BANJARBARUEMAS.COM – Sejarah penemuan Intan Trisakti di Pumpung, Kota Banjarbaru, mulai dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang tidak hanya mengandalkan cerita, tetapi juga mengajak pengunjung melihat langsung lanskap, lingkungan dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di kawasan tersebut.
Melalui Rute Jelajah Intan Trisakti, pengunjung diajak menyusuri sejumlah titik yang berkaitan dengan sejarah pendulangan intan sekaligus mengenal potensi budaya, lingkungan dan gastronomi Pumpung.

Rute tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah aset lokal menjadi pengalaman yang memiliki nilai edukasi, kebudayaan, sosial dan ekonomi. Gagasan tersebut berangkat dari pemikiran bahwa identitas sebuah kota dapat dibangun dengan mengenali dan menghidupkan kembali aset sejarah, budaya, lingkungan, spiritual, sumber daya manusia serta cerita yang tumbuh di masyarakat.
Berbeda dengan wisata sejarah yang hanya mengandalkan teks atau foto, Rute Jelajah Intan Trisakti dirancang agar sejarah dapat dialami langsung melalui lanskap dan ruang tempat sejarah tersebut berlangsung.
Wisatawan diajak berjalan menyusuri bentang alam bekas aktivitas pendulangan, mengenal peralatan dan tradisi pendulangan, mendengarkan cerita masyarakat serta melihat sumber pangan lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pumpung sebelum menuju lokasi yang dikaitkan dengan penemuan Intan Trisakti.

Perjalanan dimulai dari Pumpung Creative Space, yang menjadi titik awal sekaligus ruang untuk mengenal masyarakat dan aktivitas kreatif Pumpung. Di kawasan tersebut terdapat pohon Ramania, pohon kopi, balai pertemuan, amfiteater outdoor, galeri karya, dapur tradisional terbuka, warung tradisional, camping ground dan spot pancing.
Selanjutnya, pengunjung diarahkan menuju kawasan bekas atau lanskap pendulangan tradisional, termasuk bekas lubang pendulangan dan danau yang saat ini juga menjadi sumber pangan bagi masyarakat lokal.
Rute kemudian melewati sawah yang masih aktif ditanami padi lokal Banjar, batu-batu akik sisa pendulangan yang menjadi salah satu ciri khas Pumpung, serta deretan kayu ulin purba yang sebelumnya ditemukan pada kedalaman sekitar 20–30 meter oleh para pendulang intan.
Potensi gastronomi menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Di sepanjang rute terdapat sumber pangan lokal, termasuk tanaman supan-supan yang tumbuh di kawasan sekitar. Selain itu, pohon Jingah menjadi bagian dari lanskap budaya karena kayunya digunakan sebagai bahan salah satu peralatan pendulangan intan, yaitu linggangan.
Rute tersebut kemudian berakhir pada titik utama yang dikaitkan dengan lokasi penemuan Intan Trisakti.
Setiap titik dalam rute dilengkapi QR Code yang dapat dipindai pengunjung untuk membaca narasi dan informasi yang terhubung dengan website Cempaka Living Museum. Dengan pendekatan tersebut, informasi sejarah dan cerita lokal dapat diakses secara langsung ketika pengunjung berada di lokasi.
Konsep rute juga memperluas cara pandang terhadap sejarah Intan Trisakti. Peristiwa penemuan intan tidak hanya diposisikan sebagai sebuah peristiwa masa lalu, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami identitas masyarakat Pumpung.
Intan Trisakti dinilai menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat dan salah satu lapisan sejarah Kota Banjarbaru. Karena itu, peringatan 61 tahun penemuannya menjadi momentum untuk melihat kembali kehidupan masyarakat yang berada di balik sejarah tersebut.
Pengembangan rute juga melibatkan masyarakat. Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru menginisiasi pembentukan komunitas Bubuhan Pumpung Creative atau BPKraf sebagai bagian dari inisiatif awal. Para penambang dan masyarakat yang memiliki pengalaman langsung ditempatkan sebagai sumber pengetahuan dan cerita, sementara generasi muda didorong mengambil peran dalam dokumentasi, pemanduan, seni, konten digital, gastronomi, pengelolaan kegiatan hingga pengembangan produk kreatif.
Ke depan, Rute Jelajah Intan Trisakti akan dikembangkan melalui paket wisata edukasi untuk berbagai jenjang pelajar, paket gastronomi Pumpung, pelatihan pemandu lokal, dokumentasi sejarah dan cerita masyarakat, penguatan gastronomi serta kalender kegiatan kreatif yang rutin.
Kerja sama dengan institusi pendidikan dari PAUD hingga SMA/SMK juga diarahkan untuk membuka peluang outing class dan kegiatan kokurikuler. Pengembangan tersebut akan berjalan paralel dengan promosi serta persiapan Festival Pumpung.
Tujuan akhirnya bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan. Rute ini diharapkan membuat setiap pengunjung pulang membawa pemahaman mengenai Intan Trisakti, masyarakat pendulang, budaya Pumpung serta upaya sebuah kampung menjaga dan mengembangkan identitasnya untuk masa depan.
Tidak ada komentar