BANJARBARUEMAS.COM – Banjir yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan sejak akhir 2025 hingga awal Januari 2026 tidak hanya menghadirkan persoalan lingkungan dan infrastruktur, tetapi juga membuka kembali kerentanan kesehatan masyarakat. Di Banjarbaru, genangan yang bertahan di kawasan permukiman memperlihatkan bagaimana banjir dengan cepat mengubah lingkungan hidup menjadi ruang yang rawan penyakit. Dari perspektif kesehatan masyarakat, banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan kondisi darurat yang memerlukan kewaspadaan epidemiologis, kesiapsiagaan layanan kesehatan, serta intervensi kebijakan yang terukur dan berkelanjutan.
Tulisan ini disusun oleh Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes., akademisi Universitas Lambung Mangkurat sekaligus Tenaga Ahli Wali Kota Banjarbaru, yang merujuk pada kajian ilmiah sekaligus pengamatan langsung di lapangan. Dalam beberapa kesempatan Prof. Husaini mendampingi Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dan Ketua TP PKK Kota Banjarbaru H. Riandy Hidayat meninjau dan memberikan bantuan pada wilayah terdampak banjir di Kota Banjarbaru. Prof. Husaini memotret secara nyata potensi dampak kesehatan yang dihadapi warga, mulai dari penyakit berbasis air hingga gangguan kesehatan mental. Dengan pendekatan tersebut, tulisan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan bahan pertimbangan kebijakan bagi Gubernur, Bupati, dan Wali Kota se-Kalimantan Selatan dalam memperkuat penanganan banjir yang tidak hanya responsif secara fisik, tetapi juga protektif terhadap kesehatan masyarakat.
Dampak Banjir Terhadap Kesehatan Masyarakat
Penulis : Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes. ( Akademisi ULM & Tenaga Ahli Walikota Banjarbaru ).
Pendahuluan
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Banjir dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti curah hujan yang tinggi, penggundulan hutan, serta perubahan iklim global. Selain merusak infrastruktur dan menyebabkan kerugian materiil, banjir juga berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Berbagai penyakit dapat muncul akibat kondisi yang tidak higienis dan tidak sehat selama dan setelah banjir. Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak banjir terhadap kesehatan, serta upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisirnya. Materi ini akan membahas dampak banjir terhadap kesehatan masyarakat, faktor-faktor penyebab, serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan pasca-banjir.
Dampak Langsung Banjir Terhadap Kesehatan
Banjir yang terjadi dengan intensitas tinggi dapat mengakibatkan peningkatan risiko berbagai penyakit. Menurut WHO (2020), banjir dapat meningkatkan penyebaran penyakit menular, gangguan kesehatan mental, serta masalah gizi. Dampak langsung banjir terhadap kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut:
1. Penyakit Menular
Salah satu dampak utama dari banjir adalah meningkatnya risiko penyebaran penyakit menular. Banjir menggenangi wilayah-wilayah tempat tinggal masyarakat, mencemari sumber air bersih, dan menghancurkan sistem sanitasi. Hal ini menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya penyakit yang ditularkan melalui air, seperti diare, kolera, dan leptospirosis. Penyakit-penyakit ini umumnya meningkat setelah banjir karena buruknya kualitas air dan sanitasi yang terkontaminasi (Rijal & Utami, 2020).
2. Penyakit Saluran Pernafasan
Selain penyakit yang ditularkan melalui air, banjir juga dapat meningkatkan risiko penyakit saluran pernapasan. Debu, sampah, dan polusi udara yang dihasilkan selama banjir dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia dan bronkitis. Banjir yang menggenangi rumah-rumah juga dapat menciptakan lingkungan lembab yang memperburuk kualitas udara dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi pernapasan (Tjahjadi, 2019).
3. Cedera Fisik
Banjir dapat menyebabkan cedera fisik baik akibat terseret arus, tertimpa benda-benda yang terbawa banjir, maupun karena terpeleset di area yang licin. Cedera fisik ini bisa sangat berbahaya, terutama jika terjadi pada orang lanjut usia atau anak-anak yang lebih rentan. Selain itu, risiko terjadinya kecelakaan atau luka akibat kondisi darurat juga meningkat, yang dapat memperburuk keadaan jika layanan medis sulit diakses (Pusdatin Kemenkes RI, 2018).
Dampak Tidak Langsung Banjir Terhadap Kesehatan
Selain dampak langsung, banjir juga memiliki dampak tidak langsung yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Beberapa dampak tidak langsung yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Gangguan Kesehatan Mental
Banjir yang merusak rumah dan sumber penghidupan dapat menyebabkan trauma psikologis pada korban. Rasa kehilangan, kecemasan tentang masa depan, serta ketidakpastian dalam mencari tempat tinggal dan pekerjaan yang baru, dapat memicu stres dan gangguan kesehatan mental. Menurut penelitian oleh Haryanto (2021), korban banjir sering kali mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Hal ini membutuhkan perhatian khusus dalam upaya pemulihan pasca-bencana.
2. Masalah Gizi
Banjir yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan distribusi pangan dapat mengganggu ketahanan pangan masyarakat. Kesulitan untuk memperoleh makanan bergizi dapat menyebabkan malnutrisi, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Menurut Rismawati (2019), gangguan gizi dapat terjadi dalam periode pasca-banjir, dimana masyarakat kesulitan mendapatkan akses terhadap makanan yang sehat dan bergizi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dampak Kesehatan Akibat Banjir
1. Kondisi Sanitasi dan Air Bersih
Kualitas sanitasi dan sumber air bersih sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat pasca-banjir. Wilayah dengan sistem sanitasi yang buruk akan mengalami peningkatan kasus penyakit yang ditularkan melalui air. Oleh karena itu, penting untuk melakukan perbaikan infrastruktur sanitasi sebelum dan sesudah terjadinya bencana banjir untuk mencegah penyebaran penyakit.
2. Akses Layanan Kesehatan
Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan di wilayah terdampak banjir sangat mempengaruhi penanganan penyakit. Banyak fasilitas kesehatan yang rusak atau terendam banjir, yang menyebabkan kesulitan dalam pemberian pelayanan medis. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait untuk menyediakan fasilitas medis darurat di daerah terdampak.
Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Kesehatan Pasca-Banjir
Untuk mengurangi dampak negatif banjir terhadap kesehatan, beberapa langkah pencegahan dan penanggulangan dapat dilakukan, antara lain:
1. Perbaikan Infrastruktur Sanitasi
Salah satu langkah utama adalah memperbaiki infrastruktur sanitasi dan sistem pengolahan air bersih. Pemerintah harus berinvestasi dalam perbaikan sistem drainase, pembangunan fasilitas pengolahan air bersih, dan memastikan bahwa masyarakat memiliki akses ke air bersih dan sanitasi yang layak.
2. Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sangat penting. Masyarakat perlu diberikan pemahaman mengenai cara menghindari penyakit yang ditularkan melalui air dan bagaimana cara menjaga kebersihan makanan selama masa darurat.
3. Fasilitas Kesehatan Darurat
Pemerintah dan lembaga terkait harus menyediakan fasilitas kesehatan darurat yang dapat menjangkau daerah-daerah yang terdampak banjir. Rumah sakit lapangan atau posko kesehatan dapat membantu mengurangi beban rumah sakit yang sudah penuh, serta memberikan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat.
4. Pendampingan Psikologis
Untuk mengatasi dampak psikologis akibat banjir, pendampingan psikologis perlu dilakukan untuk membantu masyarakat yang mengalami stres dan trauma. Pendampingan ini dapat dilakukan melalui konseling atau kelompok dukungan psikososial untuk membantu masyarakat mengatasi kecemasan dan ketidakpastian yang mereka alami.
Kesimpulan
Banjir adalah bencana alam yang membawa dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Penyakit menular, gangguan kesehatan mental, dan malnutrisi adalah beberapa contoh dampak yang sering terjadi akibat banjir. Faktor-faktor seperti sanitasi, air bersih, dan akses terhadap layanan kesehatan sangat mempengaruhi dampak kesehatan yang ditimbulkan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan dampak kesehatan pasca-banjir. Perbaikan infrastruktur sanitasi, penyuluhan kesehatan, serta penyediaan fasilitas kesehatan darurat adalah langkah-langkah penting yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit dan memulihkan kondisi kesehatan masyarakat pasca-banjir.
Referensi :
1. Haryanto, T. (2021). Dampak Banjir Terhadap Kesehatan Mental Masyarakat di Jakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 24(2), 80-90.
2. Pusdatin Kemenkes RI. (2018). Laporan Survei Kesehatan Masyarakat di Daerah Bencana Alam 2018. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
3. Rijal, M. & Utami, S. (2020). Penyakit Menular Pasca Banjir di Indonesia: Sebuah Kajian Literatur. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 12(1), 50-59.
4. Riswati, A. (2019). Malnutrisi Pasca Banjir: Dampak dan Penanganannya. Jurnal Kesehatan Gizi, 15(4), 120-125.
5. Tjahjadi, A. (2019). Penyakit Saluran Pernapasan Setelah Banjir di Jakarta: Analisis Klinis. Jurnal Kesehatan Indonesia, 18(3), 45-53.
6. WHO. (2020). Health Emergency and Disaster Risk Management Framework. World Health Organization.
353
Tidak ada komentar