Sedekah dari Botol: Cara Sederhana Siswa SDN 4 Syamsudin Noor Menjaga Bumi dan Menguatkan Empati
waktu baca 3 menit
Jumat, 24 Apr 2026 05:33 167 Banjarbaru Emas 2
Foto : Perwakilan Komite Sekolah, Istikomawati, menyerahkan secara simbolis bantuan beras hasil program MARKISSA kepada siswa yang membutuhkan di SDN 4 Syamsudin Noor, Jumat (24/04/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM— Sebuah pemandangan berbeda terlihat setiap Jumat di SDN 4 Syamsudin Noor. Anak-anak datang ke sekolah bukan hanya membawa buku pelajaran, tetapi juga dua atau tiga botol plastik bekas dari rumah. Di tangan mereka, benda yang kerap dianggap sampah itu berubah makna menjadi bagian dari gerakan kecil yang berdampak besar.
Melalui program MARKISSA (Mari Kita Sedekah Sampah), kebiasaan sederhana menabung botol plastik kini menjelma menjadi bantuan beras bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Program ini tidak hanya mengajarkan kepedulian lingkungan, tetapi juga menumbuhkan empati sosial sejak dini.
Penyerahan hasil program dilakukan secara simbolis, Jumat (24/04/2026), oleh perwakilan Komite Sekolah, Istikomawati, kepada pihak sekolah yang diwakili tenaga pendidik, Nurmahmudah. Momen itu menjadi penanda bahwa setiap botol yang dikumpulkan memiliki nilai lebih dari sekadar limbah ia menjadi jembatan kepedulian.
Gerakan ini digagas oleh Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor Banjarbaru, Yoni Setiawan, yang sejak awal melihat potensi besar jika edukasi pengelolaan sampah digabungkan dengan nilai sosial. Setiap pekan, siswa menyetorkan botol plastik ke fasilitas Ecobox, bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Pertamina. Botol-botol itu kemudian dipilah, ditimbang, dan dikelola melalui bank sampah untuk dijual kembali.
Hasilnya tidak berhenti di angka rupiah. Uang dari penjualan botol dikonversi menjadi bahan pokok berupa beras, lalu disalurkan secara berkala kepada siswa yang membutuhkan, termasuk yatim piatu. Mekanisme ini dijalankan secara bergiliran agar manfaatnya merata dan tepat sasaran.
Istikomawati menilai, kekuatan program ini terletak pada nilai pendidikan yang ditanamkan. Anak-anak tidak hanya diajak membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat memberi manfaat bagi orang lain.
“Melalui program MARKISSA, kita tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menanamkan karakter empati dan gemar bersedekah sejak dini. Sedekah tidak melulu harus berupa uang; botol bekas pun jika dikelola bersama bisa menjadi beras yang sangat berarti bagi teman-teman mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Pihak sekolah menyambut baik kolaborasi ini. Nurmahmudah menyebut sinergi antara Komite Sekolah, masyarakat RT 33, dan dukungan fasilitas dari Pertamina sebagai bentuk nyata pendidikan berbasis praktik.
Menurutnya, pembelajaran tidak lagi berhenti di ruang kelas. Anak-anak kini belajar langsung memilah sampah, memahami proses daur ulang, hingga melihat hasil konkret dari aksi mereka.
“Sedekah sampah ini bukan sekadar pengumpulan plastik. Ini pembelajaran tentang kepedulian. Hasil penjualannya kami belikan sembako, lalu diberikan kepada siswa yang membutuhkan. Secara tidak langsung, anak-anak belajar untuk beramal,” katanya.
Bagi Yoni Setiawan, kebiasaan sederhana itu adalah indikator keberhasilan yang sesungguhnya. Dalam satu tahun terakhir, perubahan kecil mulai terlihat. Ada siswa yang dengan spontan memungut botol plastik yang tercecer untuk dimasukkan ke kotak sedekah.
Ia meyakini, sekolah adalah ruang paling strategis untuk menanamkan kesadaran lingkungan. Apa yang dipelajari hari ini akan membentuk cara pandang anak-anak terhadap sampah di masa depan.
“Kalau sejak kecil mereka sudah terbiasa memilah dan melihat bahwa sampah bisa menjadi sedekah, maka ketika dewasa mereka tidak lagi memandang sampah sebagai masalah semata,” ujar Yoni.
Ia bahkan menegaskan, program ini bisa menjadi gerakan bersama yang lebih luas. Tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
“Ini program luar biasa. Untuk membantu sesama tidak harus dengan uang. Satu botol plastik saja bisa bermanfaat. Tanpa disadari, kita juga ikut membantu mengurangi sampah yang sulit terurai,” tambahnya.
Dari botol mineral yang dulu kerap berakhir di selokan, di sudut jalan, atau terinjak di tanah, kini lahir butiran beras yang sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Sebuah perubahan yang mungkin tampak kecil, tetapi menyimpan makna besar tentang gotong royong, kepedulian, dan harapan.
“Dari satu botol, kita belajar berbagi. Dari satu kebiasaan kecil, kita bisa menguatkan sesama,” pungkas Yoni.(be)
Tidak ada komentar