Blog

  • TP PKK Kecamatan se-Kota Banjarbaru Jadi Garda Terdepan Edukasi Pangan Bergizi dan Aman

    TP PKK Kecamatan se-Kota Banjarbaru Jadi Garda Terdepan Edukasi Pangan Bergizi dan Aman

    BANJARBARUEMAS.COM — Komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru untuk membangun budaya konsumsi pangan sehat semakin kuat dengan keterlibatan aktif Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kecamatan sebagai motor penggerak di tingkat masyarakat. Melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3), Pemkot Banjarbaru menggelar Sosialisasi Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) di Auditorium Universitas Borneo Lestari, Selasa (4/11/2025).

    Kegiatan ini diikuti peserta dari seluruh kecamatan, meliputi pengurus TP PKK Kecamatan, TP PKK Kelurahan, dan kader Posyandu. Para peserta hadir dengan semangat tinggi untuk memperdalam wawasan tentang gizi seimbang serta cara mempraktikkannya dalam kehidupan keluarga. Tidak hanya mendengarkan paparan, peserta juga aktif dalam Cooking Class, Pelatihan Gizi, dan Lomba Bucket Sayur dan Buah yang dikemas edukatif dan interaktif.

    Kepala DKP3 Kota Banjarbaru, Abu Yajid Bustami, menyampaikan harapannya agar kegiatan sosialisasi berjalan lancar dan mampu menjangkau masyarakat secara luas.
    “Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar dan pesan edukasinya benar-benar sampai ke masyarakat. Dengan begitu, pola konsumsi warga bisa semakin beragam dan bergizi. Mudah-mudahan juga masyarakat dapat teredukasi tentang cara memilih pangan yang aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.

    Kegiatan sosialisasi menghadirkan Ahli Gizi Dedy Hatta Permana dan Chef Agus Sasirangan, Runner Up MasterChef Indonesia Season 1. Dedy memberikan pemaparan tentang pentingnya keseimbangan gizi dan kebersihan pangan keluarga, sementara Chef Agus memandu Cooking Class interaktif yang menunjukkan cara kreatif mengolah pangan lokal menjadi menu sehat dan menarik.

    Antusiasme peserta terlihat dari interaksi aktif mereka selama sesi memasak. TP PKK Kecamatan berlomba menampilkan kreativitas dalam Lomba Bucket Sayur dan Buah yang memadukan estetika, pesan edukatif, dan cinta terhadap produk lokal.

    Dalam hasil lomba, TP PKK Banjarbaru Selatan berhasil meraih juara pertama berkat penataan bucket yang harmonis dan pesan kampanye gizi yang kuat. Disusul TP PKK Liang Anggang di posisi kedua, TP PKK Landasan Ulin ketiga, TP PKK Cempaka keempat, dan TP PKK Banjarbaru Utara di posisi kelima.

    Sosialisasi B2SA kali ini menunjukkan sinergi nyata antara pemerintah dan gerakan perempuan di tingkat akar rumput. Melalui TP PKK Kecamatan dan kader Posyandu, Banjarbaru mengukuhkan peran keluarga sebagai pondasi utama pembangunan manusia yang sehat, produktif, dan mandiri.

    Dengan semangat Banjarbaru Emas, kegiatan ini menjadi simbol bahwa perubahan menuju masyarakat sehat dimulai dari dapur rumah tangga — dipandu oleh ibu-ibu tangguh yang bergerak bersama demi ketahanan pangan daerah.(be)

  • Konsolidasi Modal Sosial Menuju Banjarbaru Emas: Refleksi dari Jambore Ormas 2025 di Loksado

    Konsolidasi Modal Sosial Menuju Banjarbaru Emas: Refleksi dari Jambore Ormas 2025 di Loksado

    BANJARBARUEMAS.COM – Kegiatan Jambore Organisasi Masyarakat (Ormas) Kota Banjarbaru 2025 yang dilaksanakan pada 25–26 Oktober 2025 di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, menjadi salah satu instrumen pembelajaran sosial yang penting dalam upaya membangun tata kelola masyarakat sipil yang inklusif. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banjarbaru sebagai bagian dari agenda penguatan kapasitas kelembagaan Ormas di tingkat daerah.

    Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banjarbaru, H. Rizana Mirza, SH, M.Kes, yang membuka secara resmi kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa keberadaan Ormas memiliki peran strategis dalam memperkuat kohesi sosial dan menjaga stabilitas masyarakat. Ia menekankan pentingnya sinergi antara organisasi masyarakat dan pemerintah daerah sebagai fondasi bagi terciptanya tata kelola pemerintahan yang partisipatif, transparan, dan berkeadilan.

    Jambore Ormas ini diikuti oleh sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang organisasi masyarakat. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini berupaya menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya pengelolaan organisasi yang efektif dan berbasis nilai-nilai integritas.

    Akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat, Siswanto, S.Sos, M.Si, menjadi narasumber pertama dengan materi Manajemen Ormas. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya penguatan tata kelola yang mencakup aspek transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan. “Ormas harus mampu mengadopsi prinsip-prinsip manajemen modern agar tidak hanya eksis secara administratif, tetapi juga relevan dalam menjawab tantangan sosial yang berkembang,” ujarnya.

    Sedangkan Fauziono, Ketua Kerukunan Suku Dayak Meratus (KSDM) Kalimantan Selatan dan merupakan salah satu tokoh adat di Loksado menyampaikan materi Menjalin Kekompakan dan Persatuan Ormas di Kota Banjarbaru. Ia menyoroti dimensi sosial-budaya dalam membangun solidaritas komunitas. Menurutnya, kebersamaan dan rasa saling percaya merupakan fondasi dasar dari keberlanjutan kehidupan sosial yang harmonis. “Persatuan yang kuat tidak dibangun oleh keseragaman, tetapi oleh penghargaan terhadap perbedaan dan kemauan untuk bekerja bersama,” tuturnya.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang reflektif, tetapi juga forum konsolidasi gagasan di antara para penggerak Ormas. Melalui diskusi dan praktik kolaboratif, peserta menyepakati pentingnya memperkuat peran Ormas sebagai social intermediary—penghubung antara masyarakat dengan pemerintah daerah. Posisi strategis ini menjadikan Ormas berperan dalam menjaga ketenteraman sosial, menyalurkan aspirasi warga, serta mendukung implementasi kebijakan publik di tingkat lokal.

    Kegiatan Jambore Ormas Kota Banjarbaru 2025 memiliki relevansi langsung terhadap pencapaian visi Banjarbaru Emas—Elok, Maju, Adil, Sejahtera. Pembangunan sosial yang diorientasikan pada penguatan partisipasi masyarakat merupakan pilar penting dari pembangunan berkelanjutan.

    Melalui Jambore ini, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk memperluas ruang partisipasi warga dalam proses pembangunan. Ormas diharapkan dapat berperan sebagai agen perubahan sosial yang adaptif, moderat, dan solutif dalam menghadapi dinamika masyarakat urban.

    Dengan demikian, Jambore Ormas 2025 menjadi bagian dari proses institusionalisasi nilai-nilai demokrasi partisipatif di Banjarbaru. Dari Loksado, pesan kolektif itu bergema—bahwa kekuatan pembangunan tidak semata pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk bersatu, belajar, dan bergerak bersama.(be)

  • RSD Idaman Banjarbaru Belajar dari RSCM: Perkuat Tata Kelola dan Layanan Kesehatan

    RSD Idaman Banjarbaru Belajar dari RSCM: Perkuat Tata Kelola dan Layanan Kesehatan

    BANJARBARUEMAS.COM — Dalam upaya memperkuat tata kelola operasional dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Kota Banjarbaru, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby melakukan studi banding ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada Senin, 3 November 2025. Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Banjarbaru Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera serta Dewan Pengawas RSUD Idaman Banjarbaru, Darmawan Jaya Setiawan.

    Studi banding ini menjadi langkah strategis bagi Pemerintah Kota Banjarbaru dalam menyiapkan RSD Idaman sebagai rumah sakit daerah yang unggul, profesional, dan berdaya saing tinggi. Melalui pembelajaran langsung dari RSCM—yang merupakan rumah sakit rujukan nasional—Banjarbaru ingin memperkuat sistem tata kelola, manajemen pelayanan, hingga pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan.

    “Melalui pembelajaran dan berbagi pengalaman bersama RS Cipto Mangunkusumo, diharapkan RSD Idaman Kota Banjarbaru semakin profesional, inovatif, dan berdaya saing tinggi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Semoga sinergi antara Pemerintah Kota, DPRD, dan RSD Idaman terus terjalin kuat demi mewujudkan layanan kesehatan yang unggul dan berorientasi pada kepuasan masyarakat,” ujar Wali Kota Erna Lisa Halaby usai kunjungan.

    Sebagai rumah sakit kelas A dan pusat pendidikan kedokteran Universitas Indonesia, RSCM dikenal dengan standar pelayanan yang tinggi, fasilitas lengkap, serta sistem manajemen yang efisien. RSCM juga menjadi pelopor dalam penerapan inovasi digital, seperti sistem informasi laboratorium (LIS) dan manajemen antrean pasien berbasis teknologi.

    Melalui studi banding ini, RSD Idaman Banjarbaru diharapkan mampu mengadopsi praktik terbaik RSCM, baik dalam aspek klinis maupun administratif. Fokus pembelajaran mencakup tata kelola manajemen rumah sakit, peningkatan kualitas layanan, sistem akreditasi, serta strategi inovasi dalam pelayanan publik.

    Pemerintah Kota Banjarbaru menargetkan peningkatan signifikan pada kualitas pelayanan RSD Idaman dalam beberapa tahun ke depan, termasuk optimalisasi sistem rujukan, digitalisasi data medis, dan pengembangan layanan spesialis. Studi banding ke RSCM menjadi pijakan awal untuk menguatkan visi Banjarbaru sebagai kota yang elok, maju, adil, dan sejahtera—terutama di bidang kesehatan.

    Sinergi antara Pemerintah Kota, DPRD, dan RSD Idaman diharapkan terus terjalin kuat. Langkah-langkah strategis seperti ini menjadi bukti nyata bahwa Banjarbaru tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga menumbuhkan keunggulan pelayanan publik yang berkelanjutan bagi warganya.(be)

  • Banjarbaru Pertahankan Posisi Tiga Besar, Tambah Medali dari Sambo-Combat, Panjat Tebing dan Renang

    Banjarbaru Pertahankan Posisi Tiga Besar, Tambah Medali dari Sambo-Combat, Panjat Tebing dan Renang

    BANJARBARUEMAS.COM – Gelora Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan 2025 di Kabupaten Tanah Laut kian memanas. Hingga Senin malam (3/11/2025) pukul 21.00 WITA, sebanyak 12 cabang olahraga telah merampungkan seluruh rangkaian pertandingan. Cabor yang sudah tuntas antara lain dayung, Renang Kolam & Renang Perairan Terbuka, Panjat Tebing, Panahan, Tinju, Gulat, Kick Boxing, Judo, Pencak Silat, Taekwondo, Wushu dan Dansa

    Dari data sementara, Kabupaten Tanah Laut masih bertahan di puncak klasemen sementara perolehan medali dengan total 269 keping, terdiri dari 121 emas, 71 perak, dan 77 perunggu. Kota Banjarmasin menempel ketat di posisi kedua dengan 98 emas, 76 perak, dan 75 perunggu, sementara Kota Banjarbaru terus menjaga asa di peringkat ketiga dengan torehan 38 emas, 43 perak, dan 75 perunggu.

    Namun, pertarungan belum berakhir. Dari total 60 cabang olahraga yang diikuti, baru 12 yang rampung—artinya, masih ada 48 cabor yang tengah berjuang di berbagai arena. Peluang Banjarbaru untuk menambah pundi-pundi medali masih sangat terbuka, seiring semangat juang para atlet muda yang terus membara di bawah sorotan semangat Banjarbaru Emas.

    Tambahan medali terbaru datang dari arena Sambo, Voli Pantai, Renang, dan Panjat Tebing. Dari cabang Sambo-Combat (-98 Kg) Putra, Maulana Malik Ibrahim sukses menyumbangkan medali perunggu usai bertarung ketat hingga babak akhir. Di pasir panas lapangan voli pantai, tim putri Banjarbaru 4×4 memastikan medali perak setelah tampil konsisten sepanjang turnamen.

    Tidak berhenti di sana, arena akuatik pun menjadi saksi ketangguhan perenang Banjarbaru. Tim estafet 4×100 meter gaya ganti putra sukses menyentuh dinding finis lebih dulu dari sebagian besar pesaing, mengamankan medali perak yang menambah semangat kontingen. Sementara itu, dari dinding-dinding tebing buatan, tim Panjat Tebing Putri Kelas Boulder Tim tampil luar biasa dan berhasil mempersembahkan medali emas—simbol tekad tak kenal menyerah dari atlet muda kota ini.

    Wajah-wajah kelelahan di arena berganti dengan senyum bangga di podium. Banjarbaru, dengan semangat sportivitas tinggi, terus menebar inspirasi di ajang empat tahunan ini. Dalam semboyan “Menjunjung Tinggi Sportivitas, Berprestasi di Bumi Tuntung Pandang,” para atlet Banjarbaru membuktikan bahwa prestasi yang diperoleh buah dari kerja keras, kebersamaan, dan tekad untuk membawa harum nama kota.

    Dengan semangat “Banjarbaru Emas,” seluruh mata kini tertuju pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Masih banyak kesempatan untuk menorehkan sejarah baru — bukan hanya untuk medali, tetapi juga untuk harga diri dan kebanggaan Banjarbaru di kancah olahraga Kalimantan Selatan.(be)

  • Banjarbaru Street Art Festival 2025 Kecamatan Landasan Ulin: Pawai Kostum dan Seni Jalanan dari Warga untuk Warga

    Banjarbaru Street Art Festival 2025 Kecamatan Landasan Ulin: Pawai Kostum dan Seni Jalanan dari Warga untuk Warga

    BANJARBARUEMAS.COM — Suasana kreatif kembali menggeliat di Landasan Ulin. Banjarbaru Street Art Festival 2025, yang diinisiasi oleh Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC) berkolaborasi dengan Kelurahan Syamsudin Noor, kini resmi menjadi ajang tingkat kecamatan. Dengan mengusung tema “Dari Warga untuk Warga”, festival ini menghadirkan semangat kolaboratif warga untuk menampilkan karya seni jalanan yang berakar dari budaya lokal.

    Rapat technical meeting dan pengundian nomor urut peserta digelar di Kantor Kelurahan Syamsudin Noor, Senin (3/11/2025). Ketua Panitia, Muhammad Zainul Anam, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pengembangan dari festival tingkat kelurahan yang telah berjalan dua tahun terakhir. “Awalnya hanya dari Kelurahan Syamsudin Noor. Tapi karena antusiasme masyarakat luar biasa, kini kegiatan ini berkembang menjadi festival tingkat kecamatan yang melibatkan empat kelurahan,” ujarnya.

    Festival ini tidak hanya menghadirkan parade seni, tetapi juga pawai kostum dengan rancangan kreatif warga. Setiap kontingen berinovasi menampilkan busana tematik yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan kearifan lokal Banjarbaru. Ada yang mengadaptasi gaya pejuang kemerdekaan dengan sentuhan modern, ada pula yang menampilkan karakter flora-fauna khas Kalimantan dengan bahan ramah lingkungan seperti daun kering, rotan, dan serat alam. Pawai juga menampilkan mobil hias berdesain artistik dengan tata warna cerah, ornamen kayu ulin, serta instalasi dari daur ulang sampah plastik yang disulap menjadi dekorasi estetis.

    Para peserta, yang terdiri atas warga RT/RW, pelajar SMP, dan komunitas lokal, tampil penuh antusiasme. Mereka mempersiapkan diri berhari-hari sebelumnya—berlatih koreografi, menata formasi, hingga menyiapkan atraksi teatrikal berdurasi empat menit di garis finis. “Warga sangat semangat. Kami ingin tunjukkan bahwa Landasan Ulin punya kreativitas yang bisa membanggakan Banjarbaru,” ujar Zainul.

    Kegiatan puncak akan digelar Sabtu, 15 November 2025, melalui Karnaval Hari Pahlawan Syamsudin Noor 2025 yang bertema “Meneladani Jiwa Juang Pahlawan untuk Menumbuhkan Semangat Syamsudin Noor Bersatu dan Berkreasi dalam Pembangunan Menuju Era Banjarbaru Emas.” Karnaval ini menempuh rute sejauh 3,88 kilometer, mulai dari RTH Wella Mandiri hingga Kantor Kelurahan Syamsudin Noor, menampilkan harmoni antara ekspresi budaya dan semangat kebersamaan warga.

    Penilaian festival dibagi menjadi tiga kategori utama: kreativitas (40%), harmoni (30%), dan entertain (30%). Aspek kostum dan properti menjadi faktor dominan—bagaimana warga menafsirkan tema perjuangan dan persatuan dengan cara yang estetis, sopan, dan inovatif. Panitia menyiapkan hadiah Rp4 juta untuk juara pertama, Rp3 juta untuk juara kedua, dan piala bagi juara umum.

    Menurut Zainul, kegiatan ini juga mendukung program Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby melalui visi besar Banjarbaru Emas (Elok, Maju, Adil, Sejahtera) dan strategi One District One Product (ODOP). Festival ini menjadi medium warga untuk mengenalkan produk kreatif, UMKM, serta identitas budaya setiap kelurahan.

    Kesuksesan di Landasan Ulin akan menjadi model pelaksanaan di empat kecamatan lainnya—Liang Anggang, Cempaka, Banjarbaru Utara, dan Banjarbaru Selatan—yang dijadwalkan bergiliran mulai tahun depan. Setiap wilayah akan menampilkan kekhasan seni dan produk lokalnya melalui model festival serupa.

    Dengan semangat “Dari Warga untuk Warga”, Banjarbaru Street Art Festival menegaskan bahwa seni adalah alat persatuan sosial. Dari kostum yang megah hingga langkah pawai yang berirama, warga Banjarbaru meneguhkan bahwa kreativitas adalah jantung pembangunan—membawa kota ini menuju masa depan yang lebih elok, maju, adil dan sejahtera.(be)

  • Kepemimpinan yang Mendengar: Jalan Baru Birokrasi Banjarbaru dari Forum Rakor Pimpinan SKPD

    Kepemimpinan yang Mendengar: Jalan Baru Birokrasi Banjarbaru dari Forum Rakor Pimpinan SKPD

    BANJARBARUEMAS.COM – Problem terbesar seorang pemimpin sering kali bukan terletak pada kurangnya kemampuan berbicara atau membuat keputusan, melainkan pada kapasitas untuk mendengar, berdialog, dan berimajinasi — tiga kemampuan yang berakar dari empati terhadap rakyat. Pemimpin yang baik tidak hanya memerintah, tetapi juga merasakan denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Dari sinilah muncul legitimasi moral: bahwa kekuasaan tidak hanya diukur dari kewenangan, tetapi dari kepercayaan yang dibangun melalui pendengaran yang tulus.

    Gagasan inilah yang kini menjadi napas kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby. Dalam pandangannya, memimpin kota bukan sekadar soal menegakkan aturan dan mengelola anggaran, tetapi soal merawat kepercayaan dan menghadirkan kehangatan di tengah birokrasi. Usai melantik dua belas Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru, Lisa langsung memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Pimpinan SKPD di Aula Gawi Sabarataan, Senin (3/11/2025).

    Rakor tersebut merupakan forum strategis yang menandai arah baru tata kelola pemerintahan Banjarbaru: responsif, berbasis data, dan berorientasi hasil. Lisa menegaskan bahwa koordinasi antarlembaga merupakan instrumen utama dalam mewujudkan efektivitas birokrasi. Ia menolak pandangan sempit bahwa keberhasilan hanya bisa diukur melalui serapan anggaran. Ukuran yang sesungguhnya, kata Lisa, adalah kemampuan pemerintah menjawab kebutuhan publik dengan cepat, tepat, dan terukur.

    “Kita sudah memasuki bulan November. Saya ingin data yang jelas — mana yang sudah ditindaklanjuti, mana yang belum. Jangan ada yang menggantung,” tegasnya. Ucapan ini bentuk refleksi atas filosofi pemerintahan yang menekankan kejelasan dan pertanggungjawaban di setiap lini kerja.

    Lisa meminta agar setiap SKPD menata ulang sistem pelaporan mereka berbasis bukti dan hasil (evidence-based reporting). Ia percaya bahwa kebijakan publik yang berintegritas hanya lahir dari data yang valid dan terverifikasi. Dengan sistem informasi yang rapi, pemerintah dapat mengukur capaian dengan objektif dan memastikan setiap rupiah anggaran memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Di titik inilah tampak karakter kepemimpinan Lisa yang menggabungkan rasionalitas teknokratis dengan empati sosial. Ia ingin Banjarbaru menjadi model pemerintahan yang tidak hanya efisien, tetapi juga punya hati. Bagi Lisa, angka dan laporan tidak boleh mematikan nurani pelayanan. Pemerintahan yang baik, katanya, adalah yang mampu menyeimbangkan logika sistem dengan etika kemanusiaan.

    Lebih jauh, Lisa menekankan pentingnya governance communication — komunikasi pemerintahan yang partisipatif, transparan, dan berlandaskan empati. Ia menyadari bahwa tantangan pemerintahan masa kini bukan hanya menyusun kebijakan yang tepat, tetapi juga memastikan kebijakan itu dipahami dan diterima publik. “Ulun minta isu-isu yang lagi ramai di Banjarbaru agar dikawal prosesnya. Pemerintah harus hadir, bukan hanya dalam kebijakan, tapi juga dalam komunikasi publik yang menenangkan,” ujarnya.

    Bagi Lisa, komunikasi publik bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi bentuk kepedulian sosial. Pemerintah yang baik tidak hanya menjelaskan apa yang dilakukan, tetapi juga mendengarkan apa yang dikeluhkan. Dengan pola komunikasi yang terbuka, warga merasa dihargai, dan pemerintah memperoleh legitimasi moral untuk bertindak.

    Pendekatan ini memperlihatkan model kepemimpinan transformasional-humanis. Lisa tidak hanya memperkuat disiplin birokrasi melalui data, tetapi juga menghidupkan kembali rasa empati di dalam tubuh pemerintahan. Ia menanamkan nilai bahwa pejabat publik bukan sekadar pelaksana anggaran, melainkan pelayan masyarakat. Dalam setiap arahannya, ia mendorong pejabatnya untuk turun langsung, mendengar keluhan warga, dan memahami masalah di lapangan sebelum menyusun solusi.

    Rakor November 2025 juga dimanfaatkan sebagai forum evaluasi lintas sektor. Lisa meminta setiap kepala SKPD menyusun achievement map (peta capaian) dan action plan percepatan hingga akhir Desember. Pendekatan ini memperkuat tata kelola berbasis performance management, di mana hasil (output dan outcome) menjadi ukuran utama keberhasilan. Dengan demikian, kebijakan tidak berhenti pada dokumen, tetapi diwujudkan dalam perubahan nyata di masyarakat.

    Dalam kerangka besar visi “Banjarbaru Emas” — Elok, Maju, Adil, Sejahtera — Wali Kota Lisa menegaskan bahwa tahun 2025 harus menjadi momentum konsolidasi tata kelola pemerintahan yang efisien, transparan, dan berdaya hasil. Ia mengarahkan setiap SKPD untuk tidak bekerja secara sektoral, tetapi membangun sinergi lintas bidang, mengintegrasikan sistem data, serta memperkuat koordinasi hingga ke tingkat pelayanan paling dasar. Bagi Lisa, birokrasi yang cepat dan terhubung bukan sekadar efisien di atas kertas, melainkan cermin pemerintahan yang benar-benar hadir dan memahami denyut kehidupan warganya.

    Jika pola kepemimpinan yang menekankan data, dialog, dan empati ini terus dijaga, Banjarbaru berpeluang besar menjadi model tata kelola daerah di Kalimantan Selatan — kota yang tumbuh dengan akal sehat pemerintahan dan berakar pada rasa kemanusiaan publiknya. Banjarbaru sedang menapaki fase kematangannya, di mana pembangunan juga tentang menegakkan nilai-nilai keadilan dan pelayanan yang berkeadaban. Di balik arah perubahan itu, berdiri sosok Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby — pemimpin yang bekerja dengan data, melayani dengan hati, dan mendengar dengan empati.(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Lantik Pejabat Tinggi Pratama: Menata Birokrasi, Menguatkan Langkah Menuju Banjarbaru Emas

    Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Lantik Pejabat Tinggi Pratama: Menata Birokrasi, Menguatkan Langkah Menuju Banjarbaru Emas

    BANJARBARUEMAS.COM – Aula Gawi Sabarataan, Senin pagi (3/11/2025), menjadi saksi langkah besar reformasi birokrasi di Kota Banjarbaru. Dalam suasana khidmat dan penuh harapan, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby memimpin langsung prosesi pelantikan dua belas Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Pemerintah Kota Banjarbaru.

    Momen pelantikan tersebut penegasan arah baru kepemimpinan Walikota Lisa dalam memperkuat fondasi birokrasi yang profesional, tangguh, dan berintegritas menuju terwujudnya Banjarbaru Emas — Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera.

    Pelantikan yang dimulai pukul 08.30 WITA itu dihadiri para pejabat eselon, kepala perangkat daerah, serta unsur Forkopimda. Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa pelantikan adalah momentum untuk menata ulang semangat kerja aparatur dan memastikan seluruh ASN bekerja dengan visi yang seirama: melayani masyarakat dengan cepat, bersih, dan penuh dedikasi.

    Wali Kota Lisa Halaby menyampaikan harapan besar agar Sekda Definitif Sirajoni dapat menjadi motor penggerak birokrasi yang adaptif dan efisien. “Harapannya bisa menjalankan amanah ini dengan rasa penuh tanggung jawab, bekerja dengan semangat kolaborasi, dan mampu mengawal visi-misi Pemerintah Kota Banjarbaru dengan baik,” ujarnya. Selain pelantikan Sekda definitif, Wali Kota juga melantik sebelas Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama lainnya.

    Daftar Pejabat yang Dilantik

    1. Sirajoni, sebelumnya Kepala Dinas LH / Pj Sekretaris Daerah, kini Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru.
    2. Rahmat Taufik, sebelumnya Inspektur Kota Banjarbaru, kini Kepala BPKAD.
    3. Gustafa Yandi, sebelumnya Kepala BKPSDM, kini Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan.
    4. Abdul Basit, sebelumnya Kepala Disperindag, kini Kepala Dinas Pendidikan.
    5. Kanafi, sebelumnya Kepala BAPPERIDA, kini Asisten Administrasi Umum.
    6. Slamet Riyadi, sebelumnya Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan, kini Kepala BKPSDM.
    7. Rahmah Khairita, sebelumnya Asisten Administrasi Umum, kini Kepala BAPPERIDA.
    8. Dedi Soetoyo, sebelumnya Kepala Dinas Pendidikan, kini Kepala Satpol PP.
    9. Kemas Rudi, sebelumnya Kepala BPPRD, kini Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Pembangunan.
    10. Rizana Mirza, sebelumnya Kepala Bakesbangpol, kini Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat.
    11. Hidayaturrahman, sebelumnya Kepala Satpol PP, kini Kepala Bakesbangpol.
    12. Asep Saputra, sebelumnya Kepala Diskominfo, kini Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan.

    Sebagai mutasi pertama sejak dirinya dilantik menjadi Wali Kota Banjarbaru pada 21 Juni 2025, Lisa Halaby menyebut bahwa langkah ini dilakukan dengan penuh pertimbangan objektif. Penilaian kinerja, rekam jejak, dan kebutuhan organisasi menjadi dasar utama dalam pengisian jabatan.

    “Kami ingin memastikan struktur birokrasi Banjarbaru diisi oleh orang-orang yang tepat di posisi yang tepat. Ini penting agar program prioritas pemerintah kota bisa berjalan lebih cepat dan efektif,” ungkap Wali Kota.

    Di penghujung acara, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby kembali menegaskan bahwa visi Banjarbaru Emas bukan sekadar slogan, melainkan janji moral dan arah pembangunan jangka panjang yang menuntut komitmen setiap aparatur untuk bekerja dengan nurani dan tanggung jawab. Ia menekankan pentingnya membangun birokrasi yang adaptif terhadap perubahan, berintegritas dalam tindakan, serta melayani masyarakat dengan hati dan empati.

    Pelantikan ditutup dengan pembacaan pakta integritas, penandatanganan berita acara, dan doa bersama. Suasana haru bercampur optimisme memenuhi Aula Gawi Sabarataan, menandai babak baru birokrasi Banjarbaru yang lebih tangguh, transparan, dan berorientasi hasil.(be)

  • Banjarbaru Kokoh di Peringkat Ketiga, Pundi-Pundi Emas Terus Bertambah

    Banjarbaru Kokoh di Peringkat Ketiga, Pundi-Pundi Emas Terus Bertambah

    Porprov XII Kalimantan Selatan 2025 — Hari Kesepuluh

    BANJARBARUEMAS.COM — Hingga hari kesepuluh pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan 2025 di Kabupaten Tanah Laut, kontingen Kota Banjarbaru masih bertahan di posisi tiga besar klasemen sementara perolehan medali. Berdasarkan data resmi panitia hingga Sabtu (2/11) pukul 07.00 WITA, Banjarbaru telah mengoleksi 137 medali, terdiri atas 34 emas, 39 perak, dan 64 perunggu.

    Capaian ini menegaskan konsistensi Banjarbaru sebagai salah satu kekuatan utama olahraga di Kalimantan Selatan. Sejak awal laga, performa para atlet dari berbagai cabang terus menunjukkan peningkatan, dengan sejumlah cabor unggulan mulai menambah pundi-pundi medali bagi kota yang dikenal sebagai Kota Idaman ini.

    Tambahan medali datang dari cabang wushu, renang, dan voli pantai.
    Selamat kepada ananda Aulia, cabang olahraga Wushu–Sanda 45 Kg, yang berhasil meraih perak, serta ananda M. Firmansyah, Wushu–Sanda 42 Kg, yang mempersembahkan perunggu.

    Dari arena renang, Banjarbaru kembali menunjukkan dominasinya melalui Tim Renang Putri yang sukses menyabet perak pada nomor 4×100 meter estafet gaya ganti. Prestasi individu juga ditorehkan Mega Ashri Muharram Putri, yang berhasil mempersembahkan emas pada nomor 100 meter gaya bebas putri, serta Haija Shafa Fauziyah yang menambah perak dari nomor 100 meter gaya punggung putri.

    Sementara itu, dari lapangan pasir, pasangan Desvira Syawal dan Desyfa Najwa Saputri tampil gemilang di cabang voli pantai 2 vs 2 putri, mempersembahkan emas yang menambah daftar panjang kejayaan Banjarbaru pada ajang tahun ini.

    Sementara di papan klasemen, Kabupaten Tanah Laut yang berstatus tuan rumah masih kokoh di puncak dengan 261 medali (117 emas, 68 perak, 76 perunggu). Di bawahnya, Kota Banjarmasin berada di posisi kedua dengan 227 medali (91 emas, 72 perak, 64 perunggu). Banjarbaru di peringkat ketiga kini semakin memperkecil jarak dengan perolehan 137 medali.

    Secara historis, posisi ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan Porprov XI tahun 2022, di mana Banjarbaru menempati peringkat keempat. Kenaikan ini menandakan hasil nyata dari pembinaan atlet muda dan penguatan ekosistem olahraga daerah yang dijalankan secara berkelanjutan oleh KONI dan Pemerintah Kota Banjarbaru.

    Banjarbaru kini memasuki fase krusial di tengah ketatnya persaingan medali. Sejumlah cabor yang belum dipertandingkan menjadi kunci untuk menambah perolehan emas, termasuk cabang bola basket putri yang sedang on fire setelah kemenangan awal di babak penyisihan.

    Di tengah sengitnya kompetisi, Banjarbaru menunjukkan karakter kota yang pantang menyerah. Dukungan masyarakat terus mengalir melalui media sosial, pesan doa dari keluarga, hingga kiriman semangat dari sekolah dan kampus. Energi kolektif ini menjadi modal sosial yang memperkuat mental para atlet sekaligus menegaskan bahwa olahraga di Banjarbaru adalah gerakan bersama membangun kebanggaan kota.(be)

  • Realisasi APBD Banjarbaru hingga Oktober 2025 Capai 65 Persen: Cermin Kinerja Fiskal yang Terkendali dan Progresif, Menuju Realisasi Penuh di Akhir Tahun

    Realisasi APBD Banjarbaru hingga Oktober 2025 Capai 65 Persen: Cermin Kinerja Fiskal yang Terkendali dan Progresif, Menuju Realisasi Penuh di Akhir Tahun

    BANJARBARUEMAS.COM – Kota Banjarbaru menutup Oktober 2025 dengan catatan kinerja keuangan daerah yang solid dan terjaga. Di tengah tekanan ekonomi nasional akibat fluktuasi harga komoditas dan dinamika transfer pusat, Banjarbaru tetap mampu menjaga arah pengelolaan anggaran secara sehat, disiplin, dan efisien. Data Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan per 31 Oktober 2025 mencatat realisasi pendapatan daerah mencapai Rp968,87 miliar atau 65,19 persen dari target Rp1,48 triliun, sementara realisasi belanja berada pada angka Rp925,95 miliar atau 57,39 persen dari total pagu Rp1,61 triliun.

    Bagi Banjarbaru, capaian ini mencerminkan kematangan tata kelola keuangan publik yang berbasis disiplin dan prioritas. Pemerintah kota menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak selalu identik dengan percepatan belanja, melainkan dengan bagaimana setiap rupiah dikelola untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Struktur pendapatan Banjarbaru tahun 2025 menggambarkan arah kebijakan yang menumbuhkan optimisme. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) sebagai penopang utama telah terealisasi Rp666,22 miliar atau 68,96 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dari pemerintah pusat tetap terjaga, seiring konsistensi Banjarbaru dalam menjalankan program prioritas nasional, mulai dari pembangunan pendidikan, layanan kesehatan, hingga infrastruktur publik.

    Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menjadi cermin kemandirian ekonomi lokal tercatat Rp143,11 miliar atau 33,20 persen dari target Rp431,05 miliar. Secara nominal, angka ini tampak moderat. Namun, di baliknya sedang berlangsung transformasi besar menuju sistem pendapatan yang modern, transparan, dan adaptif terhadap era digital.

    Pemkot Banjarbaru kini tengah memperkuat sistem e-tax dan e-retribusi, dua instrumen penting dalam membangun fondasi digitalisasi penerimaan daerah. Transformasi ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal kepercayaan publik. Melalui sistem yang terbuka dan terintegrasi, kebocoran pendapatan dapat ditekan, arus informasi berjalan cepat, dan proses pelaporan menjadi lebih akuntabel.

    Lebih dari itu, Banjarbaru juga mulai mengembangkan basis pajak baru yang mencerminkan struktur ekonomi kotanya yang sedang berubah. Sektor jasa, kuliner, dan perdagangan daring tumbuh pesat di kawasan urban baru seperti Cempaka, Landasan Ulin dan Liang Anggang. Aktivitas ekonomi di sektor-sektor ini menjadi sumber potensi penerimaan baru bagi daerah, yang dalam jangka menengah akan memperkuat struktur PAD Banjarbaru.

    Langkah inovatif lainnya adalah peluncuran program diskon Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 5 persen yang berlaku untuk periode pembayaran November hingga Desember 2025. Program ini bukan hanya memberi keringanan bagi warga, tetapi juga menjadi instrumen percepatan penerimaan daerah. Dengan memberikan insentif pada wajib pajak, pemerintah kota berhasil mengubah kepatuhan pajak menjadi gerakan kolektif masyarakat.

    Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan—yang sebagian besar bersumber dari BUMD—juga menunjukkan capaian gemilang, yakni 91,35 persen dari target Rp12,40 miliar. Ini menandai perubahan penting dalam peran BUMD Banjarbaru, dari sekadar entitas administratif menjadi aktor ekonomi produktif yang memberikan kontribusi riil bagi kas daerah.

    Tak kalah menarik, pendapatan transfer antar daerah telah menembus 169,75 persen dari target awal. Angka ini menjadi bukti meningkatnya kerja sama lintas wilayah di Kalimantan Selatan, di mana Banjarbaru berperan sebagai hub ekonomi regional—menjembatani arus perdagangan, logistik, dan investasi antar kabupaten.

    Dari sisi belanja, realisasi 57,39 persen hingga Oktober mencerminkan strategi pengelolaan anggaran yang berhati-hati dan terukur. Pemerintah kota memilih untuk tidak mengejar serapan tinggi di awal tahun, melainkan menyesuaikan ritme belanja dengan kesiapan teknis dan progres proyek lapangan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen terhadap prinsip efisiensi dan efektivitas pembangunan, memastikan bahwa belanja publik tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran.

    Belanja pegawai tercatat 74,93 persen, menjadi indikator stabilitas pelayanan publik dan kesejahteraan aparatur yang tetap terjaga. Sementara belanja barang dan jasa mencapai 48,72 persen, mencerminkan bahwa sebagian besar program operasional dan layanan publik berjalan dalam ritme normal.

    Yang paling krusial, belanja modal—sebagai indikator pembangunan fisik—telah terealisasi 46,48 persen. Angka ini diprediksi melonjak pada dua bulan terakhir tahun anggaran seiring penyelesaian proyek-proyek besar seperti revitalisasi taman kota, perbaikan jalan lingkungan, dan pembangunan fasilitas publik ramah anak.

    Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby sejak awal menegaskan bahwa pengelolaan anggaran daerah harus berbasis hasil (result-based budgeting), bukan sekadar serapan. Filosofi ini kini mulai terlihat hasilnya. Pola realisasi yang terkendali di awal tahun justru menghasilkan kualitas pembangunan yang lebih baik di akhir tahun.

    “Kita tidak ingin hanya cepat membelanjakan, tapi memastikan setiap rupiah memberikan manfaat langsung bagi warga,” ungkap Lisa Halaby dalam beberapa kesempatan.

    Pendekatan ini sejalan dengan semangat baru Banjarbaru: “spending better, not just spending faster.”

    Secara makro, rasio belanja terhadap pendapatan sebesar 1,13 kali menunjukkan Banjarbaru masih menjaga posisi keuangan yang ekspansif, namun tetap terkendali. Artinya, pemerintah kota mampu mendorong pertumbuhan tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap kas daerah. Dalam konteks ekonomi daerah, hal ini berarti Banjarbaru berhasil menjaga fungsi stabilisasi pembangunan lokal—menahan inflasi, mendukung daya beli masyarakat, serta menjaga perputaran ekonomi tetap hidup di sektor riil.

    Meski struktur pendapatan masih bergantung pada dana transfer pusat, arah reformasi Banjarbaru sudah jelas: menuju kemandirian ekonomi daerah yang berkelanjutan. Digitalisasi penerimaan, optimalisasi aset, dan kolaborasi publik-swasta menjadi tiga pilar utama dalam memperkuat daya tahan keuangan kota.

    Memasuki triwulan IV, ruang belanja Banjarbaru masih terbuka lebar. Dengan sisa waktu dua bulan, pemerintah kota memproyeksikan realisasi anggaran meningkat tajam, terutama di sektor infrastruktur, lingkungan, dan layanan sosial. Berbagai proyek strategis seperti penataan trotoar kota, peningkatan kualitas jalan, pembangunan taman tematik, dan rehabilitasi drainase dijadwalkan rampung pada Desember 2025.

    Koordinasi lintas perangkat daerah terus diperkuat untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai target. Jika tren positif ini bertahan, realisasi total APBD Banjarbaru 2025 diperkirakan melampaui 90 persen, menjadikan kota ini sebagai salah satu daerah dengan pengelolaan keuangan terbaik di Kalimantan Selatan.

    Lebih dari sekadar angka, capaian ini adalah cerita tentang perubahan paradigma: dari APBD sebagai dokumen keuangan menjadi instrumen pembangunan yang hidup dan berdampak.

    Kinerja Banjarbaru hingga Oktober 2025 menjadi cermin kepemimpinan yang mengedepankan disiplin, kolaborasi, dan akuntabilitas. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bisa dibangun dari pengelolaan keuangan yang jujur, transparan, dan berorientasi pada hasil.

    “APBD Banjarbaru 2025 adalah kisah tentang kedewasaan, kesungguhan membangun, dan keyakinan bahwa kemajuan kota lahir dari pengelolaan uang rakyat yang cerdas dan bertanggung jawab.”(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Dukung Penuh Atlet di Pembukaan Porprov XII Kalsel 2025

    Wali Kota Banjarbaru Dukung Penuh Atlet di Pembukaan Porprov XII Kalsel 2025

    BANJARBARUEMAS.COM – Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby menghadiri upacara pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan 2025 yang digelar di Stadion Pertasi Kencana, Kabupaten Tanah Laut, Sabtu (1/11/2025).

    Kehadiran Wali Kota bersama jajaran Pemerintah Kota Banjarbaru menjadi wujud dukungan nyata kepada para atlet Banjarbaru yang tengah berjuang di ajang olahraga terbesar tingkat provinsi tersebut.

    Dalam sambutannya, Hj Erna Lisa Halaby menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya terhadap seluruh atlet dan pelatih yang telah berlatih keras demi membawa nama baik Kota Banjarbaru.

    “Saya bangga atas semangat juang para atlet Banjarbaru. Jadikan Porprov ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik, sekaligus mempererat rasa persaudaraan dan sportivitas,” ujar Wali Kota.

    Ia juga mengingatkan para atlet agar selalu menjaga kekompakan dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportif selama pertandingan berlangsung.

    “Kemenangan tentu menjadi harapan, namun yang terpenting adalah tampil dengan sportif dan memberikan usaha terbaik. Insya Allah, dengan semangat dan doa bersama, Banjarbaru akan meraih hasil yang membanggakan,” tambahnya.

    Pembukaan Porprov XII Kalsel berlangsung meriah, menampilkan berbagai pertunjukan seni serta parade kontingen dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Ribuan atlet dan official memadati stadion, menciptakan suasana penuh semangat dan kebersamaan.

    Tahun ini, Kota Banjarbaru mengirimkan 1.265 atlet, pelatih, dan official untuk berpartisipasi dalam berbagai cabang olahraga. Hingga saat ini, Banjarbaru berhasil menduduki peringkat ketiga klasemen sementara dengan torehan 33 medali emas, 37 perak, dan 81 perunggu, total 151 medali.

    Tak hanya pemerintah kota, dukungan juga datang dari Ketua DPRD Banjarbaru, Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera, yang turut hadir dalam acara pembukaan tersebut.

    “Atas nama DPRD, kami memberikan dukungan penuh bagi para atlet Banjarbaru. Dengan semangat juang dan persiapan yang matang, kami yakin Banjarbaru dapat menorehkan prestasi terbaik di ajang Porprov ini,” ujarnya.

    Ia menambahkan, Porprov tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan antar daerah.

    “Kami berharap para atlet Banjarbaru tetap solid dan menjadikan Porprov ini sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa Banjarbaru adalah kota penuh semangat dan prestasi,” pungkasnya.(be)