Jambore TP PKK Banjarbaru 2025 : Energi Baru Kepemimpinan dan Lahirnya Ruang Kreatif Keluarga

waktu baca 3 menit
Sabtu, 13 Des 2025 05:55 294 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Di Banjarbaru, perubahan itu tidak datang dengan suara keras. Ia hadir melalui kerja-kerja sunyi, gerak kolektif, dan—yang paling menarik—dari sebuah kepemimpinan yang tak biasa.

Untuk pertama kalinya di Kalimantan Selatan, Tim Penggerak PKK tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang laki-laki. Namanya H. Riandy Hidayat, suami Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby.

Fakta ini bukan sekadar anomali administratif. Ia adalah simbol perubahan cara pandang. Di tengah persepsi bahwa PKK identik dengan kepemimpinan perempuan, Banjarbaru menawarkan tafsir baru: pemberdayaan keluarga adalah kerja bersama, lintas peran, lintas gender, dan lintas imajinasi.

Di bawah kepemimpinan Riandy, PKK Banjarbaru seolah menemukan denyut baru. Energi organisasi terasa lebih cair, lebih berani bergerak, dan tidak canggung menembus batas-batas lama. Para kader tidak hanya diajak menjalankan program, tetapi diajak berpikir, berlari cepat, dan berkreasi. PKK tidak lagi diposisikan semata sebagai pelaksana kegiatan, melainkan sebagai ruang tumbuh bagi gagasan-gagasan warga.

Energi itu memuncak dalam Jambore Kader PKK Kota Banjarbaru 2025 yang digelar di kawasan Kebun Raya Banua, Sabtu (13/12/2025). Ratusan kader dari seluruh kelurahan hadir untuk “mengisi ulang” semangat pengabdian.
“Jambore ini menjadi ruang untuk melepas penat, sekaligus menyegarkan kembali semangat kita dalam menggerakkan PKK. Dari sinilah energi baru itu lahir,” ujar Riandy dalam sambutannya. Pernyataan itu mencerminkan kesadaran penting dalam gerakan sosial modern: keberlanjutan organisasi tidak hanya bertumpu pada target program, tetapi juga pada kesehatan emosi, kebersamaan, dan rasa memiliki para kadernya.

Namun jambore ini melampaui fungsi konsolidasi. Ia menjelma menjadi ruang ide—laboratorium kreatif di mana gagasan-gagasan sederhana dari keluarga dan komunitas tampil ke permukaan. Lomba fashion show berbahan daur ulang, misalnya, menjadi panggung ekspresi kreativitas yang mengejutkan. Setiap kelurahan tampil maksimal, mengolah limbah rumah tangga menjayang estetis dan sarat pesan lingkungan.

Di situ tampak jelas: kreativitas bisa lahir dari dapur, halaman rumah, dan tangan-tangan warga yang mau berpikir ulang tentang nilai sebuah benda. Jambore PKK membuka ruang bagi imajinasi kolektif—sesuatu yang sering luput dalam diskursus pembangunan kota.

Kegiatan lain pun tak kalah bermakna. Jingle Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI), penyuluhan Bina Keluarga Balita (BKB), hingga senam kreasi, memperlihatkan bahwa isu-isu serius pembangunan manusia dapat disampaikan melalui pendekatan yang ringan, partisipatif, dan menyenangkan. Inilah kekuatan PKK: bekerja di ruang paling dekat dengan kehidupan warga, sekaligus menyentuh isu-isu paling mendasar.

Dalam perspektif yang lebih luas, PKK Banjarbaru hari ini memiliki potensi strategis sebagai salah satu penguat arah Banjarbaru menuju Kota Kreatif. Kreativitas berbasis keluarga—mulai dari pengelolaan sampah, pengasuhan anak, hingga ekspresi seni—adalah fondasi penting bagi kota yang ingin tumbuh berkelanjutan dan berkarakter.

Kepemimpinan Riandy Hidayat memberi ruang bagi proses itu. PKK tidak dikunci dalam rutinitas administratif, tetapi didorong menjadi ekosistem ide. Jambore PKK menjadi contoh bagaimana sebuah kegiatan organisasi dapat sekaligus menjadi ruang rekreasi, edukasi, dan inkubasi kreativitas warga.

Dari Kebun Raya Banua, pesan itu terasa semakin terang: pemberdayaan keluarga bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga tentang membuka ruang imajinasi warga. Di tangan para kader PKK, kreativitas tumbuh dari rumah, dari lingkungan, dari pengalaman sehari-hari yang diolah menjadi gagasan bernilai. Dari sinilah Banjarbaru dapat menata arah sebagai Kota Kreatif—bukan dengan meniru kota lain, melainkan dengan mengangkat kreativitas yang hidup di akar keluarga.

Melalui PKK, Banjarbaru sedang merajut masa depan kota yang berdaya, berkarakter, dan berkelanjutan: kota yang dibangun dari ide-ide kecil yang lahir bersama, digerakkan oleh energi baru, kepemimpinan yang inklusif, dan keberanian untuk melampaui pakem lama.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA