Yoni Setiawan Bersyukur: Dari Kelola Sampah Mandiri hingga Bertemu Menteri Hanif Bersama Wali Kota Lisa

waktu baca 2 menit
Jumat, 3 Apr 2026 13:44 324 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru menunjukkan langkah serius membenahi tata kelola lingkungan dengan membawa agenda pengelolaan sampah langsung ke tingkat nasional. Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, bersama rombongan camat dan lurah se-Kota Banjarbaru bertandang ke kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Jumat (3/4/2026), untuk bertemu Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Banjarbaru untuk memperoleh arahan dan bimbingan langsung dari pemerintah pusat, sekaligus memperkuat kinerja pengelolaan sampah berbasis pemilahan dari sumbernya. Pada hari pertama kunjungan, rombongan melakukan pertemuan resmi dengan menteri. Selanjutnya, dijadwalkan studi tiru ke Kelurahan Rorotan guna melihat implementasi pemilahan sampah organik dan anorganik yang telah berjalan.

“Kota Banjarbaru akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan sampah, mulai dari pengurangan, pemilahan, pengangkutan hingga pengolahan akhir,” ujar Wali Kota Lisa.
Ia menegaskan, hasil pembelajaran dari Rorotan akan diadopsi dan diterapkan secara bertahap di tingkat kelurahan hingga menjadi gerakan kota. Targetnya jelas: pemilahan sampah rumah tangga dari sumber dengan pelibatan aktif masyarakat.

Menteri Hanif menyampaikan apresiasi atas langkah proaktif tersebut. Menurut dia, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru memiliki karakter tata kota yang relatif tertata dan berpotensi menjadi barometer pengelolaan lingkungan hidup di Kalimantan.

“Dengan demografi yang lebih tertata dibandingkan kota lain, mestinya Banjarbaru bisa menjadi barometer penanganan pola lingkungan hidup di Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Di antara jajaran camat dan lurah yang hadir, terdapat satu sosok pegiat sampah di Banjarbaru : Yoni Setiawan, Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, yang dikenal melalui gerakan Marikasa (Mari Kita Sedekah Sampah) dan inovasi Sumur Komposter Sanitasi (Suster Santi). Kehadirannya menjadi simbol bahwa pengelolaan sampah tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari kerja nyata warga di lingkungan terkecil.

Yoni mengisahkan, gerakan pengelolaan sampah di wilayahnya dimulai dari keikhlasan dan biaya pribadi. Ia tak pernah membayangkan aktivitas memilah dan mengolah sampah di tingkat RT justru membawanya hingga ke ruang kementerian.

“Dimulai dari keikhlasan dan modal sendiri dalam mengelola sampah di lingkungan, akhirnya sampah itulah yang bisa memberangkatkan seorang RT untuk melangkah ke dalam ruangan Kementerian Lingkungan Hidup, belajar bersama camat dan lurah,” ujarnya.

Bagi Yoni, pengalaman tersebut membuktikan bahwa gerakan kecil dapat berdampak besar.

“Kalau kita mau mulai dari rumah sendiri dengan ikhlas dan konsisten, saya yakin sampah bukan lagi jadi masalah, tapi bisa menjadi jalan kebaikan yang mengangkat martabat lingkungan dan masyarakat kita,” ujar Yoni.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA