Pesan Wali Kota Lisa Dijawab Zulhulaifah: Palam Ubah Sampah Jadi Sedekah dan Usaha

waktu baca 3 menit
Jumat, 17 Apr 2026 02:19 191 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pesan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby agar persoalan sampah diselesaikan dari hulu kian terasa gaungnya di tingkat kecamatan dan kelurahan.
Di Banjarbaru, arahan itu menjelma menjadi gerakan nyata. Camat dan lurah di berbagai wilayah berlomba menghadirkan inovasi, memastikan pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya: rumah tangga.

Di Kecamatan Cempaka, semangat itu terasa kuat. Tepatnya di Kelurahan Palam, Senin (14/4/2026), pertemuan rutin bulanan TP PKK menjadi ruang edukasi dan aksi. Mengusung sosialisasi “Masyarakat Cerdas Pilah Sampah Menjadi Nilai Ekonomis”, para kader PKK, pengurus RT dan RW, kader posyandu, hingga ibu-ibu rumah tangga berkumpul dengan membawa sampah terpilah dari rumah masing-masing.

Di sudut ruangan, karung-karung berisi plastik, kertas, dan botol tersusun rapi. Satu per satu ditimbang. Angka-angka dicatat. Penimbangan sampah yang sudah terpilah menjadi penanda perubahan perilaku. Sampah tak lagi dipandang sebagai sisa tak berguna, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dikelola.

Di tengah pertemuan itu, Ketua PKK Kelurahan Palam, Wahyu Hidayat, memperkenalkan inovasi bertajuk “Semijelata” (Sedekah Minyak Jelantah Rumah Tangga). Program ini lahir dari kegelisahan sederhana: kebiasaan membuang minyak jelantah ke tanah atau saluran air.

Minyak bekas pakai dari dapur-dapur warga kini dikumpulkan dalam wadah khusus. Setiap pertemuan bulanan, kader PKK menyerahkannya ke Bank Sampah SUKUN (Sejahtera dan Rukun) binaan PKK Kelurahan Palam. Dari sana, minyak jelantah diteruskan ke bank sampah induk untuk proses pengolahan atau daur ulang.

Nilainya kemudian dikonversikan ke dalam rupiah. Uang hasil pengumpulan itulah yang disalurkan sebagai sedekah kepada warga yang membutuhkan, anak yatim, lansia, hingga keluarga kurang mampu.

Lurah Palam, Zulhulaifah, menyebut program tersebut sebagai bentuk penyelesaian persoalan sampah dari hulu sekaligus penguatan solidaritas sosial.

“Selama ini minyak jelantah sering dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan. Sekarang kita ubah pola pikir itu. Dari yang tadinya limbah, menjadi bernilai ekonomi dan bernilai ibadah,” ujarnya.

Menurut dia, pendekatan sosial membuat warga lebih mudah menerima perubahan. Mereka tidak hanya diajak peduli lingkungan, tetapi juga merasakan langsung manfaatnya.

“Ketika warga tahu hasilnya bisa membantu sesama, semangatnya berbeda. Ada rasa memiliki dan tanggung jawab bersama,” katanya.

Gerakan di Palam tidak berhenti pada minyak jelantah. Dalam forum yang sama, Kelurahan Palam juga menggelar pelatihan pembuatan semir sepatu berbahan dasar limbah purun.
Kegiatan ini dihadiri Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Camat Cempaka, jajaran kelurahan, serta para pengrajin purun.

Palam selama ini dikenal dengan kerajinan anyaman purun. Namun, di balik aktivitas itu, tersisa potongan-potongan kecil yang tak terpakai. Biasanya, sisa tersebut langsung dibuang.

Melalui inovasi SsELIPUR (Semir Sepatu Limbah Purun), limbah tersebut dikumpulkan, dibakar hingga menjadi arang, dihaluskan, lalu dilelehkan bersama minyak kelapa dan lilin lebah. Dari proses sederhana itu lahirlah semir sepatu ramah lingkungan yang memiliki nilai jual.

Wahyu Hidayat menjelaskan, pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi ibu-ibu rumah tangga.

“Kita ingin ibu-ibu punya keterampilan tambahan. Kalau nanti berkembang, bisa jadi produk unggulan lokal. Limbah berkurang, ekonomi keluarga pun terbantu,” ujarnya.

Upaya tersebut memperlihatkan bagaimana penyelesaian sampah dari hulu dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi. Limbah dapur menjadi sedekah. Sisa anyaman menjadi produk bernilai guna.

Semangat itu, menurut Zulhulaifah, sejalan dengan arahan Wali Kota Banjarbaru agar persoalan sampah tidak semata ditangani di hilir melalui pengangkutan dan penimbunan, melainkan diselesaikan dari sumbernya.

“Kalau kita mau Banjarbaru bersih dan berdaya, perubahan itu harus dimulai dari rumah. Dari dapur, dari kebiasaan kecil sehari-hari,” katanya.

Di akhir kegiatan, ia kembali menegaskan komitmen Palam untuk terus bergerak.

“Kami upaya mengelola sampah dari sumbernya menjadi budaya. Dari Palam, kami ingin menunjukkan bahwa menyelesaikan sampah dari hulu itu bukan hal mustahilasal kita mau bergerak bersama,” pungkas Zulhulaifah.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA