BANJARBARUEMAS.COM — Janji untuk bertemu sebenarnya telah lama terucap. Berkali-kali kami mencoba mencocokkan waktu, tetapi selalu saja tertunda karena kesibukan masing-masing. Cherry Rabiullan Sari disibukkan dengan aktivitas mengajar, mendampingi berbagai kegiatan kepemudaan, dan merancang program pendidikan.
Sementara suaminya, Zikro Rahmansyah, juga memiliki jadwal padat.
Hingga pada suatu malam yang tenang di Banjarbaru, pertemuan itu akhirnya terjadi.
Percakapan dibuka dengan sebuah pertanyaan sederhana.
“Apa sebenarnya yang bisa diberikan anak-anak muda untuk Banjarbaru?”
Pertanyaan itu berkembang menjadi diskusi panjang tentang pendidikan, karakter anak, potensi generasi muda, hingga mimpi membangun masa depan Banjarbaru.
Di hadapan saya duduk sepasang suami istri muda yang tidak sedang berbicara tentang pencapaian pribadi. Mereka justru sedang merancang sebuah perjalanan pengabdian.
Bagi Cherry, putri asli Banjarbaru, dan Zikro, pemuda asal Bogor yang kini menjadikan Banjarbaru sebagai rumahnya, membangun daerah bukan sekadar wacana. Mereka percaya setiap orang memiliki cara untuk memberi arti bagi tempat yang dicintainya.
“Bagi kami, jalan itu adalah pendidikan,” ujar Cherry.
Kalimat sederhana itu menjelaskan pilihan hidup mereka. Di saat banyak anak muda berlomba mengejar kesempatan di kota-kota besar, Cherry dan Zikro justru memilih menghadirkan kesempatan itu bagi anak-anak di daerah.
Mereka percaya perubahan dimulai dari ruang-ruang kelas, dari keberanian seorang anak untuk bermimpi, dan dari seorang guru yang percaya pada potensi muridnya.
Cherry merupakan lulusan Program Studi Sosiologi Universitas Lambung Mangkurat dengan predikat Wisudawan Terbaik dan IPK 3,72. Sejak menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi, menjadi pembicara seminar, moderator, pelatih public speaking, hingga mengajar anak-anak.
Pengalamannya sebagai reporter DBL Indonesia dan Mediakita.co.id mengasah kemampuan bercerita, menulis, serta berkomunikasi dengan berbagai kalangan. Ia juga pernah menjadi pengisi suara, pembawa acara, hingga pelatih komunikasi. Namun seluruh pengalaman itu bukan tujuan akhir.
“Ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ilmu harus diteruskan agar memberikan manfaat yang lebih luas,” tuturnya.
Perjalanan Cherry juga dipenuhi berbagai prestasi, mulai dari Delegasi Nasional Forum Indonesia Muda, Mahasiswa Berprestasi Fakultas, Runner Up IndonesiaNEXT Telkomsel, 10 Besar National Business Plan, Juara I News Casting tingkat Kalimantan Selatan, hingga penulis berbagai karya ilmiah dan buku antologi.
Namun ketika ditanya pencapaian terbesar yang ingin diraihnya, jawabannya justru sederhana.
“Saya ingin melihat anak-anak yang pernah kami dampingi tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat. Itu penghargaan terbesar bagi saya.”
Kisah Cherry dan Zikro bermula pada 2022 saat keduanya bertemu dalam Forum Indonesia Muda, sebuah program kepemimpinan nasional yang mempertemukan pemuda terbaik dari seluruh Indonesia.
Awalnya mereka hanyalah sesama peserta. Kemudian menjadi teman berdiskusi, rekan dalam pertunjukan Api Ekspresi, hingga akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki visi yang sama.
Yang membuat keduanya saling tertarik bukan semata-mata kepribadian atau latar belakang, melainkan kecintaan yang sama terhadap dunia pendidikan.
“Kami sama-sama percaya bahwa hidup akan lebih bermakna ketika bisa memberikan manfaat kepada orang lain,” kenang Cherry.
Setelah menikah, percakapan mereka tidak lagi hanya tentang masa depan keluarga. Hampir setiap diskusi berakhir pada topik yang sama: pendidikan, anak-anak, dan bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Pernikahan bagi kami bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga menyatukan dua visi untuk mengabdi,” ujar Zikro.
Pengalaman mengajar di berbagai daerah membuat mereka menyaksikan masih banyak anak yang tumbuh dengan keterbatasan akses pendidikan dan minimnya kepercayaan diri untuk bermimpi.
Pengalaman itulah yang menguatkan keyakinan mereka bahwa pendidikan bukan sekadar proses belajar di ruang kelas.
“Pendidikan adalah tentang menghadirkan harapan. Terkadang yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya guru, tetapi seseorang yang percaya bahwa mereka mampu meraih cita-citanya,” kata Zikro.
Berangkat dari keyakinan itu, sejak 2024 mereka mengembangkan Program Aksi Cerdas sebagai ruang belajar, pendampingan, dan motivasi bagi anak-anak. Mereka juga menggagas berbagai program kolaboratif seperti Read Aloud, Kelas Inspirasi, Banjarbaru Mengajar, hingga Karier EMAS Banjarbaru untuk memperkuat literasi, membangun karakter, dan memperkenalkan beragam profesi kepada generasi muda.
Bagi Cherry, Banjarbaru memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kota yang melahirkan generasi unggul. Kota ini dipenuhi anak-anak muda yang kreatif, aktif dalam komunitas, dan memiliki kepedulian sosial.
Yang dibutuhkan hanyalah ruang kolaborasi agar energi positif itu dapat bergerak bersama.
“Kalau energi anak muda dipertemukan dalam gerakan bersama, saya yakin Banjarbaru akan dikenal bukan hanya sebagai kota yang maju, tetapi juga sebagai kota yang melahirkan gerakan pendidikan dan relawan muda,” ujarnya.
Malam semakin larut. Percakapan kami pun hampir usai.
Sebelum berpisah, Cherry mengucapkan satu kalimat yang masih teringat hingga kini.
“Dalam setiap langkah pengabdian, kami merasa membawa nama Banjarbaru. Itu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab.”
Saya kemudian menyadari bahwa harapan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang, ia tumbuh dari keberanian dua anak muda yang memilih menjadikan pernikahan bukan sekadar ikatan cinta, melainkan ikatan pengabdian, menyatukan mimpi, ilmu, dan ketulusan untuk menyalakan harapan serta membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Melalui pendidikan, Cherry dan Zikro sedang menanam benih-benih harapan. Sebab mereka percaya, ketika satu anak berani bermimpi dan diberi kesempatan untuk tumbuh, saat itulah masa depan Banjarbaru sedang dibangun. (be)
134
Tidak ada komentar