Posyandu Banjarbaru Didorong Bertransformasi Jadi Pusat Layanan Terpadu Enam Bidang SPM

waktu baca 4 menit
Selasa, 30 Des 2025 04:01 380 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM— Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Kota Banjarbaru tengah memasuki babak baru. Tak lagi sekadar menjadi ruang pelayanan kesehatan ibu dan anak, Posyandu kini diproyeksikan sebagai pusat layanan dasar masyarakat yang terintegrasi, mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagaimana kebijakan nasional.

Arah transformasi tersebut ditegaskan dalam Rapat Percepatan Pelaksanaan Posyandu yang dibuka oleh Ketua Tim Penggerak Posyandu Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, Selasa (30/12/2025), di Ruang Rapat DP3AMP2KB Kota Banjarbaru. Rapat ini dihadiri seluruh pengurus TP Posyandu Kota Banjarbaru serta menghadirkan Prof. Husaini, staf ahli Tim Pembina Posyandu, sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Riandy menekankan bahwa Posyandu merupakan ujung tombak kehadiran negara di tingkat paling dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan peran Posyandu menjadi bagian penting dari strategi pembangunan manusia di Kota Banjarbaru.

“Posyandu hari ini bukan lagi pelayanan kesehatan semata. Ia telah menjadi simpul pelayanan dasar masyarakat. Dari Posyandu, persoalan warga bisa terdeteksi lebih awal dan ditangani secara lintas sektor,” kata Riandy.

Menurut Riandy, Pemerintah Kota Banjarbaru secara konsisten menyelaraskan kebijakan daerah dengan arah pembangunan nasional, khususnya dalam mendorong implementasi Posyandu 6 SPM. Model ini dinilai mampu menjawab kompleksitas persoalan warga yang semakin beragam, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga persoalan sosial dan ketertiban lingkungan.

Enam Bidang Layanan Dasar
Dalam pemaparannya, Prof. Husaini menjelaskan bahwa Posyandu 6 SPM merupakan inovasi kebijakan yang memperluas fungsi Posyandu sebagai pusat layanan publik terintegrasi. Keenam bidang tersebut mencakup kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR), perumahan rakyat, sosial, serta ketertiban umum dan perlindungan masyarakat (Trantibumlinmas).

Pada bidang kesehatan, Posyandu tetap menjalankan peran utamanya melalui layanan kesehatan dasar, pemantauan gizi, imunisasi, serta pencegahan dan penanganan stunting. Di bidang pendidikan, Posyandu berfungsi sebagai simpul informasi dan fasilitasi bantuan pendidikan, penyediaan alat sekolah, hingga kegiatan edukasi keluarga.

Sementara itu, pada bidang pekerjaan umum, Posyandu menjadi kanal aspirasi warga terkait kebutuhan air bersih, sanitasi, dan perbaikan infrastruktur lingkungan. Pada bidang perumahan rakyat, Posyandu berperan dalam pendataan dan pengusulan bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) agar tepat sasaran.

Untuk bidang sosial, Posyandu memperluas perannya dalam layanan bagi penyandang disabilitas, anak terlantar, lansia, hingga penanganan masalah sosial termasuk kesehatan mental. Adapun pada bidang Trantibumlinmas, Posyandu berkontribusi dalam deteksi dini persoalan keamanan dan ketertiban lingkungan, serta penyampaian kebutuhan perlindungan masyarakat seperti sarana pemadam kebakaran.

“Posyandu adalah titik temu berbagai layanan dasar. Karena itu, integrasi menjadi kunci agar setiap laporan masyarakat tidak berhenti di satu sektor saja,” ujar Prof. Husaini.

Kesiapan Kader dan Sistem Respons
Prof. Husaini menegaskan bahwa transformasi Posyandu 6 SPM menuntut kesiapan sumber daya manusia dan sistem kerja yang responsif. Idealnya, setiap Posyandu memiliki delapan hingga dua belas kader agar mampu melakukan deteksi dini terhadap berbagai persoalan di wilayah binaannya.

Di Kota Banjarbaru, upaya integrasi tersebut diperkuat melalui inovasi sistem pelaporan berbasis hotline 24 jam yang telah disosialisasikan kepada para pemangku kepentingan. Melalui sistem ini, setiap laporan masyarakat—baik terkait kesehatan, pendidikan, sosial, maupun lingkungan—harus tercatat dan ditindaklanjuti oleh perangkat daerah terkait.

“Ketika masyarakat melapor, konsekuensinya jelas. Laporan itu harus ditindaklanjuti. Di situlah Posyandu menjadi pintu masuk kehadiran negara,” kata Prof. Husaini.

Peran Strategis Banjarbaru
Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru dinilai memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk menjadi etalase praktik baik pengelolaan Posyandu. Riandy menyebut, keberhasilan TP Posyandu Kalimantan Selatan meraih peringkat pertama nasional tidak terlepas dari kontribusi aktif TP Posyandu kabupaten/kota, termasuk Banjarbaru.

Ia menambahkan, TP Posyandu Banjarbaru juga tengah menyiapkan peluncuran buku ilmiah berjudul “Posyandu Tanpa Dinding”. Buku tersebut merupakan bagian dari atensi Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby untuk mendorong inovasi berkelanjutan dalam pengembangan Posyandu sebagai layanan publik yang adaptif.

“Posyandu tanpa dinding menegaskan bahwa pelayanan tidak dibatasi ruang dan waktu. Selama ada warga yang membutuhkan, di situ Posyandu harus hadir,” ujarnya.

Menutup kegiatan, Riandy mengajak seluruh pengurus TP Posyandu untuk menjadikan rapat percepatan ini sebagai momentum konsolidasi dan penguatan peran Posyandu di Kota Banjarbaru.

“Kita optimistis Posyandu mampu berkontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat Banjarbaru yang elok, maju, adil, dan sejahtera, sebagai bagian dari ikhtiar besar menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Riandy.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA