Bank Sampah DERAPHA: Dari Guntung Manggis, Warga Landasan Ulin Ubah Sampah Jadi ‘Emas’
waktu baca 3 menit
Selasa, 14 Apr 2026 10:02 292 Banjarbaru Emas 2
Foto : Direktur Bank Sampah DERAPHA, Agustin Eka Widya Yanti, menunjukkan inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi melalui kerja sama dengan PT Pegadaian, mengonversi tabungan sampah warga menjadi nilai investasi “emas”.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM – Di Guntung Manggis Kecamatan Landasan Ulin, geliat perubahan itu tumbuh dari rumah-rumah warga. Persoalan sampah yang selama ini menumpuk di hilir, kini pelan-pelan diselesaikan dari hulunya. Melalui Bank Sampah Induk Landasan Ulin DERAPHA, warga di Kelurahan Guntung Manggis membangun sistem pengelolaan sampah berbasis partisipasi, ekonomi, dan kesadaran lingkungan.
Bank sampah yang bermarkas di Komplek Wengga Trikora Tahap IV ini bukan sekadar tempat menabung sampah. Agustin Eka Widya Yanti selaku pengelola, mengajak warga memahami bahwa sampah memiliki nilai, bahkan bisa menjadi “emas” jika dikelola dengan benar. Program bertajuk “Memilah Sampah Menjadi Emas” menjadi pintu masuk perubahan perilaku masyarakat.
“Selama ini orang melihat sampah sebagai beban. Padahal kalau dipilah sejak dari rumah, sampah itu punya nilai ekonomi. Kami ingin mengubah cara pandang itu,” ujar Agustin Eka Widya Yanti, Direktur Bank Sampah Induk DERAPHA.
Konsep yang diterapkan sederhana namun berdampak. Setiap warga menjadi nasabah. Sampah yang sudah dipilah, baik organik, anorganik, maupun bernilai tinggi, ditimbang dan dicatat layaknya transaksi perbankan. Nilainya kemudian dikonversi menjadi saldo yang bisa dicairkan, ditukar kebutuhan pokok, atau bahkan ditabung dalam skema “emas” melalui kemitraan dengan lembaga keuangan.
Sampah organik seperti sisa makanan dan daun diolah menjadi kompos. Sementara plastik, botol, kertas, dan kardus dijual kembali. Adapun sampah bernilai tinggi seperti logam, kaleng, hingga minyak jelantah memberikan nilai tambah lebih besar bagi warga.
Upaya ini diperkuat dengan kegiatan rutin yang terstruktur. Setiap akhir pekan, dilakukan penimbangan dan pengangkutan sampah. Edukasi kepada warga melalui PKK, Posyandu, dan Bina Keluarga Balita digelar setiap bulan. Pelatihan daur ulang hingga aksi bersih lingkungan juga menjadi bagian dari gerakan kolektif ini.
Menurut Agustin, kunci keberhasilan program ini terletak pada konsistensi dan keterlibatan semua lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, remaja, hingga kader lingkungan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Ini gerakan bersama. Ketika warga sadar dan mau terlibat, maka pengurangan sampah itu nyata terjadi,” katanya.
Inovasi juga terus dikembangkan. Salah satunya melalui program tabungan emas dari sampah, pemberian reward bagi nasabah aktif, hingga kemitraan dengan Dinas Lingkungan Hidup dan sektor swasta seperti PT Pegadaian serta para pengepul.
Dampaknya mulai terasa. Volume sampah rumah tangga berangsur menurun, partisipasi warga meningkat, dan lingkungan menjadi lebih bersih serta sehat. Lebih dari itu, warga kini merasakan manfaat ekonomi langsung dari kebiasaan memilah sampah.
Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan, langkah warga Landasan Ulin ini menjadi contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana, dari rumah sendiri. Seperti slogan yang mereka gaungkan: “Pilah Sampah Hari Ini, Jadi Emas di Masa Depan.”
“Harapan kami sederhana, gerakan ini terus tumbuh dan bisa ditiru wilayah lain. Karena menyelesaikan sampah itu bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama,” tutup Agustin.(be)
Tidak ada komentar