BANJARBARUEMAS.COM — Upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) secara lebih dini diperluas Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru. Melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes melaksanakan percepatan tracing TBC terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang berlangsung sejak Agustus hingga November 2026.
Program ini menyasar 50 lokus yang tersebar di lima kecamatan di Kota Banjarbaru. Setiap lokus ditargetkan diikuti 100 peserta, sehingga total sasaran mencapai 5.000 warga.
Pelaksanaan sudah dimulai pada Agustus 2026 dan kini berlanjut ke sejumlah lokus pada September. Hingga Kamis, 17 September 2026, sebanyak 28 lokus telah dilaksanakan dengan total 2.800 warga menjalani skrining TBC.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dr. Ani Rusmila mengatakan perluasan tracing dilakukan untuk membuka lebih banyak peluang menemukan kasus TBC yang selama ini belum terdeteksi.
“Tujuannya dengan meluaskan tracing ini adalah menemukan kasus yang selama ini mungkin tidak terdeteksi. Karena pasien TBC yang tidak terdeteksi justru menjadi sumber penularan di masyarakat,” kata Ani, Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, penemuan kasus tidak cukup hanya mengandalkan warga yang datang berobat. Melalui tracing aktif, petugas berupaya menjangkau masyarakat yang memiliki risiko lebih besar terinfeksi TBC.
Sasaran kegiatan antara lain orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, lanjut usia (lansia), serta pasien diabetes melitus.
Kelompok tersebut dijaring melalui pelaksanaan skrining di berbagai lokus.
“Dengan tracing harapannya cepat ditemukan, cepat diobati sampai tuntas,” ujar Ani.
Bagi Dinkes, kecepatan menemukan kasus menjadi penting karena orang yang terinfeksi TBC tetapi belum diketahui kondisinya dapat tetap beraktivitas di tengah masyarakat dan berpotensi menjadi sumber penularan.
Karena itu, skrining menjadi pintu masuk untuk memastikan warga yang terindikasi mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Warga yang ditemukan sebagai terduga TBC akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Jika pada saat skrining didapatkan terduga TBC maka dilakukan tindak lanjut berupa pemeriksaan TCM, jika TCM positif maka masuk kriteria TBC positif dan dilakukan pengobatan,” jelas Ani.
Dengan mekanisme tersebut, proses tracing diarahkan tidak berhenti pada penemuan terduga. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan positif TBC, pasien masuk dalam penanganan dan mendapatkan pengobatan.
Pengobatan sampai tuntas menjadi bagian penting untuk mencegah pasien kembali menjadi sumber penularan. Karena itu, Dinkes menempatkan penguatan skrining dan keberlanjutan pengobatan sebagai satu rangkaian dalam pengendalian TBC.
“Strategi yang dilakukan adalah memperkuat skrining, jika positif maka dilakukan pengobatan sampai tuntas supaya tidak menularkan kepada orang lain,” kata Ani.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Dinkes Kota Banjarbaru untuk mendorong terwujudnya Banjarbaru Zero TBC. Target 50 lokus dan 5.000 peserta diharapkan memperluas jangkauan penemuan kasus sehingga semakin banyak warga yang berisiko dapat diketahui kondisinya.
Di sisi lain, Ani mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada TBC. Warga yang mengalami batuk selama dua minggu atau lebih diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Dukungan masyarakat juga dibutuhkan dalam proses pengendalian TBC, terutama dengan tidak memberikan stigma kepada pasien. Lingkungan yang mendukung diharapkan membuat pasien lebih terbuka untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
“Kepada masyarakat diharapkan tidak memberikan stigma terhadap pasien TBC, apabila ada keluhan batuk 2 minggu atau lebih segera periksa dan jika memang harus pengobatan TBC maka lakukan sampai tuntas dan sembuh,” pungkas Ani.(be)
205
Tidak ada komentar