BANJARBARUEMAS.COM – Kemarau selalu membawa persoalan yang sama di wilayah yang memiliki banyak lahan terbuka: meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Dalam kondisi kering, semak belukar, rerumputan, ranting serta tumpukan daun kering dapat berubah menjadi bahan bakar yang mempercepat penyebaran api.
Dalam konteks ini, keberadaan cipta ruang seperti Pumpung Creative Space sebenarnya memiliki manfaat ekologis yang sering luput dari perhatian. Sebuah ruang kreatif yang aktif bukan hanya menghadirkan kegiatan ekonomi, budaya, wisata, dan interaksi masyarakat, tetapi secara tidak langsung juga menciptakan kontrol pasif terhadap lingkungan sekitarnya.
Ketika sebuah kawasan dikelola dan digunakan secara rutin, akan ada aktivitas manusia yang membuat kondisi lingkungan lebih terpantau. Semak-semak yang tumbuh berlebihan dapat dibersihkan, rerumputan kering dikendalikan, ranting dan dedaunan yang menumpuk dapat disingkirkan, serta area yang berpotensi menjadi jalur rambatan api dapat lebih cepat dikenali.
Hal sederhana seperti membersihkan semak di sela-sela pepohonan dan mengurangi akumulasi bahan organik kering sebenarnya merupakan bagian dari upaya mengurangi bahan bakar permukaan yang dapat membantu api menjalar. Bukan berarti aktivitas tersebut dapat mencegah kebakaran sepenuhnya, tetapi dapat menjadi salah satu bentuk mitigasi sederhana untuk mengurangi potensi dan dampak kebakaran, terutama di kawasan yang berdekatan dengan lahan terbuka.
Di sinilah konsep creative space menjadi menarik. Kita sering melihat cipta ruang hanya dari perspektif ekonomi kreatif: tempat berkumpul, berkarya, menikmati gastronomi, atau mengembangkan wisata. Padahal, ketika sebuah ruang terus hidup dan dikelola, ia juga dapat berfungsi sebagai ruang kontrol sosial sekaligus kontrol lingkungan.
Pumpung Creative Space, misalnya, dapat dikembangkan bukan hanya sebagai ruang kreatif di tengah lanskap permukiman, pepohonan, pertanian, dan bekas pendulangan intan, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki praktik pengelolaan lingkungan sederhana: menjaga kebersihan lahan, mengendalikan semak, mengurangi tumpukan bahan mudah terbakar, membuat akses lingkungan tetap terbuka, serta membangun kesadaran warga untuk bersama-sama mengawasi potensi api.
Ini adalah bentuk manfaat pasif yang menarik: semakin hidup sebuah ruang, semakin besar peluang lingkungan di sekitarnya diperhatikan.
Karena itu, menciptakan ruang kreatif di kawasan yang rawan mengalami tekanan lingkungan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pembangunan fisik. Ia juga merupakan bentuk aktivasi ruang. Ruang yang sebelumnya mungkin dibiarkan tumbuh liar dan minim pengawasan berubah menjadi ruang yang memiliki aktivitas, pengelola, pengunjung, dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan.
Tentu, pengelolaan seperti ini bukan pengganti sistem pencegahan dan penanggulangan karhutla yang resmi. Namun, ia dapat menjadi lapisan mitigasi paling dasar yang dilakukan sehari-hari oleh pengelola dan masyarakat.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa menciptakan ruang tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas. Kita juga perlu membuat ruang tersebut hidup. Karena ruang yang hidup akan lebih mudah dirawat, lebih mudah diawasi, dan pada akhirnya lebih siap menghadapi risiko yang ada di sekitarnya.
Pumpung Creative Space dengan demikian bukan hanya tentang menciptakan aktivitas kreatif di Pumpung, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang dapat menjadi bagian kecil dari solusi ekologis bagi lingkungannya. (be)
Opini ditulis oleh: NARWANTO
(Ketua Harian Komite EKRAF Banjarbaru)
Tidak ada komentar