Bategang, Napas Budaya yang Tak Pernah Padam: Cempaka Menjaga Warisan Leluhur Lewat Pelukan dan Doa Menyambut Jemaah Haji

waktu baca 7 menit
Kamis, 18 Jun 2026 09:08 277 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Tangis haru pecah di antara lantunan syair hadrah. Senyum bahagia tak henti mengembang di wajah keluarga yang sejak pagi memenuhi tepi jalan kampung. Ada yang menggenggam tasbih, ada yang membawa bunga, sementara anak-anak berlarian ingin menjadi yang pertama memeluk orang tua, kakek, atau nenek yang baru pulang dari perjalanan suci.

Satu per satu 23 jemaah haji asal Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, tiba kembali di kampung halaman, Kamis (18/6/2026), setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Suasana seketika berubah menjadi lautan pelukan, jabat tangan, dan doa. Air mata yang mengalir bukan semata karena kerinduan yang akhirnya terobati setelah lebih dari sebulan berpisah, melainkan juga sebagai ungkapan syukur karena seluruh jemaah kembali dalam keadaan sehat.

Namun, di Cempaka, kepulangan para tamu Allah tidak pernah sekadar menjadi momen perjumpaan keluarga. Di balik pelukan hangat dan senyum bahagia itu, hidup sebuah tradisi yang telah melintasi zaman, diwariskan dari generasi ke generasi, bahkan jauh sebelum Cempaka menjadi bagian dari Kota Banjarbaru. Tradisi itu bernama Bategang, sebuah prosesi penyambutan jemaah haji yang hingga kini tetap lestari sebagai identitas budaya masyarakat Cempaka sekaligus salah satu warisan budaya Banjar yang masih bertahan.

Sejak pagi, keluarga, kerabat, tetangga, tokoh masyarakat, hingga anak-anak telah berjejer di sepanjang jalan menuju rumah para jemaah. Mereka menanti dengan penuh sukacita sembari mendengarkan lantunan Sinoman Hadrah yang mengiringi kedatangan rombongan. Tabuhan rebana berpadu dengan syair pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW menghadirkan suasana religius yang menyelimuti seluruh kampung.

Para jemaah perempuan tampak anggun mengenakan busana muslim berwarna-warni lengkap dengan penutup kepala khas haji. Sementara para jemaah laki-laki mengenakan gamis putih dan sorban bernuansa Timur Tengah. Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian warga yang telah menunggu sejak pagi sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu Allah yang baru menyempurnakan rukun Islam kelima.

Sebelum memasuki rumah masing-masing, para jemaah terlebih dahulu menjalani prosesi Bategang. Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan kampung sambil menyalami warga yang telah menunggu. Pelukan demi pelukan terjadi tanpa sekat. Anak memeluk orang tua, cucu mencium tangan kakek dan neneknya, sementara tetangga dan sahabat bergantian menyampaikan doa.

Di beberapa titik, masyarakat menghamparkan kain putih panjang dari gerbang hingga halaman rumah yang akan dilalui para jemaah. Hamparan itu menjadi jalur kehormatan sebelum mereka memasuki kediamannya.

Bagi masyarakat luar, hamparan kain putih mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari prosesi penyambutan. Namun bagi warga Cempaka, kain tersebut menyimpan filosofi yang telah diwariskan para leluhur selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Kain putih melambangkan kesucian hati, kemurnian niat, dan kemuliaan ibadah haji yang telah ditunaikan para jemaah di Tanah Suci. Hamparan itu menjadi bentuk penghormatan tertinggi kepada mereka yang telah menyelesaikan rukun Islam kelima.

Tradisi tersebut juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas keselamatan para jemaah selama menjalankan ibadah hingga kembali ke kampung halaman.

Lebih dari itu, masyarakat Cempaka meyakini hamparan kain putih merupakan simbol gerbang keberkahan. Ketika para jemaah melintas di atasnya, warga memanjatkan doa agar keberkahan ibadah haji turut mengalir kepada keluarga, lingkungan, hingga seluruh masyarakat Cempaka.

Tradisi ini juga menjadi ruang yang mempertemukan seluruh warga tanpa memandang usia maupun status sosial. Semua berkumpul, bersalaman, berpelukan, saling memaafkan, dan saling mendoakan. Nilai kebersamaan inilah yang menjadikan Bategang tidak sekadar tradisi tahunan, tetapi perekat hubungan sosial masyarakat.

Bagi para jemaah sendiri, prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa setelah kembali dari Tanah Suci mereka memikul tanggung jawab moral untuk menjadi teladan, menjaga akhlak, memperkuat nilai-nilai agama, serta terus merawat budaya Banjar yang diwariskan para leluhur.

Keunikan Bategang tidak berhenti pada prosesi penyambutan. Setelah seluruh rangkaian selesai, para jemaah biasanya tidak langsung memasuki rumah, melainkan terlebih dahulu berziarah ke makam orang tua maupun leluhur sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji.

