BANJARBARUEMAS.COM – Upaya mengurangi timbunan sampah dari sumbernya di Kota Banjarbaru mulai diwujudkan melalui aksi nyata. Tiga pekan setelah Kecamatan Banjarbaru Selatan ditetapkan sebagai wilayah percontohan (pilot project) penerapan pemilahan sampah rumah tangga, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menyerahkan rumah maggot kepada warga RT 03 RW 04 Komplek Rina Karya, Kelurahan Guntung Paikat, Kamis (6/8/2026).
Rumah maggot tersebut bukan sekadar bangunan sederhana untuk membudidayakan larva Black Soldier Fly (BSF). Fasilitas itu menjadi bagian dari implementasi kebijakan pengelolaan sampah yang mendorong masyarakat mengolah sampah organik langsung dari sumbernya sebelum berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Bagi warga RT 03 RW 04 Komplek Rina Karya, kehadiran rumah maggot memiliki arti lebih dari sekadar program lingkungan. Lingkungan tersebut saat ini tengah mengikuti Lomba Kebersihan RT Tingkat Kota Banjarbaru, sehingga keberadaan rumah maggot diharapkan menjadi inovasi yang memperkuat penilaian sekaligus menunjukkan komitmen warga dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Program ini merupakan kelanjutan dari komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis sumber. Sebelumnya, pada 16 Juli 2026, Kecamatan Banjarbaru Selatan menggelar rapat koordinasi pengelolaan sampah di Aula Kelurahan Guntung Paikat. Pertemuan tersebut dihadiri Camat Banjarbaru Selatan, para lurah se-Kecamatan Banjarbaru Selatan, ketua RT dan RW, petugas pengangkut sampah, mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat, serta jajaran Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru.
Rapat itu merupakan tindak lanjut kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup yang mendorong pemilahan sampah sejak dari sumber, seiring diterapkannya sistem pengelolaan TPA yang hanya menerima sampah residu dan sampah anorganik yang tidak lagi dapat dimanfaatkan.
Dalam forum tersebut, Kecamatan Banjarbaru Selatan disepakati sebagai pilot project penerapan pemilahan sampah rumah tangga di Kota Banjarbaru. Masyarakat didorong membiasakan memilah sampah menjadi organik, anorganik, dan residu sesuai jadwal pengangkutan yang telah ditetapkan.
Berbagai masukan dari ketua RT, petugas pengangkut sampah, mahasiswa KKN, hingga pemerintah kelurahan menjadi bahan evaluasi bersama, mulai dari penyesuaian jadwal pengangkutan, penyediaan sarana pendukung, pengelolaan sampah organik, hingga strategi memperkuat edukasi kepada masyarakat.
Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui aksi nyata. Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat membangun sebuah rumah maggot secara gotong royong sebagai sarana pengelolaan sampah organik di tingkat lingkungan. Keberadaannya diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA sekaligus menjadi contoh penerapan Gerakan Pilah Sampah dari Sumber di Kota Banjarbaru.
Dibangun Mahasiswa, Diserahkan untuk Masyarakat
Yang membedakan program ini dengan kegiatan serupa adalah proses pembangunannya. Rumah maggot tidak berasal dari bantuan siap pakai, melainkan dirancang dan dibangun langsung oleh mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat secara gotong royong di Kantor Kelurahan Guntung Paikat.
Mulai dari penyusunan desain, pemotongan material, perakitan rangka, hingga penyelesaian bangunan dilakukan bersama sebelum akhirnya dipindahkan ke RT 03 RW 04 Komplek Rina Karya untuk dimanfaatkan masyarakat.
Lurah Guntung Paikat Reza Pahlevi mengatakan penyerahan rumah maggot merupakan wujud kolaborasi antara Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Kelurahan Guntung Paikat, Universitas Lambung Mangkurat, dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Alhamdulillah, hari ini kami bersama Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat melaksanakan penyerahan rumah maggot kepada RT 03 RW 04 Komplek Rina Karya. Saya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat beserta dosen pendamping yang telah menghadirkan inovasi dan pendampingan kepada masyarakat,” ujarnya.
Reza menilai program tersebut menjadi contoh nyata bahwa persoalan lingkungan dapat diselesaikan melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Menurutnya, rumah maggot menjadi solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga yang selama ini masih bercampur dengan sampah lainnya. Melalui budidaya maggot, sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur dapat diolah menjadi pakan berprotein tinggi bagi ikan maupun ternak. Sementara residu hasil budidayanya atau kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
“Dengan cara ini, sampah organik tidak lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi volume sampah menuju TPA,” katanya.
