Blog

  • Ekspose 100 Hari di Kecamatan Landasan Ulin, Wartono Terima Proposal Warga

    Ekspose 100 Hari di Kecamatan Landasan Ulin, Wartono Terima Proposal Warga

    BANJARBARUEMAS.COM — Pemerintah Kota Banjarbaru kembali menggelar acara silaturahmi dengan masyarakat dalam rangka ekspose kinerja 10 hari kepemimpinan Wali Kota Hj Erna Lisa Halaby dan Wakil Wali Kota, Wartono di Komplek Wella Mandiri Landasan Ulin, Minggu (12/10/2025) malam.

    Hadir dalam kesempatan itu adalah Wakil Wali Kota Wartono dan sejumlah pejabat Pemko Banjarbaru.

    Ada hal yang menarik pada acara tersebut, selain disambut dengan berbahai macam pertunjukan ribuan orang hadir memadati lokasi kegiatan.

    Salah satu uang cukup unik adalah penyampaian berbagai permasalahan yang terjadi di wilayah RW 03 Mandiri, Banjarbaru, para pengurus RT bersama Ketua RT dari beberapa lingkungan melakukan identivikasi dan penyusunan laporan kepada Wali Kota Banjarbaru.

    Dengan gaya teaterikal yang menggelitik
    Sekretaris RW 03 Wella Mandiri, Ferry dan beberapa rekan menyampaikan beberapa hal kendala yang selama ini menjadi tantangan bagi warga setempat dan berharap adanya perhatian serta tindak lanjut dari pemerintah kota.

    Ferry mewakili para pengurus RT 03 dan Ketua RT 11 hingga RT 15, menyampaikan secara rinci beberapa masalah yang dianggap krusial dan membutuhkan penanganan segera.

    Dari hasil pemetaan, ditemukan enam permasalahan utama yang selama ini mengganggu kenyamanan dan keamanan warga.

    Permasalahan pertama yang diangkat adalah kemacetan lalu lintas di beberapa titik strategis, terutama di pertigaan depan gapura komplek Wella Mandiri.

    Kondisi jalan yang menyempit disertai dengan rambu lalu lintas yang kurang jelas dan lampu lalu lintas kedip kuning yang justru terpasang setelah area penyempitan, dinilai berpotensi menimbulkan kecelakaan.

    Warga berharap agar pemerintah dapat menambah rambu-rambu peringatan serta menempatkan lampu kedip kuning sebelum memasuki jalan menyempit agar konsentrasi pengendara lebih terjaga.

    Selanjutnya, masalah banjir menjadi sorotan utama kedua. Kondisi drainase di RW 03 ternyata tidak memadai; ada yang belum dibangun sama sekali, ada yang rusak, serta ada yang fungsinya sudah tidak mampu menampung volume air saat hujan deras.

    Hal ini menyebabkan genangan air yang sering kali masuk ke area pemukiman warga, khususnya di RT 11, 14, dan 15. Selain itu, pendangkalan parit akibat endapan sampah dan material lain menghambat aliran air, memperparah kondisi banjir di beberapa RT.

    Masalah berikutnya adalah kerusakan drainase akibat longsor dan pengikisan tanah yang semakin merusak infrastruktur jalan, terutama di RT 12, 13, dan 14.

    Air yang mengalir deras tanpa adanya siring pelindung menyebabkan penggerusan yang sampai merusak aspal jalan.

    Selain itu, warga juga menyampaikan keluhan terkait minimnya penerangan jalan umum di wilayah RT 13.

    Belum adanya tiang penerangan membuat aktivitas warga pada malam hari menjadi kurang nyaman dan berisiko.

    Permasalahan terakhir yang disampaikan adalah terkait administrasi dan kepemilikan fasilitas umum.

    Warga RW 03 Mandiri mengaku kesulitan dalam mengakses salinan sertifikat fasilitas umum seperti ruang terbuka hijau (RTH), mushola, dan fasilitas di poros jalan.

    “Dokumen ini sangat diperlukan untuk berbagai keperluan administrasi, termasuk pengajuan program pemerintah yang mensyaratkan dokumen tersebut,” teranh Ferry.

    Ferry juga mengungkapkan pemahaman warga bahwa solusi atas permasalahan ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat dan memerlukan proses bertahap. Namun, ia yakin pemerintah Kota Banjarbaru tetap berkomitmen menyelesaikan persoalan ini sesuai rencana pembangunan yang ada.

    “Salam optimis menuju Banjarbaru yang lebih baik,” tutupnya.

    Setelah penyampaian tersebut, perwakilan warga menyerahkan proposal resmi kepada Pemerintah Kota Banjarbaru, yang ditwrima Wakil Wali Kota, Wartono.

    Ia berharap menjadi bahan kajian dan langkah nyata dalam memperbaiki kondisi wilayah Wella Mandiri.(be)

  • Kolam Retensi Guntung Jingah: Bukti Komitmen Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby Memitigasi Banjir dan Menjaga Lingkungan Banjarbaru

    Kolam Retensi Guntung Jingah: Bukti Komitmen Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby Memitigasi Banjir dan Menjaga Lingkungan Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, kembali menegaskan komitmen pemerintahannya dalam membangun kota yang tangguh terhadap banjir dan ramah lingkungan. Hal itu diwujudkan melalui peresmian Kolam Retensi Guntung Jingah di Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Sabtu (11/10/2025).

    Kolam retensi ini menjadi bagian dari strategi pengendalian banjir perkotaan yang terintegrasi dengan konsep urban resilience atau ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Di tengah meningkatnya curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim global, langkah ini dianggap sebagai inovasi penting dalam menjaga keberlanjutan tata air Banjarbaru.

    “Kolam retensi ini bukan hanya menampung sementara aliran air hujan dari lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi tempat resapan alami yang membantu menyeimbangkan siklus air tanah, Semoga kolam retensi ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar, menjadi sarana pengendali banjir yang efektif, serta mendukung kelestarian lingkungan dan ketahanan pangan melalui budidaya ikan yang berkelanjutan.” ujar Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby dalam sambutannya. Ia menambahkan, fasilitas tersebut dilengkapi dengan taman dan jogging track yang diharapkan menjadi ruang publik hijau bagi warga untuk beraktivitas dan berinteraksi sosial.

    Pembangunan kolam ini dilaksanakan pada Mei 2025 dan selesai lebih cepat dari jadwal, yakni pada 29 September 2025, dengan nilai kontrak Rp2,6 miliar melalui APBD Kota Banjarbaru Tahun Anggaran 2025. Luas lahan mencapai 4.117 meter persegi, dengan area tampungan air 2.161 meter persegi dan kedalaman 4 meter, mampu menampung hingga 5.813 meter kubik air. Kolam ini menerima aliran dari tiga saluran utama, yakni Jalan Sukarelawan, Jalan Al Manar, dan Jalan Pondok Sejahtera (RT 45).

    Teknologi yang digunakan pun memperhatikan prinsip keberlanjutan. Jogging track sepanjang 148 meter dibangun dengan material biotek, kerikil, dan beton porus yang memungkinkan air hujan meresap langsung ke dalam tanah. Desain ini tidak hanya memperindah lanskap, tetapi juga menjadi solusi ekologis untuk mengurangi limpasan air.

    Sebagai penanda dimulainya pemanfaatan kolam retensi, Wali Kota Banjarbaru bersama unsur Forkopimda menaburkan benih ikan ke dalam kolam, menandakan sinergi antara aspek lingkungan, rekreasi, dan pemberdayaan masyarakat. “Mari kita manfaatkan dan jaga bersama fasilitas ini. Kolam ini adalah milik warga, simbol kerja sama kita dalam menjaga Banjarbaru yang elok dan tangguh terhadap bencana,” pesan Lisa.

    Kolam Retensi Guntung Jingah menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan infrastruktur bisa berpadu dengan kepedulian lingkungan. Pemerintah Kota Banjarbaru menargetkan model serupa dapat dikembangkan di beberapa titik rawan genangan lainnya sebagai bagian dari rencana besar pengendalian banjir jangka panjang.(be)

    🌿 Ajakan untuk Warga 🌿

    Mari kita jadikan Kolam Retensi Guntung Jingah sebagai simbol kebanggaan bersama, kita jaga kebersihannya, rawat lingkungannya, dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya, ketika warga ikut menjaga, Banjarbaru akan semakin tangguh menghadapi banjir — sekaligus makin nyaman untuk kita tinggali bersama. Bagi warga yang menerima informasi ini, ayo sebarkan kabar baik ini kepada tetangga dan komunitas sekitar. Semakin banyak yang tahu, semakin kuat pula semangat kita menjaga Banjarbaru tetap elok, maju, adil dan sejahtera bagi semua.

  • Silaturahim 100 Hari Wali Kota Lisa: Wella Mandiri Jadi Panggung Kebersamaan Warga Banjarbaru

    Silaturahim 100 Hari Wali Kota Lisa: Wella Mandiri Jadi Panggung Kebersamaan Warga Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM — Suasana gotong royong terasa hidup di Komplek Wella Mandiri, Jalan Golf Kelurahan Syamsudin Noor. Sejak beberapa hari terakhir, warga berbenah: memasang umbul-umbul, membersihkan jalan, hingga menata taman lingkungan. Semua dilakukan dengan sukarela demi satu momen penting — menyambut kedatangan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dalam kegiatan Silaturahim 100 Hari Kerja Pemerintahan Lisa–Wartono.

    Bagi warga, acara yang akan digelar pada Minggu malam, 12 Oktober 2025, pukul 20.00 Wita itu bukan sekadar pertemuan formal antara pemerintah dan rakyat. Ia menjadi simbol kedekatan dan rasa percaya antara pemimpin dan masyarakatnya. “Bagi kami, ini kehormatan besar. Diberi amanah menjadi tuan rumah adalah bentuk kepercayaan dari pemerintah. Semua RT kompak, dari RT 11 sampai RT 15, warga bergerak tanpa diminta,” ujar Yuli Anwar, Ketua RW 03 Wella Mandiri.

    Yuli tidak hanya menyampaikan rasa bangga, tetapi juga turun langsung menggerakkan koordinasi di lapangan. Ia mengajak para ketua RT untuk terlibat aktif dalam setiap tahap persiapan, mulai dari pembersihan lingkungan hingga penataan area acara. “Kami ingin semua warga merasa memiliki kegiatan ini. Karena itu, saya minta para ketua RT ikut memimpin gotong royong di wilayah masing-masing. Kami juga rutin rapat setiap malam untuk memantau kesiapan,” ujarnya.

    Keterlibatan warga di bawah koordinasi langsung Ketua RW ini menambah kekompakan dan semangat kebersamaan. Kaum ibu sibuk menyiapkan konsumsi dengan cita rasa khas kampung, para pemuda menata panggung dan sistem penerangan hingga larut malam, sementara anak-anak ikut membantu menata kursi di area pertemuan. “Begitu tahu Ibu Wali Kota yang datang langsung, semua warga langsung bersemangat. Kami ingin memberikan sambutan terbaik, karena selama seratus hari ini beliau bukan hanya datang dengan janji, tetapi menunjukkan kerja nyata yang bisa kami rasakan sendiri — lingkungan kami lebih bersih, pelayanan cepat, dan warga lebih diperhatikan,” ujar salah satu Ketua RT dengan wajah antusias.

    Kegiatan silaturahim di Wella Mandiri merupakan bagian dari rangkaian acara pemerintah kota di lima kecamatan. Sebelumnya, kegiatan pertama telah berlangsung di Kampung Baru, Kecamatan Liang Anggang, 3 Oktober lalu, dan disambut antusias oleh warga. Sementara pelaksanaan di Landasan Ulin yang semula dijadwalkan 7 Oktober sempat diundur karena Wali Kota Lisa menghadiri agenda kerja di Jakarta. “Justru warga makin semangat. Kami senang karena Ibu Wali memastikan hadir sendiri, tidak diwakilkan,” lanjut Yuli.

    Pemerintah Kota Banjarbaru menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar laporan capaian kerja, tetapi sarana komunikasi publik yang membangun keterbukaan. Pj Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru, Sirajoni, menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang agar masyarakat dapat mendengar langsung dari pemimpinnya. “Pesan utamanya, capaian 100 hari kerja harus disampaikan langsung oleh Ibu Wali. Ini bentuk akuntabilitas dan transparansi pemerintahan kepada warga,” ujarnya.

    Dalam 100 hari pertama sejak dilantik pada 21 Juni 2025, kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby dan Wakil Wali Kota Wartono menunjukkan arah baru bagi Banjarbaru. Fokus pemerintahan diarahkan pada penataan ruang kota, penguatan keuangan daerah, peningkatan layanan publik, serta penguatan kolaborasi masyarakat.

    Namun di luar capaian itu, Wali Kota Lisa menunjukkan gaya kepemimpinan yang berbeda — memimpin dengan kehadiran. Warga masih mengingat bagaimana dalam pekan pertamanya menjabat, ia turun langsung ke Sungai Tonhar memimpin kegiatan bersih-bersih bersama warga. Tindakan sederhana itu meninggalkan kesan kuat: bahwa pemimpin yang baik bukan hanya memberi perintah, tetapi ikut bekerja di lapangan.

    Kehadirannya di Wella Mandiri pun mencerminkan prinsip yang sama. Di tengah padatnya agenda dan ancaman pemangkasan dana transfer pusat tahun depan, Wali Kota Lisa memberi pesan kuat bahwa tidak ingin diwakilkan. “Saya ingin bertemu langsung dengan warga, menyampaikan capaian 100 hari ini sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat yang telah mempercayakan amanah,” ujarnya.

    Langkah seperti ini mencerminkan konsep governance by presence — memimpin dengan kehadiran. Kehadiran fisik dan emosional pemimpin di tengah masyarakat memperkuat social trust, menumbuhkan keterlibatan publik, dan mempercepat penyebaran nilai gotong royong. Di Banjarbaru, nilai itu tumbuh subur, salah satunya berkat pendekatan kepemimpinan yang mengedepankan dialog dan sentuhan kemanusiaan.

    Fenomena keterlibatan aktif warga Wella Mandiri juga menunjukkan potret ideal dari pembangunan partisipatif di Banjarbaru. Partisipasi masyarakat adalah indikator kuat dari keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Warga bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi bagian dari perumus dan penjaga semangat kolektif kota.

    Di Wella Mandiri, semangat itu hidup: warga berinisiatif, saling mengingatkan, dan bekerja tanpa menunggu instruksi. “Kita ingin sambut Ibu Wali dengan suasana terbaik, karena beliau membawa semangat kerja dan perubahan untuk Banjarbaru,” kata Yuli. Gotong royong itu menjadi bahasa cinta warga kepada kotanya.

    Silaturahim 100 hari kerja di Wella Mandiri dengan demikian bukan sekadar agenda pemerintahan. Ia adalah perayaan sosial — pertemuan dua kekuatan: pemerintah yang hadir dengan ketulusan dan warga yang menyambut dengan kebanggaan.

    Banjarbaru hari ini menunjukkan hubungan yang kian erat antara pemimpin dan rakyatnya. Dari Wella Mandiri, semangat itu mengalir deras — bahwa Banjarbaru dibangun bukan semata dengan kebijakan, melainkan dengan kepercayaan, kerja sama, dan cinta yang tumbuh dari setiap warganya. Wella Mandiri menjadi panggung kebersamaan yang merefleksikan arah baru Banjarbaru: kota yang memimpin dengan hati, menata dengan nurani, dan tumbuh melalui gotong royong warganya. Inilah wujud nyata dari visi Banjarbaru Emas — Banjarbaru yang Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera — di mana pemerintahan dan masyarakat bergerak seirama, saling menguatkan demi kemajuan kota yang dicintai bersama.(be)

  • H. Riandy Hidayat Pimpin TP PKK Banjarbaru Hadiri Pertemuan Enam Bulanan TP PKK se-Kalimantan Selatan di Pantai Batakan

    H. Riandy Hidayat Pimpin TP PKK Banjarbaru Hadiri Pertemuan Enam Bulanan TP PKK se-Kalimantan Selatan di Pantai Batakan

    BANJARBARUEMAS.COM — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Pantai Batakan Baru, Kabupaten Tanah Laut, Kamis (9/10/2025), saat ratusan pengurus Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Selatan berkumpul dalam Pertemuan Rutin Enam Bulanan se-Kalsel.

    Ketua TP PKK Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, bersama rombongan turut hadir memeriahkan agenda yang dirancang untuk mempererat koordinasi dan memperkuat kolaborasi antar-daerah dalam melaksanakan 10 Program Pokok PKK. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua TP PKK Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Fathul Jannah Muhidin, dan turut dihadiri oleh jajaran pengurus provinsi, termasuk Ketua Bidang I TP PKK, Masrupah Syarifudin.

    Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana Rika Amalia, S.STP., M.Si., yang juga menjabat Ketua Pokja III TP PKK Tanah Laut, menyebut kegiatan ini bukan sekadar temu rutin, melainkan ruang untuk evaluasi dan berbagi inspirasi dalam suasana yang santai namun bermakna. Agenda dimulai dengan senam tulang sehat, dilanjutkan rapat koordinasi resmi, dan diakhiri fun game yang menumbuhkan keakraban lintas daerah.

    Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menyambut kegiatan tersebut dengan antusias. Ia memandang forum koordinasi lintas daerah ini merupakan ruang belajar bersama untuk menakar efektivitas program, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta merumuskan solusi yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.

    “Pertemuan semacam ini adalah bentuk nyata dari komitmen kita untuk menjadikan PKK bekerja lebih cepat, lebih baik, dan lebih tepat sasaran. Di sinilah kita belajar mengenali kendala dan kelemahan, agar setiap langkah ke depan bisa lebih terarah dan berdampak,” ujarnya tenang.

    Bagi Riandy, proses reflektif dalam forum semacam ini memiliki nilai strategis. Ia menilai, keberhasilan gerakan PKK tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kemampuan kolektif untuk terus berbenah dan berinovasi, sehingga setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan riil keluarga dan masyarakat.

    Riandy juga menyoroti peran strategis PKK sebagai mitra pemerintah dalam menjawab berbagai isu sosial seperti pencegahan pernikahan usia dini, penurunan angka stunting, serta peningkatan kemandirian ekonomi keluarga. Menurutnya, gerakan PKK masa kini harus hadir dengan semangat inovasi dan kolaborasi lintas sektor.

    “Insya Allah, dengan keterlibatan aktif TP PKK Banjarbaru di masyarakat, berbagai persoalan sosial dapat lebih mudah diselesaikan. Mari kita hadirkan PKK yang memberikan solusi, pembinaan, dan penguatan bagi keluarga yang mandiri dan sejahtera,” imbuhnya.

    Pertemuan yang diikuti sekitar 250 peserta dari tingkat provinsi hingga desa ini ditutup dengan sesi dialog interaktif. Tuan rumah pertemuan berikutnya akan ditentukan melalui mekanisme kesepakatan bersama antar kabupaten/kota.

    Dari Pantai Batakan, semangat baru pemberdayaan keluarga mengalir ke seluruh Kalimantan Selatan — menandai langkah berkelanjutan PKK dalam memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi kemajuan bangsa.(be)

    Ajakan untuk Warga Banjarbaru:

    Mari, warga Banjarbaru, terus dukung dan sebarkan semangat gerakan PKK yang menguatkan keluarga, memberdayakan perempuan, dan menumbuhkan ekonomi rumah tangga. Bagikanlah informasi positif ini ke grup dan tetangga Anda. Dengan saling berbagi kabar baik, kita turut menyalakan semangat kebersamaan untuk membangun Banjarbaru yang harmonis, mandiri, dan sejahtera. 🌿💪

  • Silaturahim Anggaran: Cara Hj. Erna Lisa Halaby Membangun Akuntabilitas Keuangan Banjarbaru

    Silaturahim Anggaran: Cara Hj. Erna Lisa Halaby Membangun Akuntabilitas Keuangan Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM – Di tengah dinamika keuangan nasional yang menuntut efisiensi dan transparansi, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menempuh langkah yang jarang dilakukan kepala daerah lain: ia memilih bersilaturahim langsung dengan pengambil kebijakan di pusat.

    Pada Kamis, 9 Oktober 2025, di Jakarta, Wali Kota Lisa melakukan koordinasi dan konsultasi ke Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah (Ditjen Bina Keuda), Kementerian Dalam Negeri. Di sana, ia diterima oleh Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Simon Saimima.

    Langkah ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Dalam pandangan Lisa, silaturahim anggaran adalah strategi kepemimpinan: membangun komunikasi langsung, memperkuat sinergi, dan memastikan Banjarbaru memiliki arah pengelolaan keuangan yang solid, akuntabel, serta berorientasi pada kesejahteraan warga. Ia paham betul, dalam tata kelola pemerintahan modern, transparansi dan kolaborasi adalah mata uang kepercayaan.

    “Dengan silaturahim yang dilakukan, terjalin sinergi yang kuat dan solid dalam mewujudkan tata kelola keuangan daerah yang transparan dan akuntabel,” ujar Lisa, menegaskan bahwa dialog langsung dengan pemerintah pusat adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan setiap rupiah anggaran daerah bekerja bagi rakyat Banjarbaru.

    Langkah yang diambil Wali Kota Lisa selaras dengan semangat reformasi pengelolaan keuangan daerah yang tengah digalakkan pemerintah pusat. Melalui Ditjen Bina Keuangan Daerah, Kemendagri memiliki mandat untuk merumuskan kebijakan, memberikan bimbingan teknis, serta memantau pelaksanaan dan pertanggungjawaban keuangan di daerah.

    Koordinasi Banjarbaru dengan Ditjen Keuangan Daerah menjadi sangat strategis, mengingat pengelolaan anggaran yang baik tidak berhenti pada penyusunan dokumen APBD. Ia meliputi seluruh siklus: perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan evaluasi. Dengan koordinasi yang kuat, Banjarbaru berupaya memastikan setiap tahapan dijalankan sesuai prinsip efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas.

    Akuntabilitas keuangan bukan semata soal laporan keuangan yang rapi. Ia adalah cermin karakter pemerintahan. Ketika keuangan daerah dikelola dengan disiplin, dampaknya berlapis: efisiensi meningkat, potensi penyimpangan menurun, dan kepercayaan publik tumbuh. Masyarakat pun merasakan langsung manfaatnya melalui pelayanan publik yang lebih baik dan pembangunan yang tepat sasaran.

    Upaya yang dilakukan Wali Kota Lisa bisa dimaknai agar anggaran bukan sekadar angka, melainkan bentuk cinta Kota kepada Warganya. Bagi Lisa, cinta itu diterjemahkan dalam keberanian untuk membuka ruang dialog, memperkuat pengawasan, dan mengedepankan integritas dalam setiap proses pengelolaan anggaran daerah.

    Dalam konteks Banjarbaru, hal ini berarti memastikan dana publik digunakan seefisien mungkin untuk program prioritas: pendidikan anak, kesehatan ibu, kebersihan kota, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Tidak ada ruang untuk pemborosan, apalagi penyimpangan.

    Ketika pemerintah daerah transparan, masyarakat pun ikut terlibat. Kepercayaan publik tumbuh, partisipasi meningkat, dan ruang pengawasan menjadi terbuka. Inilah bentuk good governance yang sesungguhnya: ketika keuangan daerah tidak hanya dikelola dengan benar, tetapi juga dengan hati.

    Silaturahim ke Ditjen Keuangan Daerah bukanlah langkah tunggal, melainkan bagian dari strategi besar menuju Banjarbaru Emas — kota yang modern, tertib administrasi, dan unggul dalam tata kelola pemerintahan.

    Dalam era keterbukaan informasi, keberanian seorang kepala daerah untuk mendatangi langsung lembaga pembina keuangan pusat adalah sinyal kuat: Banjarbaru ingin naik kelas. Ia ingin menjadi kota yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kokoh dalam akuntabilitas dan kepercayaan publik.

    Dari Jakarta, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby membawa pulang bukan hanya hasil koordinasi, tetapi juga semangat baru: bahwa pengelolaan anggaran yang berintegritas adalah fondasi bagi kemajuan kota. Dan dalam setiap langkah kecil menuju keterbukaan itu, Banjarbaru sedang belajar menjadi kota yang tumbuh — bukan karena besar atau kecilnya anggaran, tetapi karena bersih niat dan kuat komitmennya. (be)

  • Menjaga Harapan di Tengah Krisis: Seni Kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby di Tengah Pemotongan Anggaran

    Menjaga Harapan di Tengah Krisis: Seni Kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby di Tengah Pemotongan Anggaran

    BANJARBARUEMAS.COM – Di tengah tekanan fiskal nasional dan ancaman pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) pada tahun 2026, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menunjukkan kepemimpinan yang tenang namun tegas, cerdas namun humanis.

