BANJARBARUEMAS.COM – Optimisme pengelolaan sampah berbasis warga di Kota Banjarbaru menemukan bentuk nyatanya di Kelurahan Mentaos, Banjarbaru Utara. Di tengah permukiman yang terus tumbuh, lahir sebuah kesadaran baru: sampah bukan lagi sekadar sisa, melainkan sumber daya yang harus dikelola bersama.
Komitmen itu diformalkan pada 25 Mei 2025 dengan berdirinya Bank Sampah KAMI Mentaos, bank sampah pertama di wilayah tersebut. Beralamat di Jalan Palapa I No. 13 RT 02 RW 04 Komplek Palapa, tak jauh dari SMP Negeri 2 Banjarbaru, bank sampah ini menjadi simpul gerakan warga dalam mengurai persoalan lingkungan dari tingkat rumah tangga.
Di balik berdirinya Bank Sampah KAMI Mentaos, ada sosok Dr. Murjani, S.P., S.I.KOM., M.S. Akademisi yang kini menjabat Wakil Rektor III Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan itu bukan hanya tercatat sebagai Direktur Bank Sampah, tetapi juga menjadi motor penggerak di lapangan.
Pemandangan yang kerap terlihat pada hari operasional bank sampah adalah Dr. Murjani berdiri di depan timbangan, memeriksa botol plastik, kardus bekas, kaleng aluminium, hingga gelas plastik sisa minuman warga. Di tangan seorang doktor, sampah-sampah itu tidak dipandang remeh. Justru dari situlah ia membangun pesan tentang tanggung jawab sosial.
Bagi sebagian orang, mungkin terasa janggal: seorang doktor, dengan gelar akademik dan jabatan strategis, mengurusi sampah gelas plastik. Namun, di situlah keteladanan itu diletakkan. Ia ingin menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kuliah, melainkan harus hadir di tengah persoalan nyata masyarakat.
Jejak kepeduliannya terhadap isu lingkungan memang panjang. Sejak masa muda, ia aktif dalam gerakan advokasi lingkungan, termasuk bersama organisasi seperti Walhi. Ia juga dikenal dekat dengan pedagang kaki lima di Lapangan Murjani Banjarbaru, mendampingi mereka melalui wadah koperasi. Di Mentaos, perannya berlapis: Ketua RW 04, Ketua Koperasi Merah Putih Mentaos, Ketua Koperasi PKL Lapangan Murjani, Pengawas Koperasi Universitas NU, Sekretaris Koperasi Forum RT-RW Kota Banjarbaru, sekaligus anggota KIM Mentaos.
Namun, di antara berbagai jabatan itu, satu benang merah yang konsisten adalah komitmennya membangun kemandirian warga.
Mekanisme Bank Sampah KAMI Mentaos dibangun sederhana tetapi sistematis. Warga memilah sampah kering dari rumah plastik, kertas, logam, kardus lalu membawanya untuk ditimbang. Nilainya dicatat dalam buku tabungan sampah yang bisa diuangkan atau dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
Mayoritas nasabah adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka tidak hanya belajar menjadi penabung sampah, tetapi juga memahami siklus pengelolaan lingkungan secara utuh.
Sampah organik diolah menjadi pupuk cair, lalu digunakan untuk menyuburkan kebun sayur yang berdampingan dengan lokasi bank sampah. Sebuah siklus yang nyata: dari dapur rumah, diolah bersama, kembali menyuburkan tanah.
Di Kelurahan Mentaos, lahir komitmen baru: persoalan sampah diselesaikan mulai dari rumah masing-masing. Pemerintah tidak berjalan sendiri, dan warga tidak dibiarkan berjalan sendiri. Pendampingan dilakukan agar kesadaran menjadi budaya, bukan sekadar program.
Dari Mentaos, Banjarbaru belajar satu hal sederhana namun kuat: perubahan dimulai dari rumah. Ketika warga mau bergerak dan pemerintah hadir menguatkan, persoalan sebesar apa pun dapat diurai bersama.
Bagi Dr. Murjani, terlibat langsung mengurusi sampah bukanlah pekerjaan kecil atau sekadar aktivitas rutin warga. Itu adalah simbol keberpihakan, sebuah sikap sadar untuk merawat kota yang dicintainya, dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan bernilai bagi masyarakat.(be)
370
Tidak ada komentar