Ia menambahkan, nilai lebih dari program tersebut terletak pada keterlibatan langsung mahasiswa dalam proses pembangunannya.
“Rumah maggot ini dibangun langsung oleh mahasiswa melalui semangat gotong royong. Mulai dari proses perancangan, pembuatan, hingga akhirnya siap dimanfaatkan masyarakat. Ini menunjukkan mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga meninggalkan karya nyata yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tutur Reza.
Ia berharap rumah maggot dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat sehingga menjadi contoh bagi lingkungan lain.
“Harapan kami, rumah maggot ini dapat dikelola secara berkelanjutan oleh warga, menjadi contoh bagi lingkungan lainnya, serta mendukung Gerakan Pilah Sampah dari Sumber dan mewujudkan Kelurahan Guntung Paikat yang bersih, sehat, dan bernilai ekonomi melalui pengelolaan sampah yang baik,” ujarnya.
Kurangi Sampah dari Sumber
Dosen Pendamping Lapangan KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat, Muhammad Husin, mengatakan antusiasme masyarakat menjadi modal penting keberhasilan program tersebut.
Menurutnya, budidaya maggot merupakan salah satu metode pengurangan sampah melalui pendekatan biologis yang efektif karena memanfaatkan makhluk hidup untuk mengurai limbah organik.
“Alhamdulillah, kegiatan hari ini berjalan dengan baik. Dihadiri perangkat kelurahan, RT, RW, dan masyarakat yang terlihat sangat antusias. Ini merupakan salah satu metode pengurangan sampah dari sumbernya melalui pengelolaan biologis dengan memanfaatkan makhluk hidup,” katanya.
Ia menjelaskan, apabila seluruh sampah organik rumah tangga di RT 03 RW 04 dapat diolah melalui rumah maggot, volume sampah yang dikirim ke TPA akan berkurang secara signifikan sehingga yang tersisa hanya sampah residu.
“Kondisi ini tentu akan membantu mengurangi beban pemerintah dalam pengelolaan sampah, baik di tingkat kelurahan maupun Pemerintah Kota Banjarbaru,” ujarnya.
Warga Antusias Belajar Budidaya Maggot
Penanggung jawab kegiatan, Muhammad Rafi Idzhar, mengatakan masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung.
Warga tidak hanya menyaksikan prosesi penyerahan rumah maggot, tetapi juga aktif bertanya mengenai teknik budidaya, pemberian pakan, hingga pemanfaatan hasil panen maggot.
Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, kegiatan juga menghadirkan pemateri dari TPA Banjarbakula, Teguh Suprapto, yang memberikan pelatihan teknis mengenai budidaya maggot.
Menurut Teguh, pengelolaan maggot tidak hanya memberikan dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Kegiatan ini sangat bagus dan harus terus ditingkatkan. Selain mengedukasi masyarakat, budidaya maggot juga bisa menjadi nilai tambah pendapatan masyarakat serta mendukung ketahanan pangan. Hasil komposnya dapat dimanfaatkan untuk berkebun dan berternak. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan,” katanya.
Ketua RT 03 RW 04 Komplek Rina Karya, Sudaryono, mengaku bersyukur lingkungannya menjadi lokasi pengembangan rumah maggot.
Menurutnya, inovasi tersebut sangat membantu masyarakat karena hasil budidaya maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam maupun ikan.
“Tanggapan saya sangat positif karena kami sangat terbantu. Program ini menambah inovasi di RT 03. Dari awal saya memang berencana memelihara ayam sehingga maggot bisa dimanfaatkan sebagai pakannya. Selain itu juga dapat digunakan sebagai pakan ikan dan berbagai keperluan lainnya,” katanya.
Ia mengakui masih perlu mempelajari teknik budidaya maggot agar hasilnya optimal.
“Saya sendiri masih perlu belajar agar budidaya maggot ini berhasil. Terima kasih kepada mahasiswa KKN yang telah menghadirkan program ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan membawa berkah bagi RT 03,” ujarnya.
Menjelang kegiatan berakhir, warga masih bergantian mengamati rumah maggot yang baru saja diserahkan. Sebagian mulai memahami cara memilah sampah organik, sementara yang lain membayangkan hasil panen maggot yang kelak dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan. Dari sebuah bangunan sederhana hasil gotong royong mahasiswa KKN Universitas Lambung Mangkurat itu, tumbuh harapan bahwa perubahan besar dalam pengelolaan sampah Kota Banjarbaru dapat dimulai dari lingkungan terkecil, dari halaman rumah, dari kebiasaan memilah sampah, dan dari semangat masyarakat untuk menjaga lingkungan secara bersama-sama.(be)
172
Tidak ada komentar