Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Buktikan Sistem Sampah Mentaos Sudah Jalan
waktu baca 4 menit
Jumat, 24 Apr 2026 10:28 156 Banjarbaru Emas 2
Foto : Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby melihat aktivitas pemilahan dan pengelolaan sampah bersama pengurus bank sampah di Kelurahan Mentaos, Jumat (24/4/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, melakukan kunjungan ke Kelurahan Mentaos, Jumat pagi (24/4/2026). Tanpa agenda resmi dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia turun langsung meninjau aktivitas pemilahan sampah dari sumber yang telah berjalan rutin di wilayah tersebut.
Kunjungan ini menjadi upaya memberikan dukungan langsung kepada kelurahan dan masyarakat yang terus berinovasi serta menjaga konsistensi dalam mengelola sampah berbasis rumah tangga.
Perhentian pertama dilakukan di Kantor Kelurahan Mentaos. Di halaman kantor, Lisa meninjau langsung keberadaan lokoster, lubang komposter yang digunakan untuk menampung sampah organik, baik dari aktivitas perkantoran maupun dari warga sekitar. Ia menilai inisiatif tersebut sebagai bukti konkret peran kelurahan dalam mendukung gerakan memilah sampah dari sumber.
“Inisiatif seperti ini harus terus dikembangkan. Kelurahan bisa menjadi contoh langsung bagi masyarakat dalam membiasakan pemilahan sampah, terutama sampah organik,” ujarnya.
Dari kantor kelurahan, Wali Kota bergerak ke Posyandu Kejora di Gang 6 RT 3 RW 4. Di lokasi ini, ia melihat langsung integrasi pengelolaan sampah dengan aktivitas layanan kesehatan masyarakat. Tersedia fasilitas losida (lubang resapan biopori), tong biru sebagai komposter, serta lokoster untuk sampah organik.
Selain itu, ia juga memantau pembagian makanan bergizi bagi ibu hamil, menyusui, dan balita. Wali Kota mengapresiasi peran kader posyandu yang dinilai aktif dalam mendukung dua aspek sekaligus: kesehatan dan lingkungan.
“Peran kader sangat penting. Selain membantu layanan kesehatan, mereka juga menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat, termasuk membiasakan memilah sampah dari rumah,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya pemilahan sejak dari dapur rumah tangga. Sampah organik diarahkan masuk ke komposter atau tong biru, sementara sampah anorganik didorong untuk disalurkan ke bank sampah.
Kunjungan dilanjutkan ke Bank Sampah KAMI Mentaos. Di lokasi ini, Wali Kota berdiskusi langsung dengan pengelola, Murjani, yang juga Ketua RW 4, mengenai peran bank sampah dalam mendukung gerakan KILAU EMAS (Kelola dan Pilah Sampah Untuk Banjarbaru Emas).
Di lokasi tersebut, Lisa melihat langsung pengolahan sampah yang terintegrasi dengan kebun sayur di samping gudang bank sampah. Kebun tersebut memanfaatkan pupuk organik hasil olahan sampah sebagai media tanam.
“Ini contoh nyata bahwa sampah bisa menjadi sumber manfaat. Tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomi dan sosial,” ujarnya.
Wali Kota Lisa juga menyoroti pentingnya memperkuat dimensi sosial dari pengelolaan sampah. Ia menilai, manfaat ekonomi dari sampah seharusnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau hasil pengelolaan sampah ini juga bisa dirasakan oleh masyarakat kurang mampu, itu menjadi nilai tambah yang sangat baik. Apalagi jika dikelola bersama sebagai gerakan sosial,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Murjani menjelaskan bahwa praktik itu telah berjalan di tingkat masyarakat. Ia juga memaparkan mekanisme pengelolaan bank sampah di Mentaos yang lebih berfokus pada pemilahan.
“Di Bank Sampah KAMI, kami lebih berfokus pada pemilahan dan penjualan sampah. Untuk proses pengolahan lanjutan, itu dilakukan di tingkat bank sampah induk, baik di kecamatan maupun kota,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian nasabah bahkan secara sukarela menyumbangkan hasil tabungan sampah mereka untuk kegiatan sosial.
“Memang ada sebagian nasabah yang tidak mengambil hasil tabungan sampahnya. Mereka memilih menyumbangkannya untuk membantu anak kurang mampu dan mendukung rumah ibadah,” kata Murjani.
Murjani juga mengaku bangga atas kunjungan mendadak tersebut. Menurutnya, kehadiran langsung kepala daerah menjadi dorongan moral bagi warga.
“Kami sangat senang dan bangga dikunjungi langsung oleh Ibu Wali Kota. Apalagi beliau datang tanpa pemberitahuan, sehingga kondisi yang dilihat benar-benar apa adanya. Ini menjadi apresiasi sekaligus penyemangat bagi kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya pengelolaan sampah di Mentaos bukan hal baru. Program biopori telah dimulai sejak 2014 dan terus berkembang hingga saat ini. Namun, ia mengakui tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi partisipasi masyarakat.
“Biasanya semangat tinggi di awal, tapi bisa menurun. Karena itu perlu pembiasaan dan pengawasan bersama,” katanya.
Ia menekankan pentingnya peran semua pihak, mulai dari RT, RW, lurah, hingga camat dan SKPD untuk rutin turun ke lapangan. Bahkan, menurutnya, tokoh agama juga memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan lingkungan kepada masyarakat.
“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal kesadaran bersama. Kalau semua bergerak, pemerintah, masyarakat, dan tokoh agama, maka kemandirian dalam mengelola sampah bisa benar-benar terwujud,” tutup Murjani.(be)
Tidak ada komentar