Pak Senen

waktu baca 3 menit
Rabu, 22 Apr 2026 22:23 48 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Saya hampir menunda menulis ini.
Menunggu hari Senin. Agar lebih sah.

Karena tokoh cerita ini bernama Senen. Kemungkinan besar lahir hari Senin. Seperti kebiasaan dulu, orang tuanya tak perlu membuka buku nama bayi. Cukup lihat kalender Jawa. Seperti tradisi sejak zaman Mataram Kuno, ketika hari dan weton bukan sekadar penanda waktu, tapi doa yang ditempelkan pada nasib.

Di kampung saya dulu ada Pak Wage. Ia selalu bangga pada namanya. “Saya lahir Wage,” katanya.

Di Liang Anggang, ada Pak Senen. Namanya biasa. Orangnya tidak biasa.
Jabatannya dua. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Liang Anggang. Sekaligus pengelola Bank Sampah Induk. Sejak 2016 ia mengurusi sampah. Sudah sepuluh tahun lebih berkawan dengan yang bau-bau.

Sampah itu musuh yang tidak kelihatan galaknya. Ia tidak berteriak. Tapi menumpuk. Diam-diam jadi masalah.

Banyak orang bicara pengelolaan sampah secara teori. Bahkan ada yang membicarakan sampah sampai menyebut Banjarbaru sebagai kota kotor. Pak Senen tidak. Ia mulai dari dapur. Dari keranjang laundry. Dari sekam. Dari kain kasa.

Jadilah “keranjang ajaib” KAKATURA. Saya lupa bertanya apa arti kakatura itu. Tapi yang jelas, ia bukan mantra. Ia teknik.

Caranya sederhana. Sampah organik dimasukkan. Diatur lapisannya. Diberi sekam. Ditutup kain. Didiamkan. Proses berjalan. Tidak berisik. Tidak menyita tempat.

Yang biasanya busuk jadi kompos.
Yang biasanya jadi beban, jadi berkah.
Itu skala rumah tangga. Tapi dampaknya bisa sistemik.

Karena jika satu rumah selesai dengan sampah organiknya, berkuranglah beban TPS. Jika satu RT bergerak, satu kelurahan bisa lega.

Rencananya akan diimplementasikan di Landasan Ulin Barat.

Saya membayangkan halaman-halaman rumah di sana akan punya “mesin ajaib” keranjang kakatura yang bekerja 24 jam.

Inovasi ini tidak muncul sendirian.
Ada ekosistem yang membuatnya tumbuh.
Di atasnya ada Wali Kota Lisa.
Di sampingnya ada Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Shanty. Di kecamatan ada Camat Liang Anggang, Lia.Semuanya perempuan.

Bukan cuma tiga perempuan, satu lagi perempuan yang saya lihat dalam foto kiriman Bu Camat: Bu Dedew. Sudah lumayan lama kenal, setahunan, tapi saya hanya tahu panggilannya, Dedew. Nama lengkapnya sampai sekarang saya belum tahu.
Empat perempuan.

Saya tidak tahu apakah mereka sadar sedang membangun sejarah kecil. Tapi yang jelas, mereka memberi ruang.

Camat Lia menyebut inisiatif Pak Senen sebagai bentuk kolaborasi semua stakeholder untuk menyelesaikan sampah berbasis sumber. Kalimat birokratis. Tapi maknanya radikal.

Berbasis sumber berarti selesai di tempat ia lahir. Di dapur. Bukan di TPS. Bukan di TPA.

Camat Lia bahkan berkomitmen mengedukasi warga. Dari proses pembuatan sampai pemanfaatannya. Artinya, inovasi ini tidak akan berhenti di satu orang. Ia akan ditularkan.

Di sinilah saya teringat semangat Kartini.
Kartini dulu menulis tentang kesetaraan. Tentang perempuan yang berpikir. Tentang ruang yang dibuka.

Di Liang Anggang, ruang itu nyata.
Menariknya, yang berinovasi justru laki-laki bernama Senen.

Itulah kesetaraan yang matang. Ketika perempuan memimpin, laki-laki tidak merasa tersaingi. Justru terpacu.
Empat perempuan itu tidak mengambil alih panggung. Hanya menyalakan cahaya
Pak Senen yang bekerja di bawah cahaya itu.

Saya membayangkan, suatu hari nanti, ketika orang bertanya: kapan perubahan pengelolaan sampah di Banjarbaru benar-benar dimulai?
Jawabannya perubahan itu datang dari sebuah rumah. Dengan keranjang ajaib. Dengan sekam. Dengan kain kasa. Dan dengan seorang lelaki bernama Senen yang lahir hari Senin.

Barangkali memang harus menunggu hari Senin untuk benar-benar memahami ini:
Bahwa semangat Kartini di Banjarbaru hadir dalam kebijakan.Dalam dorongan.
Dalam keberanian memberi ruang.

Dan, Pak Senen membuktikan: ketika perempuan memimpin dengan memberi ruang, laki-laki pun tumbuh membawa perubahan.

Jika orang bertanya di mana Kartini hari ini, saya tak perlu jauh-jauh mencari. Di Banjarbaru, Wali Kota Lisa, Bu Kadis LH Shanty Camat Lia, dan terakhir Bu Dedew, merekalah Kartini itu. (be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA