BANJARBARUEMAS.COM – Upaya mengembangkan Kampung Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, sebagai kawasan wisata sejarah, budaya dan ekonomi kreatif terus dilakukan. Salah satunya melalui Creative Talk bertajuk “Potensi Gastronomi di Rute Jelajah Intan Trisakti” yang digelar di Pumpung Creative Space, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peluncuran Rute Jelajah Intan Trisakti sekaligus peringatan 61 tahun penemuan Intan Trisakti. Creative Talk menghadirkan Korda ICCN Kalsel sekaligus Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, dan pengamat Gastronomi Banjarbaru, Nurachmi D. Iriani, dengan Harie Insani Putra sebagai moderator. Kegiatan diikuti mahasiswa, warga Pumpung, undangan serta sejumlah perangkat daerah Pemerintah Kota Banjarbaru.
Dalam diskusi, gastronomi diperkenalkan sebagai pendekatan untuk melihat Pumpung secara lebih luas. Selama ini Pumpung identik dengan sejarah pendulangan intan. Namun, di balik lanskap tersebut terdapat sumber pangan, pengetahuan lokal, tradisi, lingkungan dan cerita masyarakat yang berpotensi menjadi bagian dari identitas gastronomi Banjarbaru.

Narwanto menjelaskan, gastronomi tidak sebatas makanan dan cita rasa, tetapi merupakan hubungan antara manusia, makanan, alam, budaya, sejarah dan ekonomi.
“Selama ini ketika orang menyebut Pumpung, yang muncul dalam ingatan adalah intan dan pendulangan. Padahal Pumpung memiliki lebih banyak cerita. Ada masyarakat, lingkungan, pangan lokal dan pengetahuan yang hidup di dalamnya. Tugas kita adalah menggali dan menghubungkan semua aset itu menjadi identitas kota Banjarbaru yang bernilai,” ujarnya.

Menurut Narwanto, Rute Jelajah Intan Trisakti tidak harus berhenti pada cerita mengenai penemuan intan. Rute tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat Pumpung sekaligus mendukung arah pengembangan Banjarbaru sebagai kota kreatif.
“Intan Trisakti adalah bagian penting dari sejarah Pumpung. Tetapi kita ingin menunjukkan bahwa setelah 61 tahun, kita masih bisa menemukan ‘intan-intan’ lain yang selama ini mungkin belum kita lihat. Salah satunya adalah intan gastronomi,” katanya.
Sementara itu, Nurachmi D. Iriani mengatakan potensi gastronomi Pumpung dapat ditelusuri dari lanskap dan sumber pangan yang terdapat di kawasan tersebut. Danau, lahan, kebun, tanaman lokal hingga dapur masyarakat, menurutnya, merupakan bagian dari satu ekosistem gastronomi.
Ikan air tawar, misalnya, tidak hanya dapat dilihat sebagai bahan makanan. Dari ikan dapat ditelusuri habitat, teknik penangkapan, musim, cara pengolahan hingga pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
“Kita sering melihat danau hanya sebagai pemandangan. Tetapi bagi gastronomi, danau adalah dapur besar. Dari sana kita bisa membaca ikan apa yang hidup, bagaimana masyarakat mendapatkannya, bagaimana mengolahnya, sampai bagaimana ekosistem itu harus kita jaga,” jelasnya.

Pembahasan juga mengangkat beras lokal, buah ramania, supan-supan serta berbagai tanaman lokal dan pangan yang mulai terlupakan. Setiap bahan pangan dinilai memiliki cerita yang dapat ditelusuri, mulai dari asal, musim, cara budidaya dan pengolahan hingga memori rasa masyarakat.
Dari gagasan tersebut muncul konsep “Dapur Pumpung”, yakni penyajian makanan yang tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga cerita tentang asal bahan, lingkungan dan masyarakat yang menghasilkannya.
“Jadi orang tidak hanya makan makanan Pumpung, tetapi juga makan cerita kampung pendulangan intan Pumpung,” kata Nurachmi.
Konsep tersebut diarahkan untuk mengubah pola kunjungan dari sekadar datang, makan, membayar dan pulang menjadi pengalaman gastronomi yang lebih utuh. Pengunjung dapat melihat lingkungan, mengenal bahan pangan, bertemu masyarakat, belajar, mencicipi makanan, membeli produk dan membawa pulang cerita dari Pumpung.
Sejumlah langkah konkret turut ditawarkan, antara lain inventarisasi pangan Pumpung, penyusunan peta gastronomi, pembangunan Dapur Cerita Pumpung, pengembangan Pumpung Food Experience hingga Festival Gastronomi Pumpung.
Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung gagasan Cempaka Living Museum, dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Pengetahuan, pangan, resep, lingkungan dan cerita masyarakat tidak hanya menjadi objek yang dipamerkan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang diciptakan bersama masyarakat.
“Kita ingin masyarakat Pumpung menjadi pemilik cerita sekaligus penerima manfaat ekonominya. Kalau ada ikan, petani, kebun, makanan, resep, maupun cerita para orang tua, semuanya harus punya ruang dalam ekosistem ini. Anak muda juga harus dilibatkan agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada satu generasi,” ujar Narwanto.
Ke depan, potensi gastronomi tersebut akan dikembangkan agar terintegrasi dengan Rute Jelajah Intan Trisakti. Wisatawan tidak hanya mengenal sejarah pendulangan, tetapi juga menyusuri lanskap, mengenal sumber pangan, melihat aktivitas masyarakat dan menikmati hidangan yang memiliki keterkaitan dengan kawasan.
Dengan pendekatan tersebut, Pumpung mulai diarahkan memiliki identitas yang lebih luas. Tidak hanya dikenal sebagai kawasan sejarah pendulangan intan, tetapi juga sebagai kawasan yang menyimpan “intan gastronomi” berupa pangan lokal, pengetahuan, tradisi, lingkungan dan cerita masyarakat.
Tidak ada komentar