Festival Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Banjarbaru, 2,4 Ton Ikan Invasif Diangkat dari Sungai Kemuning

waktu baca 4 menit
Sabtu, 22 Agu 2026 12:14 285 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Sungai Kemuning di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi lokasi gerakan bersama menjaga ekosistem sungai. Sekitar 300 warga dari Kecamatan Banjarbaru Selatan turun langsung mengikuti Festival Tangkap Ikan Sapu-Sapu, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan ini dirancang sebagai upaya mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang dikenal sebagai ikan invasif sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kondisi sungai yang menjadi bagian penting dari sistem drainase perkotaan.

Hasilnya cukup signifikan. Dari kegiatan tersebut, peserta berhasil menangkap 2.417 kilogram atau sekitar 2,4 ton ikan sapu-sapu.

Tangkapan terbanyak berasal dari Kelurahan Loktabat Selatan, dengan jumlah mencapai 173 kilogram.

Camat Banjarbaru Selatan Muhammad Firmansyah mengatakan festival tersebut juga dirangkai dengan kegiatan kemerdekaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Kegiatan ini juga dirangkai dengan bazar kemerdekaan yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga lebih murah bagi masyarakat,” kata Firmansyah.

Bazar tersebut menjadi pelengkap kegiatan lingkungan. Masyarakat yang datang tidak hanya mengikuti kegiatan di sungai, tetapi juga dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap peserta tidak dikembalikan ke sungai. Seluruh hasil tangkapan kemudian dikubur di TPA Gunung Kupang untuk mencegah ikan kembali masuk ke Sungai Kemuning dan berkembang biak.

Upaya menjaga Sungai Kemuning bukan tanpa alasan. Sungai ini merupakan salah satu badan air penting yang menopang sistem drainase di Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Berdasarkan data Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Banjarbaru, Sungai Kemuning Segmen I memiliki lebar antara 6 hingga 12 meter dengan kedalaman 2 hingga 4 meter. Panjang alurnya sekitar 3.529,94 meter, sementara jaringan siring atau saluran pendukungnya mencapai 7.059,88 meter.

Secara administratif, Sungai Kemuning melintasi empat kelurahan, yakni Sungai Besar, Kemuning, Guntung Paikat, dan Loktabat Selatan.

Selain menjadi saluran pembuangan air hujan, Sungai Kemuning berfungsi sebagai drainase primer yang menghubungkan berbagai saluran sekunder di Banjarbaru Selatan. Peran tersebut membuat keberadaan sungai penting dalam membantu mengendalikan limpasan air serta mengurangi risiko genangan dan banjir.

Sungai Kemuning juga merupakan bagian dari jaringan badan air yang saling terhubung. Di Kelurahan Loktabat Selatan terdapat Sungai Kemuning, Guntung Ambulung, dan Guntung Papuyu. Di Kelurahan Kemuning terdapat Sungai Kemuning dan Guntung Pinang. Sementara di Kelurahan Guntung Paikat terdapat Sungai Kemuning dan Sungai Guntung Paikat.

Adapun di Kelurahan Sungai Besar terdapat Sungai Kemuning yang melintasi sejumlah RT serta beberapa badan air lainnya, yakni Guntung Kelapa, Gading I (Embung), Guntung Muslimin, dan Guntung Kusumo.

Seluruh badan air tersebut memiliki fungsi sebagai daerah resapan, pengendali limpasan air, sekaligus penyeimbang ekosistem perkotaan.

Secara keseluruhan, Kecamatan Banjarbaru Selatan memiliki jaringan sungai sepanjang 7.146 meter yang terdiri atas empat sungai utama, yakni Sungai Ambulung Sidomulyo sepanjang 4.026 meter yang berstatus lintas kecamatan, Sungai Guntung Paikat 1.754 meter, Sungai Kelapa Gading 702 meter, serta Sungai Guntung Lua 664 meter.

Dalam konteks tersebut, pengendalian ikan invasif menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan ekosistem sungai.

Ikan sapu-sapu umumnya berasal dari famili Loricariidae, kelompok ikan air tawar yang berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai negara, ikan ini dikenal sebagai suckermouth catfish atau pleco.

Di Indonesia, sejumlah jenis dari kelompok tersebut ditemukan di perairan umum setelah sebelumnya dikenal sebagai ikan hias akuarium.

Secara fisik, ikan sapu-sapu memiliki tubuh yang dilindungi lempengan tulang keras menyerupai perisai. Mulutnya berada di bagian bawah kepala dan berfungsi sebagai alat pengisap untuk menempel pada permukaan serta mencari makanan.

Ikan ini juga memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Sejumlah jenis memiliki kemampuan mengambil oksigen dari udara melalui modifikasi sistem pencernaan sehingga mampu bertahan pada kondisi perairan dengan kadar oksigen rendah.

Kemampuan tersebut membuat ikan sapu-sapu relatif mudah bertahan di berbagai kondisi lingkungan perairan. Persoalan muncul ketika populasinya berkembang di luar habitat asalnya dan tidak terkendali.

Keberadaan populasi yang tinggi dapat meningkatkan kompetisi dengan ikan lokal dalam memperoleh makanan dan ruang hidup. Aktivitas ikan di dasar dan tepian sungai juga dapat memengaruhi kondisi sedimen serta tepian perairan.

Pengendalian ikan sapu-sapu di Sungai Kemuning diharapkan membantu menjaga ruang hidup ikan lokal seperti gabus, betok, dan seluang yang merupakan bagian dari keanekaragaman hayati perairan.

Festival tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat tidak membuang atau melepaskan ikan nonasli ke sungai. Ikan yang semula dipelihara sebagai ikan hias dapat menjadi persoalan ketika dilepas ke perairan umum dan kemudian mampu bertahan serta berkembang biak.

Karena itu, pengendalian populasi perlu berjalan bersama dengan edukasi masyarakat, pemantauan kondisi sungai, dan pengelolaan badan air secara berkelanjutan.

Sekitar 300 peserta yang turun langsung ke Sungai Kemuning menjadi bagian dari gerakan untuk mengenali persoalan ekologis dan ikut menjaga sungai yang menjadi bagian penting dari kehidupan perkotaan Banjarbaru.

Sebanyak 2.417 kilogram ikan sapu-sapu berhasil diangkat dari perairan dan kemudian dikubur di TPA Gunung Kupang agar tidak kembali berkembang di Sungai Kemuning.

Camat Banjarbaru Selatan Muhammad Firmansyah menegaskan, kegiatan tersebut diharapkan terus berlanjut untuk menjaga  Sungai Kemuning.

“Harapan kami, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi lomba, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menjaga sungai. Sungai Kemuning adalah bagian penting dari lingkungan kita, sehingga masyarakat juga harus ikut merasa memiliki dan menjaganya,” ujar Firmansyah.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA