BANJARBARUEMAS.COM – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru tidak semata dilakukan ketika api telah muncul. Di Kampung Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, masyarakat mengembangkan pendekatan berbasis komunitas melalui Pumpung Creative Space, ruang publik kreatif yang diaktivasi dan dikelola bersama warga.
Konsep tersebut menarik perhatian Peserta Didik Sekolah Pengembangan Profesi Kepolisian (SERDIK SPPK) Polri Angkatan IV Tahun 2026 yang tengah melaksanakan pembelajaran dan kegiatan lapangan di Kota Banjarbaru dengan fokus pada upaya pencegahan karhutla.
Sebelumnya, para peserta didik telah melihat secara langsung penanganan karhutla di sejumlah wilayah Banjarbaru. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi pencegahan karhutla bersama masyarakat Pumpung, Sabtu (12/9/2026), yang berlangsung di Pumpung Creative Space.
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 50 peserta yang terdiri atas warga RT 24, RT 30 dan RT 31, Pokdarwis Kelurahan Sungai Tiung, Komunitas Bubuhan Pumpung Kreatif (BPKraf), serta Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru sebagai pendamping komunitas.
Dalam kegiatan tersebut, salah satu anggota SERDIK SPPK Angkatan IV Tahun 2026, Moch. Asrori Khadafi, S.H., mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap aktivitas pembakaran sampah yang berpotensi menjadi sumber api.
“Kalau kita memiliki kebiasaan membakar sampah di lingkungan, harus lebih berhati-hati dan memastikan api benar-benar padam, tidak menyisakan asap, sebelum meninggalkan lokasi untuk melakukan aktivitas lainnya,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pencegahan karhutla dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar. Api yang berasal dari aktivitas rumah tangga dapat berkembang ketika bertemu dengan semak, rerumputan, ranting, maupun dedaunan kering yang mudah terbakar. Karena itu, masyarakat juga didorong untuk segera melaporkan aktivitas pembakaran yang berpotensi menimbulkan karhutla.
Pumpung Creative Space dan Konsep “Ruang yang Hidup”
Bagi masyarakat Pumpung, pencegahan karhutla kemudian dipandang melalui pendekatan yang lebih luas. Pumpung Creative Space tidak hanya dirancang sebagai tempat berkumpul, berkegiatan seni dan budaya, maupun pengembangan ekonomi kreatif, tetapi juga sebagai ruang publik yang terus dihidupkan oleh aktivitas masyarakat.
Ruang yang aktif mendorong masyarakat untuk lebih sering hadir, berinteraksi sekaligus memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya. Aktivitas tersebut secara tidak langsung menciptakan kontrol sosial dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan.
Semak, rumput kering, ranting, maupun tumpukan daun yang berpotensi menjadi bahan bakar api akan lebih mudah terlihat dan ditangani ketika suatu kawasan rutin digunakan, dibersihkan, dan dirawat masyarakat.
Karena itu, Pumpung Creative Space bukan pengganti sistem resmi penanggulangan karhutla, melainkan menjadi salah satu lapisan mitigasi paling dasar berbasis masyarakat melalui aktivitas, kepedulian, dan pengelolaan ruang secara rutin.
Ketua Komunitas Bubuhan Pumpung Kreatif, Amang Salim, menyambut positif kegiatan SERDIK SPPK tersebut.
“Kami menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat,” katanya.
Menurutnya, kesadaran tersebut penting dalam membangun rasa memiliki masyarakat terhadap ruang yang digunakan bersama. Semakin kuat rasa memiliki, semakin besar pula dorongan untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan keberlanjutan kawasan.
Kreativitas Membangun Rasa Memiliki
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, mengatakan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan pendekatan lintas sektor dan keterlibatan masyarakat.
Menurutnya, dari perspektif ekonomi kreatif, masyarakat tidak cukup hanya diberikan imbauan untuk menjaga lingkungan. Mereka perlu dilibatkan dalam menciptakan ruang yang membuat tumbuhnya rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
“Kebakaran hutan dan lahan adalah pekerjaan rumah bersama. Komunitas perlu mampu menciptakan rasa memiliki terhadap Pumpung Creative Space sebagai ruang publik yang dibangun bersama dan dirawat dengan kepedulian bersama. Dengan begitu, kita dapat ikut meminimalkan potensi kebakaran lahan di sekitar kawasan,” jelas Narwanto.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya berbicara mengenai karya dan produk bernilai ekonomi. Kreativitas juga dapat digunakan untuk mengubah perilaku, mengaktifkan ruang, membangun kepedulian, dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Saat ini, Pumpung Creative Space dikembangkan melalui berbagai aktivitas, mulai dari ruang berkumpul warga, kegiatan kreatif, gastronomi, seni dan budaya, hingga menjadi salah satu titik awal Rute Jelajah Intan Trisakti.
Dari sinilah muncul titik temu antara ekonomi kreatif dan mitigasi karhutla: ruang yang hidup lebih mudah diawasi, ruang yang diawasi lebih mudah dirawat, dan ruang yang dirawat memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari kondisi yang dapat mempercepat penyebaran api.
Menghidupkan ruang pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan aktivitas, tetapi juga membangun rasa memiliki. Dan ketika masyarakat merasa memiliki ruangnya, menjaga lingkungan di sekitarnya dapat tumbuh menjadi bagian dari kebiasaan bersama. (be)
Tidak ada komentar