Wali Kota Erna Lisa Halaby Dampingi Menhut Raja Juli Tinjau Karhutla Guntung Damar, Api Masih Tersimpan di Bawah Gambut

waktu baca 4 menit
Minggu, 23 Agu 2026 14:48 94 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby mendampingi Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau langsung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Guntung Damar, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (23/8/2026).

Guntung Damar menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian serius karena api telah mendekati permukiman warga. Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi lapangan sekaligus memastikan penanganan karhutla berjalan secara terpadu.

Sebelum turun ke lokasi, Raja Juli dan Lisa mengikuti rapat koordinasi pengendalian karhutla Provinsi Kalimantan Selatan. Rapat tersebut membahas perkembangan kebakaran, kesiapsiagaan petugas, kondisi wilayah rawan, serta kebutuhan penanganan di lapangan.

Dari ruang rapat, agenda kemudian dilanjutkan dengan peninjauan ke Guntung Damar. Raja Juli melihat langsung petugas pemadam melakukan pembasahan terhadap lahan yang sebelumnya terbakar.

Pembasahan dilakukan untuk mencegah bara kembali menyala setelah api di permukaan berhasil dipadamkan. Langkah ini penting karena kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut.

Karakteristik gambut membuat penanganan karhutla lebih sulit. Api dapat bertahan dan merambat di bawah permukaan sehingga lahan yang tampak padam belum tentu benar-benar bebas dari bara.

Raja Juli melihat langsung kondisi tersebut saat berada di lokasi.

“Ini terlihat sudah padam, tapi dari dalam masih terlihat ada api. Dan ini memang gambut jadi asapnya memang lebih banyak dan potensi untuk munculnya api masih tetap besar,” ujar Raja Juli kepada wartawan.

Kondisi tersebut membuat pembasahan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Petugas perlu memastikan bagian lahan yang masih menyimpan bara mendapatkan pasokan air yang cukup agar api tidak kembali muncul.

Ketersediaan sumber air di lapangan menjadi salah satu tantangan dalam proses tersebut. Kebutuhan air semakin penting karena lokasi kebakaran berada dekat permukiman warga.

Perkembangan titik api di Kalimantan Selatan juga masih dinamis. Berdasarkan data Sipongi, sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan, jumlah titik api sempat turun menjadi 11 titik pada Sabtu (22/8/2026) malam, setelah sebelumnya mencapai 157 titik.

Namun, jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 44 titik.

“Kemarin itu sempat hanya 11 titik api di Kalsel setelah sebelumnya 157. Tapi saat saya mendarat tadi, saya dilihatkan data baru itu sudah menjadi 44 kembali,” ungkap Raja Juli.

Perubahan jumlah titik api tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih membutuhkan kewaspadaan. Penurunan titik api belum berarti kondisi sepenuhnya aman, terutama pada kawasan gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan.

Raja Juli juga mengimbau masyarakat menghentikan praktik membuka lahan dengan cara membakar.

“Yang masih punya tradisi buka lahan dengan dibakar, mohon dihentikan, jangan dilakukan lagi karena dampaknya luar biasa,” imbau Raja Juli.

Menurutnya, pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan petugas. Kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api saat membuka lahan menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya sumber kebakaran baru.

Untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Selatan, pemerintah juga menambah dukungan pemadaman melalui udara. BNPB menyiapkan tambahan helikopter water bombing yang didatangkan dari Riau.

“Ada penambahan dari BNPB helikopter water bombing yang dibawa dari Riau. Kebetulan di Riau relatif rendah angka karhutlanya,” kata Raja Juli.

Tambahan dukungan tersebut diharapkan memperkuat operasi pemadaman, terutama untuk menjangkau kawasan yang sulit ditangani dari darat dan membantu proses pembasahan lahan dalam skala lebih luas.

Rapat koordinasi sebelum peninjauan melibatkan unsur Manggala Agni, BMKG, BNPB, BPBD, Polda Kalimantan Selatan, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya. Pembahasan mencakup perkembangan titik api, kondisi cuaca, kesiapsiagaan personel, strategi pemadaman, serta dukungan sarana dan prasarana.

Hasil rapat kemudian ditindaklanjuti dengan peninjauan langsung. Langkah tersebut memungkinkan pemerintah dan petugas melihat persoalan di lapangan secara nyata, termasuk kondisi lahan gambut dan kebutuhan sumber air untuk pembasahan.

Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, kondisi Guntung Damar menjadi perhatian karena kebakaran telah mendekati permukiman. Karena itu, penanganan api harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap masyarakat.

Pemerintah Kota Banjarbaru juga mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap aktivitas warga, termasuk penyesuaian sistem kerja ASN dan koordinasi dengan Kementerian Agama terkait kegiatan belajar-mengajar di sekolah dan madrasah.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat di tengah kondisi karhutla dan dampak asap yang ditimbulkannya.

Penanganan di Guntung Damar memperlihatkan bahwa karhutla di lahan gambut memiliki tantangan yang tidak terlihat dari permukaan. Ketika kobaran api menghilang, pekerjaan belum selesai karena bara masih dapat bertahan di bawah gambut dan kembali memicu kebakaran.

Karena itu, pemadaman harus diikuti pembasahan dan pemantauan secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, pencegahan harus diperkuat agar sumber api baru tidak muncul.

Bagi Banjarbaru, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.

Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menegaskan pentingnya sinergi tersebut melalui unggahannya di Instagram.

“Semoga sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan seluruh masyarakat semakin kuat dalam mencegah serta menangani Karhutla.”

Lisa juga mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga kawasan hutan dan lahan di Banjarbaru.

“Mari bersama menjaga hutan dan lahan di Kota Banjarbaru agar tetap aman, lestari, dan bebas dari bencana Karhutla.”(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA