Yoni Setiawan Pulang dari Rorotan dengan Satu Keyakinan: Sampah Harus Selesai di Rumah

waktu baca 3 menit
Sabtu, 4 Apr 2026 23:31 151 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Keseriusan Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membenahi persoalan sampah terus diperkuat melalui studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara Sabtu (4/4/2026). Pada hari kedua kunjungan, rombongan yang turut didampingi Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menelusuri langsung sistem pengelolaan sampah terintegrasi yang telah berjalan efektif di wilayah padat penduduk tersebut.

Agenda dimulai dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Di sana, rombongan menerima pemaparan roadmap pengelolaan sampah yang dirancang sistematis dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan di fasilitas antara, hingga pemrosesan akhir bernilai ekonomi. Paparan itu menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat.

Kunjungan dilanjutkan ke Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit), yang menjadi pusat edukasi sekaligus fasilitas pengolahan sampah kering dan daur ulang. Rombongan kemudian bergerak ke kawasan ProKlim RW 01 Tugu Utara, menyaksikan inovasi berbasis komunitas seperti budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), mesin pembuat pellet dari SOD, hingga sistem drop point bambu untuk fermentasi sampah.

Pembelajaran teknis semakin lengkap saat rombongan meninjau RDF Plant Rorotan, fasilitas modern milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah per hari menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan, sampah non-organik diubah menjadi bahan bakar dengan nilai kalor setara batu bara muda.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, menegaskan bahwa sepulang dari studi tiru ini pihaknya akan menyusun langkah konkret hingga tingkat kelurahan.

“Setiap kelurahan akan memetakan jumlah penduduk sampai tingkat RW, termasuk estimasi sampah organik dan anorganik. Kami akan memulai dari beberapa rumah lebih dulu, dengan target setiap bulan minimal bertambah 10 rumah yang menerapkan pemilahan,” ujar Shanty.

Ia mengakui, pola pengelolaan sampah di Banjarbaru masih didominasi sistem kumpul-angkut-buang. Karena itu, perubahan pola pikir masyarakat menjadi fokus utama.

“Harapannya, kita tidak lagi hanya mengandalkan pengangkutan ke TPA. Sampah harus selesai dari sumbernya. Ini yang akan kita dorong bersama,” katanya.

Rangkaian kunjungan ditutup di RPTRA Rorotan Indah I dan TPS 3R Rorotan, yang memperlihatkan bagaimana rumah pilah, bioreaktor kompos, serta pengolahan plastik, kaca, dan kaleng dapat mereduksi volume sampah secara signifikan melalui partisipasi warga.

Di antara rombongan, sosok Yoni Setiawan, Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor Banjarbaru, tampak serius menyimak setiap tahapan proses. Dikenal lewat gerakan Marikasa (Mari Kita Sedekah Sampah) dan inovasi Sumur Komposter Sanitasi (Suster Santi), Yoni melihat studi tiru ini sebagai penguat langkah yang selama ini telah ia rintis dari lingkungan terkecil.

Menurutnya, RDF Plant memang solusi teknologi, namun bukan jawaban tunggal.

“Di Rorotan ini kita lihat pengolahan sampah hasil akhir TPA. Tapi tadi juga ditegaskan, ini bukan solusi akhir. Kalau mesin rusak, sampah bisa kembali menumpuk. Artinya, kuncinya tetap di sumbernya, di rumah warga,” ujar Yoni.

Ia menilai keberhasilan Rorotan justru terletak pada keberanian membudayakan pemilahan sampah melalui sosialisasi yang konsisten hingga penerapan sanksi.

“Mereka bisa membudayakan warga untuk memilah sampah. Kenapa kita tidak bisa? Kita harus bisa juga. Rumah pilah dan Suster Santi yang sudah kita jalankan saya kira sudah tepat, tinggal kita kuatkan dan diperluas ke semua RT, katanya.

Bagi Yoni, gerakan pengelolaan sampah selalu berangkat dari keikhlasan.

“Dimulai dari keikhlasan dan modal sendiri di lingkungan RT, ternyata sampah itu yang membawa saya sampai bisa belajar ke sini. Saya yakin, kalau kita mulai dari rumah sendiri dengan konsisten, sampah bukan lagi masalah. Insya Allah, ini bisa jadi budaya warga Banjarbaru untuk menjadikan kota kita benar-benar elok,” pungkas Yoni.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA