Blog

  • BANJARBARU RAIH MOMEN EMAS DI TEI 2025: PRODUK SASIRANGAN DAN PURUN TUAI MINAT BUYER MANCANEGARA

    BANJARBARU RAIH MOMEN EMAS DI TEI 2025: PRODUK SASIRANGAN DAN PURUN TUAI MINAT BUYER MANCANEGARA

    BANJARBARUEMAS.COM – Ada suasana yang berbeda di Stand Kota Banjarbaru pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 Tahun 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Kamis (16/10/2025). Di tengah keramaian ribuan pengunjung dan buyer internasional, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby hadir langsung bersama Ketua TP PKK Kota Banjarbaru H. Riandy Hidayat memberikan dukungan penuh kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banjarbaru.

    Kehadiran Wali Kota Bersama Ketua TP PKK Kota menunjukkan keseriusan Pemerintah Kota Banjarbaru dalam mengantarkan produk lokal menuju panggung global. Dalam pameran berskala internasional yang diikuti 1.619 peserta dan 8.045 buyer dari 130 negara, Banjarbaru menjadi salah satu daerah yang tampil menonjol dengan kekayaan warisan budaya dan inovasi produk yang memikat.

    Partisipasi Banjarbaru di TEI 2025 merupakan hasil sinergi antara Dekranasda, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja. Kolaborasi lintas sektor ini memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah menghadirkan ekosistem yang mendukung UMKM untuk naik kelas—mulai dari produksi, kurasi, hingga promosi berstandar ekspor.

    Dua pelaku UMKM unggulan, Heldawati dari UMKM Mama Dildan dan Siti Mariyana dari Kerajinan Purun Al-Firdaus, tampil percaya diri memperkenalkan karya mereka di hadapan buyer luar negeri. Produk khas Banjarbaru seperti kain Sasirangan, kerajinan purun, dan olahan ikan lokal dipamerkan dengan gaya elegan dan edukatif, di bawah pendampingan Ketua Dekranasda Kota Banjarbaru, Hj. Ririen Kartika Rini.

    “Peluang pasar global untuk Kota Banjarbaru sangat cerah,” ujar Wali Kota Erna Lisa Halaby ketika dimintai pandangan tentang masa depan UMKM Banjarbaru. “Keunikan dan kualitas produk kita telah menarik perhatian serius buyer dari Chili, Vietnam, Korea, Brunei Darussalam, Australia, Thailand, hingga Bangladesh. Ini bukti bahwa produk lokal Banjarbaru mampu bersaing di kancah global.”

    Lisa menyebut, “Peluang kita bukan lagi sekadar mimpi, tapi sudah di depan mata. Produk kita, khususnya Sasirangan dan Purun, telah menjadi primadona. Ini momentum emas untuk mengubah showcase di TEI menjadi kontrak ekspor nyata.”

    Untuk memastikan UMKM Banjarbaru benar-benar siap bersaing di pasar internasional, Pemkot Banjarbaru menerapkan strategi berlapis. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas produk, perlindungan hukum, dan profesionalisasi tampilan.

    “Pemkot fokus pada pelatihan standar ekspor dan mempercepat pendaftaran Kekayaan Intelektual (KI), termasuk merek kolektif. Produk harus dilindungi agar aman dan dihargai di pasar internasional,” jelas Wali Kota.

    Ia menambahkan, Banjarbaru kini telah memiliki Rumah Kemasan gratis untuk membantu UMKM menghasilkan kemasan berstandar ekspor serta Dekranasda Creative Hub sebagai pusat kurasi, inovasi, dan promosi berbasis digital. “Inilah kunci agar produk kita tampil profesional dan menawan,” ujarnya.

    Selain itu, Pemkot juga aktif menyelenggarakan pendampingan dan sosialisasi ekspor, membekali UMKM dengan pemahaman teknis agar siap bertransaksi langsung dengan pembeli luar negeri.

    Menurut Wali Kota Lisa, keberhasilan produk lokal menembus pasar global tidak bisa hanya bertumpu pada individu pelaku usaha. “Kolaborasi antara Pemerintah, Dekranasda, dan pelaku UMKM adalah mutlak penting. Pemerintah memfasilitasi, Dekranasda mengkurasi dan mempromosikan nilai budaya, sementara UMKM menjadi motor inovasi. Sinergi ini memastikan semua langkah terkoordinasi, dari penciptaan produk hingga penjualan global,” ujarnya.

    Ia menutup dengan pesan penuh semangat kepada para pelaku UMKM Banjarbaru:
    “Kualitas produk kita sudah diakui dunia. Sekarang saatnya kolaborasi, manfaatkan semua fasilitas dari Pemko, dan ubah hasil pameran ini menjadi kontrak ekspor nyata. Kita tidak hanya menjual produk, kita menjual identitas dan kebanggaan Banjarbaru di panggung global. Yakinlah, UMKM naik kelas, Banjarbaru Emas!”

    Banjarbaru di Tengah Gelombang Ekspor Nasional

    TEI 2025, yang dibuka sehari sebelumnya oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso, mengusung tema “Discover Indonesia’s Excellence: Trade Beyond Boundaries”. Ajang ini menjadi wadah strategis untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pembeli internasional serta memperluas jangkauan ekspor nasional.

    Tahun ini, TEI menargetkan transaksi senilai 16,5 miliar dollar AS (Rp 273 triliun), naik dari capaian tahun sebelumnya sebesar 14,5 miliar dollar AS. “TEI menjadi wujud nyata pelaksanaan Astacita Presiden dalam memperkuat hilirisasi dan industrialisasi nasional, serta memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok global menuju Indonesia Emas,” ujar Mendag.

    Sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor Indonesia telah mencapai 185,13 miliar dollar AS, meningkat 7,7 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

    Di tengah geliat nasional itu, Banjarbaru tampil sebagai contoh daerah yang berhasil memadukan budaya, inovasi, dan strategi ekonomi. Keikutsertaan Banjarbaru dalam TEI selain melakukan promosi produk umkm local juga bagian dari diplomasi ekonomi kreatif berbasis identitas lokal—sebuah langkah kecil yang dapat membawa Banjarbaru menuju cita-cita besar: menjadi kota yang berperan aktif dalam rantai pasok global.(be)

  • Ayo Makan Ikan, Wujudkan Generasi Emas Banjarbaru yang Sehat dan Cerdas

    Ayo Makan Ikan, Wujudkan Generasi Emas Banjarbaru yang Sehat dan Cerdas

    BANJARBARUEMAS.COM — Upaya membangun generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting kembali digaungkan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3). Rabu (15/10/2025), melalui Bidang Perikanan, DKP3 menggelar kegiatan Sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di dua lokasi sekaligus — SMA Negeri 3 Banjarbaru dan Posyandu Istiqomah Komplek Cempaka Sari RT 44 RW 11.

    Dengan mengusung tema “Ayo Makan Ikan untuk Generasi Emas Kota Banjarbaru Sehat, Cerdas, Produktif, dan Bebas Stunting”, kegiatan ini menyatukan semangat lintas usia: pelajar sebagai calon pemimpin masa depan dan ibu hamil sebagai penentu kualitas generasi berikutnya.

    Menurut Plt Kepala Bidang Perikanan DKP3, Lindri Giwanging Tyas, kegiatan ini dirancang tidak sekadar sebagai kampanye konsumsi ikan, tetapi sebagai gerakan edukatif. “Gerakan ini memberikan pemahaman pentingnya ikan sebagai sumber protein, mineral, dan omega-3 yang berperan besar dalam perkembangan otak serta pencegahan stunting,” ujarnya.

    Ia menambahkan, tahun 2025 ini Kota Banjarbaru menargetkan tingkat konsumsi ikan sebesar 145 ton. “Harapannya, siswa dan ibu hamil menjadikan ikan sebagai menu sarapan harian mereka. Dari meja makan rumah tangga, kita mulai membangun generasi yang tangguh,” imbuhnya.

    Kegiatan di kedua lokasi berlangsung interaktif. Para siswi SMA dan ibu hamil tidak hanya menerima materi edukatif tentang gizi ikan, tetapi juga mendapatkan paket olahan ikan lokal, seperti nugget patin, abon lele, dan bakso nila.

    Antusiasme terlihat dari para peserta yang terlibat aktif dalam sesi tanya jawab. Salah satunya, Kiki, siswi SMA Negeri 3 Banjarbaru, mengaku kegiatan tersebut membuka wawasan baru tentang manfaat ikan bagi kesehatan. “Kegiatan tadi sangat menyenangkan dan informatif. Saya sendiri suka makan ikan, terutama patin dan nila,” tuturnya sambil tersenyum.

    Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi momen untuk memahami bahwa gizi seimbang merupakan investasi masa depan bangsa. Sementara bagi para ibu hamil, pesan yang dibawa Gemarikan menjadi pengingat bahwa setiap suapan ikan adalah langkah kecil untuk mencegah stunting sejak dini.

    Gerakan Gemarikan 2025 merupakan bagian dari program nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan yang digerakkan hingga ke tingkat daerah. Tujuan utamanya jelas:

    1. Meningkatkan konsumsi ikan agar menjadi bagian dari pola makan harian masyarakat.
    2. Mencegah stunting melalui peningkatan asupan protein dan omega-3 dari ikan.
    3. Meningkatkan gizi masyarakat dengan edukasi manfaat kesehatan dari konsumsi ikan.
    4. Mendukung kesejahteraan nelayan melalui peningkatan permintaan dan industri olahan ikan.

    Dalam konteks Banjarbaru, program ini memiliki makna lebih luas. Kota yang tengah menata arah pembangunan manusianya ini menempatkan gizi dan kesehatan keluarga sebagai fondasi utama menuju Banjarbaru Emas 2025.

    Melalui sinergi antara sekolah, posyandu, dan pemerintah, DKP3 Banjarbaru berharap Gemarikan tak sekadar menjadi kegiatan tahunan, tetapi tumbuh menjadi budaya makan ikan yang mengakar di masyarakat.

    Karena pada akhirnya, di balik setiap piring ikan yang tersaji di meja makan warga Banjarbaru, tersimpan harapan besar: lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif — fondasi bagi masa depan kota yang berdaya saing dan berkeadaban. (be)

  • Produk UMKM Banjarbaru Curi Perhatian di Ajang Internasional Trade Expo Indonesia 2025

    Produk UMKM Banjarbaru Curi Perhatian di Ajang Internasional Trade Expo Indonesia 2025

    BANJARBARUEMAS.COM – Produk-produk unggulan dari pelaku UMKM Kota Banjarbaru kembali menunjukkan pesonanya di panggung nasional. Dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 Tahun 2025 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Rabu (15/10/2025), stan Pemerintah Kota Banjarbaru bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banjarbaru menjadi salah satu yang paling ramai diserbu pengunjung.

    Dua pelaku UMKM yang dihadirkan langsung oleh Dekranasda Banjarbaru, yakni Heldawati dari UMKM Mama Dildan dan Siti Mariyana dari UMKM Kerajinan Purun Al-Firdaus, tampil percaya diri memamerkan hasil karya terbaik mereka. Di bawah pendampingan Ketua Dekranasda Kota Banjarbaru, Hj. Ririen Kartika Rini, berbagai produk unggulan khas Banjarbaru seperti kain sasirangan, kerajinan purun, dan olahan ikan lokal diperkenalkan dengan cara yang elegan dan edukatif kepada buyer dalam maupun luar negeri.

    Salah satu pengunjung asal Sabah, Malaysia, Joanne, mengaku terpikat oleh pesona sasirangan Banjarbaru.

    “Sasirangan dari Banjarbaru ini memiliki warna yang menarik dan motif yang unik. Saya suka karena terlihat berbeda dibandingkan daerah lain,” ujarnya, seraya memegang sehelai kain berwarna ungu keemasan.

    Kemeriahan stan Banjarbaru juga sempat menarik perhatian sejumlah tamu penting, seperti Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Dyah Roro Esti, Wakil Gubernur Kalimantan Selatan H. Hasnuryadi Sulaiman, serta Hj. Fitriyana, istri Wakil Bupati Tanah Bumbu. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa produk-produk UMKM Banjarbaru kini diakui di level nasional bahkan internasional.

    Kisah sukses para pelaku UMKM Banjarbaru bermula dari dapur rumah dan tangan-tangan terampil yang sabar. Heldawati, misalnya, memulai Mama Dildan sejak tahun 2016 hanya dari keinginan sederhana: membawa oleh-oleh ikan sapat pedas untuk kerabat di Pulau Jawa. Tak disangka, cita rasanya justru menjadi pintu rezeki. Kini, Mama Dildan dikenal dengan berbagai produk olahan ikan seperti Saprinyah (ikan sapat kering renyah), Salunyah (ikan saluang goreng renyah), Saltung (ikan saluang tepung), dan Telamas (ikan asin telang asam manis pedas).

    Sementara itu, Pelangi Al-Firdaus, karya Siti Mariyana, tumbuh di Kampung Purun Palam Banjarbaru. Ia memberdayakan ibu-ibu rumah tangga agar tetap produktif tanpa meninggalkan keluarga. Dari tangan mereka lahirlah tas, dompet, clutch, kotak tisu, hingga berbagai produk anyaman purun yang elegan dan ramah lingkungan.

    Kehadiran UMKM Banjarbaru di TEI 2025 tak sekadar memasarkan produk, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kemandirian ekonomi lokal, pemberdayaan perempuan, dan inovasi berbasis kearifan daerah.(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Hadiri High Level Meeting TPID se-Kalsel: Jaga Stabilitas Harga Menjelang Nataru

    Wali Kota Banjarbaru Hadiri High Level Meeting TPID se-Kalsel: Jaga Stabilitas Harga Menjelang Nataru

    BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kalimantan Selatan Tahun 2025 yang digelar di Hotel Sheraton Surabaya, Rabu (15/10/2025). Forum strategis yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Bank Indonesia ini diikuti oleh jajaran Forkopimda, para bupati dan wali kota se-Kalsel, kepala SKPD provinsi, serta perwakilan instansi vertikal.

    Pertemuan tingkat tinggi ini mengusung tema “Sinergi Pengendalian Inflasi dalam Rangka Antisipasi Peningkatan Permintaan Bahan Pokok Penting Menjelang HBKN Nataru Tahun 2025.” Agenda tersebut menjadi ruang penting bagi para kepala daerah untuk memperkuat koordinasi dan langkah antisipatif dalam menjaga kestabilan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

    Dalam sambutannya, Gubernur Kalimantan Selatan yang juga Ketua TPID Kalsel, Muhidin, menegaskan bahwa pengendalian inflasi merupakan bagian penting dari menjaga kesejahteraan rakyat.

    “Inflasi yang terkendali berarti kesejahteraan masyarakat terjaga. Kita harus pastikan harga pangan strategis tetap stabil, terutama menjelang HBKN Nataru,” ujar Muhidin.

    Ia juga menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan respons daerah dalam menghadapi potensi gejolak harga. “Operasi pasar murah, penguatan cadangan pangan, dan dukungan distribusi harus dilakukan secara cepat dan tepat,” tambahnya.

    Kehadiran Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dalam forum ini menjadi bentuk nyata komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru dalam mendukung stabilitas harga dan menjaga daya beli masyarakat. Wali kota menilai bahwa kolaborasi antardaerah merupakan kunci untuk memperkuat daya tahan ekonomi regional di tengah fluktuasi harga pangan.

    “Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin terjalin sinergi yang kuat antar daerah dalam menjaga kestabilan harga dan ketersediaan bahan pokok. Semoga langkah bersama ini dapat memperkuat upaya pengendalian inflasi demi menjaga daya beli dan kesejahteraan masyarakat, khususnya menjelang perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional,” ujar Erna Lisa Halaby.

    Dalam beberapa bulan terakhir, Pemko Banjarbaru melalui TPID Kota telah aktif melakukan pemantauan harga harian di pasar tradisional, menggelar pasar murah di 5 Kecamatan, serta memperkuat kerja sama dengan distributor bahan pokok. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi antisipatif menghadapi lonjakan permintaan jelang akhir tahun.

    Forum HLM TPID se-Kalsel ini diharapkan menjadi wadah pertukaran praktik terbaik dan komitmen nyata antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan ekonomi untuk menjaga inflasi tetap rendah, stabil, dan terkendali. Di tengah dinamika ekonomi nasional dan global, langkah-langkah kolaboratif semacam ini menjadi fondasi penting bagi terwujudnya kesejahteraan masyarakat di tingkat daerah.(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Tegaskan Arah Baru Pembangunan Melalui RPJMD 2025–2029

    Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Tegaskan Arah Baru Pembangunan Melalui RPJMD 2025–2029

    BANJARBARUEMAS.COM – Rapat Paripurna DPRD Kota Banjarbaru, Selasa (14/10/2025), menandai babak penting dalam arah pembangunan kota lima tahun ke depan. Setelah melalui pembahasan panjang antara eksekutif dan legislatif, Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Banjarbaru Tahun 2025–2029 akhirnya disetujui dan disahkan menjadi Peraturan Daerah.

    Proses panjang menuju paripurna tersebut dimulai sejak 31 Juli 2025, saat Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby melakukan penandatanganan nota kesepakatan awal RPJMD bersama pimpinan DPRD. Kesepakatan itu menjadi tonggak awal penyusunan arah pembangunan daerah lima tahun mendatang. Sejak saat itu, tim penyusun dari Pemerintah Kota Banjarbaru bersama DPRD menjalani serangkaian pembahasan intensif untuk menelaah setiap komponen penting dokumen tersebut.

    Selama hampir tiga bulan, forum-forum pembahasan dilakukan secara terbuka dan berjenjang. Setiap indikator kinerja dan sasaran pembangunan dievaluasi ulang agar tetap relevan dengan kondisi sosial ekonomi terkini dan kemampuan fiskal daerah yang mengalami penyesuaian.

    “Berbagai catatan, pertanyaan, serta koreksi dari DPRD selama pembahasan menjadi bagian penting dalam menyempurnakan dokumen ini agar lebih akuntabel dan tepat sasaran,” ujar Wali Kota Lisa dalam pidato pengantarnya pada akhir Juli 2025 di Gedung DPRD Banjarbaru.

    Ia menegaskan, RPJMD bukan sekadar penjabaran visi dan misi kepala daerah, tetapi juga peta jalan pembangunan yang terukur, berbasis data, dan menjadi alat akuntabilitas publik terhadap capaian kinerja pemerintahan.

    “Dinamika perubahan kebijakan pemerintah saat ini sangat berpengaruh terhadap substansi RPJMD Banjarbaru, terutama adanya penyesuaian dana transfer pada tahun 2026. Hal ini tentu berdampak pada target pembangunan lima tahun ke depan yang harus disesuaikan kembali dengan kemampuan fiskal daerah,” ujar Wali Kota Lisa.

    Berdasarkan data Kementerian Keuangan, penurunan dana transfer dari pemerintah pusat diperkirakan mencapai 36 persen, dari sekitar Rp966 miliar menjadi Rp616 miliar, atau berkurang sekitar Rp349 miliar pada tahun 2026. Penurunan ini dinilai sebagai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Pemko Banjarbaru dalam periode awal pelaksanaan RPJMD.

    Komponen yang paling terdampak adalah Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik yang turun hingga 91,38 persen, sementara Dana Bagi Hasil (DBH) mengalami penurunan sebesar 71,98 persen. Adapun DAK Non-Fisik relatif stabil, memungkinkan pemerintah daerah tetap mempertahankan sebagian besar layanan publik esensial, seperti pendidikan dasar, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan sosial.

    Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Banjarbaru menyiapkan strategi efisiensi menyeluruh yang tetap menjaga fokus pada program prioritas. Wali Kota Lisa menekankan pentingnya menata ulang struktur belanja agar setiap rupiah anggaran memiliki dampak langsung terhadap pelayanan publik.

    Langkah penyesuaian yang dirumuskan meliputi:

    1. Efisiensi belanja operasional dan kegiatan penunjang, termasuk pembatasan perjalanan dinas dan kegiatan seremonial.
    2. Penguatan efisiensi program pembangunan fisik, dengan memprioritaskan proyek yang memberikan manfaat langsung bagi warga dan mendukung konektivitas kota.
    3. Pengembangan inovasi digital dalam pengelolaan keuangan daerah, terutama pada sektor pajak dan retribusi, untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).
    4. Evaluasi periodik terhadap program prioritas, agar setiap kebijakan tetap responsif terhadap kondisi ekonomi makro dan kemampuan fiskal daerah.

    Dengan pendekatan ini, Pemko Banjarbaru berharap dapat mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan prinsip kehati-hatian fiskal.

    RPJMD Banjarbaru 2025–2029 memuat empat pilar utama yang menjadi arah baru pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Wali Kota Lisa, yakni:

    1. Banjarbaru Charity
      Mewujudkan kebijakan yang berpihak kepada kelompok rentan melalui bantuan untuk penggali kubur dan rukun kematian, percepatan bantuan rumah tidak layak huni, pemutakhiran data warga tidak mampu agar bantuan tepat sasaran, serta penyediaan peralatan sekolah bagi anak yatim, anak disabilitas, dan anak kurang mampu.
    2. Banjarbaru Business Incubator
      Menumbuhkan ekonomi lokal berbasis inovasi dan kewirausahaan melalui penyediaan kawasan sentra UMKM, pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha, serta wadah kreatif masyarakat yang mendorong lahirnya pelaku ekonomi muda.
    3. Banjarbaru Best Quality Government
      Fokus pada peningkatan kualitas SDM aparatur dan tenaga pendidik melalui pelatihan berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan RT dan tenaga non-ASN, serta percepatan transformasi digital dalam pelayanan publik.
    4. Banjarbaru Priority Area
      Memprioritaskan pembangunan infrastruktur strategis seperti Gedung Islamic Centre, pengembangan taman hijau kota untuk menekan emisi karbon, dan sistem mitigasi kebencanaan terpadu melalui pembangunan drainase dan sumur serapan di wilayah rawan banjir.
      Komitmen Kepemimpinan dan Arah Baru Banjarbaru

    Dengan disahkannya RPJMD ini, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby menegaskan komitmen pemerintah kota untuk menjaga arah pembangunan yang terukur, realistis, dan adaptif. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menekankan efisiensi anggaran, tetapi juga memastikan setiap kebijakan memiliki dampak nyata bagi warga.

    “RPJMD ini bukan hanya dokumen perencanaan, tetapi juga instrumen evaluasi dan akuntabilitas publik. Setiap rupiah anggaran harus mencerminkan keberpihakan kepada masyarakat,” tegas Lisa.

    Dengan arah baru yang tertuang dalam RPJMD 2025–2029, Banjarbaru menapaki harapan baru menuju kota yang elok, maju, adil, dan sejahtera, di bawah kepemimpinan yang berkomitmen menjaga harmoni antara efisiensi, inovasi, dan pembangunan yang berpihak kepada warga.(be)

  • Supriyatin, Perempuan yang Mengalirkan Semangat Posyandu Banjarbaru

    Supriyatin, Perempuan yang Mengalirkan Semangat Posyandu Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM – Siang itu, matahari Banjarbaru sedang garang-garangnya. Udara panas berdesir bersama debu di sepanjang Jalan Kasturi Ujung menuju Bandara. Di pinggir jalan, di antara lalu lalang kendaraan yang tergesa, saya berhenti sejenak di sebuah gerobak kecil sederhana. Dari balik payung yang mulai kusam, tampak seorang perempuan paruh baya tersenyum ramah, memeras batang tebu dengan tangan yang tampak begitu terbiasa dengan kerja keras.

    Seteguk es tebu yang ia sodorkan terasa menyegarkan. Seperti biasa, setiap kali saya bertemu dengan “perantau” yang memilih menetap di Banjarbaru, percakapan kecil pun mengalir panjang. Tapi siang itu, dari obrolan sederhana tentang cuaca, harga sembako, hingga membicarakan tentang Wali Kota perempuan pertama di Banjarbaru, saya menemukan sesuatu yang tak terduga. Ternyata, perempuan di balik gerobak itu adalah seorang kader posyandu di lingkungan paling bawah—Supriyatin namanya.

    “Kalau Sabtu minggu kedua tiap bulan, kami buka Posyandu Mawar di Gang Bataan, Kelurahan Syamsudin Noor,” ujarnya dengan mata yang berbinar. “Sekarang bangunannya baru, bantuan dari Pertamina. Sudah ada ruang timbang, penyuluhan, sampai pemeriksaan gula darah dan tensi untuk lansia.”

    Kata-katanya membuat saya diam sejenak. Dalam diri perempuan sederhana ini, saya melihat pancaran semangat yang sama seperti yang bergema dalam Gerakan Aktifkan Posyandu Kota Banjarbaru Tahun 2025, yang resmi diluncurkan oleh Ketua TP PKK Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, S.E., M.M., beberapa bulan lalu. Gerakan itu bertujuan menghidupkan kembali denyut gotong royong dan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat melalui Posyandu di Banjarbaru.

    Dalam sambutannya waktu itu, Riandy mengatakan, “Kita ingin Posyandu buka setiap bulan dan melayani seluruh siklus hidup—dari ibu hamil sampai lansia—dengan minimal lima kader aktif.” Ia menegaskan, Posyandu bukan hanya tempat timbang bayi, tetapi juga pusat kehidupan warga: tempat belajar, berkumpul, dan menjaga generasi agar tetap sehat dan kuat.

    Dan di lapangan, di bawah teriknya matahari dan hiruk-pikuk ekonomi kecil, saya menemukan perwujudan nyata dari cita-cita itu dalam sosok Supriyatin. Bersama delapan kader lainnya, ia mengatur jadwal, menyiapkan alat timbang, mencatat hasil pengukuran tinggi badan, lingkar kepala, dan memberikan penyuluhan sederhana tentang gizi. “Kami juga punya Posga, posyandu keluarga,” tambahnya dengan bangga.

    Di sela-sela menunggu pembeli, Supriyatin bercerita tentang rasa syukurnya. “Sekarang kami juga dapat honor dari pemerintah kota. Tidak besar, tapi kami senang. Itu tanda kami dihargai.” Ia percaya, di bawah kepemimpinan Riandy Hidayat dan dukungan penuh Pemkot Banjarbaru, kesejahteraan kader posyandu akan semakin diperhatikan.

    Cerita Supriyatin merupakan kisah tentang ketulusan yang tak mengenal lelah. Ia membuktikan bahwa kekuatan pembangunan kesehatan masyarakat bisa lahir dari hati-hati kecil yang tulus bekerja di akar rumput.

    Dari balik gerobak es tebu itu, saya belajar satu hal: bahwa gerakan besar seperti “Aktifkan Posyandu Banjarbaru 2025” menemukan maknanya di gang-gang kecil tempat Supriyatin dan kawan-kawan menimbang bayi, menyuluh ibu muda, dan memeriksa tekanan darah para lansia.

    Banjarbaru sedang berubah. Dan perubahan itu, barangkali, berawal dari tangan-tangan kecil seperti milik Supriyatin yang dengan sabar memeras tebu di siang yang terik—sama sabarnya ia menakar harapan di Posyandu Mawar.

    Karena di matanya, setiap tetes keringat adalah cinta. Cinta kepada sesama, kepada kesehatan warga, dan kepada kotanya sendiri—Banjarbaru. (be)

  • Komitmen Walikota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby : Setiap Piring MBG di Banjarbaru Harus Aman dan Bergizi

    Komitmen Walikota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby : Setiap Piring MBG di Banjarbaru Harus Aman dan Bergizi

    BANJARBARUEMAS.COM — Ketika sejumlah daerah di Indonesia dilaporkan mengalami insiden keracunan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kota Banjarbaru justru memperlihatkan kesiapsiagaan yang patut dicontoh. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, pemerintah kota ini menegaskan komitmennya untuk menjadikan aspek keamanan pangan sebagai prioritas utama, sejajar dengan misi peningkatan gizi anak sekolah dasar.

    Langkah-langkah mitigasi dilakukan secara sistematis melalui Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG yang digelar di Ruang Tamu Utama Wali Kota Banjarbaru, Selasa (14/10/2025). Rapat yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Erna Lisa dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)—terdiri dari Dandim 1006/Banjar Letkol Inf Bambang Prasetyo Prabujaya, Kapolres Banjarbaru AKBP Pius X. Febry Aceng Loda, serta pimpinan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari seluruh kecamatan.

    Dalam rapat tersebut, Erna Lisa menekankan bahwa program MBG harus dijalankan dengan standar mutu yang ketat dan sistem pengawasan berlapis.

    “Langkah ini kita laksanakan dalam upaya pencegahan dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

    Menurut Wali Kota, pengawasan kualitas makanan dimulai sejak tahap awal pengadaan bahan baku hingga distribusi ke sekolah. Pemkot Banjarbaru, melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, telah menyusun protokol keamanan pangan yang mengatur setiap proses—mulai dari suhu penyimpanan bahan, higienitas dapur, sanitasi peralatan, hingga sistem transportasi makanan. Semua tahapan ini dikontrol secara digital melalui laporan harian dari setiap SPPG.

    Untuk memperkuat sistem tersebut, Erna Lisa telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) MBG Kota Banjarbaru dengan Surat Keputusan resmi yang mengatur mekanisme pengawasan, penanganan keluhan, dan inspeksi mendadak (sidak). “Insya Allah, tidak menutup kemungkinan nanti kami akan menyidak beberapa dapur yang ada di Kota Banjarbaru,” katanya tegas.

    Ia memastikan bahwa seluruh 22 SPPG di lima kecamatan Banjarbaru telah beroperasi sesuai standar keamanan pangan. Setiap unit rata-rata mampu memproduksi lebih dari 3.000 porsi makanan bergizi per hari, sehingga total lebih dari 66.000 porsi makanan aman dan bergizi tersalurkan setiap hari kepada siswa penerima manfaat MBG.

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banjarbaru bertumpu pada kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—unit pelaksana yang berfungsi sebagai dapur pusat pengolahan makanan bergizi. Secara nasional, jumlah SPPG telah mencapai 11.577 unit, dan Banjarbaru menjadi salah satu daerah dengan kesiapan operasional tertinggi di Kalimantan Selatan dengan 22 SPPG aktif yang tersebar di semua kecamatan: Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Landasan Ulin, Liang Anggang, dan Cempaka.

    Setiap SPPG di Banjarbaru menjalankan fungsi ganda: produksi makanan bergizi sekaligus pengawasan mutu. Mereka wajib memastikan bahwa seluruh bahan yang digunakan berasal dari sumber lokal yang memenuhi standar BPOM dan Dinas Kesehatan. Setiap menu juga melalui penghitungan nilai gizi dan uji rasa sebelum disalurkan ke sekolah-sekolah dasar.

    Lebih dari sekadar unit teknis, SPPG merupakan rantai strategis dalam sistem ketahanan pangan anak usia sekolah. Melalui koordinasi lintas sektor yang digerakkan oleh Wali Kota Erna Lisa, Banjarbaru berhasil menempatkan SPPG bukan sekadar sebagai “dapur logistik”, tetapi sebagai pusat kendali mutu program nasional.

    Wali Kota Lisa memandang pengawasan terhadap MBG bukan sekadar urusan kesehatan, tetapi juga tanggung jawab moral pemerintah daerah terhadap generasi penerus. Dalam setiap rapat evaluasi, ia menegaskan pentingnya pendekatan lintas disiplin—melibatkan unsur kesehatan masyarakat, pendidikan, dan keamanan pangan—agar tidak ada ruang bagi kelalaian.

    “Untuk Banjarbaru, sejauh ini tidak ada masalah. Mudah-mudahan ke depan pun tidak akan terjadi apa-apa,” ujarnya dengan nada optimistis, menandakan keyakinannya pada kesiapan sistem dan kinerja tim di lapangan.

    Kebijakan mitigasi yang diterapkan Banjarbaru memiliki empat pilar utama:

    1. Standarisasi higienitas dan prosedur keamanan pangan di seluruh dapur SPPG.
    2. Pelatihan teknis bagi pengelola dan juru masak tentang prinsip gizi seimbang dan sanitasi.
    3. Monitoring harian dan audit mutu acak oleh Dinas Kesehatan.
    4. Koordinasi cepat lintas lembaga melalui Forkopimda jika ditemukan indikasi gangguan mutu.

    Melalui sistem ini, Banjarbaru menjadi salah satu daerah yang paling siap menghadapi risiko penyimpangan program MBG, baik dari sisi teknis maupun kelembagaan.

    Langkah mitigasi yang diterapkan Banjarbaru merupakan fondasi utama dalam kebijakan pemenuhan gizi masyarakat. Pendekatan ini memadukan ilmu gizi, kesehatan masyarakat, dan tata kelola pemerintahan daerah secara terpadu. Dengan sistem pengawasan yang berbasis sains dan komitmen kepemimpinan yang konsisten dari Wali Kota Erna Lisa Halaby, Banjarbaru menunjukkan bahwa daerah mampu menjadi mitra strategis pemerintah pusat dalam memastikan setiap anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing—melalui makanan yang bukan hanya bergizi, tetapi juga aman dan bermartabat.

    Bagi Wali Kota Erna Lisa, komitmen ini perwujudan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap masa depan kotanya. Ia berulang kali menegaskan bahwa kualitas sebuah kota bukan hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari bagaimana ia memastikan anak-anaknya mendapatkan makanan yang sehat, aman, dan bergizi setiap hari.

    “MBG bukan hanya soal membagikan makanan, tapi soal menjaga kehidupan dan masa depan anak-anak kita,” tutur Erna Lisa, menutup rapat dengan penuh keyakinan.

    Dengan mitigasi berlapis, koordinasi lintas sektor, dan kepemimpinan yang responsif, Banjarbaru merupakan salah satu kota paling siap menjalankan Program Makan Bergizi Gratis secara aman dan berkelanjutan.(be)

  • Saat Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Menunduk di Hadapan Guru Zarkasyi

    Saat Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Menunduk di Hadapan Guru Zarkasyi

    BANJARBARUEMAS.COM – Saya masih bisa merasakan denyut halus di dada saat menyaksikan momen itu—sebuah pertemuan yang begitu sederhana, tapi sarat makna, di depan lobi tempat berlangsungnya acara silaturahmi ke-3 Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, di wilayah Cempaka. Tak ada musik latar, tak ada kamera yang menyorot dengan megah. Hanya ada sapaan lembut seorang pemimpin daerah kepada seorang ulama sepuh yang menjadi cahaya rohani bagi masyarakat Banjarbaru: Tuan Guru H.M. Zarkasyi, Pengasuh Majelis Taklim Nurul Hasanah.

    Peristiwa itu terjadi di penghujung acara. Saat sebagian tamu mulai meninggalkan tempat, Wali Kota Lisa tampak melangkah perlahan mendekati Tuan Guru. Dengan penuh hormat, beliau menunduk, menyalami tangan sang guru, dan berpamitan dengan kalimat lembut yang nyaris bergetar oleh rasa takzim. Dalam sekejap, suasana yang semula ramai mendadak hening—seolah seluruh semesta pun ikut menunduk menyaksikan ketulusan itu.

    Saya berdiri sangat dekat. Begitu dekat hingga bisa mendengar langsung suara lembut Lisa menanyakan kabar sang guru, “Gimana kabarnya, Guru? Pian sehat? Apa sudah ada yang jemput? Mohon doanya, Guru.” Kalimat itu terdengar begitu tulus, mengalir dari hati yang tidak sedang berperan. Saat itu, saya justru merasa kaku karena rasa haru. Seolah menyaksikan potongan sejarah yang tak akan terulang: seorang umaroh yang menundukkan egonya di hadapan ulama, bukan karena jabatan, tapi karena cinta dan adab.

    Entah kenapa, di tengah momen yang begitu indah itu, saya tak kuasa mengangkat ponsel untuk mengambil foto. Jari-jari seperti kehilangan tenaga. Saya hanya terperangah, terpaku oleh rasa takjub yang menjalari seluruh tubuh. Ada getar lembut di dada, seakan hati saya sedang berkata, “Inilah momen yang tidak perlu diabadikan oleh kamera, karena telah diabadikan oleh jiwa.” Saya sadar, kadang keindahan sejati justru terlalu suci untuk dibingkai oleh lensa.

    Saya ingat betul, setahun lalu, Juli 2024, menjelang pendaftaran Pilkada Banjarbaru 2024, saya juga melihat pertemuan pertama mereka. Waktu itu, saya berpikir sinis—menyangka silaturahmi itu hanyalah manuver politik. Namun ternyata, apa yang saya lihat hari ini membungkam prasangka itu. Hubungan mereka bukan hubungan pencitraan, tapi persaudaraan ruhani yang telah bersemi menjadi teladan bagi kita semua.

    Dalam Islam, mencintai seseorang karena Allah berarti menasihatinya dalam kebaikan, bukan menyanjung tanpa arah. “YANG MENCINTAIMU AKAN MENASEHATIMU,” demikian sebuah hikmah yang mengakar dalam tradisi keilmuan Islam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Agama adalah nasehat.” (HR. Muslim). Nasehat adalah bentuk cinta tertinggi, karena di dalamnya ada keinginan agar orang lain menjadi baik, bukan kalah.

    Kedekatan antara Wali Kota Lisa dan Guru Zarkasyi adalah simbol dari nasihat yang hidup. Ia bukan sekadar dialog antara penguasa dan ulama, melainkan cermin dari relasi ideal antara “ulil amri” dan “ulama”—dua pilar yang menjaga keseimbangan moral dalam kehidupan umat. Di hadapan saya, dua sosok itu saling menunduk dengan penuh penghormatan. Tak ada garis pemisah antara dunia kekuasaan dan dunia dakwah; yang ada hanyalah jembatan kasih dan doa.

    Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis, “Menasehati sesama muslim berarti menunjuki berbagai maslahat bagi mereka, dalam urusan dunia dan akhiratnya.” Maka, ketika Lisa memohon doa dari Tuan Guru, itu bukan formalitas. Itu adalah bentuk pengakuan bahwa kekuasaan tanpa restu dan nasihat ulama akan kehilangan arah spiritualnya. Ia sedang menjemput keberkahan.

    Saya pulang dari acara itu dengan dada bergetar. Ada rasa bersalah yang samar, karena dulu saya meragukan ketulusan itu. Tapi hari ini, saya menyaksikan sendiri bagaimana cinta yang berakar dari iman tak memerlukan panggung besar. Ia cukup hidup dalam sapaan lembut dan doa yang tulus.

    Banjarbaru hari ini sedang membangun jembatan hati. Dan di jembatan itulah, Wali Kota Lisa Halaby dan Tuan Guru Zarkasyi telah memberi teladan: bahwa kekuasaan sejati adalah kekuasaan yang mau mendengar, dan kebijaksanaan sejati lahir dari hati yang mau dinasihati.

    Semoga Banjarbaru terus tumbuh dalam bimbingan doa para ulama dan ketulusan pemimpinnya. Karena seperti kata Al Hasan Al Bashri, “Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah mereka yang membuat manusia mencintai Allah, dan mencintai sesama karena Allah.”

    Maka, dari pertemuan yang sederhana itu, saya belajar satu hal: bahwa di balik setiap salam pemimpin yang tulus, ada secercah cahaya kasih yang bisa menerangi sebuah kota. (be)

  • ORMAS Banjarbaru Didorong Tertib Hukum dan Berdaya Saing: Sosialisasi di Aula Linggangan Intan Tekankan Legalitas dan Sinergi

    ORMAS Banjarbaru Didorong Tertib Hukum dan Berdaya Saing: Sosialisasi di Aula Linggangan Intan Tekankan Legalitas dan Sinergi

    BANJARBARUEMAS.COM – Kesadaran hukum menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan organisasi masyarakat (ormas). Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Sosialisasi Pemberdayaan Organisasi Masyarakat (Ormas) se-Kota Banjarbaru yang digelar di Aula Linggangan Intan, Kantor DPRD Kota Banjarbaru, Selasa (14/10).

    Dengan tema “Perizinan dan Legalitas Ormas serta Tata Cara Penyampaian Ormas”, kegiatan ini menjadi momentum penguatan kapasitas organisasi sekaligus memperkokoh sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat sipil.

    Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banjarbaru, Ahmad Syarief Nizami, yang menegaskan bahwa ormas merupakan mitra strategis pemerintah dalam menjaga ketenteraman dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. “Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa seluruh ormas di Banjarbaru beroperasi dalam koridor hukum, tertib administrasi, dan memiliki arah kontribusi yang jelas bagi masyarakat,” ujarnya.

    Legalitas dan Ketertiban Administrasi Ormas Jadi Sorotan

    Narasumber pertama, KASAT Intelkam Polres Banjarbaru, AKP Indra Wahyu Wibowo, S.H., M.M., menyampaikan pentingnya pemahaman hukum dan administrasi dalam menjalankan organisasi masyarakat. Ia menekankan bahwa legalitas bukan sekadar dokumen formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab publik ormas terhadap negara dan warganya.

    “Setiap ormas harus memiliki dasar hukum yang kuat — mulai dari akta notaris, surat keterangan terdaftar, hingga pengakuan badan hukum. Dengan demikian, keberadaan ormas diakui secara sah dan dapat menjadi mitra pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial,” jelas AKP Indra.

    Ia juga menambahkan bahwa ketertiban administrasi membantu pemerintah dalam pengawasan dan pembinaan, sekaligus mencegah munculnya organisasi yang berpotensi menimbulkan disinformasi maupun konflik horizontal di tengah masyarakat.

    Panduan Pelaporan dan Transparansi Kelembagaan

    Narasumber kedua, Kepala Bidang Pelayanan Administrasi Hukum Umum, Dewi Woro Lestari, S.H., M.H., menyoroti pentingnya transparansi dan pelaporan kegiatan ormas. Dalam paparannya, ia menjelaskan tata cara penyampaian laporan secara rutin kepada pemerintah, baik terkait kegiatan organisasi maupun penggunaan dana.

    “Transparansi bukan hanya kewajiban, tetapi juga cara membangun kepercayaan publik. Pemerintah siap mendampingi ormas agar dapat mengelola administrasi dan pelaporan sesuai mekanisme hukum,” tutur Dewi Woro.

    Menurutnya, mekanisme pelaporan yang baik akan memudahkan proses monitoring dan evaluasi pemerintah daerah, sehingga pembinaan terhadap ormas dapat berjalan lebih efektif dan terarah.

    Kegiatan yang diikuti oleh puluhan perwakilan ormas dari berbagai wilayah di Banjarbaru ini mendapat sambutan positif. Banyak peserta menilai bahwa sosialisasi semacam ini penting untuk memperkuat kapasitas internal organisasi, memperbaiki tata kelola, serta membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat sipil.

    Sosialisasi ini menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga mitra pendamping. Dengan pemahaman hukum yang baik dan pengelolaan administrasi yang tertib, ormas diharapkan dapat tumbuh sebagai pilar demokrasi lokal yang berkontribusi aktif terhadap kemajuan Banjarbaru.

    Sebagaimana ditegaskan oleh Sekretaris Kesbangpol, “Banjarbaru yang elok, maju, adil dan sejahtera hanya bisa terwujud jika pemerintah dan masyarakat berjalan bersama, saling percaya, dan saling memperkuat.”

    Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Banjarbaru mengajak seluruh ormas dan masyarakat untuk terus meningkatkan partisipasi, menjaga kebersamaan, dan memperkuat budaya taat hukum. Kesadaran kolektif inilah yang akan menjadi fondasi bagi kota yang partisipatif, aman, dan berdaya saing tinggi. (be)

  • Kinerja Lisa 100 Hari Diapresiasi Masyarakat, Pemkot Optimis Jalankan Program Pro Rakyat Meski Kondisi Keuangan Terkendala

    Kinerja Lisa 100 Hari Diapresiasi Masyarakat, Pemkot Optimis Jalankan Program Pro Rakyat Meski Kondisi Keuangan Terkendala

    BANJARBARUEMAS.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru kembali memggelar ekspose kinerja Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby dan Wakil Wali Kota Wartono di Kecamatan Cempaka yang bertempat di Aula Amanah Borneo Park, Senin (13/10/2025) malam

    Dalam kesempatan itu, Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby turun langsung dan berdialog dengan masyarakat serta menyerahkan beberapa bantuan seperti bantuan Rehab Rumah Tidak Layak Huni.

    Salah seorang warga dari Bangkal, Asmiansyah berkesempatan secara langsung menyampaikan bahwa program 100 hari kerja Erna Lisa Halaby telah dilaksanakan dengan baik.

    “Kalau tidak salah ada 21 program yang dilaksanakan 100 hari kerja, kebetulan saya menulis mengamati dan semuanya telah dilaksanakan dengan baik. Kami berharap ini menjadi langkah awal kepemimpinan ibu Lisa untuk lebih memaksimalkan program langsung menyentuh masyarakat,” ujarnya.

    Sementara itu, Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby, memgatakan kalau dirinya berkomitmen melanjutkan program-program kegiatan yang langsung memberikan manfaat kepada masyarakat, meski di tengah kondisi keuangan daerah yang memprihatinkan saat ini.

    “Walaupun kondisi keuangan kita sedang sulit, kami tetap bertekad menjalankan program-program yang berpihak langsung kepada masyarakat. Kami berharap semua SKPD yang hadir malam ini dapat melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan,” ujarnya.

    Pernyataan ini sekaligus menjadi dorongan agar seluruh perangkat daerah tetap fokus pada pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, terutama dalam kondisi yang penuh tantangan seperti saat ini.

    Selain itu, Lisa juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh masyarakat ya g sudah mendukung kinerja pemwrintah dengan program – programnya.

    “Program pemerintah tidak akan berjalan baik kalau tanpa dekungan maayarakat, kami tentunya sangat mengapresiasi sekali dukungan itu,” jelasnya.

    Lisa berharap agar seluruh program berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi warga Banjarbaru.(be)