Dinkes Banjarbaru Perkuat Akurasi Data Penentu Angka Stunting, 30 Admin Puskesmas Ikuti Monev SIGIZIKESGA

waktu baca 4 menit
Selasa, 30 Jun 2026 08:58 150 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Di balik setiap angka stunting yang diumumkan pemerintah setiap bulan, terdapat proses panjang yang menuntut ketelitian, keakuratan, dan konsistensi para tenaga kesehatan dalam menginput data. Menyadari pentingnya kualitas data sebagai dasar pengambilan kebijakan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (SIGIZIKESGA) bagi seluruh admin pengelola data gizi dari puskesmas se-Kota Banjarbaru.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Bidang Kesehatan Masyarakat melalui Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat itu berlangsung di Aula A Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Selasa (30/6/2026), dengan tujuan meningkatkan kualitas pencatatan dan pelaporan data kesehatan keluarga serta status gizi masyarakat yang menjadi dasar berbagai kebijakan pembangunan kesehatan daerah.

Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 10 Admin Indikator Balita/Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), 10 Admin Indikator Ibu Hamil, dan 10 Admin Indikator Remaja Putri yang berasal dari seluruh puskesmas di Kota Banjarbaru.

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi mengacu pada Surat Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru Nomor 400.7.13/397/KESMAS/DINKES/2026 tanggal 17 Juni 2026, yang meminta setiap kepala puskesmas menugaskan petugas administrator sesuai indikator untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas tersebut.

Agar pelaksanaan lebih efektif, peserta dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama pukul 10.00–11.00 WITA diikuti Admin Indikator Balita/KIA, dilanjutkan sesi kedua pukul 11.00–12.00 WITA bagi Admin Indikator Ibu Hamil, dan sesi ketiga pukul 13.00–14.00 WITA untuk Admin Indikator Remaja Putri.

SIGIZIKESGA merupakan aplikasi resmi yang dikembangkan Kementerian Kesehatan RI sebagai sistem informasi nasional yang mengintegrasikan pencatatan pelayanan kesehatan keluarga dan status gizi masyarakat. Aplikasi ini menjadi bagian penting dalam transformasi digital pelayanan kesehatan karena terhubung dengan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Melalui aplikasi tersebut, petugas kesehatan di puskesmas dapat mencatat berbagai indikator secara digital, mulai dari data remaja putri, ibu hamil, bayi, balita, hingga pelayanan kesehatan ibu dan anak. Setiap hasil penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, status imunisasi, maupun intervensi gizi dicatat secara real time sehingga menghasilkan basis data nasional yang akurat.

Data tersebut kemudian diolah menjadi indikator utama status gizi masyarakat, seperti stunting, wasting, underweight, dan overweight, yang menjadi ukuran keberhasilan berbagai program perbaikan gizi pemerintah.

Tidak hanya berfungsi sebagai media pencatatan, SIGIZIKESGA juga menjadi instrumen penting dalam memantau perkembangan status gizi masyarakat dari waktu ke waktu, sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting yang menjadi salah satu program prioritas nasional.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Maulidah, mengatakan kualitas data yang dihasilkan aplikasi SIGIZIKESGA sangat bergantung pada ketelitian para administrator di setiap puskesmas.

Menurutnya, setiap bulan seluruh data surveilans gizi yang masuk ke dalam aplikasi akan ditarik dan diolah menjadi berbagai indikator status gizi balita.

“Setiap bulan data surveilans gizi pada aplikasi SIGIZIKESGA akan ditarik. Dari data tersebut akan terlihat kondisi status gizi balita, yaitu angka stunting, wasting, underweight, dan overweight. Karena itu, ketelitian dan kemampuan masing-masing admin dalam mengentry data menjadi sangat menentukan kualitas informasi yang dihasilkan,” ujar Maulidah.

Ia menjelaskan, setiap puskesmas memiliki empat orang admin SIGIZIKESGA yang bertanggung jawab melakukan entry data sesuai indikator masing-masing. Pembagian tugas tersebut dilakukan agar proses pencatatan lebih fokus dan kualitas data tetap terjaga.

Karena itulah, kegiatan monitoring dan evaluasi tidak hanya menjadi forum penyamaan persepsi, tetapi juga wadah untuk mengidentifikasi berbagai kendala teknis yang dihadapi petugas saat melakukan pencatatan maupun pelaporan data di lapangan.

Seluruh proses entry data harus dilakukan secara benar karena kesalahan sekecil apa pun dapat memengaruhi hasil pelaporan kondisi gizi masyarakat secara keseluruhan.

Maulidah menegaskan bahwa data yang dihasilkan melalui SIGIZIKESGA menjadi dasar utama penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan di Kota Banjarbaru.

“Angka stunting, wasting, underweight, dan overweight inilah yang secara rutin kami laporkan kepada Bapperida Kota Banjarbaru. Data tersebut sangat menentukan untuk melihat perkembangan angka stunting Kota Banjarbaru setiap bulannya,” katanya.

Menurut dia, pelaporan tersebut memiliki fungsi strategis karena menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Melalui data yang valid, pemerintah daerah dapat mengidentifikasi wilayah dengan risiko masalah gizi tertinggi, menentukan kelompok sasaran prioritas, menyusun program intervensi yang tepat, hingga memastikan pengalokasian anggaran dilakukan secara efektif.

Selain menjadi dasar penyusunan program seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta berbagai intervensi gizi spesifik dan sensitif, data SIGIZIKESGA juga menjadi alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan program percepatan penurunan stunting yang telah dijalankan.

Dengan demikian, setiap angka yang muncul dalam laporan bulanan merupakan cerminan kondisi kesehatan masyarakat yang akan menentukan arah pembangunan sektor kesehatan di Banjarbaru.

Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru berharap seluruh administrator SIGIZIKESGA memiliki pemahaman yang sama dalam melakukan pencatatan, validasi, dan pelaporan data.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan mampu menghasilkan data yang lebih lengkap, tepat waktu, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga informasi mengenai status gizi remaja putri, ibu hamil, bayi, dan balita benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Dengan data yang berkualitas, pemerintah daerah akan memiliki landasan yang lebih kuat dalam menyusun kebijakan kesehatan, mengarahkan program intervensi gizi, serta mempercepat upaya mewujudkan generasi Banjarbaru yang sehat, unggul, dan bebas stunting.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA