53 Perpustakaan di Liang Anggang Dipetakan, Bunda Literasi Dorong SAPA Literasi Masuk ke PKK hingga Sekolah

waktu baca 7 menit
Senin, 24 Agu 2026 13:31 85 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Sebuah perpustakaan bisa saja tercatat dalam data, memiliki ruangan, rak, dan koleksi buku.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pintunya masih terbuka, bukunya masih dibaca, dan masyarakat masih datang?

Pertanyaan itulah yang kini menjadi bagian dari pekerjaan Bunda Literasi di Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sebanyak 53 perpustakaan yang tersebar di wilayah Kecamatan Liang Anggang akan dilihat kembali kondisinya. Bunda Literasi dari empat kelurahan akan memetakan perpustakaan yang telah terdaftar untuk mengetahui apakah masih berjalan, masih dimanfaatkan masyarakat, serta apa yang diperlukan agar keberadaannya dapat dimaksimalkan.

Namun, gerakan tersebut tidak berhenti di perpustakaan.

Kampanye literasi juga akan dibawa ke ruang-ruang tempat warga beraktivitas, mulai dari PKK, Posyandu, Majelis Taklim hingga sekolah.

Gagasan itu mengemuka dalam Safari Literasi dengan agenda Diskusi Kegiatan SAPA Literasi (Sinergi Akses Perpustakaan dan Aktivitas Literasi) Wilayah Kecamatan Liang Anggang yang berlangsung di Aula Kecamatan Liang Anggang, Jumat (21/8/2026).

Pertemuan dihadiri Bunda Literasi dari Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Barat, Landasan Ulin Utara dan Landasan Ulin Tengah, bersama Duta Baca Banjarbaru.

Forum itu menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman mengenai tugas dan peran Bunda Literasi sekaligus menyusun langkah agar SAPA Literasi dapat berjalan berdasarkan kondisi nyata masyarakat.

53 Perpustakaan Jadi Modal Awal

Pengembangan SAPA Literasi di Liang Anggang tidak dimulai dari nol.

Sebanyak 53 perpustakaan yang tersebar di wilayah Kecamatan Liang Anggang menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan gerakan literasi.

Namun, keberadaan perpustakaan dalam data belum otomatis menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Karena itu, masing-masing Bunda Literasi akan melihat kembali perpustakaan yang berada di wilayah kelurahannya berdasarkan data dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Banjarbaru.

Yang akan dilihat bukan sekadar apakah perpustakaan tersebut masih tercatat, tetapi juga apakah masih berjalan, dimanfaatkan masyarakat, bagaimana kondisi koleksi dan fasilitasnya, serta apa yang diperlukan agar keberadaannya dapat kembali atau semakin dimaksimalkan.

Jika perpustakaan masih aktif, keberadaannya akan diperkuat melalui kegiatan literasi.

Sementara apabila ditemukan perpustakaan yang belum berjalan optimal, kondisi tersebut akan menjadi bahan pemetaan untuk menentukan bentuk dukungan yang diperlukan.

Dalam diskusi tersebut, pengembangan SAPA Literasi diarahkan untuk terlebih dahulu memetakan dan memaksimalkan potensi yang sudah tersedia sebelum menentukan titik kegiatan berikutnya.

Dengan demikian, 53 perpustakaan tersebut menjadi bagian dari peta awal untuk melihat kondisi literasi di Kecamatan Liang Anggang.

Bunda Literasi Jadi Penggerak

Camat Liang Anggang Lia Astuti mengatakan pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap peran Bunda Literasi dalam membangun budaya membaca di masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh peran Bunda Literasi di Kecamatan Liang Anggang. Kehadiran Bunda Literasi menjadi penggerak vital dalam membangun minat baca, mengedukasi keluarga, serta menciptakan lingkungan yang gemar belajar di tengah masyarakat Liang Anggang.”

Kehadiran Bunda Literasi di tingkat kelurahan dinilai penting karena mereka berada lebih dekat dengan masyarakat dan memahami karakter wilayah masing-masing.

Dalam materi SAPA Literasi Playbook yang menjadi bahan diskusi, Bunda Literasi kecamatan diarahkan menjadi simpul wilayah yang menghimpun rencana kegiatan kelurahan, menyelaraskan jadwal, menjembatani kebutuhan kelurahan dengan kecamatan dan Dinas Arsip dan Perpustakaan, serta mendorong kegiatan bersama lintas kelurahan.

Sementara Bunda Literasi kelurahan diarahkan lebih dekat dengan warga. Mereka diharapkan mampu menggerakkan masyarakat untuk membaca, menulis dan belajar, mengembangkan perpustakaan dan ruang sumber belajar, merangkul sekolah, guru, orang tua dan komunitas, serta menyebarluaskan informasi program literasi.

Membaca Peta Sebelum Membawa Buku

Pemetaan tidak hanya menyasar perpustakaan.
Masing-masing Bunda Literasi juga mulai menginventarisasi warga di wilayahnya dan mengupayakan kehadiran mereka dalam kegiatan literasi.

Kelompok masyarakat, komunitas, sekolah dan berbagai kegiatan warga akan menjadi bagian dari pemetaan.

Tujuannya untuk menemukan di mana masyarakat berkumpul dan ruang mana yang paling memungkinkan menjadi tempat kegiatan literasi.

Karena itu, SAPA Literasi tidak harus selalu berlangsung di perpustakaan.

Pertemuan PKK, Posyandu, Majelis Taklim dan sekolah akan dimaksimalkan sebagai ruang kampanye literasi.

Di PKK, misalnya, pesan membaca dapat dikaitkan dengan peran keluarga dalam membangun kebiasaan membaca anak.

Di Posyandu, orang tua dapat dikenalkan dengan bahan bacaan yang sesuai bagi anak.

Di Majelis Taklim, kampanye literasi dapat disisipkan dalam kegiatan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Sementara di sekolah, kegiatan membaca dapat dikembangkan sesuai kebutuhan peserta didik.

Dengan pola itu, literasi tidak menunggu masyarakat datang. Literasi yang datang menyapa masyarakat.

Buku Disesuaikan dengan Kondisi Warga

Kegiatan SAPA Literasi juga tidak akan dilakukan secara seragam di setiap lokasi.
Buku yang dibawa akan disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan kebutuhan di titik kegiatan.

Karena itu, Bunda Literasi perlu terlebih dahulu mengenali calon peserta, karakter masyarakat, kelompok usia serta kebutuhan bacaan.

Pendekatan tersebut membuat buku tidak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Buku diupayakan menemukan pembacanya.
Di satu wilayah mungkin bacaan anak lebih dibutuhkan. Di wilayah lain, bahan bacaan keluarga atau pengetahuan tertentu dapat menjadi pilihan.

Dengan demikian, kegiatan literasi memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Empat Kelurahan Bergerak Bersama

Gerakan literasi di Liang Anggang juga tidak akan berjalan sendiri-sendiri.

Bunda Literasi dari Landasan Ulin Selatan, Landasan Ulin Barat, Landasan Ulin Utara dan Landasan Ulin Tengah sepakat untuk saling mendukung.

Ketika kampanye literasi berlangsung di salah satu kelurahan, Bunda Literasi dari kelurahan lainnya bersama Duta Baca Banjarbaru diupayakan hadir.

Misalnya, ketika kegiatan berlangsung di Landasan Ulin Tengah, Bunda Literasi dari tiga kelurahan lainnya dapat ikut terlibat.

Pola yang sama akan diterapkan secara bergantian.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuat kegiatan literasi tidak menjadi program masing-masing kelurahan, tetapi menjadi gerakan bersama Kecamatan Liang Anggang.

Untuk memaksimalkan partisipasi masyarakat, kegiatan literasi juga diupayakan dilaksanakan setiap Sabtu.

Setelah Titik Ditemukan, Fasilitas Disiapkan

Setelah titik kegiatan ditemukan melalui proses pemetaan, pihak kelurahan maupun kecamatan akan bersurat kepada Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Banjarbaru untuk penyiapan fasilitas kegiatan.

Kebutuhan fasilitas akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi.

Dengan mekanisme tersebut, dukungan tidak diberikan berdasarkan perkiraan semata, tetapi berdasarkan hasil pemetaan di lapangan.

Alurnya menjadi lebih terarah: memetakan perpustakaan dan warga, menentukan titik, menyesuaikan bahan bacaan, menyiapkan fasilitas, melaksanakan kegiatan, kemudian menjaga keberlanjutan peserta.

Kampung Mbaroh Jadi Titik Awal

Sebagai langkah awal, disepakati rencana Launching Gerakan SAPA Literasi Wilayah Liang Anggang.

Launching tersebut direncanakan berlangsung di Kampung Mbaroh, Kelurahan Landasan Ulin Utara, pada minggu ketiga September 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum awal untuk memperkenalkan SAPA Literasi kepada masyarakat sekaligus menerapkan pola kerja bersama empat Bunda Literasi dan Duta Baca.

Dari Kampung Mbaroh, gerakan diharapkan berkembang secara bertahap ke kelurahan lainnya berdasarkan hasil pemetaan dan kebutuhan masyarakat.

Publikasi Jadi Bagian dari Kampanye

Setiap kegiatan kampanye literasi di masing-masing kelurahan juga akan dipublikasikan melalui kanal informasi yang dimiliki kelurahan.

Media sosial dan kanal informasi kelurahan akan digunakan untuk menyampaikan informasi serta dokumentasi kegiatan.

Informasi kegiatan juga akan disampaikan kepada media massa untuk memperluas jangkauan kampanye kepada masyarakat.

Dengan demikian, publikasi bukan hanya menjadi dokumentasi.

Publikasi menjadi bagian dari gerakan.

Masyarakat yang tidak hadir secara langsung tetap dapat mengetahui kegiatan yang berlangsung. Kelurahan lain dapat melihat praktik yang dilakukan. Warga yang sebelumnya belum terlibat pun dapat terdorong mengikuti kegiatan berikutnya.

Kemah Literasi Jadi “Gong” Gerakan

Rangkaian SAPA Literasi di Liang Anggang juga diarahkan memiliki agenda besar sebagai “gong” kegiatan, yakni Kemah Literasi.

Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai unsur penggerak literasi sekaligus menunjukkan perkembangan kegiatan yang telah dilakukan di tingkat kelurahan.

Namun, sebelum sampai pada agenda besar itu, gerakan dimulai dari hal-hal sederhana.

Memeriksa perpustakaan.

Mengenali warga.

Mencari titik kegiatan.

Membawa buku yang sesuai.

Mengajak masyarakat membaca.

Kemudian kembali lagi setelah kegiatan selesai.

Di situlah keberlanjutan gerakan diuji.

Dari Perpustakaan ke Ruang Warga

Safari Literasi di Aula Kecamatan Liang Anggang pada Jumat (21/8/2026) menyatukan langkah empat Bunda Literasi untuk membaca kembali kondisi literasi di wilayah mereka.

Ada 53 perpustakaan yang tersebar di Kecamatan Liang Anggang yang perlu dilihat kembali keberlangsungannya.

Ada perpustakaan yang masih dapat dimaksimalkan. Ada warga yang perlu diinventarisasi. Ada kegiatan PKK, Posyandu, Majelis Taklim dan sekolah yang dapat menjadi pintu masuk kampanye.

Ada empat Bunda Literasi yang sepakat bergerak bersama. Ada Duta Baca yang akan ikut hadir. Dan ada Kampung Mbaroh yang disiapkan menjadi titik awal SAPA Literasi pada September.

Semua itu berangkat dari satu pendekatan: memetakan lebih dulu apa yang sudah ada, kemudian memaksimalkannya sesuai kebutuhan masyarakat.

Keberadaan perpustakaan dan buku perlu diikuti dengan upaya untuk memastikan keduanya benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Orang tua dapat membiasakan anak membaca, sekolah terus mendorong minat baca, dan masyarakat diberi ruang untuk mengakses bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Karena itu, SAPA Literasi tidak hanya berfokus pada membawa buku kepada masyarakat. Gerakan ini diharapkan bisa mendekatkan kegiatan literasi dengan kehidupan sehari-hari warga, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun berbagai kegiatan masyarakat. Dengan begitu, membaca diharapkan menjadi kebiasaan yang terus tumbuh dan dilakukan secara berkelanjutan. (be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA