penutup yang tegas: Banjarbaru boleh bergerak cepat menuju masa depan, menjadi ibu kota provinsi dan menyiapkan Aero City sebagai gerbang ekonomi baru, namun ia tidak boleh tercerabut dari akarnya. Sebab kota yang besar adalah kota yang menghargai jejak langkah para pemimpinnya dan menjadikannya pijakan untuk melompat lebih jauh.(be)
Tidak ada komentar