BANJARBARUEMAS.COM — Upaya memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal kembali ditegaskan Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru melalui Creative Talk #10 bertajuk “Pengolahan Hasil Agroforestri Terintegrasi Prosumen (Furniture & Pangan Lokal)”, Rabu (4/3/2026) malam, di Stand Komite Ekraf Banjarbaru, Lapangan Murjani.
Diskusi yang dimulai pukul 21.00 WITA itu menghadirkan pegiat Sekolah Alam Ekologis, Advis Vijay, serta diikuti pelaku UMKM, komunitas lingkungan, dan warga yang tertarik pada pengembangan produk lokal berbasis hutan dan pertanian.
Dalam paparannya, Vijay memperkenalkan pendekatan prosumen, produser sekaligus konsumen, sebagai strategi membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Pengolahan hasil agroforestri terintegrasi dengan konsep prosumen merupakan pendekatan di mana petani atau masyarakat tidak hanya memanen bahan mentah, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pemberian nilai tambah dan konsumsi mandiri produk tersebut,” ujar Vijay.
Ia menjelaskan, strategi tersebut bertumpu pada tiga komponen utama. Pertama, diversifikasi produk dengan memanfaatkan keberagaman spesies, kayu, buah, tanaman obat, hingga hasil ternak, untuk menciptakan berbagai aliran pendapatan dan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.
Kedua, pengolahan nilai tambah (value-added) di tingkat lokal. Tanaman obat dapat diolah menjadi minuman herbal, sementara singkong diproses menjadi bahan pangan lokal seperti sagu atau popeda. Dengan demikian, nilai ekonomi tidak berhenti pada bahan mentah.
Ketiga, integrasi ternak (agrosilvopastura), yakni memanfaatkan rumput dan serasah sebagai pakan ternak, sementara kotorannya diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman. Pola ini membentuk siklus produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Vijay menambahkan, ketika masyarakat berperan sebagai prosumen, ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga menjadi lebih kuat. Hasil seperti pisang, ubi jalar, dan sayuran dapat dikonsumsi sendiri, sementara kelebihannya diolah dan dipasarkan.
“Dengan menjadi konsumen dari produk sendiri, petani lebih terlindungi dari fluktuasi harga pasar global. Biaya produksi juga lebih efisien karena ketergantungan pada input luar berkurang,” katanya.
Diskusi juga menyoroti potensi kayu galam yang banyak tumbuh di Banjarbaru. Selama ini, galam dinilai memiliki nilai ekonomis relatif rendah. Namun melalui inovasi desain dan pengolahan kreatif, seperti furnitur atau elemen interior, kayu tersebut dinilai berpeluang memiliki nilai tambah signifikan.
Ketua Umum Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menegaskan bahwa forum ini merupakan upaya membangun kesadaran kolektif warga.
“Kita ingin mengubah pola pikir. Jangan lagi berhenti pada menjual bahan mentah. Warga Banjarbaru harus menjadi pelaku utama dalam menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang kita miliki sendiri,” ujar Riandy.
Menurut dia, konsep prosumen sejalan dengan semangat ekonomi kreatif yang bertumpu pada kreativitas, kemandirian, dan kolaborasi. Komite Ekonomi Kreatif, lanjutnya, akan mendorong pelatihan teknis, penguatan kelompok usaha, hingga pembentukan jejaring pemasaran agar gagasan yang lahir dalam diskusi dapat diwujudkan secara konkret.
“Jika hasil hutan dan pertanian kita diolah dengan inovasi, bukan tidak mungkin Banjarbaru memiliki identitas produk lokal yang kuat, baik di sektor pangan maupun furnitur. Inilah cara kita menumbuhkan ekonomi dari akar,” katanya.
Melalui ruang diskusi terbuka di jantung kota itu, Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru berharap lahir inisiatif nyata yang menjadikan potensi agroforestri dan hasil hutan lokal sebagai fondasi kemandirian ekonomi kota.(be)
223
Tidak ada komentar