BANJARBARUEMAS.COM – Sejarah kerap diperlakukan sebagai masa lalu yang selesai. Ia disimpan rapi dalam arsip, diabadikan dalam monumen, lalu dijauhkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Padahal, sejarah justru menemukan maknanya ketika ia hidup, dijalani, dan dirawat bersama. Gagasan itulah yang mengemuka dalam audiensi Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru yang didampingi Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Pertemuan tersebut membawa satu pesan utama: Kecamatan Cempaka diproyeksikan sebagai living museum, sebuah ruang hidup kebudayaan di mana sejarah tidak membeku sebagai artefak, melainkan tumbuh, berdenyut, dan berinteraksi dengan masyarakatnya. Di sini, kebudayaan tidak hanya dikenang, tetapi dihidupi.
Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, gagasan ini bukan sekadar proyek kebudayaan. Ia menjadi bagian dari upaya menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah dalam kerangka besar Visi Banjarbaru Emas. Kebudayaan diposisikan sebagai fondasi pembangunan, bukan pelengkap. Dari sanalah arah Banjarbaru menuju Kota Kreatif Nasional 2027 dibangun, dengan kebudayaan sebagai titik berangkatnya.
Cempaka dipilih bukan tanpa alasan.
Kawasan ini merupakan ruang hidup sejarah yang masih bekerja hingga hari ini. Aktivitas pendulangan intan tradisional di Pumpung, misalnya, bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga praktik budaya yang diwariskan lintas generasi. Di tanah inilah lahir kisah besar Intan Trisakti, intan mentah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia, yang menjadi simbol penting dalam sejarah nasional.
Namun, di balik kemilau Intan Trisakti, terdapat narasi panjang tentang para pendulang yang selama ini berada di pinggiran cerita besar. Kisah mereka jarang mendapat tempat dalam ingatan kolektif bangsa. Melalui konsep living museum, Banjarbaru berupaya menghadirkan kembali narasi-narasi tersebut sebagai bagian utuh dari sejarah, bukan sekadar catatan kaki.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek kebudayaan. Museum tidak lagi dipahami sebagai bangunan statis, melainkan sebagai ruang sosial tempat nilai, tradisi, dan pengetahuan lokal terus dipraktikkan. Sejarah tidak hanya dilihat, tetapi dialami; tidak hanya dipelajari, tetapi dijalani.
Dalam konteks kebijakan nasional, inisiatif ini sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan yang menekankan pelestarian sekaligus pemanfaatan. Kebudayaan tidak dipisahkan dari pembangunan, melainkan menjadi penggeraknya. Dengan pendampingan dan dukungan pemerintah pusat, pengembangan Cempaka diarahkan agar berjalan terstruktur, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Audiensi tersebut juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang berbagai aset sejarah Kalimantan Selatan yang selama ini belum terhubung dalam narasi besar kebudayaan nasional. Padahal, jejak-jejak peradaban di wilayah ini menyimpan potensi besar sebagai sumber identitas, pengetahuan, sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya.
Di titik inilah peran pemerintah daerah menjadi krusial, sebagai penjaga ingatan kolektif. Dengan menumbuhkan ruang-ruang budaya, menjaga keberlanjutan tradisi, dan membuka partisipasi warga, kebudayaan dapat terus hidup dan relevan dengan zamannya.
Gagasan Cempaka sebagai living museum pada akhirnya bukan hanya tentang pelestarian masa lalu. Ia adalah upaya menautkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ruang hidup. Sebuah cara pandang bahwa pembangunan dimulai dari ingatan, identitas, dan kebudayaan yang dirawat bersama.
Ketika sejarah dihidupkan di tengah masyarakat yang beraktivitas, bercerita, dan merawat ingatan bersama, di situlah kebudayaan menemukan masa depannya. Dan dari Cempaka, Banjarbaru sedang mencoba menjawab pertanyaan penting itu: bagaimana membangun kota tanpa kehilangan jiwanya.(be)
339
Tidak ada komentar