Dua Tahun Berturut-turut Raih PGM Award, Wali Kota Lisa Halaby Jadikan Guru Madrasah Pilar Masa Depan Banjarbaru

waktu baca 6 menit
Sabtu, 1 Agu 2026 11:50 109 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Ada satu fondasi yang kerap luput dari perhatian ketika sebuah kota berbicara tentang pembangunan, yakni pendidikan. Bukan sekadar pendidikan yang melahirkan generasi cerdas, tetapi pendidikan yang membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menjaga akhlak.

Di ruang-ruang madrasah, di serambi pondok pesantren, hingga di taman pendidikan Al-Qur’an, fondasi itu sedang dibangun setiap hari. Di sanalah anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, memahami adab, mengenal nilai-nilai kehidupan, sekaligus menumbuhkan karakter yang kelak menjadi bekal dalam bermasyarakat. Di balik proses itu, ada para guru yang bekerja tanpa banyak sorotan, mengabdikan ilmu, waktu, dan keteladanan.

Kesadaran bahwa pendidikan keagamaan merupakan fondasi pembangunan manusia itulah yang terus dijaga Pemerintah Kota Banjarbaru di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby. Komitmen tersebut kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Lisa Halaby menerima Anugerah Pendidikan PGM Award 2026 dari Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia, penghargaan yang diberikan kepada kepala daerah yang dinilai memiliki dedikasi, komitmen, dan keberpihakan nyata dalam memajukan pendidikan madrasah di Indonesia.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Pimpinan Pusat PGM Indonesia dalam prosesi penganugerahan di Auditorium Tegar Beriman, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bogor, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (29/7/2026).

Bagi Banjarbaru, penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi. PGM Award menjadi pengakuan bahwa berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah daerah benar-benar menjawab kebutuhan pendidikan keagamaan, mulai dari penguatan kelembagaan madrasah, dukungan terhadap pondok pesantren, bantuan kepada organisasi keagamaan, hingga perhatian terhadap kesejahteraan guru.

Lebih membanggakan lagi, penghargaan tahun ini merupakan PGM Award kedua yang diterima Lisa Halaby secara berturut-turut. Sebelumnya, pada 23 Juli 2025, ia juga menerima penghargaan serupa di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta.

Dua penghargaan nasional dalam dua tahun berturut-turut menjadi bukti bahwa perhatian terhadap pendidikan madrasah bukanlah kebijakan sesaat. Sebaliknya, hal itu menjadi bagian dari arah pembangunan Kota Banjarbaru yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.

Ketika Pembangunan Dimulai dari Manusianya

Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kemajuan daerah. Karena itu, pembangunan pendidikan ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Atas dasar itulah, pembangunan manusia ditempatkan sebagai prioritas, dengan pendidikan keagamaan menjadi salah satu pilar utamanya.

Menurut Lisa Halaby, madrasah bukan sekadar lembaga pendidikan agama. Madrasah adalah ruang tumbuhnya generasi yang cerdas, berkarakter, berintegritas, sekaligus memiliki kepedulian sosial.

Karena itu, sejak awal kepemimpinannya, berbagai kebijakan diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan Islam.

Melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Pemerintah Kota Banjarbaru secara konsisten mengalokasikan bantuan hibah kepada organisasi keagamaan, rumah ibadah, pondok pesantren, dan madrasah.

Dukungan tersebut bukan sekadar bantuan anggaran, tetapi merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan Islam agar terus berkembang, meningkatkan mutu pembelajaran, memperbaiki sarana pendidikan, dan memberikan layanan yang semakin baik kepada masyarakat.

Perhatian itu tidak berhenti pada lembaga pendidikan.

Pada Tahun Anggaran 2025 hingga 2026, Pemerintah Kota Banjarbaru juga mengalokasikan honorarium bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) sektor keagamaan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi para guru madrasah.

Bagi pemerintah daerah, guru madrasah bukan hanya mengajarkan ilmu agama. Mereka membentuk karakter, menanamkan kejujuran, kedisiplinan, toleransi, dan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi bekal generasi muda menghadapi masa depan.

Keberpihakan terhadap guru inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian PGM Indonesia.

Pengabdian yang Berangkat dari Pengalaman

Perhatian Lisa Halaby terhadap dunia pendidikan tidak lahir ketika ia menjabat sebagai Wali Kota.

Jauh sebelumnya, melalui Yayasan Abdul Aziz Halaby, ia telah aktif mengembangkan berbagai program di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.

Di bawah yayasan tersebut berdiri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Halaby yang sejak tahun 2017 memberikan pendidikan Al-Qur’an secara gratis kepada ratusan santri tanpa memungut biaya SPP.

Melalui metode pembelajaran yang terus dikembangkan, TPQ Halaby telah melahirkan santri-santri penghafal Al-Qur’an hingga 30 juz.

Yayasan tersebut juga mendirikan SD Al Halaby Islamic School, sekolah dasar berbasis Islam yang mengintegrasikan pendidikan akademik, pembentukan karakter, literasi Al-Qur’an, dan pendidikan akhlak.

Pengalaman mendampingi lembaga pendidikan itulah yang membentuk pemahaman Lisa bahwa membangun pendidikan tidak cukup hanya melalui regulasi. Pendidikan membutuhkan kebijakan yang berkelanjutan, dukungan anggaran yang memadai, lembaga yang kuat, dan guru yang memperoleh perhatian atas pengabdiannya.

Pemahaman tersebut kemudian menjadi bagian dari kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru setelah ia dipercaya memimpin daerah ini.

Penghargaan Menjadi Amanah

Bagi Lisa Halaby, PGM Award bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan.

Sebaliknya, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa pemerintah harus terus bekerja meningkatkan kualitas pendidikan.

“Pendidikan madrasah dan pondok pesantren memiliki peran kunci dalam mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia. Penghargaan ini merupakan wujud kerja keras bersama seluruh elemen masyarakat dan jajaran Pemerintah Kota Banjarbaru,” ujarnya.

Menurut Lisa, penghargaan tersebut dipersembahkan untuk seluruh guru madrasah, pengasuh pondok pesantren, organisasi keagamaan, tokoh agama, dan masyarakat Banjarbaru yang selama ini bersama-sama membangun pendidikan Islam.

“Penghargaan ini bukan alasan untuk berpuas diri. Justru menjadi amanah agar kami terus meningkatkan perhatian terhadap pendidikan keagamaan, memperkuat madrasah, meningkatkan kesejahteraan guru, dan menghadirkan kebijakan yang semakin berpihak kepada dunia pendidikan,” tegasnya.

Harapan dari Ruang Kelas Madrasah

Bagi para guru, penghargaan tersebut juga menghadirkan harapan.

Pengajar Madrasah Miftahul Khairiyah Cempaka, Mahmuddin, menilai perhatian Pemerintah Kota Banjarbaru terhadap pendidikan keagamaan telah memberikan semangat baru bagi para pendidik.

“Kami mengapresiasi kepemimpinan Ibu Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby yang memberikan perhatian nyata kepada madrasah. Bantuan kepada lembaga pendidikan dan perhatian terhadap kesejahteraan guru memberikan motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran. Harapan kami, ke depan honorarium bagi pendidik dan tenaga kependidikan sektor keagamaan dapat terus ditingkatkan sehingga kesejahteraan guru semakin baik,” katanya.

Menurut Mahmuddin, meningkatnya perhatian pemerintah terhadap guru akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan. Guru yang lebih sejahtera akan semakin fokus mendidik, membimbing, dan mempersiapkan generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak.

Menanam Masa Depan Banjarbaru

Pada akhirnya, PGM Award bukan sekadar penghargaan bagi seorang kepala daerah.

Penghargaan itu menjadi penanda bahwa Banjarbaru memilih membangun masa depannya melalui pendidikan.

Sebuah kota akan dikenang dari kualitas manusia yang berhasil dipersiapkannya. Karena itulah, investasi terbaik adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Di ruang-ruang madrasah, di pondok-pondok pesantren, dan di taman-taman pendidikan Al-Qur’an itulah masa depan Banjarbaru sedang ditanam, melalui tangan-tangan para guru yang setiap hari mengajarkan ilmu, menanamkan akhlak, serta menyalakan harapan bagi generasi penerus.

Ketika pemerintah memilih hadir mendampingi mereka melalui kebijakan yang berpihak, penghargaan nasional hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang. Yang sesungguhnya sedang dibangun adalah fondasi Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera), sebuah kota yang meyakini bahwa kemajuan paling hakiki selalu dimulai dari kualitas manusianya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA