Blog

  • Banjarbaru di Bawah Kepemimpinan Baru: Kepedulian Hj. Erna Lisa Halaby Melahirkan Kota Ramah Anak dan Penuh Prestasi

    Banjarbaru di Bawah Kepemimpinan Baru: Kepedulian Hj. Erna Lisa Halaby Melahirkan Kota Ramah Anak dan Penuh Prestasi

    BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama Ketua TP PKK Kota Banjarbaru H. Riandy Hidayat menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 Tahun 2025 dan Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Kalimantan Selatan, yang diselenggarakan di kawasan wisata alam All Outbound, Desa Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Selasa (7/10/2025).

    Acara yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan ini berlangsung hangat dan sarat makna. Dihadiri oleh 13 kepala daerah beserta pasangan dari seluruh kabupaten/kota di Kalsel, kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan komitmen bersama untuk memastikan setiap anak di Kalimantan Selatan mendapatkan haknya untuk tumbuh, belajar, bermain, dan berpartisipasi tanpa diskriminasi.

    Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin dalam sambutannya menegaskan pentingnya makna Hari Anak Nasional bukan hanya sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai pengingat moral bagi seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat.

    “Hari Anak Nasional adalah pengingat agar kita semua memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang ramah, aman, dan mendukung mereka untuk berkembang secara utuh. Dari merekalah masa depan Indonesia ditentukan,” ujarnya di hadapan peserta dan tamu undangan.

    Muhidin juga menekankan bahwa perlindungan anak membutuhkan sinergi lintas sektor — mulai dari dunia pendidikan, kesehatan, hingga lembaga sosial — agar setiap kebijakan publik berpihak pada kepentingan terbaik anak.

    Dalam acara tersebut, turut hadir perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, diwakili oleh Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Dr. Ir. Pribudiarta Nur Sitepu, M.M. Sebanyak 13 kepala daerah dan pasangan suami-istri dikukuhkan sebagai Ayah dan Bunda Forum Anak Daerah (FAD), termasuk Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dan Ketua TP PKK H. Riandy Hidayat.

    Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Sekda Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 400.2.5/01891/DPPPAKB/2025 yang mendorong seluruh kepala daerah untuk aktif memperkuat peran Forum Anak Daerah sebagai wadah partisipasi anak dalam pembangunan. Forum Anak sendiri diatur dalam Peraturan Menteri PPPA Nomor 3 Tahun 2025, yang menempatkan anak sebagai Pelopor dan Pelapor (2P) dalam pembangunan daerah.

    Melalui pengukuhan tersebut, Hj. Erna Lisa Halaby dan H. Riandy Hidayat diharapkan menjadi pembimbing, pengayom, sekaligus jembatan komunikasi antara pemerintah dan anak-anak di Banjarbaru. Mereka berperan memastikan suara anak Banjarbaru terdengar dalam setiap proses pengambilan keputusan publik.

    Banjarbaru Penuh Prestasi

    Kehadiran Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby dalam kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan simbolik, tetapi juga menjadi refleksi dari capaian nyata Banjarbaru dalam membangun ekosistem kota yang ramah anak.

    Di bawah kepemimpinannya, Banjarbaru mencatat sederet prestasi membanggakan di tingkat provinsi. Salah satunya, Puskesmas Inap Cempaka meraih Juara 1 Pelayanan Ramah Anak (PRA) Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.
    PRA di tingkat puskesmas merupakan inovasi pelayanan yang berorientasi pada pemenuhan dan perlindungan hak anak, dengan memastikan sarana yang ramah, SDM terlatih, serta penerapan prinsip non-diskriminasi dan kepentingan terbaik anak.
    Puskesmas Inap Cempaka dinilai unggul karena memiliki ruang bermain, toilet anak, loket antrean khusus, serta tenaga kesehatan yang memahami hak anak secara komprehensif.

    Selain itu, Kota Banjarbaru juga berhasil meraih Predikat Madya Kota Layak Anak (KLA) dari Kementerian PPPA. Penghargaan ini menegaskan konsistensi Pemkot Banjarbaru dalam mengintegrasikan kebijakan perlindungan anak ke dalam seluruh sektor pembangunan. Predikat Madya menunjukkan bahwa Banjarbaru telah memenuhi berbagai indikator penting, mulai dari penyediaan sarana pendidikan dan kesehatan, pelibatan anak dalam forum kebijakan, hingga kolaborasi aktif dengan masyarakat dan dunia usaha.

    Tak berhenti di situ, Forum Anak Daerah (FAD) Kota Banjarbaru turut mengharumkan nama daerah dengan menyabet Juara 1 Lomba Kreativitas Desain Stiker dan Juara 2 Lomba Kreativitas Photobooth Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Dua capaian ini menggambarkan semangat dan kreativitas anak-anak Banjarbaru dalam mengekspresikan ide positif serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan sosial.

    Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam keberhasilan tersebut.

    “Prestasi ini adalah hasil kerja bersama. Pemerintah, tenaga kesehatan, guru, orang tua, dan anak-anak Banjarbaru semuanya memiliki peran penting. Kami ingin memastikan bahwa setiap anak merasa aman, dihargai, dan punya ruang untuk berkembang,” ujarnya.

    Lisa menambahkan bahwa fokus pembangunan Banjarbaru ke depan tidak hanya pada fisik kota, tetapi juga pada pembangunan manusia dan keluarga. Menurutnya, kota yang baik bukan hanya kota yang indah secara visual, melainkan kota yang menghadirkan rasa aman dan bahagia bagi anak-anak yang tumbuh di dalamnya.

    Momentum Hari Anak Nasional dan Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah menjadi tonggak penting bagi Banjarbaru dalam menegaskan posisinya sebagai kota pelopor perlindungan anak di Kalimantan Selatan.
    Melalui berbagai program edukatif, pemberdayaan keluarga, serta partisipasi anak dan remaja dalam forum publik, Banjarbaru menunjukkan arah pembangunan yang humanis dan berkelanjutan.

    Di bawah kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru menjadi ruang hidup yang menjunjung tinggi nilai kasih, empati, dan keadilan bagi anak-anaknya.

    Dengan semangat kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga, Banjarbaru menegaskan visinya menuju “Banjarbaru Emas” — sebuah kota yang inklusif, harmonis, dan berdaya anak, di mana setiap langkah pembangunan berakar pada kepentingan terbaik generasi penerus bangsa. (be)

  • Empati di Balik Kebijakan: Wali Kota Lisa Meneguhkan Banjarbaru sebagai Kota Inklusif

    Empati di Balik Kebijakan: Wali Kota Lisa Meneguhkan Banjarbaru sebagai Kota Inklusif

    BANJARBARUEMAS.COM – Sejak awal masa kepemimpinannya pada 21 Juni 2025, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby langsung menegaskan arah baru pembangunan kota. Baginya, kemajuan Banjarbaru tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga dari seberapa dalam pemerintahannya mampu merangkul semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan, disabilitas, dan keluarga miskin. “Kota yang maju adalah kota yang tidak meninggalkan satu pun warganya,” tegasnya dalam berbagai kesempatan.

    Semangat itu tampak jelas ketika bulan Agustus (2/8/2025), Wali Kota Lisa turun langsung ke Kelurahan Cempaka untuk menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak yatim, penyandang disabilitas, dan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia tidak sekadar hadir untuk menyerahkan bantuan, tetapi untuk memastikan bahwa kebijakan sosial di Banjarbaru benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. “Saya ingin melihat sendiri bagaimana kondisi mereka, agar setiap kebijakan yang dibuat berangkat dari realitas,” ucapnya.

    Kehadiran Wali Kota Lisa disambut dengan penuh haru oleh warga. Banyak yang menilai, langkah turun langsung seperti itu menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan beliau tidak berhenti di ruang rapat. Ia ingin memahami kehidupan warga dengan mata kepala sendiri—mendengar cerita, menerima keluhan, dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat kecil. Dalam kunjungan itu, Lisa juga berdialog dengan para orang tua anak disabilitas untuk memastikan mereka mendapatkan dukungan pendidikan dan sosial yang layak.

    Program tersebut merupakan bagian dari Banjarbaru Charity, inisiatif sosial terpadu di bawah visi besar Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, Sejahtera). Sejak awal pemerintahannya, Lisa menjadikan keadilan sosial dan keberpihakan kepada kelompok rentan sebagai salah satu pondasi pembangunan manusia Banjarbaru. Pendekatannya bukan karitatif semata, tetapi berbasis sistem yang berkelanjutan—memperkuat data penerima bantuan, memperbaiki mekanisme pelayanan, dan memastikan setiap kebijakan berpihak pada warga yang paling membutuhkan.

    Dalam arah kebijakan sosialnya, Wali Kota Lisa menempatkan isu disabilitas sebagai bagian integral dari pembangunan manusia. Ia menjalin komunikasi erat dengan organisasi penyandang disabilitas, termasuk komunitas POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome), untuk memastikan bahwa anak-anak penyandang Down Syndrome memiliki ruang untuk berkembang. Dari sinergi itu lahirlah sejumlah komitmen kuat: pemerintah menyediakan ruang aman dan ramah anak bagi anak-anak Down Syndrome, memfasilitasi kegiatan seperti membatik sasirangan, menari, dan aktivitas terapi sosial, serta menjamin akses pendidikan dan kesehatan bagi mereka.

    Pemko Banjarbaru juga berkomitmen mendukung kegiatan tahunan Bulan Peduli Down Syndrome sebagai bentuk penghargaan terhadap ketekunan para orang tua yang mendampingi anak-anak luar biasa ini. Lebih dari itu, dalam sebuah momen penuh kehangatan, Wali Kota Lisa menerima amanah menjadi Ibu Asuh anak-anak penyandang Down Syndrome di Banjarbaru. Sebuah simbol kepemimpinan yang bukan hanya administratif, tetapi juga emosional—pemimpin yang tidak hanya memerintah, tetapi merangkul.

    Konsistensi Lisa dalam membangun kota inklusif juga tercermin dalam kebijakan pemerintahannya. Banjarbaru kini memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) di bawah Dinas Pendidikan, serta telah menetapkan Peraturan Daerah tentang Disabilitas sebagai payung hukum bagi pelaksanaan program inklusi. Bagi Lisa, kebijakan tanpa payung hukum hanya akan menjadi kegiatan jangka pendek, sementara kota inklusif harus dibangun dengan sistem yang kokoh dan berkelanjutan.

    Langkah-langkah inklusif itu juga menyentuh ranah fisik kota. Salah satu inovasi sederhana namun berdampak adalah pembangunan halte portabel di halaman Rumah Disabilitas Banjarbaru, Jalan Trikora, Guntung Manggis, oleh Dinas Perhubungan. Fasilitas ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan warga disabilitas yang kesulitan menjangkau halte lama di sekitar RSD Idaman. Meskipun hanya satu unit, halte portabel tersebut menjadi simbol bahwa pemerintah benar-benar memperhatikan detail kebutuhan warganya, bahkan dalam hal yang tampak kecil.

    Selain itu, Lisa juga mendorong penguatan pendataan kelompok rentan di tingkat kelurahan, agar program bantuan sosial, pendidikan, dan pelatihan keterampilan dapat dilaksanakan dengan prinsip tepat sasaran dan berbasis bukti (evidence-based policy). Pendekatan ini menjadi ciri khas kepemimpinan Lisa—setiap kebijakan disusun bukan karena tren, tetapi karena data dan kebutuhan nyata masyarakat.

    Dalam banyak kesempatan, Lisa menegaskan bahwa kebijakan sosial yang berhasil tidak diukur dari besarnya anggaran, tetapi dari ketepatan sasaran dan perubahan nyata yang dirasakan warga. Karena itu, ia terus mendorong sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem kota yang ramah bagi semua.

    Apa yang dilakukan Hj. Erna Lisa Halaby menunjukkan wajah baru kepemimpinan daerah: empatik, faktual, dan inklusif. Ia tidak menjadikan isu disabilitas sebagai agenda pinggiran, melainkan inti dari pembangunan manusia yang berkeadilan. Banjarbaru di bawah kepemimpinannya sedang membangun fondasi peradaban yang berakar pada empati dan solidaritas sosial.

    Satu halte portabel, satu ruang kreatif, satu dialog dengan anak disabilitas—semuanya mungkin tampak kecil, tetapi dari hal-hal kecil itulah lahir budaya besar: budaya kepedulian dan kesetaraan.

    Kini Banjarbaru tidak hanya tumbuh elok secara fisik, tetapi juga hangat secara sosial. Di bawah kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru bergerak menuju kota inklusif yang memberi ruang bagi semua warganya untuk tumbuh bersama dalam martabat dan kebahagiaan.

    Mari sebarkan semangat ini kepada keluarga, tetangga, dan rekan di sekitar Anda. Bersama, kita dukung langkah Wali Kota Lisa menjadikan Banjarbaru sebagai kota empatik, adil, dan inklusif untuk semua.(be)

  • Wali Kota Lisa Dorong Lapangan Kerja Baru Lewat Pelatihan Vokasi: Banjarbaru Bergerak dari Kompetensi ke Kemandirian

    Wali Kota Lisa Dorong Lapangan Kerja Baru Lewat Pelatihan Vokasi: Banjarbaru Bergerak dari Kompetensi ke Kemandirian

    BANJARBARUEMAS.COM — Upaya Pemerintah Kota Banjarbaru dalam membuka lapangan kerja terus menunjukkan arah yang jelas. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, program pelatihan vokasi dan pengembangan keterampilan menjadi jembatan strategis untuk menekan angka pengangguran dan memperkuat daya saing tenaga kerja lokal.

    Langkah konkret itu tampak dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Serentak bagi Pencari Kerja se-Kota Banjarbaru yang digelar oleh Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja di Aula Dinas setempat, Senin (6/10/2025). Kegiatan ini diikuti 131 peserta yang terbagi dalam sembilan kelas pelatihan berbasis kompetensi dan vokasi, mulai dari pelatihan security, tata rias, desain grafis komputer, hingga operator alat berat dan perawatan AC.

    Kegiatan dibuka secara resmi oleh Asisten III Setdako Banjarbaru, Rahmah Khairita, mewakili Wali Kota Banjarbaru. Dalam sambutannya, Rahmah menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian penting dari visi besar Banjarbaru Emas (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) yang diusung Wali Kota Lisa. “Pelatihan seperti ini adalah langkah nyata untuk mengurangi angka pengangguran terbuka di Banjarbaru, sekaligus membangun sumber daya manusia yang unggul, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

    Data menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka Banjarbaru masih berada di angka 4,93 persen. Karena itu, pelatihan vokasi dan keterampilan dipandang sebagai strategi efektif untuk mempersiapkan tenaga kerja agar mampu bersaing, tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.

    Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja, Sartono, menjelaskan bahwa dari hampir 600 pendaftar, hanya 131 peserta yang lolos seleksi. “Kami ingin memastikan bahwa peserta yang terpilih benar-benar siap menerima pelatihan dan mampu mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja maupun usaha mandiri,” katanya.

    Dalam arah kebijakan yang dicanangkan Wali Kota Lisa, pelatihan vokasi seperti ini merupakan bagian dari pilar besar Banjarbaru Business Incubator, yakni program pembinaan UMKM, penyediaan ruang kreatif, dan pendampingan usaha produktif berbasis warga. Dalam setiap pidatonya, Lisa menekankan pentingnya kerja kolaboratif lintas sektor agar Banjarbaru menjadi kota yang tidak hanya elok secara fisik, tetapi juga kokoh secara ekonomi dan sosial.

    “Kami akan bekerja keras, bekerja ikhlas, dan bekerja cerdas bersama seluruh elemen masyarakat dalam menyempurnakan metamorfosis Banjarbaru menuju Banjarbaru Emas,” tegas Lisa dalam berbagai kesempatan.

    Melalui pelatihan-pelatihan ini, Pemerintah Kota berharap terbentuk ekosistem ekonomi baru—di mana warga tidak sekadar menjadi pekerja, tetapi juga pelaku usaha yang berdaya. Banjarbaru, kota muda yang terus tumbuh, kini bergerak dari kompetensi menuju kemandirian.

    📢Pesan untuk Warga Banjarbaru

    Mari kita ambil bagian dalam gerakan kemandirian ini. Jangan biarkan kabar baik berhenti di tangan kita—bagikan informasi ini kepada keluarga, tetangga, dan rekan di lingkungan sekitar. Mungkin satu pesan yang kita teruskan hari ini akan menjadi awal perubahan bagi seseorang yang sedang mencari kesempatan kerja atau ingin memulai usaha kecilnya.

    Banjarbaru hanya bisa maju jika warganya saling menopang. Dari satu pelatihan lahir keterampilan, dari satu keterampilan tumbuh harapan, dan dari harapan itulah Banjarbaru Emas akan terwujud—kota yang elok bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena warganya yang berdaya dan saling menguatkan.

  • Wali Kota Banjarbaru Resmikan Bank Sampah Induk, Gandeng PLN Dukung Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan

    Wali Kota Banjarbaru Resmikan Bank Sampah Induk, Gandeng PLN Dukung Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan

    BANJARBARUEMAS.COM – Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, secara resmi meresmikan Bank Sampah Induk sekaligus menerima bantuan sarana pengelolaan sampah dari PLN Group Kalselteng, di Aula Gawi Sabarataan, Kota Banjarbaru, bulan lalu.

    Wali Kota menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadirkan solusi nyata untuk permasalahan lingkungan terutama pengelolaan sampah.

    “Saya mengapresiasi keterlibatan aktif PLN Group melalui program TJSL dalam mendukung pengelolaan lingkungan hidup di Banjarbaru. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat bukan hanya kebutuhan, tapi keharusan,” ujar Erna Lisa.

    Perhatian Lisa terhadap persoalan sampah membuktikan bahwa Lisa tidak ingin Banjarbaru darurat sampah.

    “Tanpa pengelolaan yang baik dan partisipasi semua pihak, maka Banjarbaru tidak bisa menyelesaikan persoalan sampah. Semakin lama perumahan semakin banyak untuk itu mulai sekarang harus dimitigasi cara mengatasi dan mengelola sampah,” tegasnya.

    Acara ini dihadiri oleh jajaran Srikandi PLN UIP3B Kalimantan bersama perwakilan PLN Nusantara Power, PLN Icon+, dan PLN Nusa Daya, yang tergabung dalam PLN Group Kalselteng.

    Mereka turut menyerahkan bantuan berupa pembangunan Bank Sampah serta perlengkapan pengelolaan sampah di SMPN 15 Banjarbaru, sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

    Champion Srikandi PLN UIP3B Kalimantan, Endah Trianingtiyas, menyebut bahwa dukungan ini sejalan dengan nilai-nilai Environment dalam prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). “Kami ingin mendorong ekonomi sirkular dan edukasi lingkungan sejak dini. Ini adalah komitmen nyata PLN dalam mendukung visi Banjarbaru Emas,” jelasnya.

    Sementara itu, General Manager PLN UIP3B Kalimantan, Riko Ramadhano Budiawan, menegaskan bahwa kontribusi PLN tidak hanya berupa sarana fisik. “Kami ingin masyarakat makin sadar pentingnya pengelolaan sampah. Bank Sampah ini bisa jadi pusat edukasi lingkungan, terutama bagi generasi muda,” katanya.

    Riko juga menambahkan bahwa sinergi antara PLN dan pemerintah daerah akan terus diperkuat. “PLN siap berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan bersih dan sehat. Keberlanjutan energi harus diimbangi dengan keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

    Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta, Pemerintah Kota Banjarbaru berharap keberadaan Bank Sampah Induk ini menjadi penggerak ekonomi sirkular, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan.(be)

  • Kejar Ketertinggalan, Jaga Kepercayaan: Kepemimpinan Cepat Hj. Erna Lisa Halaby Menata Ekonomi Banjarbaru

    Kejar Ketertinggalan, Jaga Kepercayaan: Kepemimpinan Cepat Hj. Erna Lisa Halaby Menata Ekonomi Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM – Awal pekan ke-2, Senin 6 Oktober 2025, menjadi momentum penting bagi Kota Banjarbaru. Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby memimpin langsung jajaran pemerintah kota mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Nasional, yang dirangkai dengan arahan Menteri Keuangan RI tentang percepatan belanja dan dukungan daerah terhadap Program Nasional 3 Juta Rumah.

    Meski rapat berlangsung daring, substansinya sangat strategis. Pemerintah pusat menegaskan tiga hal: percepatan realisasi belanja daerah, pengendalian inflasi berbasis data, dan sinergi dalam mendukung program nasional untuk kesejahteraan rakyat. Ketiganya bermuara pada satu tujuan utama: menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

    Menariknya, capaian positif Banjarbaru ini terjadi meski Hj. Erna Lisa Halaby baru dilantik pada 21 Juni 2025. Jika mengacu pada laporan keuangan pemerintah daerah, pelantikan tersebut berlangsung menjelang akhir semester pertama tahun anggaran. Artinya, Walikota Lisa memulai kerja di tengah perjalanan fiskal yang sudah berjalan separuh waktu.

    Namun, dalam waktu singkat, Lisa berhasil mengejar ketertinggalan administrasi, menyesuaikan arah kebijakan, dan memastikan Banjarbaru mampu sejajar dengan daerah-daerah lain di Indonesia yang kepala daerahnya sudah lebih dahulu dilantik.
    Langkah cepat ini menunjukkan kemampuan adaptasi pemerintahan baru yang luar biasa — berpijak pada data, bergerak dengan empati, dan berorientasi pada hasil.

    Bagi ibu kota provinsi seperti Banjarbaru, daya beli masyarakat adalah jantung ekonomi lokal. Kenaikan harga tidak hanya mengubah angka di grafik, tetapi juga mengubah cara keluarga memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, pengendalian inflasi bukan sekadar urusan teknis, melainkan soal martabat dan keadilan sosial.

    Pemerintah Kota Banjarbaru di bawah kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby menunjukkan komitmen kuat menjaga stabilitas harga. Salah satu langkah nyata adalah Pasar Murah Bersubsidi Tahun 2025, yang secara resmi dibuka di Lapangan dr. Murdjani pada 14 Juli 2025.

    Selama 20 hari, kegiatan ini digelar bergiliran di 20 kelurahan, menyediakan beras, minyak goreng, telur, dan gula yang masing-masing disubsidi Rp5.000. Gas LPG 3 kg dijual Rp18.500, disertai berbagai produk pangan lokal lainnya. Langkah ini membantu warga memenuhi kebutuhan dasar dengan harga terjangkau, sekaligus menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga.

    Wali Kota Lisa menegaskan bahwa pasar murah ini bukan program sesaat, melainkan agenda rutin tahunan Pemko Banjarbaru untuk menjaga daya beli masyarakat.

    Menurut data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, hingga September 2025 realisasi APBD Banjarbaru mencapai Rp808,33 miliar atau 50,10% dari total Rp1,61 triliun. Angka ini menunjukkan ritme belanja yang sehat, walau masih perlu percepatan di sektor belanja modal dan barang/jasa.

    Kebijakan fiskal Banjarbaru sejalan dengan arah APBN 2025. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah gejolak global. Inflasi nasional hingga Agustus 2025 tercatat 2,31 persen (year on year) — level ideal dalam konsensus ekonomi dunia.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga solid. Berdasarkan data BPS, perekonomian nasional tumbuh 5,12 persen pada triwulan II-2025, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Dengan situasi yang kondusif, pemerintah pusat optimistis pertumbuhan tahun ini dapat melampaui 4,8 persen.

    Stabilitas nasional ini memberi ruang bagi Banjarbaru untuk memperkuat kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat. Ketika inflasi terkendali dan belanja publik efektif, kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh lebih merata.

    Banjarbaru kini menata model pemerintahan yang berbasis data dan empati. Hj. Erna Lisa Halaby tidak berhenti pada tataran kebijakan, melainkan hadir langsung di lapangan — berdialog dengan pedagang, memantau harga, dan memastikan rantai distribusi berjalan lancar.

    Kepercayaan publik tumbuh bukan dari janji, tetapi dari konsistensi tindakan. Setiap rupiah anggaran yang dikelola secara transparan dan akuntabel membangun kredibilitas pemerintah kota, memperkuat partisipasi masyarakat, dan membuka ruang kolaborasi ekonomi yang lebih luas.

    Di bawah kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi dapat berpihak pada rakyat tanpa kehilangan disiplin fiskal. Visi “Banjarbaru Emas” — Elok, Maju, dan Sejahtera kini bukan sekadar slogan, melainkan arah nyata pembangunan.

    Banjarbaru terus menuliskan bab baru dalam sejarah pemerintahan daerah di Indonesia: pemerintahan yang cepat menyesuaikan diri, ilmiah dalam berpikir, empatik dalam bertindak, dan konsisten menjaga kepercayaan rakyat.(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Hadiri Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah: Komitmen Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak di Kalimantan Selatan

    Wali Kota Banjarbaru Hadiri Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah: Komitmen Menguatkan Suara dan Perlindungan Anak di Kalimantan Selatan

    BANJARBARUEMAS.COM, — Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby didampingi Ketua TP PKK Kota Banjarbaru H. Riandy Hidayat akan menghadiri Pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Kalimantan Selatan, Selasa, 7 Oktober 2025 di kawasan All Outbound, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2025, yang tahun ini mengusung semangat memperkuat partisipasi anak dalam pembangunan.

    Kegiatan yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPPPAKB) ini juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi. Turut dikukuhkan sebagai Ayah dan Bunda Forum Anak Daerah adalah 13 kepala daerah dan pasangan suami/istri dari seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, termasuk Wali Kota dan Ketua TP PKK Banjarbaru.

    Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 400.2.5/01891/DPPPAKB/2025 tanggal 23 September 2025, yang menginstruksikan kepada seluruh kepala daerah untuk aktif dalam penguatan peran Forum Anak Daerah.

    Pengukuhan ini menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan amanat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjamin pemenuhan hak-hak anak.

    Forum Anak Daerah (FAD), sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri PPPA Nomor 3 Tahun 2025, merupakan wadah partisipasi anak yang berperan sebagai Pelopor dan Pelapor (2P) — dua peran penting bagi anak untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan, sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan aspirasi generasi muda.

    FAD telah terbentuk di seluruh 13 kabupaten/kota hingga tingkat desa/kelurahan di Kalimantan Selatan, dan kini diperkuat dengan kehadiran figur Ayah dan Bunda Forum Anak, yang akan berperan sebagai pembimbing, pengayom, dan jembatan komunikasi antara anak-anak dan pemerintah.

    Ayah Bunda Forum Anak Daerah diharapkan menjadi teladan dan fasilitator yang menggerakkan ekosistem perlindungan anak di daerah masing-masing. Beberapa peran kunci mereka meliputi:

    1. Memberikan bimbingan dan dukungan moral bagi anggota Forum Anak.
    2. Memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara Forum Anak dengan pemerintah daerah serta lembaga terkait.
    3. Menjadi jembatan aspirasi, agar suara anak didengar dan menjadi bagian dalam proses perencanaan pembangunan.
    4. Mendorong peningkatan kapasitas anak dalam memahami hak, perlindungan, serta kepemimpinan sosial.

    Tujuan besar dari pembentukan Ayah Bunda Forum Anak adalah memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, partisipatif, dan bebas dari kekerasan serta diskriminasi. Mereka diharapkan mampu menjadi jembatan antara dunia anak dan dunia kebijakan publik, agar setiap keputusan yang diambil pemerintah berpihak pada kepentingan terbaik anak.

    Kehadiran Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dan Ketua TP. PKK Banjarbaru H. Riandy Hidayat dalam pengukuhan ini mempertegas komitmen Kota Banjarbaru sebagai kota ramah anak, yang secara konsisten mengintegrasikan perspektif perlindungan anak dalam kebijakan publiknya. Sejak awal kepemimpinannya, Lisa menempatkan pembangunan manusia—terutama anak dan keluarga—sebagai prioritas dalam arah pembangunan kota.

    Dalam berbagai kesempatan, Pemerintah Kota Banjarbaru juga aktif mendukung kegiatan edukatif, forum partisipasi remaja, dan pemberdayaan keluarga sebagai fondasi tumbuhnya generasi unggul. Partisipasi Banjarbaru dalam ajang Forum Anak tingkat provinsi ini diharapkan memperkuat jejaring kolaborasi antar daerah dan menghadirkan ruang yang lebih luas bagi anak-anak untuk berkontribusi dalam pembangunan daerahnya.

    Melalui momentum Hari Anak Nasional dan pengukuhan Ayah Bunda Forum Anak Daerah ini, Banjarbaru kembali menegaskan perannya sebagai kota pelopor perlindungan anak dan penggerak partisipasi generasi muda di Kalimantan Selatan—sebuah langkah nyata menuju Banjarbaru yang emas, inklusif, dan berdaya anak.

  • Banjarbaru Tunjukkan Kepedulian: Ratusan Penggali Kubur Terima Insentif, Bukti Nyata Pemerintahan yang Berkeadilan

    Banjarbaru Tunjukkan Kepedulian: Ratusan Penggali Kubur Terima Insentif, Bukti Nyata Pemerintahan yang Berkeadilan

    BANJARBARUEMAS.COM — Pemerintah Kota Banjarbaru kembali menegaskan komitmennya terhadap keadilan sosial melalui langkah nyata: pemberian insentif bagi para penggali dan penjaga kubur. Ratusan penggali kubur dari berbagai wilayah di Banjarbaru menerima insentif secara serentak di Aula Gawi Sabarataan, Jumat (3/10/2025). Penyerahan dilakukan oleh Wakil Wali Kota Banjarbaru, Wartono, mewakili Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby.

    Kebijakan ini bukan sekadar bantuan ekonomi, tetapi wujud penghargaan terhadap profesi yang selama ini bekerja dalam senyap, namun memiliki peran sosial sangat penting. Dalam sambutannya, Wartono menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memberikan perhatian kepada para penjaga dan penggali kubur, yang telah berjasa melayani masyarakat di saat-saat penuh duka.

    “Pemberian insentif ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan menjadi motivasi dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Mereka adalah bagian penting dari pelayanan publik yang sering luput dari sorotan,” ujar Wartono.

    Langkah ini juga menjadi bagian dari program Banjarbaru Charity, salah satu pilar dari empat program utama Pemerintah Kota Banjarbaru menuju visi Banjarbaru Emas: Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera. Melalui pilar ini, Pemko menyalurkan bantuan bagi kelompok masyarakat yang menjalankan pekerjaan kemanusiaan, termasuk penggali kubur, bantuan rumah tidak layak huni, hingga perlengkapan sekolah bagi keluarga kurang mampu.

    Wali Kota Erna Lisa Halaby sebelumnya menegaskan, kebijakan ini merupakan janji politik yang kini diwujudkan dalam kerja nyata.

    “Kami akan bekerja keras, bekerja ikhlas, dan bekerja cerdas bersama seluruh elemen masyarakat dalam menyempurnakan metamorfosis Banjarbaru menuju visi besar Banjarbaru Emas,” tegasnya.

    Melalui Surat Keputusan Wali Kota tentang Insentif Penjaga dan Penggali Kubur Taman Pemakaman Bukan Umum Tahun 2025, Pemerintah Kota memastikan bahwa penghargaan terhadap profesi kemanusiaan menjadi bagian dari sistem sosial kota yang inklusif dan berkeadilan.

    📢 Ayo Sebarkan Semangat Kepedulian Ini!
    Mari menjadi bagian menyebarkan kabar baik ini kepada keluarga, tetangga, dan komunitas di lingkungan masing-masing. Dengan berbagi informasi positif, kita ikut menumbuhkan budaya apresiasi terhadap pekerjaan-pekerjaan mulia yang menopang kehidupan sosial kota kita.

    Banjarbaru sedang menulis bab baru tentang pemerintahan yang peduli dan manusiawi. Mari terus dukung dan sebarkan semangat Banjarbaru Emas — agar kepedulian ini menjalar dari ruang kebijakan ke hati seluruh warga.

  • Dari Edaran Wali Kota ke Aksi Lapangan: Lurah Landasan Ulin Tengah Gerakkan Warga Hidupkan Siskamling

    Dari Edaran Wali Kota ke Aksi Lapangan: Lurah Landasan Ulin Tengah Gerakkan Warga Hidupkan Siskamling

    BANJARBARUEMAS.COM- Upaya memperkuat keamanan dan ketertiban lingkungan terus digalakkan di Kota Banjarbaru. Salah satunya melalui kegiatan monitoring pos keamanan lingkungan (poskamling) di wilayah RW 01, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, yang dipimpin langsung oleh Lurah H. M. Faisal Rizal bersama jajaran perangkat kelurahan.

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kasi Pemerintahan Kelurahan, Bhabinkamtibmas Kecamatan Liang Anggang, serta para Ketua RW dan RT setempat. Langkah ini merupakan tindak lanjut Surat Edaran (SE) Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby tentang peningkatan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) di seluruh wilayah kota, sejalan dengan imbauan Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk mengaktifkan kembali ronda malam di seluruh daerah.

    “Kami ingin memastikan kegiatan poskamling benar-benar berjalan aktif dan menjadi bagian dari kehidupan sosial warga. Keamanan lingkungan bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk kepedulian dan gotong royong antarwarga,” ujar Faisal Rizal.

    Dalam kegiatan monitoring itu, tim kelurahan menyusuri sejumlah poskamling di RT 01, 02, 13, dan 16. Hasilnya, sebagian besar poskamling telah aktif dan terawat. Bahkan, beberapa di antaranya dilengkapi fasilitas tambahan seperti televisi, Wi-Fi gratis, senter, dan buku catatan ronda. Langkah sederhana ini terbukti meningkatkan partisipasi warga dalam ronda malam dan mempererat komunikasi antarwarga.

    Lurah Faisal menekankan bahwa keberadaan poskamling di wilayah Kelurahan Landasan Ulin Tengah memiliki fungsi strategis tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga sebagai ruang sosial warga untuk memperkuat solidaritas dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan. “Poskamling yang hidup menandakan masyarakat yang peduli dan berdaya. Dari sinilah rasa aman itu tumbuh,” katanya.

    Wali Kota Banjarbaru, melalui SE Nomor 300.1.4/356-Bimas/SatpolPP/2025 tanggal 9 September 2025, menegaskan beberapa poin utama dalam pelaksanaan Siskamling, antara lain kewajiban ronda malam bergiliran, pencatatan setiap aktivitas mencurigakan, koordinasi cepat dengan aparat keamanan, serta menjaga kebersihan dan kenyamanan poskamling. Warga juga diimbau agar menjalankan ronda dengan sikap humanis, ramah, dan gotong royong tanpa melanggar hukum.

    Langkah Kelurahan Landasan Ulin Tengah ini menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan keamanan dapat tumbuh dari partisipasi masyarakat. “Kami ingin membangun budaya aman dari tingkat rumah dan kampung khususnya di wilayah Landasan Ulin Tengah. Pemerintah hadir, tetapi keberhasilannya bergantung pada kepedulian warga,” tambah Faisal Rizal.

    Kegiatan monitoring ditutup dengan evaluasi bersama para Ketua RT dan Linmas mengenai jadwal ronda serta pembenahan fasilitas poskamling. Lurah memberikan apresiasi kepada warga RW 01 yang telah menunjukkan komitmen menjaga keamanan lingkungan secara mandiri.

    🌿Ajakan untuk Warga Banjarbaru🌿

    Mari bangkitkan kembali semangat ronda malam! Keamanan kota bukan hanya urusan pemerintah, tetapi wujud kepedulian setiap warga. Saat satu orang berjaga, seluruh lingkungan merasakan tenang. Saat satu RT kompak, satu kota menjadi kuat.

    Bagikan kabar baik ini kepada tetangga, keluarga, dan sahabat di lingkungan sekitar. Ajak mereka bersama menjaga poskamling, menjaga kampung, menjaga Banjarbaru.(be)

  • Ketua TP PKK Banjarbaru Dorong Penguatan Pola Asuh Digital Lewat Studi Tiru PAREEDI

    Ketua TP PKK Banjarbaru Dorong Penguatan Pola Asuh Digital Lewat Studi Tiru PAREEDI

    BANJARBARUEMAS.COM — Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Banjarbaru melakukan studi tiru implementasi Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAREEDI) di Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Senin (22/9/2025).

    Rombongan yang dipimpin Ketua TP PKK Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidyat, disambut hangat jajaran TP PKK DKI Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Banjarbaru untuk memperkuat strategi pendampingan keluarga di tengah derasnya tantangan era digital.

    PAREEDI atau Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital merupakan program yang dirancang untuk membekali orang tua dengan pengetahuan serta keterampilan menghadapi perkembangan teknologi. Fokus utamanya adalah mengajarkan penggunaan internet dan media sosial secara bijak, memperkuat komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, serta menciptakan lingkungan rumah yang aman bagi tumbuh kembang generasi muda.

    Program ini biasanya dijalankan oleh TP PKK bersama dinas terkait, termasuk DP3APMP2KB (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana). Sosialisasi dilakukan melalui diskusi, ceramah interaktif, hingga praktik pengasuhan berbasis pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, orang tua tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga teladan dalam penggunaan teknologi.

    Ketua TP PKK Banjarbaru, H. Riandy Hidyat, menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar langsung dari TP PKK DKI Jakarta. Menurutnya, studi tiru ini membuka wawasan baru tentang pentingnya sinergi antar elemen masyarakat dalam mendidik generasi di era digital.

    “Pengasuhan anak dan remaja di era digital tidak bisa dilakukan sendiri. Orang tua, sekolah, pemerintah, dan komunitas harus berjalan beriringan. Kita tidak mungkin melarang anak berinteraksi dengan teknologi, tetapi kita bisa membimbing mereka agar bijak dan bertanggung jawab. Dari PAREEDI, kami belajar bahwa membangun kepercayaan anak jauh lebih efektif daripada sekadar melarang,” ujar Riandy.

    Ia menambahkan, pengalaman yang diperoleh dari Jakarta ini akan dijadikan bekal untuk memperkuat program serupa di Banjarbaru. “Kami ingin Banjarbaru tidak hanya menjadi kota yang cerdas digital, tetapi juga hangat dalam nilai-nilai keluarga. Karena teknologi boleh maju, tetapi fondasi karakter tetap dimulai dari rumah,” ucapnya menegaskan.

    🌿Ajakan untuk Warga Banjarbaru🌿

    Mari kita sebarkan informasi ini kepada keluarga, tetangga, dan sahabat. PAREEDI adalah gerakan bersama, bukan sekadar program. Dengan saling berbagi informasi, kita memperluas kesadaran bahwa mendampingi anak di dunia digital sama pentingnya dengan mendidik mereka di dunia nyata. Jadikan Banjarbaru sebagai kota yang ramah keluarga, cerdas digital, dan berkarakter kuat.

  • Ketika Lisa Memeluk Sahla: Banjarbaru Belajar dari Air Mata dan Empati

    Ketika Lisa Memeluk Sahla: Banjarbaru Belajar dari Air Mata dan Empati

    Ada pemimpin yang hadir hanya di podium. Ada pula yang hadir di hati rakyatnya. Malam di Kampung Baru, Landasan Ulin Utara, menjadi saksi: Banjarbaru sedang memiliki pemimpin yang memilih jalan kedua. Hj. Erna Lisa Halaby, Wali Kota Banjarbaru, bukan saja menyalami dan menyapa, tetapi juga menundukkan hati—menjadi bagian dari duka dan harapan warganya.

    Kisah itu mengalir ketika seorang pendamping sosial, Ali, berkisah tentang Muhammad Sahla Taufiq—anak kecil penderita jantung bocor yang harus berjuang di Jakarta. Ali terperanjat saat mendengar Wali Kota tidak hanya peduli dari jauh, melainkan benar-benar hadir. Ia bukan sekadar memberi bantuan, tetapi hadir menggendong Sahla, mendekapnya, memberi semangat dengan kelembutan seorang ibu.

    Bayangkan, dini hari pukul tiga, seorang kepala daerah mengetuk pintu rumah sakit jantung di Jakarta. Aturan jam besuk nyaris menghalangi, satpam sempat ragu, lift rumah sakit penuh sesak—namun langkah itu tak surut. Karena ini bukan sekadar kunjungan, melainkan panggilan hati. Seorang pemimpin yang rela menukar waktu tidurnya demi menguatkan seorang anak yang takut menjalani operasi.

    Di hadapan ratusan warga yang hadir pada acara ekspose 100 hari kepemimpinannya, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menuturkan sebuah kisah yang membuat suasana hening seketika. Dengan suara bergetar, ia menceritakan pengalamannya menemui ananda Sahla Taufiq, bocah kecil penderita jantung bocor yang harus dirawat di Jakarta.

    Jalan menemui Sahla tidak mudah. Dirinya harus ikut berdesakan menaiki lift rumah sakit yang penuh antrian keluarga pasien. Namun langkahnya tidak surut. Sesampainya di lantai perawatan, ia mendapati seorang nenek sudah menunggu sambil menggendong Sahla.

    Begitu melihat Bu Wali, mata Sahla langsung berbinar. Dengan tangan kecilnya, ia meminta untuk dirangkul. “Sahla langsung minta saya gendong,” kenang Lisa. Tanpa ragu ia meraih tubuh mungil itu dan memeluknya erat. “Rasanya seperti memeluk anak sendiri,” tambahnya.

    Dalam pelukan itu, Sahla semakin lekat, seakan enggan dilepaskan. Ia bahkan meminta Bu Wali menemaninya lebih lama. Hampir setengah jam Bu Wali duduk sambil menggendongnya, membisikkan semangat agar tidak takut menjalani operasi. Tawa kecil Sahla pun mulai terdengar di koridor rumah sakit. Ketika neneknya hendak menggendong kembali, ia menolak, ingin terus berada dalam dekapan Bu Wali.
    “Saya sampaikan bahwa saya akan kembali menjenguk. Sahla lalu sangat ceria,” ucap Lisa.

    Ia sempat menanyakan makanan dan minuman yang diinginkan Sahla, lalu memberinya bingkisan kecil. Senyum polos anak itu pun merekah, menerima dengan gembira. Saat ia berpamitan, tindakan medis belum dilakukan. Namun tak lama setelah kembali ke Banjarbaru, kabar baik datang – Ananda Sahla akhirnya menjalani operasi yang diperlukan. Lisa mengenang peristiwa itu sambil menahan air mata di hadapan warga.

    Bagi warga yang hadir dan mendengar kisah ini, mungkin hanya butuh beberapa menit untuk membasahi mata. Karena sesungguhnya, apa yang terjadi bukan sekadar kunjungan seorang Wali Kota. Itu adalah doa yang menjelma tindakan. Itu adalah keikhlasan yang menemukan jalannya. Itu adalah cinta seorang pemimpin pada warganya.

    Apa yang dilakukan Lisa jauh lebih berharga daripada sekadar memberi bantuan materi. Inilah wujud kepemimpinan yang berempati—pemimpin yang hadir dengan hati. Dari empati itulah lahir kekuatan yang mampu menggerakkan banyak orang. Saat hati warga tersentuh, maka muncullah energi sosial berupa kepercayaan dan doa bersama. Bagi Banjarbaru, energi itu adalah kepercayaan dan doa warga—modal yang tak ternilai dalam membangun kota.

    Sejarah mencatat, kota-kota yang maju bukan hanya karena gedung tinggi atau jalan mulus, tetapi karena pemimpin dan warganya saling percaya. Apa yang dilakukan Lisa adalah menanamkan benih itu: kepercayaan yang tumbuh dari ketulusan.

    Kita, warga Banjarbaru, semestinya merenungkan: bukankah kota ini akan lebih kuat jika setiap program, setiap kebijakan, lahir dari kepekaan yang sama? Bukankah pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang berakar pada wajah-wajah warga, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan uluran tangan?

    Malam itu, silaturahmi pasca 100 hari kerja pemerintahan Lisa-Wartono bukan hanya sekedar ekpose pencapaian pembangunan yang sudab dikerjakan. Ia menjelma menjadi pesan moral: bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya berdiri di depan, tapi juga berjalan di samping—bahkan duduk di lantai rumah sakit, memeluk anak kecil dengan senyum dan air mata.

    Dan kita, sebagai warganya, dipanggil untuk meneladani: memperkuat tali silaturahmi, saling menolong, hadir bagi sesama, seperti pemimpin kita hadir bagi Sahla. Karena sebuah kota tidak akan benar-benar tumbuh hanya dengan anggaran dan bangunan. Kota menjadi hidup ketika hati pemimpin dan warganya saling terhubung, saling percaya, dan saling menguatkan. Dari sanalah lahir kekuatan yang mampu menjaga dan membesarkan Banjarbaru.

    Banjarbaru sedang menulis sejarah baru. Sejarah kepemimpinan yang lembut, empatik, namun tegas. Sejarah bahwa kota ini bisa maju tanpa kehilangan kehangatan manusianya.

    Dan di tengah perjalanan menuju “Banjarbaru Emas”, kisah ini akan dikenang: tentang seorang anak bernama Sahla, tentang seorang nenek yang setia, tentang seorang wali kota yang menggendong dengan kasih. Bahwa di balik kebijakan, ada cinta. Di balik program, ada air mata. Di balik pembangunan, ada hati yang tak pernah lelah mencintai warganya.