Hidupkan Aset Tidur, Kolaborasi Kyoto University dan BECC Gagas ‘Placemaking’ di Pasar Laura Banjarbaru

waktu baca 3 menit
Rabu, 26 Nov 2025 04:46 235 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Upaya menghidupkan kembali aset pemerintah melalui pendekatan kreatif terus digodok di Kota Banjarbaru. Tidak hanya meneliti tentang solidaritas perempuan, Profesor Kenta Kishi dari Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University bersama komunitas Banjarbaru Emas Creative Center (BECC) kini melirik potensi fisik bangunan pasar untuk diterapkan konsep Placemaking atau cipta ruang.

Salah satu lokasi yang menjadi fokus tinjauan lapangan tim gabungan ini adalah Pasar Laura, yang terletak di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang. Lokasi ini dinilai strategis karena berada tepat di tengah denyut aktivitas masyarakat Kampung Sayur Laura.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari sinergi antara akademisi, komunitas kreatif, dan Pemerintah Kota Banjarbaru. Narwanto, perwakilan dari BECC, menjelaskan bahwa inisiatif ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah kota yang membuka ruang kolaborasi.

“Sinergi ini bermula dari lampu hijau yang diberikan Ibu Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby. Beliau memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kami di BECC untuk tidak hanya menyumbang saran pemikiran, tetapi juga aksi nyata bagi masyarakat. Hari ini, komitmen itu terbukti dengan sambutan hangat dari Dinas Perdagangan yang memfasilitasi akses penuh bagi kami untuk membedah potensi Pasar Laura,” ujar Narwanto di sela-sela kunjungan.

Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Perdagangan menunjukkan peran aktifnya dalam mendukung revitalisasi aset ini. Bapak Rahmad Hidayat , perwakilan dari Dinas Perdagangan yang mendampingi rombongan, menegaskan komitmen pemerintah untuk mengubah aset pasif menjadi ruang produktif.

“Pemerintah sangat mendukung inisiatif ini. Kami menyadari bahwa aset seperti Pasar Laura memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal. Dengan kehadiran Prof. Kishi dan rekan-rekan kreatif, kami berharap ada perspektif baru untuk mengubah area ini menjadi pusat ekonomi sekaligus ruang interaksi warga, bukan sekadar bangunan pasar biasa,” ungkap Dayat.

Dalam tinjauan tersebut, Profesor Kenta Kishi yang memiliki latar belakang kuat di bidang Urban Studies dan Social Art Practice, menyoroti struktur bangunan Pasar Laura yang luas serta keberadaan kolam pancing di area belakang. Menurutnya, konsep Placemaking sangat relevan diterapkan di sini.

“Placemaking bukan sekadar mempercantik fisik, tapi meniupkan ‘ruh’ pada sebuah tempat. Saya melihat Pasar Laura memiliki space terbuka dan elemen air yang menarik. Kita bisa mulai dengan Creative dan Tactical Placemaking—menggunakan seni dan aktivitas warga untuk memicu interaksi sosial. Tujuannya adalah menciptakan ruang yang manusiawi, di mana kreativitas warga tumbuh dan ekonomi lokal bergerak secara alami,” jelas Profesor Kenta Kishi.

Penerapan Placemaking di Pasar Laura rencananya akan mengintegrasikan tiga pendekatan utama. Strategic Placemaking akan menyasar kerja sama jangka panjang pemerintah dan swasta untuk regenerasi kawasan. Creative Placemaking akan memanfaatkan seni budaya untuk membentuk identitas lokal Kampung Sayur. Sementara itu, Tactical Placemaking akan dilakukan melalui intervensi cepat dan berbiaya rendah, seperti kegiatan komunitas atau pasar kaget, untuk menguji respon publik sebelum perubahan permanen dilakukan.

Langkah ini diharapkan menjadi model percontohan bagaimana aset pemerintah yang “tidur” dapat bangun kembali melalui kolaborasi lintas sektor, menjadikan ruang publik sebagai milik bersama yang inklusif dan berkelanjutan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA