BANJARBARUEMAS.COM — Komitmen Kota Banjarbaru membangun budaya literasi memasuki babak baru. Setelah Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kota Banjarbaru pada 2 Oktober 2025, gerakan memperkuat budaya baca kini diwujudkan melalui SAPA LITERASI, inovasi yang mendorong perpustakaan bergerak mendekati masyarakat.
SAPA LITERASI merupakan akronim dari Sinergi Akses Perpustakaan dan Aktivitas Literasi. Gerakan ini dicanangkan pada 19 Agustus 2026 dengan semangat “Menyapa, Mendekat, Mencerdaskan”.
Layanan tersebut dirancang hadir lebih dekat dengan masyarakat, mulai dari sekolah, kelurahan, posyandu, majelis taklim hingga ruang-ruang komunitas. Perpustakaan tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat yang menunggu pengunjung, tetapi sebagai layanan pengetahuan yang aktif mendatangi masyarakat.
Lebih dari sekadar perpustakaan keliling, SAPA LITERASI dirancang sebagai siklus layanan yang terpadu, berkelanjutan, terukur dan berbasis data. Dengan pola ini, kegiatan literasi tidak berhenti ketika sebuah acara selesai, tetapi dilanjutkan dengan keanggotaan perpustakaan, peminjaman koleksi, penguatan komunitas hingga evaluasi.
Dari Komitmen Menjadi Gerakan
Pengukuhan Hj. Erna Lisa Halaby sebagai Bunda Literasi pada 2025 menjadi salah satu pijakan dalam penguatan budaya membaca di Banjarbaru.
Pengukuhan tersebut berlangsung bersamaan dengan pembukaan kegiatan Penguatan Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi di Kota Banjarbaru di Aula Gawi Sabarataan, Kamis (2/10/2025).
Saat itu, komitmen yang dibangun adalah menjadikan literasi sebagai budaya yang hidup dan tumbuh dalam keseharian masyarakat.
Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membaca 15 menit setiap hari, membacakan cerita kepada anak sebelum tidur serta membangun kebiasaan berdiskusi secara kritis dalam keluarga.
Komitmen itu kemudian memperoleh bentuk yang lebih sistematis melalui SAPA LITERASI.
Jika sebelumnya masyarakat diharapkan datang memanfaatkan fasilitas perpustakaan, kini layanan didorong untuk lebih dahulu mendatangi masyarakat.
Perubahan pola tersebut sekaligus menjawab tantangan bagaimana menghubungkan fasilitas, koleksi dan layanan perpustakaan dengan masyarakat yang belum sepenuhnya memanfaatkannya.
Semangatnya dirangkum dalam tiga kata: menyapa, mendekat, mencerdaskan.
Memanfaatkan 202 Perpustakaan Binaan
Banjarbaru memiliki modal penting untuk membangun ekosistem literasi. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru membina 202 perpustakaan yang tersebar di sekolah, kelurahan, kecamatan, tempat ibadah dan taman bacaan masyarakat.
Tantangannya bukan hanya menyediakan fasilitas dan koleksi, tetapi memastikan keberadaan perpustakaan benar-benar terhubung dengan kebutuhan warga.
SAPA LITERASI menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan jemput bola.
Masyarakat yang belum datang ke perpustakaan dijangkau melalui layanan bergerak. Anak-anak diperkenalkan dengan buku di ruang yang dekat dengan keseharian mereka. Kelurahan yang belum memiliki ruang baca mendapat pendampingan, sementara komunitas lokal didorong menjadi bagian dari keberlanjutan gerakan.
Berawal dari Aksi Perubahan
SAPA LITERASI berawal dari Rancangan Aksi Perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan II Tahun 2026.
Pelatihan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kota Banjarbaru.
Peserta diarahkan menyusun aksi perubahan berdasarkan persoalan nyata di unit kerja yang dapat diterapkan sekaligus diukur hasilnya.
Dari proses tersebut lahir rancangan
“Peningkatan Program Promosi, Pengembangan Budaya Baca, Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan melalui SAPA LITERASI pada Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru.”
Gagasan itu kemudian dikembangkan menjadi gerakan bersama tingkat kota dengan melibatkan Bunda Literasi, Duta Baca dan jaringan pentahelix.
Penggagas sekaligus reformer SAPA LITERASI adalah Nina Aprodita, Kepala Bidang Promosi, Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru.
Delapan Tahapan yang Saling Terhubung
SAPA LITERASI tidak berhenti pada kegiatan perpustakaan keliling. Setiap aktivitas dirancang menjadi bagian dari siklus yang berkelanjutan.
Tahap pertama adalah pemetaan kebutuhan, untuk mengenali sasaran, lokasi dan kebutuhan bacaan masyarakat.
Berikutnya perencanaan kolaboratif, dengan melibatkan kelurahan, sekolah dan komunitas.
Tahap ketiga adalah aktivasi layanan, yakni menghadirkan armada, koleksi dan fasilitator ke lokasi sasaran.
Setelah kegiatan, peserta diarahkan pada registrasi dan tindak lanjut, termasuk menjadi anggota perpustakaan dan memanfaatkan koleksi.
Selanjutnya dilakukan penguatan komunitas, agar penggerak lokal dapat meneruskan kegiatan.
Seluruh proses kemudian dipantau melalui dashboard, dievaluasi dan dilanjutkan dengan perbaikan berkelanjutan.
Dengan mekanisme tersebut, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan atau peserta. Lebih jauh, program melihat apakah warga menjadi anggota baru, apakah buku dipinjam, apakah peserta kembali dan apakah komunitas mampu melanjutkan kegiatan.
Lima Layanan Gratis untuk Masyarakat
SAPA LITERASI menyediakan lima paket layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pertama, Perpustakaan Keliling, berupa layanan armada dan koleksi yang dibawa langsung ke lokasi warga.
Kedua, Read Aloud Show, kegiatan membaca nyaring dengan pendongeng, properti dan buku bergambar yang terutama menyasar anak-anak PAUD hingga SD.
Ketiga, Sosialisasi Budaya Baca atau Sosibuba, yang memberikan pemahaman mengenai pentingnya membaca, pemilihan bacaan dan peran keluarga dalam membangun kebiasaan membaca.
Keempat, Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan, bagi pengelola perpustakaan sekolah, kelurahan dan taman bacaan masyarakat.
Kelima, Pendampingan Pembentukan Perpustakaan Kelurahan, mulai dari penentuan ruang, penyiapan koleksi awal, tata kelola hingga pengembangan menuju Standar Nasional Perpustakaan.
Seluruh layanan tersebut diberikan secara gratis. Pihak yang mengajukan cukup menyiapkan lokasi, peserta dan waktu pelaksanaan.
Bunda Literasi dan Duta Baca sebagai Penggerak
SAPA LITERASI dirancang memiliki penggerak dari tingkat kota hingga kelurahan.
Di tingkat kota terdapat Bunda Literasi Kota yang berperan memberikan legitimasi, membuka ruang kebijakan dan anggaran serta memastikan literasi masuk dalam arah pembangunan daerah.
Struktur tersebut diperkuat lima Bunda Literasi Kecamatan dan 20 Bunda Literasi Kelurahan.
Bunda Literasi Kecamatan berperan menyelaraskan rencana antarkelurahan, menghimpun kebutuhan wilayah serta menjembatani koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah.
Sementara Bunda Literasi Kelurahan menjadi ujung tombak di lingkungan masyarakat.
Mereka didorong menggerakkan warga, menumbuhkan ruang baca, merangkul sekolah dan komunitas serta menjaga keberlanjutan kegiatan.
Di sisi lain, Duta Baca Kota Banjarbaru menjadi wajah muda gerakan dengan membawa pesan literasi ke sekolah, komunitas dan media sosial.
Lima Unsur Pentahelix Dilibatkan
Gerakan literasi juga tidak diposisikan sebagai urusan pemerintah semata.
SAPA LITERASI menggunakan pendekatan pentahelix dengan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas dan media.
Pemerintah menyediakan ruang, jadwal dan legitimasi. Akademisi dapat menghadirkan guru, dosen, mahasiswa dan pustakawan sebagai fasilitator.
Dunia usaha dapat mendukung melalui CSR, koleksi, rak, transportasi maupun kegiatan. Komunitas menjadi penggerak di lapangan, sedangkan media membantu memperluas jangkauan informasi.
Hingga akhir 2027, setiap jaringan pentahelix ditargetkan memiliki empat sampai lima subjaringan aktif.
Target Literasi hingga 2027
SAPA LITERASI dibangun dengan target yang terukur.
Tingkat Kegemaran Membaca ditargetkan meningkat dari 54,92 persen pada 2025 menjadi 70 persen pada akhir 2027.
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat ditargetkan naik dari 18,49 persen menjadi 29,24 persen.
Sementara kunjungan pemustaka diarahkan meningkat dari 42,04 persen menjadi 50 persen.
Pelaksanaan kegiatan juga akan memantau jumlah kegiatan, peserta berdasarkan kelompok usia, anggota perpustakaan baru, koleksi yang dipinjam, peserta yang kembali serta jumlah mitra dan komunitas literasi aktif.
Dengan demikian, keberhasilan SAPA LITERASI tidak hanya dilihat dari seberapa banyak kegiatan digelar, tetapi dari perubahan perilaku dan keberlanjutan yang dihasilkan.
Dashboard untuk Memantau Perkembangan
Untuk mendukung pengukuran tersebut, SAPA LITERASI menyiapkan Dashboard SAPA sebagai instrumen monitoring digital.
Data kegiatan dihimpun secara berkala untuk melihat perkembangan setiap titik layanan.
Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan kunjungan lebih sering, kebutuhan pelatihan pengelola maupun penambahan koleksi.
Dengan demikian, data menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan program.
60 Hari Pertama Menjadi Fondasi
SAPA LITERASI memiliki milestone 60 hari sebagai tahap awal.
Fokusnya mencakup pembentukan Tim Efektif, penerbitan keputusan kepala dinas, koordinasi dengan pemangku kepentingan, penyusunan pedoman dan instrumen monitoring, penyusunan dokumen program, sosialisasi kepada jaringan pentahelix, pelaksanaan piloting pada perpustakaan binaan terpilih serta pengembangan media publikasi dan monitoring digital.
Dalam jangka enam bulan hingga satu tahun, gerakan diarahkan untuk diperluas ke lebih banyak perpustakaan binaan, memperkuat kemitraan pentahelix, mengembangkan monitoring digital dan memperkuat peran
Bunda Literasi Kelurahan.
Dalam jangka panjang, SAPA LITERASI diarahkan menjadi program unggulan pembangunan literasi Kota Banjarbaru, sekaligus mendorong perpustakaan menuju Standar Nasional Perpustakaan dan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Ketika Perpustakaan Tidak Lagi Menunggu
Pencanangan SAPA LITERASI bukanlah garis akhir. Justru setelah pekerjaan yang lebih penting dimulai.
Mobil perpustakaan yang datang ke kelurahan harus meninggalkan jejak berupa anggota baru dan kebiasaan membaca. Kegiatan membaca nyaring harus menumbuhkan ketertarikan anak terhadap buku. Ruang baca yang dibentuk harus tetap hidup setelah kegiatan selesai.
Karena itu, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam desain SAPA LITERASI.
Gerakan harus melekat pada sistem, didukung data dan memiliki kader penggerak. Program juga tidak boleh bergantung pada satu atau dua orang. Regulasi, perencanaan, penganggaran dan kaderisasi disiapkan agar gerakan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian personel.
Pada titik ini, SAPA LITERASI mencoba mengubah cara pandang terhadap perpustakaan.
Perpustakaan bukan sekadar bangunan dengan rak buku, melainkan layanan pengetahuan yang bergerak mendekati masyarakat.
Gerakan tersebut pun bukan sekadar program satu dinas, tetapi kesepakatan bersama untuk mendekatkan buku kepada warga.
Bunda Literasi Kecamatan dan Kelurahan didorong memilih titik baca pertama. Duta Baca membawa gerakan ke sekolah dan media sosial. Sekolah, komunitas dan dunia usaha diajak membuka ruang kolaborasi.
Masyarakat pun didorong memulai dari kebiasaan sederhana: membaca 15 menit setiap hari bersama keluarga.
Dari pengukuhan Bunda Literasi pada 2025 hingga pencanangan SAPA LITERASI pada 2026, Banjarbaru sedang membangun satu garis kebijakan: menjadikan literasi sebagai kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Ukuran keberhasilannya kelak diukur dari seberapa jauh buku benar-benar hadir dalam keseharian warga.
Ketika anak memilih membuka buku, orang tua membaca bersama anak, ruang baca tumbuh di lingkungan, komunitas terus bergerak dan perpustakaan hadir lebih dekat dengan masyarakat, saat itulah literasi mulai berubah dari program menjadi budaya.
Di Banjarbaru, perpustakaan kini tidak hanya menunggu pintunya diketuk. Ia bergerak keluar, menyapa warga, mendekatkan buku dan menjemput budaya membaca.(be)
SAPA LITERASI – Menyapa, Mendekat, Mencerdaskan
104
Tidak ada komentar