Blog

  • Banjarbaru Menuju Kota Birokrasi Pembelajar: ASN sebagai Aset, Corporate University sebagai Strategi

    Banjarbaru Menuju Kota Birokrasi Pembelajar: ASN sebagai Aset, Corporate University sebagai Strategi

    BANJARBARUEMAS.COM – Dalam dunia manajemen modern, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu utama keberhasilan organisasi. Teori Resource-based View (RBV) menjelaskan bahwa keunggulan bersaing organisasi tidak hanya lahir dari modal fisik atau struktur kelembagaan, melainkan juga dari modal manusia yang unik, sulit ditiru, dan memiliki daya cipta tinggi (Pilbeam & Corbridge, 2010). Pandangan ini menegaskan bahwa investasi pada manusia bukanlah biaya, melainkan strategi jangka panjang.

    Dalam konteks birokrasi, modal manusia itu adalah Aparatur Sipil Negara (ASN). ASN yang profesional, kompeten, dan berkarakter menjadi jantung sebuah pemerintahan yang sehat. Namun, kualitas itu tidak bisa hadir secara instan. Dibutuhkan pengembangan kompetensi yang konsisten dan relevan dengan tantangan zaman. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN telah menggariskan kewajiban setiap instansi untuk memastikan pengembangan ASN melalui sistem pembelajaran terintegrasi, yang lebih dikenal dengan konsep corporate university (Corpu).

    ASN Banjarbaru adalah aset paling berharga bagi kota ini. Mereka bukan sekadar aparatur administratif, tetapi motor yang menggerakkan roda pemerintahan, penentu kualitas pelayanan publik, dan pengelola pembangunan menuju Banjarbaru Emas. Tanpa ASN yang kompeten, visi sebesar apa pun akan sulit diwujudkan.

    Mengapa ASN Banjarbaru disebut aset?

    Pelaksana Kebijakan Publik – ASN Banjarbaru adalah ujung tombak penerjemah visi dan program Wali Kota ke dalam tindakan nyata di lapangan, mulai dari pelayanan administrasi hingga penanganan isu-isu strategis seperti banjir dan tata ruang.

    Penggerak Pembangunan Daerah – ASN profesional menjadi motor penggerak keberhasilan pembangunan kota. Kualitas drainase, keindahan tata kota, hingga layanan kesehatan dan pendidikan, sangat bergantung pada kinerja ASN di setiap lini.

    Sumber Daya Manusia Unggulan – Di tengah globalisasi, digitalisasi, dan kompleksitas masalah perkotaan, ASN Banjarbaru dituntut memiliki kemampuan adaptif, inovatif, dan kreatif. Dengan pengelolaan yang tepat, mereka menjadi keunggulan kompetitif daerah.

    Jaminan Masa Depan Kota – ASN Banjarbaru adalah garda depan yang menjamin kesinambungan pelayanan publik lintas generasi. Mereka menjaga agar setiap kebijakan tidak berhenti pada satu periode kepemimpinan, tetapi terus berlanjut demi kepentingan warga.

    Namun, sekadar mengakui ASN sebagai aset tidaklah cukup. Aset yang berharga harus dirawat, dikembangkan, dan diberdayakan agar nilainya terus bertumbuh. Inilah yang menjadi komitmen kuat Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby.

    Melalui Peraturan Wali Kota Nomor 23 Tahun 2025 tentang Sistem Pembelajaran Terintegrasi (Corporate University) Dalam Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara, Wali Kota Lisa menegaskan bahwa pengembangan ASN bukan hanya kewajiban administratif, tetapi strategi besar untuk membangun Banjarbaru sebagai learning government. Setiap ASN diarahkan menjadi pembelajar sepanjang hayat, bukan hanya pelaksana rutin.

    Komitmen ini menunjukkan bahwa Wali Kota tidak melihat ASN sekadar sebagai aparatur, melainkan sebagai aset strategis yang menentukan wajah pelayanan publik dan masa depan Banjarbaru. Dengan pendekatan ini, Banjarbaru sedang menyiapkan birokrasi yang berkelas dunia—profesional, responsif, dan berorientasi penuh pada kepuasan warga.

    Corporate University: Model Global dan Lokal

    Corporate university bukanlah istilah baru. Model ini lahir ketika General Electric mendirikan Crotonville pada 1955, diikuti oleh McDonald’s dengan Hamburger University. Di Indonesia, sejumlah BUMN seperti PLN, Telkom, dan Pertamina, serta lembaga publik seperti Kementerian Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan terbukti sukses mengadopsinya.

    Secara konseptual, Corpu berbeda dari pelatihan tradisional. Pelatihan konvensional cenderung berhenti pada target kuantitas—misalnya sekadar memenuhi 20 Jam Pelajaran (JP). Sebaliknya, Corpu menempatkan strategi organisasi sebagai fondasi pembelajaran. Mark Allen (2002) menyebut corpu sebagai “alat strategis” organisasi, sedangkan Peter Senge (1990) mendefinisikan organisasi pembelajar sebagai wadah di mana anggotanya terus mengembangkan kapasitas, menumbuhkan pola pikir baru, dan belajar bersama.

    Melalui Peraturan Wali Kota Banjarbaru Nomor 23 Tahun 2025, Walikota Lisa menegaskan arah barunya: membangun birokrasi Banjarbaru sebagai learning government. Penerapan Corpu Banjarbaru bukan sekadar formalitas, melainkan strategi transformatif untuk menyiapkan ASN yang cepat, responsif, dan adaptif.

    Perwali ini memuat beberapa inovasi penting:

    1. Perencanaan berbasis analisis kebutuhan – Setiap perangkat daerah wajib menyusun rencana pengembangan kompetensi berdasarkan kesenjangan kinerja dan proyeksi karir.

    2. Jalur pembelajaran variatif – Coaching, mentoring, e-learning, detasering, benchmarking, hingga pertukaran ASN dengan pegawai swasta atau BUMN/BUMD.

    3. Pendekatan nonklasikal – Learning by doing, komunitas belajar, magang, hingga outbound yang membangun kebersamaan, sejalan dengan model 70-20-10 (Lombardo & Eichinger, 2006).

    4. Evaluasi dan penjaminan mutu – Melibatkan lembaga akreditasi eksternal untuk memastikan standar materi, fasilitator, hingga capaian kinerja.

    Kebijakan ini adalah tonggak penting karena menyatukan pembangunan manusia dan pembangunan kota. Banjarbaru ingin memastikan bahwa di balik semua kebijakan dan kerja-kerja birokrasi ada ASN yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kepuasan warga.

    Lebih dari itu, langkah ini menunjukkan keberanian Banjarbaru melangkah sejajar dengan kota-kota maju di dunia. Di era disrupsi teknologi dan meningkatnya ekspektasi warga, hanya ASN yang terbiasa belajar sepanjang hayat yang mampu menjawab tantangan.

    Apresiasi patut diberikan kepada Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby. Di tengah banyak daerah masih bergelut dengan pola lama, Banjarbaru justru menata masa depan birokrasi dengan visi jauh ke depan. Dengan Corpu, Banjarbaru sedang membangun peradaban birokrasi yang unggul, profesional, responsif, dan berorientasi penuh pada kepuasan warga

    Keberhasilan Corpu Banjarbaru pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh warga. ASN yang semakin kompeten akan menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan ramah. Warga tidak lagi berhadapan dengan birokrasi kaku, melainkan aparatur yang hadir sebagai mitra, penggerak, dan pelayan sejati bagi kota.

    Banjarbaru memberi teladan bahwa kota yang unggul di era global memiliki birokrasi berdaya saing tinggi. Dengan Corporate University, Banjarbaru sedang menyiapkan generasi ASN yang bukan sekadar pelaksana aturan, tetapi juga pembelajar sepanjang hayat, inovator, dan pelayan masyarakat sejati. Tahniah, untuk Banjarbaru Emas.(be)

  • Sebagai Pemimpin Visioner Lisa Selalu Luncurkan Inovasi, Terbaru “Generasi Emas”

    Sebagai Pemimpin Visioner Lisa Selalu Luncurkan Inovasi, Terbaru “Generasi Emas”

    BANJARBARUEMAS.COM – Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby sebagai seorang pemimpin yang visioner terus melakukan inovasi dalam segala bidang.

    Salah satunya upaya meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat terus dilakukan Pemerintah Kota Banjarbaru.

    Baru – baru ini Wali Kota Banjarbaru Lisa Halaby meluncurkan berbagai program strategis di Puskesmas Rawat Inap Cempaka, untuk membuktikan bahwa sebagai pemimpin yang visoner mempunyai pemikiran yang matang.

    Tidak hanya persoalan gagasan saja, tetapi Lisa langsung memberikan bukti melalui programnya secara riil.

    Itu dibuktikan dengan penyerahan secara simbolis ambulans untuk lima puskesmas kecamatan, yakni Puskesmas Cempaka, Banjarbaru Selatan, Sungai Ulin, Liang Anggang, dan Guntung Manggis.

    Tidak hanya fasilitas berupa ambulan, Lisa juga memperhatikan sisi lain, itu dibuktikan dengan dilakukannya pemberian sirup Fe untuk bayi dan balita, susu bagi ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis) dan balita, serta dilakukan launching Video Kelas Ibu Hamil Digital dan Video Pemanfaatan Antropometri Digital.

    Satu inovasi baru, buah pemikiran Lisa yaitu Generasi Emas atau Gerakan Edukasi dan Registrasi Identitas Anak yang Dilahirkan di Puskesmas untuk Masa Depan Sejahtera.

    Program ini merupakan integrasi dan kolaborasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan Puskesmas Rawat Inap Cempaka.

    Tidak tanggung – tanggung kesepakatan itu langsung ditandatangani bersama untuk membuktikan bahwa apa yang digagas adalah sebuah keseriusan.

    Melalui inovasi, Lisa ingin setiap anak yang lahir di puskesmas akan langsung mendapatkan dokumen kependudukan, mulai dari akta kelahiran, kartu identitas anak (KIA), hingga kartu keluarga.

    Erna Lisa menegaskan, tantangan di bidang kesehatan di Banjarbaru masih cukup besar, oleh karena itu, berbagai program yang baru saja diluncurkan diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

    Bahkan untuk membutikan itu, Lisa sampai mempelajari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anemia pada bayi baru lahir dan balita menjadi salah satu penyebab stunting di Banjarbaru.

    Penyediaan sirup Fe bukan tanpa alasan, Lisa menilai itu sangat penting untuk mencegah terjadinya kasus serupa di kemudian hari.

    Lisa tentu semua yang digagas tidak hanya menjadi seremonial, inovasi Generasi Emas, yang digagasnya optimistis hak identitas anak dapat dijamin sejak lahir, sekaligus mendukung terwujudnya pelayanan publik yang efektif, efisien, dan membahagiakan masyarakat. (be)

  • 15 Menit Membaca: Gerakan Bunda Literasi untuk Banjarbaru

    15 Menit Membaca: Gerakan Bunda Literasi untuk Banjarbaru

    BANJARBARUEMAS.COM – Banjarbaru kembali mencatatkan bab penting dalam upaya membangun kota berbasis pengetahuan pada Kamis (2/10/2025).

    Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby resmi dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kota Banjarbaru. Gelar ini menegaskan peran seorang kepala daerah yang berkomitmen menjadikan literasi sebagai denyut nadi kehidupan masyarakat.

    Dalam sambutannya, Lisa menekankan pentingnya memulai gerakan literasi dari hal-hal sederhana: membaca 15 menit sehari, membacakan buku sebelum tidur, hingga berdiskusi kritis dalam keluarga.

    Sebuah ajakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi pintu masuk bagi terbentuknya generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan terbuka terhadap perubahan.

    Data menunjukkan, Banjarbaru kini menempati peringkat kedua terbaik di Kalimantan Selatan dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dengan skor 89,92.

    Capaian ini bukan angka biasa; ia mencerminkan ekosistem literasi yang tumbuh, meskipun masih menyisakan ruang untuk diperkuat.

    Dengan program literasi yang masif dan kolaboratif, Banjarbaru berpeluang besar meraih posisi terdepan, bukan hanya di provinsi, tetapi juga di tingkat nasional.

    Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Dalam kerangka pembangunan manusia, literasi adalah modal dasar untuk daya saing.

    Negara-negara dengan tingkat literasi tinggi selalu berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi, inovasi, serta ketahanan sosial.

    Bagi Banjarbaru, memperkuat budaya membaca berarti menyiapkan generasi yang lebih siap menghadapi transformasi digital, lebih tangguh menghadapi disrupsi, dan lebih adaptif terhadap perubahan.

    Dalam konteks inilah, peran Bunda Literasi menjadi strategis. Ia merupakan agen perubahan yang menghubungkan pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas.

    Dengan kehadiran figur publik yang konsisten mengampanyekan budaya baca, literasi akan lebih cepat menembus ruang domestik keluarga—tempat awal pembentukan karakter anak.

    Sejumlah program yang dicanangkan, seperti Gerakan 7 Hari Membaca Bersama, lomba-lomba literasi, dan penguatan perpustakaan sekolah, merupakan langkah konkret.

    Namun, tantangan ke depan jauh lebih kompleks. Literasi harus masuk ke ruang digital, menyasar generasi muda yang akrab dengan gawai, sekaligus memanfaatkan media sosial untuk membangun komunitas pembaca daring.

    Selain itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Dunia usaha, akademisi, komunitas literasi, hingga organisasi masyarakat perlu bergandeng tangan.

    Literasi bukan hanya urusan perpustakaan, melainkan urusan peradaban kota. Di titik inilah Banjarbaru bisa menjadi model kota literasi yang progresif: memadukan peran pemerintah, warga, dan teknologi.

    Penetapan Wali Kota Lisa sebagai Bunda Literasi adalah momentum penting yang harus dijaga, jika gerakan literasi mampu mengakar hingga ke rumah-rumah warga, Banjarbaru tidak hanya menjadi kota dengan ruang publik yang nyaman, tetapi juga kota dengan masyarakat yang cerdas, kritis, dan berdaya saing.

    Seperti yang ditegaskan Wali Kota Lisa, gerakan ini harus dimulai dari langkah sederhana. Sebab, membaca 15 menit sehari bisa menjadi batu bata kecil yang menyusun fondasi besar peradaban Banjarbaru di masa depan. (be)