BANJARBARUEMAS.COM – Pertanyaan itu datang berulang kali sejak Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru dilantik: mengapa harus dimulai dari Cempaka? Di antara lima kecamatan di Banjarbaru, Cempaka justru kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang berjalan lebih lambat dibanding kawasan lain. Namun, bagi KEK Banjarbaru, justru di situlah kuncinya.
Sejak awal pembentukan, KEK Banjarbaru menyepakati bahwa peta jalan ekonomi kreatif kota tidak bisa dimulai dari ruang yang seragam. Ia harus berangkat dari wilayah yang memiliki kekhasan paling kuat, baik secara sejarah, budaya, maupun lanskap sosial. Cempaka yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar dan Tanah Laut, menyimpan karakter tersebut. Budaya di wilayah ini tidak sekadar tersisa sebagai simbol, tetapi masih hidup dalam praktik keseharian warganya.
Pada tahap awal, KEK Banjarbaru melakukan pemetaan konseptual internal. Diskusi-diskusi awal menegaskan satu kesimpulan: pendekatan pembangunan konvensional tidak sepenuhnya relevan diterapkan di Cempaka. Ketertinggalan pembangunan bukan disebabkan oleh kelalaian pemerintah, melainkan karena wilayah ini memerlukan pendekatan berbasis kebudayaan dan sejarah. Dari sinilah gagasan Living Museum mulai dirumuskan sebagai jalan tengah antara pelestarian dan pembangunan.
Menjelang setahun kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, gagasan tersebut memperoleh dukungan strategis. Wali Kota menempatkan kebudayaan dan ekonomi kreatif sebagai fondasi visi pembangunan kota. Dukungan itu tidak berhenti pada pernyataan, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret dengan mendampingi langsung KEK Banjarbaru membangun jejaring nasional.
Tahap berikutnya adalah penguatan legitimasi dan jejaring kebijakan. Secara berurutan, KEK Banjarbaru bersama Wali Kota melakukan kunjungan dan audiensi ke Indonesia Creative Cities Network (ICCN) untuk memperkuat perspektif kota kreatif. Setelah itu, dialog dilanjutkan ke Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pariwisata untuk menempatkan Living Museum Cempaka dalam kerangka pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya. Jalur diplomasi kebudayaan juga dibuka melalui Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), sebagai bagian dari visi jangka panjang menuju jejaring kota kreatif global.
Puncak dari rangkaian tersebut terjadi pada Jumat, 6 Februari 2026, ketika Wali Kota Banjarbaru mendampingi KEK Banjarbaru melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta. Dalam pertemuan ini, satu pesan ditegaskan secara konsisten: Cempaka diusulkan sebagai Living Museum, ruang hidup kebudayaan yang memerlukan dukungan kebijakan, pendampingan teknis, dan sinergi pusat-daerah. Audiensi ini menandai masuknya gagasan Cempaka ke dalam orbit kebijakan kebudayaan nasional.
Setelah dukungan di tingkat pusat dibangun, fokus kembali diarahkan ke tingkat tapak. Pada 14 Januari 2026, KEK Banjarbaru bersama Pemerintah Kecamatan Cempaka menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Aula Sungai Tiung. Forum ini melibatkan seluruh lurah se-Kecamatan Cempaka, tokoh masyarakat, penggerak komunitas, kelompok sadar wisata, serta pegiat ekonomi kreatif lokal. FGD menjadi pintu masuk, memastikan Living Museum dibangun bersama warga.
Dalam forum tersebut, setiap kelurahan diminta memetakan potensi berdasarkan tujuh aset utama: spiritual, sejarah, alam, manusia, budaya, lingkungan, dan aset lainnya. Dari proses ini teridentifikasi beragam kekayaan lokal: pendulangan intan tradisional di Pumpung, kisah Intan Trisakti, situs religi Asam Janar, tradisi kuliner dan ritual, artefak budaya, hingga pengetahuan lokal seperti pupur Bangkal. Seluruhnya dipahami bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai cerita dan praktik hidup.
Tahapan berikutnya adalah validasi lapangan. Data yang dihimpun dalam FGD diverifikasi melalui penelusuran lokasi, dialog dengan pelaku budaya, dan penggalian memori kolektif masyarakat. Proses ini memastikan bahwa Living Museum tidak dibangun di atas asumsi, tetapi pada pengetahuan yang hidup dan diakui komunitasnya.
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Cempaka bukan titik awal yang dipilih secara kebetulan. Ia adalah hasil dari kesepakatan konseptual, dukungan kepemimpinan, penguatan jejaring nasional, dan kerja partisipatif di tingkat lokal. Pada awal kepemimpinan Hj. Erna Lisa Halaby, Cempaka ditempatkan sebagai fondasi pembangunan berbasis kebudayaan, sebuah ikhtiar membangun Banjarbaru dengan cara yang tidak memutus ingatan.
Dari Cempaka, Banjarbaru memulai perjalanan menuju kota kreatif: perlahan, berlapis, dan berakar pada sejarah yang dihidupkan kembali.(be)
320
Tidak ada komentar