    Ia memahami bahwa krisis bukan sekadar soal berkurangnya rupiah dalam neraca keuangan daerah, melainkan ujian arah dan daya tahan sebuah pemerintahan. Dalam situasi di mana banyak kepala daerah sibuk menyesuaikan rencana pembangunan akibat penurunan pendapatan, Wali Kota perempuan pertama Banjarbaru ini memilih langkah yang lebih strategis: memperkuat diplomasi fiskal langsung ke pusat pemerintahan.

    Langkah itu diwujudkan melalui partisipasi aktifnya dalam audiensi Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Komisariat Wilayah V dengan Kantor Staf Presiden (KSP), pada Kamis, 9 Oktober 2025 di Jakarta. Forum tersebut menjadi wadah komunikasi lintas level pemerintahan yang krusial, diikuti oleh para wali kota se-Kalimantan dan pejabat tinggi KSP.

    Hj. Erna Lisa hadir tidak hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai Wakil Ketua I Musyawarah Komisariat Wilayah (Muskomwil) V APEKSI — posisi yang menunjukkan kepercayaan dan pengakuan terhadap kepemimpinan Banjarbaru di antara kota-kota lain di Kalimantan.

    Dalam forum itu, sejumlah isu strategis mengemuka: mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan layanan publik, penguatan ekonomi daerah berbasis potensi lokal, hingga pengembangan kebijakan inovatif yang berkeadilan sosial.

    Para kepala daerah Kalimantan, termasuk Hj. Lisa, satu suara menekankan pentingnya dukungan pemerintah pusat terhadap percepatan pembangunan wilayah yang luas namun menghadapi keterbatasan fiskal dan infrastruktur.

    “Sinergi yang kuat bukan hanya soal komunikasi antarinstansi, tetapi tentang bagaimana kita menyatukan arah dan memastikan setiap kebijakan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Efisiensi fiskal perlu dijalankan dengan bijak, tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik yang menjadi hak warga,” ujar Hj. Erna Lisa Halaby, dengan nada yang memadukan ketegasan dan optimisme.

    Pernyataan itu menjadi refleksi dari situasi yang dihadapi Banjarbaru. Berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan, dana transfer untuk Kota Banjarbaru pada 2026 dipangkas sebesar 36,22 persen — dari Rp966,14 miliar pada 2025 menjadi Rp616,15 miliar.

    Penurunan paling tajam terjadi pada Dana Bagi Hasil (DBH) yang anjlok 71,98 persen, serta Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik yang menyusut hingga 91,38 persen. Artinya, jika pada 2025 Banjarbaru masih memiliki “nafas” yang relatif stabil, maka pada 2026 kota ini akan menghadapi tekanan likuiditas yang nyata.

    Kontraksi sebesar itu berpotensi memperlambat sejumlah program pembangunan. Mulai dari proyek peningkatan jalan dan drainase, revitalisasi ruang publik, pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan, hingga dukungan bagi program sosial berbasis masyarakat.

    Namun, alih-alih memperlambat langkah, Lisa justru menjadikan situasi ini sebagai momentum memperkuat koordinasi lintas level pemerintahan. Ia paham bahwa stabilitas fiskal bukan hanya soal memotong anggaran, tetapi tentang memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dampak sosial yang terukur.

    Banjarbaru memilih jalur diplomasi kebijakan. Melalui komunikasi aktif dengan Kantor Staf Presiden (KSP) dan kementerian terkait, Lisa berupaya menjaga ruang fiskal Banjarbaru agar tetap sehat, produktif, dan berkeadilan.

    Namun, kepemimpinannya melampaui batas administratif kota; sebagai Wakil Ketua I APEKSI Komisariat Wilayah V Kalimantan, ia tampil sebagai sosok regional yang berpikir untuk kepentingan bersama kota-kota di Kalimantan.

    Wali Kota Lisa mendorong lahirnya solidaritas fiskal antardaerah, memperjuangkan agar keputusan anggaran pusat tidak sekadar berbasis formula, tetapi mempertimbangkan keadilan spasial dan kebutuhan riil wilayah Kalimantan yang luas, terpencar, dan beragam.

    Ia menegaskan bahwa kemajuan Banjarbaru akan lebih bermakna bila berjalan seiring dengan kemajuan daerah tetangganya—sebuah visi kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi lokal, tetapi berwawasan regional dan nasional.

    Pendekatan yang ditempuh Wali Kota Lisa berangkat dari keyakinan bahwa anggaran bukan sekadar angka, tetapi wujud kepercayaan antara pemerintah dan rakyatnya. Dalam setiap kebijakan, ia menempatkan transparansi, komunikasi, dan kolaborasi sebagai fondasi utama.

    Bagi Lisa, cinta kepada kota bukan diukur dari besarnya dana dari pusat yang diterima, melainkan dari keberanian untuk berdialog, mengajukan aspirasi, dan menjaga kepercayaan publik di tengah keterbatasan.

    Di tingkat operasional, Pemerintah Kota Banjarbaru juga mengubah strategi kerja menjadi lebih efisien dan partisipatif. Belanja pembangunan diarahkan ke sektor yang memiliki efek ganda (multiplier effect) tinggi, seperti pendidikan, kesehatan, kebersihan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi warga.

    Program penataan lingkungan kota tetap dijalankan agar Banjarbaru tetap bersih dan nyaman. Di sisi lain, transformasi layanan publik berbasis digital terus diperluas untuk memastikan efisiensi birokrasi dan transparansi pelayanan.

    Wali Kota Lisa juga memprioritaskan penguatan kemitraan dengan dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menjaga keberlanjutan pembangunan di tengah berkurangnya dana pusat. “Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru dalam kondisi seperti ini, sinergi dan komunikasi menjadi modal utama menjaga optimisme,” ujarnya dengan senyum penuh keyakinan.

    Banjarbaru hari ini menjadi contoh kecil dari bagaimana sebuah daerah bisa mengelola tantangan nasional dengan pendekatan lokal yang cerdas dan beretika. Dalam situasi keuangan daerah yang menekan, Hj. Erna Lisa Halaby menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar kemampuan mengatur angka, melainkan kemampuan menjaga kepercayaan—baik dari pusat maupun dari warganya sendiri.

    Banjarbaru tidak sedang bertahan, tetapi sedang menata ulang cara bertumbuh. Dengan diplomasi yang santun dan argumentatif, kota ini menunjukkan bahwa bahkan di tengah musim penghematan, pembangunan yang berkeadilan tetap mungkin diwujudkan.(be

  • Banjarbaru Semakin Bersih dan Sehat: Hasil EHRA 2025 Jadi Kompas Arah Pembangunan Sanitasi

    Banjarbaru Semakin Bersih dan Sehat: Hasil EHRA 2025 Jadi Kompas Arah Pembangunan Sanitasi

    BANJARBARUEMAS.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru terus memperkuat langkah menuju kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan Ekspose Hasil Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) Tahun 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Roditha Banjarbaru pada Selasa, 8 Oktober 2025, pemerintah memaparkan hasil pemetaan ilmiah terhadap kondisi sanitasi dan perilaku kesehatan lingkungan masyarakat.

    Kegiatan yang dihadiri oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kota Banjarbaru, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Lingkungan Hidup, para camat, lurah, dan kepala puskesmas se-Kota Banjarbaru ini menjadi bagian penting dalam rangka menyusun arah kebijakan pembangunan sektor sanitasi berbasis data. Melalui hasil EHRA, pemerintah berupaya memastikan agar setiap intervensi pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan menekan risiko kesehatan akibat lingkungan yang tidak sehat.

    Studi Environmental Health Risk Assessment atau EHRA merupakan analisis sistematis untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola potensi bahaya kesehatan dari lingkungan. Kajian ini menelaah berbagai aspek, mulai dari kondisi sanitasi rumah tangga, sistem pengelolaan air limbah, perilaku kebersihan, hingga pengelolaan sampah dan drainase lingkungan.

    Dalam pelaksanaannya, survei dilakukan terhadap 800 rumah tangga responden yang dipilih secara acak di setiap kelurahan di Kota Banjarbaru. Proses pengumpulan data dilakukan secara primer melalui wawancara dan observasi lapangan oleh tim enumerator yang telah dilatih.

    Hasil studi EHRA menjadi cerminan kondisi sanitasi dan perilaku masyarakat dalam konteks kesehatan lingkungan. Data yang diperoleh akan menjadi dasar bagi penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) Banjarbaru, yaitu dokumen perencanaan jangka menengah yang memuat arah, target, dan prioritas pembangunan sanitasi.

    Melalui pendekatan ilmiah ini, Banjarbaru meneguhkan komitmennya bahwa pembangunan sektor sanitasi tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh dimensi perilaku dan kesadaran masyarakat.

    Dari hasil paparan awal, ditemukan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan lingkungan rumah tangga, terutama dalam pengelolaan air limbah domestik. Sejumlah wilayah juga menunjukkan kemajuan dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

    Namun demikian, masih terdapat tantangan dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan drainase di kawasan padat penduduk, terutama pada musim penghujan. Kondisi ini menjadi catatan penting untuk disusun langkah intervensi yang lebih adaptif dan terintegrasi antarperangkat daerah.

    Dalam konteks kebijakan, studi EHRA berfungsi sebagai jembatan antara data ilmiah dan keputusan strategis pemerintah daerah. Dengan memahami karakteristik bahaya, paparan, serta risiko kesehatan yang mungkin timbul, pemerintah dapat menentukan prioritas pembangunan sanitasi dengan lebih presisi. Pendekatan ini juga memperkuat prinsip evidence-based policy, di mana setiap kebijakan dirancang berdasarkan data faktual dan hasil kajian ilmiah.

    Selain itu, pelaksanaan EHRA menjadi bukti sinergi lintas sektor di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru. Keterlibatan Bapperida sebagai koordinator perencanaan, Dinas PUPR sebagai pelaksana teknis, Dinas Lingkungan Hidup sebagai pengawas kualitas lingkungan, hingga puskesmas dan kelurahan sebagai garda terdepan edukasi masyarakat, menunjukkan bahwa upaya membangun kota sehat memerlukan kolaborasi berkelanjutan.

    Melalui studi EHRA 2025, Banjarbaru tidak hanya mendapatkan potret kondisi sanitasi terkini, tetapi juga peta jalan untuk pembangunan lingkungan yang lebih sehat. Data ini menjadi bahan penting untuk merancang kebijakan pembangunan yang terukur, efisien, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Ke depan, hasil kajian ini diharapkan menjadi bagian dari sistem pemantauan sanitasi berkelanjutan yang terus diperbarui setiap beberapa tahun, sehingga arah pembangunan kota dapat selalu disesuaikan dengan dinamika kondisi lapangan.

    Dengan pendekatan yang sistematis dan partisipatif, Banjarbaru menegaskan diri sebagai salah satu kota yang serius membangun peradaban sanitasi modern di Kalimantan Selatan. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, pembangunan sektor sanitasi tidak hanya dipandang sebagai urusan teknis, melainkan juga sebagai investasi sosial jangka panjang bagi kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup seluruh warga kota. (BE)

  • Maksimalkan Poskamling, Warga Komplek Listrik 2 Lakukan Studi Tiru, Lurah Sangat Mendukung

    Maksimalkan Poskamling, Warga Komplek Listrik 2 Lakukan Studi Tiru, Lurah Sangat Mendukung

    BANJARBARUEMAS.COM – Dalam rangka menyikapi Surat Edaran (SE) Wali Kota Banjarbaru tentang siskamling beberapa waktu lalu Ketua RT 005 RW 002 Komplek Listrik 2, Wahyuni, yang berinisiatif melakukan studi tiru pengelolaan Pos Kamling ke Komplek Berlina Jaya, Kelurahan Loktabat Selatan, Selasa malam (7/10/2025).

    Lurah Guntung Paikat, Muhammad Arifin, menyampaikan apresiasi kepada Arifin menyebut, apa yang dilakukan ketua RT di lingkungannya merupakan bentuk kepedulian dan komitmen terhadap keamanan lingkungan.

    “Pak Wahyuni yang merupakan Ketua RT 005 datang dan meminta untuk mencarikan tempat yang bisa dijadikan contoh pengelolaan Pos Kamling yang aktif. Permintaan itu tentunya sangat baik dan menjadi semangat luar biasa, kami akan dukung penuh,” ujar Arifin.

    Arifin berharap, semangat seperti ini dapat menular ke lingkungan lain di Kelurahan Guntung Paikat, sehingga upaya menjaga keamanan dan ketertiban bisa berjalan lebih optimal dengan dukungan penuh masyarakat.

    “Kolaborasi antara warga dan pemerintah kelurahan diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lain dalam membangun keamanan berbasis partisipasi,” tambahnya.

    Kegiatan studi tiru tersebut dihadiri Ketua Forum RT RW Guntung Paikat, Bambang Suratno dan sejumlah warga Komplek Listrik 2, serta pengurus lingkungan Berlina Jaya.

    Salah satu yang dibahas adalah mengenai sistem jaga malam, pola komunikasi antarwarga, dan penerapan SOP keamanan.

    Wahyuni memgaku memilih Komplek Berlina Jaya karena dikenal memiliki sistem pengelolaan Pos Kamling yang aktif dan terorganisir.

    “Di wilayah ini terdapat dua Pos Kamling dengan total 30 anggota yang bertugas bergiliran setiap malam. Pos Kamling tersebut bahkan pernah dinobatkan sebagai terbaik se-Kalimantan Selatan tahun 2024,” jelasnya.

    Wahyuni menjelaskan, kunjungan ini menjadi tindak lanjut dari pengaktifan kembali Pos Kamling di lingkungannya beberapa waktu lalu.

    “Kami ingin mencontoh pola kerja yang efektif agar kegiatan ronda bisa berjalan maksimal dan bermanfaat bagi warga. Dengan aktifnya Siskamling tentu keamanan akan lebih maksimal,” tuturnya.(be)

  • Banjarbaru Raih Predikat Madya Kota Layak Anak: Kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby Meneguhkan Kota yang Ramah dan Tumbuh Bersama Anak

    Banjarbaru Raih Predikat Madya Kota Layak Anak: Kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby Meneguhkan Kota yang Ramah dan Tumbuh Bersama Anak

    BANJARBARUEMAS.COM — Di bawah kepemimpinan Wali Kota perempuan pertama Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, Kota Banjarbaru kembali menorehkan prestasi nasional yang membanggakan. Tahun 2025, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia menganugerahkan Predikat Madya Kota Layak Anak (KLA) kepada Banjarbaru.

    Penghargaan diserahkan dalam Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 Tahun 2025 dan Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Kalimantan Selatan) di kawasan wisata All Outbound, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Selasa (7/10/2025). Acara yang dihadiri oleh 13 kepala daerah se-Kalimantan Selatan ini juga dihadiri Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak KemenPPPA RI, Dr. Ir. Pribudiarta Nur Sitepu, M.M., yang menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam melahirkan lingkungan ramah anak.

    Bagi Banjarbaru, penghargaan ini merupakan cerminan dari komitmen pemerintah kota membangun sistem sosial yang berpihak pada anak. Sejak awal masa kepemimpinannya, Hj. Erna Lisa Halaby menegaskan bahwa setiap kebijakan pembangunan harus menyentuh keluarga dan memberi ruang aman bagi anak untuk tumbuh.

    Detail Penilaian: 24 Indikator dalam Lima Klaster Utama

    Predikat Madya diperoleh melalui penilaian atas 24 indikator Kota Layak Anak (KLA) yang dikelompokkan dalam lima klaster utama. Setiap klaster mencerminkan dimensi kehidupan anak yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah secara berkelanjutan.

    1. Hak Sipil dan Kebebasan

    Banjarbaru memastikan setiap anak memiliki identitas hukum dan hak berpartisipasi dalam kebijakan publik. Melalui Forum Anak Banjarbaru, anak-anak dilibatkan dalam diskusi perencanaan daerah dan kegiatan advokasi kebijakan. Program pencatatan kelahiran digital di seluruh kelurahan juga menjamin tidak ada anak yang kehilangan hak sipil sejak lahir.

    1. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

    Kota ini memperkuat peran keluarga melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang memberikan konsultasi, edukasi pengasuhan, serta dukungan psikologis. Program “Keluarga Hebat Banjarbaru” mengedepankan nilai cinta, dialog, dan perlindungan dalam keluarga. Untuk anak yang kehilangan pengasuhan, tersedia sistem alternatif berbasis lembaga dan komunitas dengan pengawasan Dinas P3AP2KB.

    1. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan

    Banjarbaru mencatat kemajuan pesat dalam penurunan angka stunting, peningkatan cakupan imunisasi, dan penyediaan puskesmas ramah anak. Program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), serta peningkatan gizi seimbang di sekolah menjadi praktik nyata dari komitmen pemerintah daerah memastikan setiap anak tumbuh sehat dan sejahtera.

    1. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya

    Kota Banjarbaru menegaskan hak anak atas pendidikan yang inklusif dan kreatif. Sekolah Ramah Anak (SRA) terus diperluas, diiringi pembangunan ruang publik terbuka, taman bermain, dan taman baca di berbagai wilayah. Program Banjarbaru Cerdas dan Berbudaya mendorong kegiatan seni, literasi, dan olahraga anak untuk menumbuhkan karakter unggul sekaligus memperkaya pengalaman belajar di luar kelas.

    1. Perlindungan Khusus

    Banjarbaru memperkuat sistem perlindungan bagi anak dari kekerasan dan eksploitasi. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) berfungsi aktif menangani laporan kekerasan dengan pendekatan cepat dan berperspektif korban. Tenaga pendidik, tenaga kesehatan, dan aparat penegak hukum mendapat pelatihan rutin agar mampu memberikan layanan yang ramah anak dan berkeadilan.

    Proses Penilaian dan Komitmen Sistemik

    Penilaian Kota Layak Anak oleh KemenPPPA dilakukan melalui evaluasi berlapis, mencakup verifikasi dokumen, wawancara dengan pemangku kepentingan, hingga kunjungan lapangan. Hasilnya, Banjarbaru dinilai berhasil mengintegrasikan kebijakan, sumber daya, dan inovasi lokal ke dalam sistem perlindungan anak yang berkelanjutan.

    KemenPPPA mencatat bahwa Banjarbaru memiliki komitmen kelembagaan yang kuat—dengan dukungan lintas organisasi perangkat daerah, dunia usaha, dan masyarakat sipil. Program-program di bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan telah terhubung dalam satu ekosistem kebijakan ramah anak. Inilah yang menjadikan Banjarbaru layak menyandang predikat Madya, di atas kategori Pratama.

    Bagi Hj. Erna Lisa Halaby, capaian ini adalah refleksi dari arah pembangunan yang menempatkan keluarga sebagai pusat peradaban kota. Ia menilai, anak bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga bagian penting dari proses perubahan sosial. “Kota ini harus memberi tempat bagi setiap anak untuk tumbuh bahagia, belajar dengan gembira, dan merasa aman di lingkungannya,” ujar Hj. Erna dalam berbagai kesempatan.

    Predikat Madya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia adalah investasi jangka panjang. Di tengah semangat membangun kota yang elok dan maju, Banjarbaru tidak melupakan dimensi kemanusiaannya.

    Kini, Banjarbaru sedang melangkah menuju predikat yang lebih tinggi — Kota Layak Anak Nindya dan Utama, dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor, memperluas partisipasi anak, dan memastikan kebijakan kota selalu berpihak pada keluarga. (be)

  • Ketika Perempuan Memimpin, dan Lelaki Menguatkan: Sebuah Kisah Kepemimpinan dari Banjarbaru

    Ketika Perempuan Memimpin, dan Lelaki Menguatkan: Sebuah Kisah Kepemimpinan dari Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM – Ada yang indah dari cara perempuan memimpin. Tidak dengan suara lantang, tapi dengan hati yang mendengar. Tidak dengan ambisi menaklukkan, tapi dengan empati yang menumbuhkan. Kadang lembutnya dianggap kelemahan, emosinya disalahpahami, dan air matanya dicibir sebagai tanda rapuh. Padahal justru dari sanalah lahir kekuatan yang paling jernih: keberanian untuk peduli.

    Suatu ketika, dalam sebuah podcast yang saya dengarkan, ada kalimat yang menancap begitu dalam di hati. “Ketika perempuan menjadi pemimpin bukan berarti laki-laki lemah. Justru bagaimana peran laki-laki bisa sama-sama bergandengan tangan menjadi support system yang baik,” tutur Dewi Sukma Sari, sosok yang saya kenal aktif dalam pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender di Banjarbaru melalui perannya di TP PKK Kota Banjarbaru.

    Kalimat itu sederhana, tapi dalam — dan barangkali menemukan wujud nyatanya di Banjarbaru hari ini. Melalui sosok Wali Kota perempuan pertamanya, Hj. Erna Lisa Halaby, kita melihat bagaimana kepemimpinan bisa tumbuh dari cinta dan kolaborasi, bukan dari ambisi.

    Momen itu tampak nyata dalam acara Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Kalimantan Selatan) di Loksado, Selasa, 7 Oktober 2025. Di tengah udara sejuk pegunungan dan gemericik sungai yang mengalir lembut, terlihat keduanya berjalan berdampingan.

    Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, dengan langkah tenang namun tegas, dan H. Riandy Hidayat, sang suami, yang menggenggam tangannya dengan tulus. Sebuah genggaman sederhana, namun memancarkan makna mendalam: dukungan yang nyata, cinta yang berpijak pada tanggung jawab, dan kepemimpinan yang tidak berjarak.

    Loksado pagi itu seperti menyatu dengan kisah mereka. Daerah yang dikenal dengan budaya Dayak Meratus dan keindahan alamnya menjadi saksi senyap dari energi cinta yang menyalakan semangat kepemimpinan. Kabut yang turun perlahan di antara pepohonan, dan suara burung dari arah Sungai Amandit, seolah ikut merayakan harmoni itu — kepemimpinan yang tumbuh dari hati dan dilandasi saling percaya.

    Dan dari kepemimpinan yang saling menguatkan itulah, Banjarbaru menorehkan prestasi gemilang di tingkat provinsi. Puskesmas Inap Cempaka meraih Juara 1 Pelayanan Ramah Anak (PRA), sebuah capaian yang mencerminkan kepemimpinan berwajah kasih. Fasilitas ramah anak, tenaga kesehatan terlatih, dan pelayanan yang berlandaskan empati menjadi bukti bahwa kebijakan yang lahir dari hati akan selalu menyentuh kehidupan banyak orang.

    Tak hanya itu, Banjarbaru juga dianugerahi Predikat Madya Kota Layak Anak (KLA) dari Kementerian PPPA — pengakuan atas konsistensi kota ini menanamkan nilai perlindungan anak dalam setiap kebijakan publik. Di bawah kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby, keberpihakan pada anak tidak berhenti dalam tataran diskusi, tapi hidup di taman bermain, di sekolah, di puskesmas, dan di hati masyarakat.

    Sementara itu, Forum Anak Daerah (FAD) Banjarbaru turut menunjukkan semangat dan kreativitas anak-anak kota ini dengan menyabet Juara 1 Lomba Kreativitas Desain Stiker dan Juara 2 Lomba Photobooth Tingkat Provinsi. Dari tangan-tangan kecil mereka lahir karya besar; dari imajinasi mereka tumbuh harapan akan masa depan kota yang lebih manusiawi.

    Kepemimpinan perempuan, seperti yang ditunjukkan Wali Kota Lisa, bukan tentang mengambil alih peran laki-laki. Tapi tentang menambah warna, menambah kehangatan, dan menciptakan ruang kolaborasi. Di sana, peran sang suami menjadi penting — bukan sebagai bayangan, tapi sebagai penyangga yang membuat langkah pemimpin perempuan semakin kokoh.

    Loksado hari itu hanyalah latar. Tapi di balik lembut kabutnya, kita seolah melihat metafora kehidupan: sungai yang terus mengalir, gunung yang berdiri teguh, dan genggaman tangan yang menjaga keseimbangan di antara keduanya.

    Dari sanalah Banjarbaru belajar: bahwa cinta bisa menjadi sumber daya kepemimpinan yang paling kuat. Bahwa sebuah genggaman tangan bisa menumbuhkan keberanian untuk membangun, mendengar, dan melayani. Dan bahwa di balik setiap perempuan hebat, selalu ada dukungan yang tidak kalah hebat — diam, lembut, tapi terus menguatkan.

    Banjarbaru kini tidak hanya berprestasi. Ia sedang bertumbuh dalam kehangatan cinta, empati, dan kolaborasi. Sebab kepemimpinan sejati, seperti di Loksado pagi itu, selalu lahir dari dua hati yang saling menggenggam.(be)