Stan Komite Ekraf Banjarbaru Hidupkan Murjani dengan Tawa di Awal Maret

waktu baca 2 menit
Minggu, 1 Mar 2026 14:14 235 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Malam pertama Maret menyisakan udara hangat di Lapangan Murjani. Deretan lampu menggantung di atas tenda-tenda Pasar Wadai, memantulkan cahaya kekuningan pada wajah-wajah pengunjung yang hilir-mudik membawa kantong plastik berisi apam, bingka, dan aneka wadai khas Banjar. Di antara aroma gula merah dan santan yang menguar, Stan Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Banjarbaru menjadi ruang berbeda, tempat tawa mengambil panggung.

Minggu (1/3/2026) pukul 21.00 Wita, mikrofon dinyalakan. Komunitas Standupindo Banjarbaru menggelar pertunjukan stand up comedy di stan tersebut. Tiga komika, Rohan, Koko, dan Bayu, bergantian berdiri di hadapan penonton yang awalnya sekadar melintas, lalu perlahan merapat, membentuk setengah lingkaran tak resmi. Tawa pertama pecah, disusul gelombang berikutnya yang membuat suasana awal Ramadan terasa lebih cair.

Rohan membuka penampilan dengan materi yang dekat dengan keseharian warga. Ia berkisah tentang pekerjaannya sebagai kurir Shopee yang suatu ketika harus mengantarkan paket ke kurir JNT. “Saya ini kurir, tapi ngantar ke kurir lagi. Rasanya seperti kerja kelompok, tapi semua anggotanya kurir,” ujarnya, memancing gelak panjang.

Cerita itu sederhana, tetapi menyentuh pengalaman banyak orang. Dari panas dan hujan di jalanan, hingga absurditas kecil dalam dunia kerja, Rohan menghadirkan potret anak muda kota yang bertahan dengan cara mereka sendiri, termasuk dengan menertawakan keadaan.

Koko melanjutkan dengan gaya bertutur yang tenang. Ia mengisahkan honor tampil di acara sebelumnya yang, menurutnya, “cukup buat buka puasa.” Penonton tertawa ketika ia menambahkan harapan agar honor tampil di Stan Komite Ekraf Banjarbaru setidaknya “cukup buat sahur.” Candaan itu terasa ringan, namun menyiratkan realitas perjuangan pelaku seni yang kerap tampil dengan semangat lebih besar daripada bayaran.

Bayu melengkapi malam dengan observasi tentang dinamika warga Banjarbaru dan kebiasaan Ramadan yang selalu menghadirkan cerita baru. Ketiganya menyatukan humor, kritik halus, dan pengalaman personal dalam satu benang merah: kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi Komite Ekraf Banjarbaru, panggung kecil ini bukan sekadar hiburan di tengah festival kuliner. Kehadiran stand up comedy menunjukkan bahwa ekonomi kreatif juga bertumbuh dari ide, komunitas, dan keberanian berekspresi. Stan Komite Ekraf menjadi ruang interaksi, tempat warga tidak hanya bertransaksi, tetapi juga berbagi tawa.

Pasar Wadai Murjani yang selama ini identik dengan tradisi kuliner pun terasa lebih hidup. Di awal bulan dan awal Ramadan, Stan Komite Ekraf Banjarbaru membuktikan bahwa kreativitas dapat menghidupkan suasana, menguatkan komunitas, dan membuat kota terasa lebih hangat.

Di antara riuh jual beli dan lampu-lampu festival, tawa malam itu menjadi penanda: Banjarbaru tak hanya merawat tradisi, tetapi juga memberi panggung bagi generasi kreatifnya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA