BANJARBARUEMAS.COM — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Dampak asap terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian, dengan puskesmas diperkuat sebagai layanan kesehatan tingkat pertama hingga penyediaan Rumah Oksigen di sejumlah fasilitas kesehatan.
Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru juga mendistribusikan masker melalui puskesmas ke wilayah kerja masing-masing, termasuk sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat perlindungan masyarakat selama paparan asap karhutla masih berpotensi terjadi.
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Banjarbaru, Maulida, saat dihubungi Minggu (13/9/2026), mengatakan puskesmas menangani dampak kesehatan yang muncul di tengah masyarakat akibat karhutla.
“Dengan adanya karhutla kan kasus ISPA meningkat, rata-rata masyarakat datang ke puskesmas untuk berobat rawat jalan,” ujar Maulida.
Pelayanan di puskesmas disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Warga yang mengalami keluhan kesehatan dapat datang untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
Pasien yang kondisinya masih memungkinkan ditangani di tingkat pertama akan mendapatkan pelayanan rawat jalan.
Sementara pasien dengan kondisi lebih berat akan diarahkan melalui sistem rujukan.
“Kecuali yang ada komplikasi atau mengarah ke pneumonia dan kejang maka akan dirujuk dan dirawat inap di RS Idaman,” kata Maulida.
Dengan pola tersebut, puskesmas menjadi pintu pertama pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Jika kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut, RSD Idaman menjadi fasilitas rujukan untuk perawatan berikutnya.
Di sisi pencegahan, Dinkes Banjarbaru menyalurkan masker kepada puskesmas. Selanjutnya, masker tersebut dibagikan kepada masyarakat sesuai kebutuhan di wilayah kerja masing-masing.
“Pembagian masker dari Dinkes ke puskesmas. Puskesmas membagi langsung ke wilayah kerja masing-masing. Misal ke sekolah-sekolah yang ada di wilayah kerjanya,” ujar Maulida.
Pola distribusi tersebut membuat puskesmas tidak hanya berfungsi sebagai tempat masyarakat mendapatkan pelayanan ketika mengalami keluhan kesehatan. Fasilitas kesehatan tingkat pertama itu juga menjadi jalur penyaluran perlindungan bagi masyarakat di wilayah masing-masing.
Kebutuhan masker yang terus berjalan membuat persediaan di gudang Dinkes ikut berkurang. Maulida mengatakan, dalam sepekan terakhir, stok masker yang tersedia telah didistribusikan ke puskesmas sesuai permintaan.
“Dalam seminggu ini stok masker yang ada di gudang kita distribusikan ke puskesmas,” katanya.
Ia mengatakan stok yang tersedia sebelumnya telah disalurkan kepada puskesmas berdasarkan permintaan masing-masing.
“Sudah didistribusikan semua ke puskesmas stok masker yang ada, sesuai permintaan,” ujar Maulida.
Untuk kondisi terbaru, stok masker di gudang Dinkes tersisa sekitar 3.000 buah. Persediaan tersebut akan kembali ditambah seiring kebutuhan perlindungan masyarakat yang masih berlangsung.
“Stok di gudang sisa 3.000 pcs, dan akan dilakukan pembelian lagi,” kata Maulida.
Selain pelayanan puskesmas dan distribusi masker, Dinkes Banjarbaru juga menyiapkan Rumah Oksigen.
Pembentukan layanan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Wali Kota Banjarbaru.
“Sesuai arahan Ibu Wali Kota, Dinkes membentuk Rumah Oksigen,” ujar Maulida.
Rumah Oksigen disiapkan di sejumlah fasilitas kesehatan yang tersebar di wilayah Banjarbaru. Berdasarkan informasi layanan Dinkes, terdapat 14 fasilitas yang menjadi titik layanan, yakni PSC 119 Kota Banjarbaru, Puskesmas Cempaka, Posko Regas, Puskesmas Sungai Ulin, Puskesmas Banjarbaru Utara, Puskesmas Sungai Besar, Puskesmas Banjarbaru Selatan, Puskesmas Guntung Manggis, Puskesmas Landasan Ulin Timur, Puskesmas Guntung Payung, Puskesmas Landasan Ulin, Puskesmas Liang Anggang, Pustu Loktabat Selatan, dan Pustu Landasan Ulin Selatan.
Dari titik tersebut, PSC 119 Kota Banjarbaru, Puskesmas Cempaka, dan Posko Regas tercantum memberikan layanan selama 24 jam. Sementara fasilitas lainnya memberikan pelayanan sesuai jadwal operasional masing-masing.
Keberadaan titik layanan yang tersebar tersebut memperluas akses masyarakat terhadap dukungan oksigen, sekaligus memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi dampak karhutla.
Rangkaian langkah itu menunjukkan penanganan dampak kesehatan akibat karhutla dilakukan secara berlapis. Puskesmas menangani masyarakat pada tingkat pertama, masker didistribusikan melalui jaringan puskesmas hingga ke sekolah, Rumah Oksigen disiapkan untuk mendukung kebutuhan oksigen, sementara pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke RSD Idaman.
Dengan pola pelayanan tersebut, penanganan kesehatan tidak hanya dilakukan ketika warga sudah mengalami kondisi yang lebih berat, tetapi juga diperkuat melalui upaya pencegahan dan kesiapan fasilitas.
Selama dampak asap karhutla masih dirasakan, Dinkes Banjarbaru memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dari tingkat terdekat dengan masyarakat. Puskesmas menjadi pintu pertama penanganan, masker disalurkan ke wilayah dan sekolah, sementara Rumah Oksigen serta RSD Idaman disiapkan untuk kebutuhan pelayanan yang lebih lanjut.(be)
232
Tidak ada komentar