Warisan Sejak Cempaka Masih Menjadi Bagian Kabupaten Banjar

Tidak ada catatan tertulis yang menjelaskan kapan Tradisi Bategang pertama kali dilaksanakan. Namun masyarakat Cempaka meyakini tradisi tersebut telah ada sejak Kampung Cempaka masih menjadi bagian dari Kabupaten Banjar, bahkan jauh sebelum Kota Banjarbaru terbentuk.

Tradisi itu diwariskan secara turun-temurun oleh para datu atau leluhur masyarakat Banjar dan terus dijaga hingga sekarang. Bagi masyarakat Cempaka, Bategang bukan sekadar adat, melainkan bagian dari jati diri kampung yang tidak boleh hilang oleh perkembangan zaman.

Salah seorang warga Cempaka, Mahmudin, mengatakan Tradisi Bategang merupakan penyambutan khas masyarakat Banjar di Cempaka yang telah hidup sejak zaman para leluhur.

“Tradisi Bategang sudah ada sejak zaman datu-datu terdahulu. Tidak ada yang tahu persis kapan dimulai. Yang jelas, sejak Kampung Cempaka masih masuk wilayah Kabupaten Banjar, tradisi ini sudah dilakukan setiap menyambut kepulangan jemaah haji,” ujarnya.

Menurut Mahmudin, inti dari Bategang bukanlah kemeriahan acara, melainkan doa dan harapan yang menyertai setiap jabat tangan dan pelukan.

“Dulu masyarakat menunggu di pinggir jalan. Laki-laki bersalaman dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Semua berpelukan sambil mendoakan. Tujuannya mengambil berkah dari jemaah yang datang dari Tanah Suci dan berharap suatu saat kami juga diberi kesempatan menjadi tamu Allah di Makkah,” katanya.

Ia menambahkan, tradisi menghamparkan kain putih yang dilalui para jemaah merupakan simbol penghormatan sekaligus doa agar kemabruran haji membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.

Merawat Tradisi, Merawat Identitas

Camat Cempaka Hendrawan Maulana mengatakan pelaksanaan Tradisi Bategang tahun ini berlangsung sukses dan lancar. Hal yang paling disyukurinya adalah seluruh 23 jemaah haji asal Kecamatan Cempaka kembali ke kampung halaman dalam keadaan sehat.

“Alhamdulillah pelaksanaan Tradisi Bategang hari ini berjalan sukses dan lancar. Yang paling utama, kami bersyukur seluruh 23 jemaah haji asal Kecamatan Cempaka kembali ke tanah air dalam keadaan sehat. Semoga seluruh jemaah menjadi haji yang mabrur, dan kemabruran itu tidak hanya menjadi doa, tetapi benar-benar melekat serta tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak yang baik, ibadah yang semakin kuat, serta kepedulian kepada sesama,” ujarnya.

Menurut Hendrawan, Bategang bukan sekadar prosesi penyambutan, melainkan warisan budaya yang memadukan nilai religius, sosial, dan kebersamaan masyarakat Banjar.

“Tradisi Bategang telah menjadi budaya lokal masyarakat Cempaka setiap menyambut kepulangan jemaah haji. Tradisi ini harus terus kita lestarikan dan kita perkenalkan secara lebih luas agar masyarakat mengetahui bahwa Banjarbaru, khususnya Cempaka, memiliki warisan budaya yang masih hidup hingga sekarang. Di tengah perkembangan zaman, tradisi seperti inilah yang menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat nilai persaudaraan, gotong royong, dan rasa syukur. Semoga Tradisi Bategang terus membawa keberkahan bagi kita semua,” katanya.

Ia menambahkan, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan prosesi setiap tahun, tetapi juga harus diiringi dengan upaya mengenalkan sejarah dan makna filosofinya kepada generasi muda agar tradisi tersebut tidak kehilangan ruhnya.

Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, lanjut Hendrawan, menjaga Bategang berarti menjaga identitas Cempaka sebagai salah satu kawasan yang masih memiliki kearifan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Sementara itu, Lurah Cempaka Suprianto mengatakan Bategang merupakan kebanggaan masyarakat Cempaka yang hingga kini tetap lestari karena diwariskan secara turun-temurun sejak zaman para orang tua dan leluhur.

Menurutnya, setiap pelukan, jabat tangan, lantunan hadrah, hingga hamparan kain putih bukan sekadar bagian dari prosesi adat, melainkan bahasa budaya yang mengajarkan rasa syukur, penghormatan kepada tamu Allah, dan pentingnya menjaga persaudaraan.

“Acara Bategang adalah luapan kegembiraan keluarga dan seluruh masyarakat ketika menyambut jemaah haji yang pulang dari Tanah Suci. Di sinilah semua saling bersalaman, berpelukan, saling memaafkan, dan saling mendoakan. Tujuan utamanya mempererat keakraban antara jemaah haji, keluarga, tetangga, dan masyarakat. Tradisi ini sudah diwariskan sejak zaman orang tua dan leluhur kami. Karena itu menjadi tanggung jawab bersama untuk terus merawat dan memperkenalkannya kepada generasi muda. Selama Bategang tetap hidup, selama itu pula jati diri masyarakat Cempaka akan tetap terjaga. Inilah warisan yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dijalankan dan dibanggakan sebagai bagian dari identitas budaya Banjarbaru,”ucap Suprianto.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA