BANJARBARUEMAS.COM – Dalam beberapa pekan ke depan, puluhan anak di Kelurahan Guntung Payung akan memulai babak baru dalam hidupnya. Mengenakan seragam sekolah untuk pertama kali, mereka akan memasuki ruang kelas, bertemu guru dan teman-teman baru, sekaligus belajar mengenal dunia di luar lingkungan keluarga. Bagi sebagian anak, pengalaman itu menjadi momen yang menyenangkan. Namun, bagi sebagian lainnya, perpisahan dengan orang tua dan proses beradaptasi dengan lingkungan baru kerap memunculkan rasa cemas dan takut.
Di balik tas sekolah, buku tulis, dan seragam yang telah dipersiapkan, terdapat bekal lain yang jauh lebih penting, yakni pola pengasuhan orang tua. Cara orang tua mendengar, berbicara, menghargai perasaan, hingga menyikapi perilaku anak menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan diri dan kesiapan mental mereka menghadapi dunia sekolah.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Penggerak (TP) PKK Kelurahan Guntung Payung melalui Pokja II, dengan dukungan PT PAMA Persada, menggelar kegiatan Parenting Tanpa Label bertema “Memahami dan Mendukung Karakter Unik Anak agar Anak Ceria dan Bersemangat Bersekolah Menuju Generasi Emas”, di Aula Kelurahan Guntung Payung, Senin (6/7/2026).
Kegiatan ini diikuti 45 orang tua calon peserta didik dari tiga taman kanak-kanak di wilayah Kelurahan Guntung Payung, yakni TK Budi Mulia, TK Kemala Bhayangkari, dan TK Nur Rahimah. Mereka mendapatkan pembekalan langsung dari psikolog Nindy Narazhaki Armenia mengenai pentingnya membangun pola asuh positif tanpa memberikan label kepada anak.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Kelurahan Guntung Payung, Ketua TP PKK Kecamatan Landasan Ulin, para kepala sekolah dari ketiga TK, perwakilan PT PAMA Persada, Bunda PAUD Kelurahan Guntung Payung, serta Bunda Literasi Kelurahan Guntung Payung.
Lurah Guntung Payung Lina Mardiati mengatakan, kegiatan parenting tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan kapasitas orang tua sebagai pendidik pertama bagi anak.
Menurutnya, menjelang memasuki sekolah merupakan fase penting dalam tumbuh kembang anak. Pada masa itu, anak mulai belajar mandiri, berpisah dari orang tua, mengenal lingkungan baru, mengikuti aturan, hingga membangun hubungan sosial dengan guru dan teman sebaya.
“Kegiatan parenting ini sangat bermanfaat, khususnya bagi para orang tua muda yang anaknya akan segera memasuki dunia sekolah. Masa ini menjadi tantangan tersendiri karena sebelumnya anak lebih banyak bersama orang tua di rumah. Ketika mulai bersekolah, mereka harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat,” ujar Lina.
Ia menjelaskan, banyak orang tua yang lebih fokus mempersiapkan kebutuhan fisik anak, seperti seragam, perlengkapan sekolah, maupun kemampuan membaca dan berhitung. Padahal, kesiapan mental dan emosional tidak kalah penting agar anak mampu menikmati proses belajar tanpa rasa takut.
Menurut Lina, keluarga merupakan tempat pertama anak belajar mengenal dirinya. Oleh karena itu, setiap perkataan dan perlakuan orang tua akan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri.
“Anak-anak yang mendapatkan pengasuhan positif sejak di rumah akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, berani mencoba hal-hal baru, mampu menyelesaikan masalah sederhana sesuai usianya, serta tidak mudah takut ketika berada di lingkungan sekolah. Harapan kami, mereka tumbuh menjadi anak-anak yang ceria, bersemangat belajar, dan kelak menjadi Generasi Emas Indonesia,” katanya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh para peserta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga rumah benar-benar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak.
Sementara itu, psikolog Nindy Narazhaki Armenia menjelaskan bahwa konsep Parenting Tanpa Label mengajak orang tua untuk melihat setiap anak sebagai pribadi yang unik dengan karakter, kemampuan, dan proses tumbuh kembang yang berbeda.
Menurutnya, salah satu kekeliruan yang masih sering terjadi dalam pola pengasuhan adalah kebiasaan memberikan label kepada anak, baik dalam bentuk cap negatif maupun label yang dianggap positif.
Label seperti “anak nakal”, “pemalas”, “bandel”, “cengeng”, atau “pemalu”, kata Nindy, dapat tertanam dalam memori anak dan perlahan membentuk identitas yang mereka yakini tentang dirinya sendiri. Sebaliknya, label seperti “anak paling pintar” atau “anak paling hebat” juga berpotensi menjadi tekanan psikologis karena membuat anak merasa harus selalu sempurna dan takut melakukan kesalahan.
“Yang harus dikoreksi adalah perilakunya, bukan identitas anak. Ketika anak melakukan kesalahan, jangan mengatakan ‘kamu anak nakal’, tetapi jelaskan bahwa perilaku memukul, berbohong, atau membuang barang sembarangan itulah yang tidak benar. Dengan cara itu anak belajar memperbaiki tindakannya tanpa kehilangan rasa percaya diri,” jelas Nindy.
Ia mencontohkan, ketika anak terlihat enggan berinteraksi dengan orang baru, orang tua tidak perlu buru-buru menyebutnya sebagai anak pemalu.
Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan, ‘Kamu sedang merasa belum nyaman bertemu orang baru, ya?’ Kalimat tersebut membantu anak mengenali emosinya tanpa merasa dihakimi.
Selain menghindari pelabelan, Nindy juga mengajak para orang tua membangun komunikasi yang hangat melalui kebiasaan mendengarkan cerita anak, memvalidasi perasaannya, serta memberikan arahan tanpa menyalahkan ataupun menghakimi.
“Setiap anak memiliki karakter yang unik. Tugas orang tua bukan membentuk anak menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi mendampingi mereka agar potensi terbaiknya berkembang. Ketika anak merasa diterima, didengar, dan dicintai tanpa syarat, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, dan lebih siap menghadapi dunia sekolah maupun kehidupan di masa depan,” tutup Nindy.
Kegiatan Parenting Tanpa Label menjadi bukti bahwa membangun generasi unggul tidak hanya dilakukan melalui pendidikan di sekolah, tetapi dimulai dari keluarga. Kolaborasi antara TP PKK Kelurahan Guntung Payung dan PT PAMA Persada diharapkan mampu memperkuat kesadaran para orang tua bahwa kata-kata yang diucapkan setiap hari memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.
Sebab, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, komunikasi yang sehat, serta penghargaan terhadap setiap proses belajar akan lebih siap melangkah memasuki dunia sekolah. Dari rumah yang hangat dan keluarga yang kuat itulah, benih-benih Generasi Emas Indonesia mulai ditanam.(be)
210
Tidak ada komentar