Karaoke On The Spot di Stan Ekraf Tumbuhkan Talenta Inklusif, Sigit Tunanetra Curi Perhatian
waktu baca 4 menit
Minggu, 1 Mar 2026 04:40 455 Banjarbaru Emas 2
Ketua Umum Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karaoke on the spot di stan Ekraf, Lapangan dr Murdjani, Sabtu (28/2/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ruang kreatif inklusif bagi talenta lokal dalam suasana Ramadan.
BANJARBARUEMAS.COM – Malam Ramadan di Lapangan dr Murdjani, Sabtu (28/2/2026), menghadirkan lebih dari sekadar keramaian Pasar Ramadan. Di antara aroma kuliner berbuka dan percakapan warga, suara-suara religi dan tembang kenangan menggema dari panggung sederhana di stan Komite Ekonomi Kreatif (Komite Ekraf) Banjarbaru Emas.
Lomba menyanyi yang digelar untuk menyemarakkan Ramadan itu, pada mulanya tampak sebagai hiburan biasa. Namun, di balik gemerlap lampu dan riuh tepuk tangan, tersimpan cerita yang lebih dalam tentang bagaimana ekonomi kreatif dibangun,dari talenta, dari ruang publik, dan dari keberanian tampil.
Belasan peserta mendaftar secara on the spot. Usia mereka beragam, latar belakangnya berbeda, dengan dominasi warga Banjarbaru. Antusiasme yang tinggi membuat panitia terpaksa membatasi jumlah pendaftar karena keterbatasan waktu. Fenomena ini menegaskan satu hal: kebutuhan akan ruang ekspresi kreatif di kota terus tumbuh.
Ketua Komite Ekraf Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis partisipasi masyarakat. Bagi dia, panggung Ramadan bukan agenda insidental, melainkan bagian dari desain berkelanjutan yang disusun untuk mempertemukan pelaku, ide, dan audiens dalam satu ruang interaksi.
“Kegiatan rutin di stan Komite Ekraf ini untuk menggali potensi para pelaku ekonomi kreatif Banjarbaru maupun sektor lainnya. Setiap malam kami ada talk show dan kegiatan lain. Di situ Komite Ekraf ingin memotret sekaligus mengangkat potensi yang ada. Khusus Sabtu atau Minggu, kami siapkan kegiatan yang bersifat event seperti sekarang,” ujarnya.
Bagi Riandy, ekonomi kreatif tidak semata soal produk fisik atau transaksi ekonomi. Ia bertumpu pada talenta, kreativitas, dan keberanian warga memasuki ruang publik. Ramadan dijadikan momentum mempertemukan nilai spiritual dengan energi kreatif masyarakat.
“Ekonomi kreatif tidak semata soal produk fisik atau transaksi. Ia bertumpu pada talenta, kreativitas, dan keberanian warga memasuki ruang publik. Ramadan kami jadikan momentum untuk mempertemukan nilai spiritual dengan energi kreatif masyarakat. Di situ ada pembinaan karakter, ada kepercayaan diri, sekaligus ada peluang ekonomi.” tegas Riandy.
Salah satu momen paling menggetarkan malam itu hadir ketika Sigit, seorang penyandang tunanetra, melangkah ke panggung pada kategori religi. Dengan tongkat terlipat dan mikrofon di tangan, ia berdiri tegak. Saat musik mulai mengalun, suaranya mengisi lapangan dengan penghayatan mendalam dan kontrol nada yang matang. Penonton yang semula riuh perlahan terdiam, lalu memberi tepuk tangan panjang usai lagu berakhir.
Sigit kemudian diumumkan sebagai juara ketiga kategori religi, di bawah Aisyah sebagai juara pertama dan Azkia sebagai juara kedua. Namun lebih dari sekadar peringkat, penampilannya menjadi simbol bahwa panggung ekonomi kreatif harus bersifat inklusif, memberi ruang setara bagi siapa pun untuk berpartisipasi.
Ketua dewan juri, Arif Fadillah, menilai para peserta telah tampil maksimal membawakan lagu andalan masing-masing.
“Kalau soal nyanyinya oke semua. Tetapi masih ada beberapa peserta yang mesti belajar teknik vokal, penggunaan mikrofon, dan juga performanya,” ujarnya.
Pada kategori tembang kenangan, Rizky asal Handil Bakti meraih juara pertama, disusul Sunarto dan Jayen. Total hadiah yang disiapkan panitia sebesar Rp 2 juta, dengan rincian Rp 500.000 untuk juara pertama, Rp 300.000 untuk juara kedua, dan Rp 200.000 untuk juara ketiga di masing-masing kategori.
Di balik nominal hadiah tersebut, terdapat nilai simbolik yang lebih besar: pengakuan publik, pengakuan sosial adalah modal awal bagi lahirnya profesionalisme dan keberlanjutan. Panggung terbuka seperti di Lapangan dr Murdjani berfungsi sebagai creative hub, ruang temu antara talenta, audiens, dan jejaring sosial yang berpotensi melahirkan nilai tambah ekonomi.
Malam itu, di bawah cahaya lampu Ramadan, Banjarbaru tidak hanya merayakan suara merdu para peserta. Kota ini sedang belajar bahwa ekonomi kreatif tumbuh dari keberanian membuka ruang—ruang bagi generasi muda, bagi pelaku seni, bahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Dari suara Sigit yang menggema di tengah lapangan, pesan itu terasa jelas: kreativitas tidak mengenal batas penglihatan. Ketika kota memberi panggung yang setara, setiap suara dapat menjadi cahaya bagi masa depan bersama.
Panggung Ekraf Banjarbaru, yang mungkin tampak sederhana di sudut Lapangan dr Murdjani, sejatinya adalah titik mula. Dari ruang-ruang kecil inilah cita-cita besar dirawat, mewujudkan Banjarbaru sebagai kota kreatif nasional, bahkan kota kreatif dunia. Sebab kota kreatif lahir dari keberanian memberi ruang, dari konsistensi membina talenta, dan dari keyakinan bahwa kreativitas warganya adalah fondasi masa depan.(be)
Tidak ada komentar