Wali Kota Lisa Instruksikan Lurah Guntung Paikat Tindak Lanjuti Keluhan Bau Sungai Kemuning

waktu baca 4 menit
Jumat, 9 Okt 2026 02:12 186 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby menginstruksikan Lurah Guntung Paikat Reza Pahlevi menindaklanjuti keluhan warga mengenai bau menyengat di Sungai Kemuning, kawasan Kampung Pelangi. Menindaklanjuti arahan tersebut, Reza bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru dan sejumlah unsur masyarakat turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi sungai.

Keluhan itu disampaikan warga melalui kolom komentar akun Instagram pribadi Wali Kota. Warga meminta pemerintah mencari solusi atas bau yang dirasakan di sepanjang aliran sungai, terutama saat musim kemarau. Dalam komentarnya, warga juga menduga bau menyengat tersebut berkaitan dengan limbah pabrik tahu.

Saat dihubungi pada Selasa (6/10/2026), Reza mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti arahan Wali Kota dengan melibatkan instansi terkait dan unsur masyarakat untuk memeriksa kondisi sungai secara langsung.

“Menindaklanjuti arahan Wali Kota Banjarbaru Ibu Hj. Erna Lisa Halaby terkait laporan masyarakat mengenai bau di Sungai Kemuning, kami bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Kasi Ekobang, Ketua LPM, serta Koordinator RT/RW Kelurahan Guntung Paikat telah turun langsung melakukan pemantauan di lapangan,” kata Reza.

Dari hasil pemantauan, debit air Sungai Kemuning mengalami penyusutan cukup signifikan akibat musim kemarau. Kondisi air yang surut dan aliran yang melambat menyebabkan material organik, lumpur, serta sampah di sejumlah bagian sungai lebih mudah menimbulkan bau tidak sedap.

Selain kondisi tersebut, pihak kelurahan menerima informasi dari warga bantaran sungai mengenai bangkai ikan yang ditemukan di beberapa titik. Ikan sapu-sapu menjadi salah satu jenis ikan yang dilaporkan mati dan diduga turut menimbulkan bau amis.

“Kalau berdasarkan pantauan kami secara langsung dan informasi di lapangan dari warga sekitar bantaran sungai, memang baunya lebih seperti bau amis ikan. Banyak ikan sapu-sapu yang mati juga,” ujar Reza.

Pertumbuhan alga hijau yang cukup banyak di beberapa bagian sungai juga menjadi perhatian. Menurut Reza, alga yang tumbuh berlebihan, kemudian mati dan membusuk, dapat memengaruhi kadar oksigen terlarut di dalam air serta menimbulkan senyawa berbau tidak sedap. Kondisi tersebut berpotensi semakin terasa ketika debit air menyusut dan arus sungai melambat selama musim kemarau.

Meski demikian, penyebab pasti bau yang dikeluhkan warga belum dapat dipastikan. Temuan di lapangan dan informasi masyarakat masih memerlukan penelusuran lebih lanjut oleh instansi teknis terkait.

Reza juga mengungkapkan bahwa pihak Kelurahan Guntung Paikat bersama DLH Kota Banjarbaru pernah menindaklanjuti laporan warga mengenai dugaan limbah pabrik tahu pada 18 Mei 2026. Saat itu, mereka mendatangi lokasi pabrik setelah menerima laporan dari masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.

Menurut Reza, ketika melakukan peninjauan, pihaknya melihat kondisi air yang diduga berkaitan dengan limbah tahu di sepanjang aliran sungai.

“Awal tanggal 18 Mei itu kami bersama Dinas LH mendatangi lokasi pabrik tahu karena laporan warga bantaran. Saat itu memang terlihat jelas kondisi air yang diduga terkait limbah tahu di sepanjang sungai,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, lokasi pabrik tahu yang dilaporkan warga berada di wilayah kelurahan lain. Namun, aliran sungai yang terhubung hingga Guntung Paikat berpotensi membuat kondisi di bagian hulu berdampak terhadap masyarakat di wilayahnya.

Reza mengatakan, pihak kelurahan telah mengimbau agar limbah tidak dibuang sembarangan karena fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) telah disediakan. Sementara itu, pemeriksaan teknis dan pengawasan terhadap dugaan pencemaran menjadi kewenangan DLH.

“Kami mengimbau agar tidak membuang limbah sembarangan karena sudah disiapkan IPAL. Untuk teknis pengawasan menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup. Pabriknya pun bukan berada di wilayah kami, tetapi aliran sungainya sampai ke Guntung Paikat,” katanya.

Dugaan keterkaitan limbah pabrik tahu dengan bau yang dikeluhkan saat ini masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Keterangan Reza mengenai peninjauan sebelumnya menjadi bagian dari informasi awal, tetapi belum cukup untuk memastikan sumber pencemaran pada kondisi sungai saat ini.

Sebagai langkah penanganan awal, Kelurahan Guntung Paikat menjadwalkan gotong royong membersihkan Sungai Kemuning pada Jumat (9/10/2026). Kegiatan tersebut akan melibatkan Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan.

Reza mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk kolaborasi untuk menjaga kebersihan sungai sekaligus mengurangi penumpukan sampah dan material yang berpotensi memperburuk kondisi lingkungan.

“Sebagai tindak lanjut, selain melakukan pemantauan dan koordinasi dengan instansi terkait, kami juga akan melaksanakan gotong royong pada hari Jumat ini untuk membersihkan Sungai Kemuning. Kegiatan ini akan dilakukan bersama Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Ia berharap penanganan Sungai Kemuning dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama pemerintah, instansi teknis, pengurus RT/RW, dan masyarakat.

“Kami berharap melalui kolaborasi pemerintah, instansi terkait, RT/RW, dan masyarakat, kebersihan, kesehatan, serta kenyamanan warga tetap terjaga. Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah maupun limbah ke sungai dan bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan di sepanjang bantaran Sungai Kemuning,” pungkas Reza.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA